CERPEN: Pramugari Itu Bernama Lolita

JAKARTA, 1 Januari 2006. Saya masih berstatus Konsultan manajemen dari PT Bumi Apsari Bi-Epsi dengan gaji Rp 15 juta per bulan bersih. Artinya, biaya transportasi,akomodasi dan lain-lain ditanggung perusahaan.

Sebenarnya ada tugas ke Surabaya dan berangkat pukul 10:00 WIB bersama teman saya bernama Prawoto. Namun, berhubung teman saya sering menipu, maka beberapa hari sebelumnya saya menukar tiket untuk jam pemberangkatan pukul 08:00 WIB.

Begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung masuk ke dalam. Tak lama kemudian para penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat. Ya, lancar-lancar saja. Setelah menaruh tas kecil di atas kursi, saya lantas duduk. Saat berangkat, ternyata kursi di sebelah saya kosong. Saya duduk dekat jendela.

Eh, tak lama kemudian lewat pramugari dengan keretadorongnya, memberikan satu kotak roti, peren dan minuman gelas. Sempat jantung saya berdetak keras ketika memandang pramugari itu.

“Wow! Cantik sekali!”, gumam saya dalam hati. Sayapun cari akal untuk berkenalan dengan pramugari itu. Kalau namanya sih, bisa saya baca di label nama di dadanya, yaitu Lolita. Tapi, saya inginnya kenal langsung dan ngobrol-ngobrol. Tapi, bagaimana ya caranya?

Nah, hanya dalam waktu singkat saya punya ide. Begitu dia lewat, langsung saya panggil.

“Mbak, bisa minta tolong?” saya tanya

“Ada apa,Mas? Ada yang bisa saya bantu?” jawabnya standar.

“Ini, bagaimana nih cara memasang seat beltnya?”

“Lho, waktu take off tadi belum dipakai?” pramugari itu terkejut. Duduk di kursi sebelah saya yang kosong.

“Begini,Mas caranya…”.Pramugari yang cantik itu terus memegang seat belt dan memberi petunjuk. Sebenarnya sih, saya sudah tahu. Cuma pura-pura tidak tahu.

Saya kira, sesudah itu, pramugari itu akan pergi. Ternyata tidak, justru duduk di samping saya.

“Mau ke Surabaya,ya Mas?” tanyanya. Sementara itu pesawat terus melaju menerabas awan-awan putih. Pesawat telah terbang cukup tinggi.

“Oh,ya. Kebetulan ada tugas di Surabaya?”

“Di mana,Mas?”

“Kebetulan saya jadi konsultan untuk Dinas Pendapatan Daerah untuk Kotamadya Surabaya,” jawab saya.

“Oh, nanti menginap di hotel mana,Mas?” tanyanya. Pikir saya, cewek kok anyanya begitu. Tapi, tak apalah,mungkin dia kehabisan bahan pertanyaan.

“Di Hotel Brantas. Oh, ya. Boleh kenalan?” sayapun memanfaatkan kesempatan. Sayapun memberikan kartu nama dan diapun ternyata juga punya kartu nama. namanya Lolita Rachmalila, rumah di Tebet, Jakarta Selatan.

Begitulah, beberapa hari kemudian sayapun menghubungi HP Lolita, apakah hari Minggu itu ada acara atau tidak. Ternyata tidak ada acara. Bahkan saya dipersilahkan main-main ke rumahnya di Tebet. Tentu, saya dengan menggunakan Honda Civic Wonder warna hitam segera meluncur ke Tebet dan disambut dengan ramah oleh Lolita.

“Selamat pagi,Mas Harry. Susah tidak mencari rumah saya?”

“Oh, tidak. Ternyata dengan kantor saya. Kantor saya di dekat Gedung Bioskop Wira,” jawab saya langsung duduk di kursi teras rumah. Tak lama kemudian, mamanya juga keluar. Lolitapun memperkenalkan saya dengan mamanya. Ya, Cuma mamanya. Papanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit diabetes. Sedangkan Lolita putera tunggal. Kemudian, saya ngobrol kesana-kemari.

Satu hal yang membuat saya harus sabar, ternyata tidak mudah mengajak Lolita jalan-jalan. Maklum, Lolita anak semata wayang. mamanya tentu tidak ingin Lolita menjadi wanita yang tidak baik, keluyuran dengan sembarang laki-laki. Bahkan Lolita pernah berterus terang, saya boleh pergi ke mana saja dengan Lolita kalau Lolita sudah resmi menjadi isteri saya.

Isteri? Tidak mudah. Jika saya melamar Lolita selama Lolita masih berstatus pramugari, maka saya harus mengganti biaya training dan ikatan dinasnya yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Sama dengan harga sebuah mobil baru. Kecuali kalau masa kontrak kerjanya sudah habis, yaitu selama lima tahun. Wow, terlalu lama.

Satu tahun saya berpacaran. Tidak pernah kemana-mana. Cuma malam Minggu saja. Itupun Cuma di rumah Lolita. Satu-satunya jalan yaitu, ketika Lolita tugas ke Surabaya, maka saya harus ikut terbang. Nah, di Surabaya saya bia berbuat bebas terbatas dengan Lolita. Jalan-jalan, makan-makan di resto, foto bersama atau berbelanja di Tunjungan Plasa. Ya, namanya juga berpacaran. Seperti itulah. Yang pasti, saya dan Lolita sudah saling jatuh cinta. Diam-diam kami telah tukar cincin secara diam-diam tanpa sepengetahuan mamanya. Kamipun sudah saling berjanji saling setia hingga sampai kapanpun. Duh, indahnya cinta kami saat itu.

Nah, tanpa terasa, saat itu sudah tanggal 1 Januari 2007. Saya saat itu berada di bandara Juanda untuk menemani keberangkatan Lolita yang dapat tugas terbang ke Manado. Pesawat lepas landas pada pukul 12.55 WIB dari Bandara Juanda

Sebelum pulang, saya makan dulu di salah satu resto di bandara. Kebetulan, saya ditemani Murdanto, dulu teman SMAN saya yang juga jadi pilot yang saat itu belum jadwalnya tugas.

Saya dapat informasi dari Murdanto, bahwa pesawat di mana Lolita bertugas, membawa 96 orang penumpang. yang terdiri dari 85 dewasa, 7 anak-anak dan 4 bayi. Dipiloti oleh Kapten Refri A. Widodo dan co-pilot Yoga Susanto, dan disertai pramugari Verawati Chatarina, Dina Oktarina, Nining Iriyani dan Ratih Sekar Sari. Pesawat tersebut juga membawa 3 warga Amerika Serikat. Tentu, Murdanto tahu itu sebab dia juga pilot pada perusahaan yang sama dengan pesawat tempat Lolita bertugas.

Sesudah kenyang, sayapun pulang menuju ke Hotel Brantas tetap saya menginap. Sambil istirahat di ruang hotel yang full AC, sayapun menonton televisi. Dari channel yang satu ke channel yang lainnya. Lantas, berhenti pada MetroTV yang membawakan acara Breaking News. Apalagi menyangkut berita pesawat yang ditumpangi Lolita.

Beritanya, seharusnya pesawat tiba di Bandara Sam Ratulangi , Manado pukul 16.14 WITA. Pesawat kemudian dilaporkan putus kontak dengan pengatur lalu-lintas udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makasar setelah kontak terakhir pada 14:53 WITA. Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35.000 kaki.

Semula saya menanggapi biasa-biasa saja. Namun sehabis mandi sore, saya dikejutkan dengan berita bahwa, Adam Air Penerbangan KI-574 adalah sebuah penerbangan domestik terjadwal Adam Air jurusan Surabaya-Manado, yang sebelum transit di Surabaya berasal dari Jakarta,hilang dalam penerbangan.

Satu dua hari kemudian, saya mendapat kepastian informasi dari manajemen Adam Air di Jakarta, bahwa pesawat Adam Air KI-574 yang juga ditumpangi Lolita, telah meledak di udara dan dipastikan semua penumpang dan awak pesawat, termasuk pramugari Lolita, telah tewas dan jenasahnya tak mungkin ditemukan karena pesawat langsung menukik dan tenggelam ke laut yang dalamnya sekitar 2000 meter.

“Oh,My God!….,” saya langsung terkulai lemas di kantor Adam Air.

Sumber foto: wings900.com

Catatan:

Mengucapkan turut berduka cita atas keluarga yang ditinggalkan para korban peristiwa Adam Air KI-574. Semoga tabah menghadapinya. Dan, semoga semua arwah korban kecelakaan pesawat Adam Air tersebut bisa diterima di hadirat Tuhan Yang Mahaesa.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

http://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: