CERPEN : Sahabatku Ternyata Seorang Psikopat

BOJONEGORO. Saya SD, SMP dan SMAN kelas 1 sekolah di kota ini. Tentu, teman saya cukup banyak. Maklum, sejak kecil saya menyukai pergaulan. Salah satu teman saya sejak SMP namanya Endri. Waktu itu saya menganggap dia biasa-biasa saja. Namun, sejak saya membuka Perpustakaan Garuda di Jl. Trunojoyo No.4, maka saya mulai mempunyai hobi membaca. Tidak hanya komik, buku silat, tetapi Cuma agama dan ilmu pengetahuan. Salah satunya psikologi. Saat iitulah, saya tertarik psikologi. Meskipun demikian, saya tak pernah punya cita-cita sarjana psikologi. Bahkan, mungkin saat itu di Indonesia belum ada fakultas psikologi.

Namun, sesudah saya pindah dari kota itu, saya tak pernah bertemu dengan Endri. Yang pasti saya tahu, Endri jago lukis, jago membuat puisi, enak diajak bicara, ramah dan pandai melucu.

Sesudah 39 tahun, sayapun bertemu. Itupun di Facebook. Dia dulu yang ne-add saya. Kemudian saya konfirmasi.

“Hai! Ini Harry yang dari Bojonegoro,ya? Yang dulu tinggal di Jl. Ade Irma Suryani No.5,” begitu tanyanya di inbox saya.

Kemudian terjadilah saling kirim pesan. Dia tanya, saya kuliah di mana, Saya jawab apa adanya dan sesuai fakta, bahwa saya alumni enam perguruan tinggi.

“Kalau Endri, lulusan dari mana?” ganti saya bertanya.

“Oh, saya sudah Prof.Dr. Saya lulusan dari Jepang”

“Wah, hebat dong. Prof.Dr-nya dari mana?” saya penasaran ingin tahu.

“Wah, ngggak usah saya sebutkan. Saya tidak mau dianggap sombong. Di Jepang saya di University of Tokyo”

“Wah,hebat dong. Coba dong, ngomong bahasa sedikit saja. Misalnya, apa bahasa Jepangnya “selamat pagi?” tanya saya di inboxnya.

“Hallo,Harry. Saya kan sudah bilang, saya tak mau memamerkan ilmu saya. Masak saya bohong,sih? Harry an kenal saya sejak SMP dulu. Saya juga pernah kuliah di Jerman dan Perancis. Di Perancis saya di University of Sorbone,” ceritanya di inbox saya.

“Wuuuah…kalah,dong saya. Walaupun saya kuliah di enam perguruan tinggi, tetapi di Indonesia,” kata saya. saya yang pernah kursus bahasa Perancis di Culturel Francais, Jl. Salemba Raya (depan Kampus UI) pun bertanya ke Endri dalam bahas Perancsis. Ternyata, tak ada jawaban yang berhubungan dengan pertanyaan saya.

Endri lantas cerita kenal dosen-dosen saya di Fakultas Filsafat UGM, Fakultas Ekonomi Universitas Ttrisakti, Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan lain-lain. Nah, mulai di sini saya merasa aneh. Kenapa semua nama yang disebutkan tidak ada satupun ada di kampus-kampus saya?

Tanpa saya minta, diapun cerita kalau di Jerman dia kuliah mengambil spesialisasi mikrobiologi. Sedangkan di Perancis spesialisasi Fisika. Sedangkan di Tokyo spesialisasi Antropoli Buudaya. Semua ceritanya kelihatannya masuk akal. Namun saya yang punya hobi membaca psikologi sejak SMP dan efektif sejak 1973 mulai curiga. Ada banyak hal yang tidak konsisten. Dia tampaknya berkata tidak jujur. Selalu berkelit kalau saya tanya. Artinya, ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Sudah ada tiga ciri-ciri psikopat yang saya dapatkan. Pertama, dia suka berbohong. Kedua, merasa dirinya hebat. Ketiga, bicaranya terkesan hebat dan egosentrik.

Saya semakin yakin, ketika saya di FB membuat artikel berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Watak Seseorang”, sebuah artikel psikologi, maka reaksinya luar biasa. Endri langsung mengatakan sakit jiwa. Katanya saya merasa selalu benar terus. Katanya, saya menghina agama Islam. Dan kata-kata lain yang menghunjam perasaan saya. Menginjak-injak martabat saya. Di sini, saya menemukan ciri keempat psikopat, yaitu suka menyakiti hati orang lain. Suka menyerang penulisnya daripada tulisannya.

Kalau saya pelajari, tuduhan-tuduhannya itu tidak didukung fakta dan penalaran. Kalau saya dikatakan sakit jiwa, dari kalimat yang mana? Kalau dikatakan saya selalu merasa benar terus, di kalimat yang mana? Kalau saya dianggap menghina agama Islam, di kalimat yang mana. Di sini, saya menemukan ciri gejala psikopat kelima, yaitu orang yang hidup tidak berdasarkan fakta. Hidup dalam dunia ilusi.

Tidak cuma itu. Diapun meremove dan memblokir FB saya. Lho, salah saya di mana? Walaupun saya diblokir, dengan menggunakan taktik “spy facebooker”, saya tetap bisa membaca status-statusnya. Ternyata, ada beberapa Facebooker juga tanya,  Prof Dr-nya dari mana. jawabannya juga berbelok-belok. Tidak jujur. Hebatnya, dia menamakan diri sebagai Prof Dr Harya Wiryanagara, SH,MH. Hahaha….sxaya semakin saja kalau sahabat saya ternyata mengalami gejala psikopat.

Untuk meyakinkan dan membuktikan, sayapun melakukan “penyelidikan”. Kebetulan dia juga tinggal di Tangerang, sama dengan saya. Berdasarkan alamatnya yang saya dapatkan di FB-nya, maka sayapun meluncur ke daerahnya. Tidak ingin menemui dia, tetapi saya ingin ngobrol-ngobrol dengan oorang sekampung itu. Agak jauh dari rumahnya.

“Pak, apa betul di RT sini ada yang namanya Prof.Harya Wiryanagara,SH,MH?” saya tanya ke seseorang bapak yang sedang mengendong anaknya yang masih bayi.

“Oh,ya,ada dia tinggal di RT 007,” jawsabnya.

“Memang dia mengajar di mana sih,Pak?”

“Wah, kurang tahu,ya. Kabarnya sih, dulu mengajr di Universitas Indonesia. Terus, berhenti karena bosan,” jelas bapak itu.

“Oh, begitu. Apa betul dia ustadz,Pak?”

“Hahaha…Siapa bilang? Cuma pakaiannya saya ustadz. Wong, dia membaca Al Qur’an saja tidak bisa,kok. Shalat Jum’at juga tidak pernah”

“Oh,begitu. Kalau begitu , bagaimana pendapat bapak tentang dia?”

“Ya, selama ini baik-baik saja. Tidak pernah membuat keributan. bahkan dia membuka jasa melukis wajah.”

“Oh,ya? Berapa tarifnya,Pak?’

“Untuk satu lukisan wajah, antara Rp 100.000 hingga Rp 250.000, tergantung besar kecilnya ukuran kanvas,” jelas bapak itu. Saya semakin yakin, dia adalah Endri sahabat saya sewaktu masih SMP. Bedanya, saya di SMPN 2 Bojonegoro, sedangkan Endri di SMP lain.

Sayapun meneruskan perjalanan. Di perempatan saya bertemu dengan seorang yang penampilannya sih mahasiswa. Sayapun memperkenalkan diri dan ingin menanyakan sesuatu. Tternyata benar, dia mahasiswa. Kebetulan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang baru saja lulus.

Sayapun bertanya tentang Endri yang berubah namanya menjadi Prof.Dr.Harya Wiryanagara,SH,MH. Saya dan diapun duduk di bangku yang terbuat dari bambu di bawah pohon Kers.

“Apa betul sih, di Prof.Dr,SH,MH?” saya mulai tanya ke sarjana psikologi yang bernama Rizal Parengkuan itu.

“Hahaha…Bohong, Pak. Dia itu kuliah saja nggak pernah,kok” katanya jujur.

“Terus, di sini dia ustadz?” saya bertanya lagi.

“Hahaha….Ustadz dari Hongkong,Pak? Shalat Jum’at saja dia tidak pernah,kok. Ustadz pakaiannya doang” Rizal tertawa terbahak-bahak.

“Terus, dia kerjanya sebagai apa?”

“Kerjanya? Oh, Pak Endri sejak dulu terkenal sebagai tukang pijit atau tukang uurut,Pak?”

“Tukang pijit?” saya terkejut tak percaya.

“Iya,Pak. Demi Allah…” Rizal meyakinkan saya.

Nah, sayapun yakin 100% bahwa teman lama saya memang penderita psikopat. Suka berbohong, merasa hebat, egosentrik, suka menyakiti hati orang lain yang dianggap lebih hebat dari dirinya dan menutup-nuutupi fakta-fakta sesungguhnya.

Sayapun langsung pulang dan merasa tak ada gunanya bertemu dengan Endry yang mengaku punya predikat Prof,Dr,SH,MH itu.

Sumber foto: prelyqu.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

http://fsui.wordpress.com

 

 

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: