CERPEN : Biarkan Aku Bunuh Diri!

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.
(QS. Yusuf: 87).

DULU, sebelum HP masuk Indonesia, maka sarana komunikasi yang sedang ngetrend saat itu adalah pager. Saya punya pager merk Motorola dan operatornya Starpage, PT Duta Pertiwi.

Seperti biasa, sebulan sekali sayaa harus membayar iuran. Untuk itu, pagi itu saya ke Gedung Wisma Nusantara. Entah lantai berapa, saya lupa. Begitu saya mau memasuki ruang pembayaran, tiba-tiba seorang gadis berlari cepat menerobos pintu dan sempat menyenggol saya sehingga saya jatuh.

Sempat saya lihat, gadis itu berlari begitu cepat.

“Biarkan aku bunuh diri…!!!” dia langsung menabrakkan diri ke jendela kaca. Pecah. Dan tubuh itu pasti melayang dari lantai tinggi. Mungkin lantai 13. Semua yang ada di si tu langsung berhamburan keluar. tak ada satupun yang berhasil menolong. bahkan, sayapun tak menyadari itu akan terjadi.

“Astaga! saya tak menduga Leena akan berbuat senekat itu,” gumam beberapa wanita berseragam. Tampaknya seragamnya sama dengan yang dipakai gadis yang loncat dari gedung tinggi itu. Suasana kantorpun menjadi ribut. Beberapa pelanggan pagerpun merasa terabaikan. bahkan ada dua orang memprotes sikap para karyawan Starpage itu. Akhirnya merekapun berbagi tugas. Dan, pelayanan tetap berjalan lancar.

Sambil menunggu pelanggan lainnya selesai dilayani sesuai antrian, sayapun merenung. Betapa banyak orang Indonesia yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak terpuji. Seolah-olah itu merupakan jalan terakhir yang paling tepat. Padahal, justru itu merupakan solusi yang sangat keliru.

Tak lama sayapun dilayani. Sambil menunggu proses layanan selesai, sayapun nguping mendengarkan komentar-komentar mereka tentang peristiwa bunuh diri itu. Katanya, nama gadis itu Leena. Karyawati dari Starpage juga.

Persoalannya apa? Ternyata mereka tidak tahu. Yang pasti selama satu minggu sebelum bunuh diri, di kantor Leena sering termenung dan berdiam diri. Tidak mau menceritakan tentang masalah yang dihadapinya. Yang dilakukan Cuma bekerja, bekerja dan bekerja. Tanpa senyum.Tanpa kata.

Sesudah selesai dilayani, sayapun segera turun ke lantai dasar. Ternyata, di luar banyak orang berkerumun. Jenasah gadis itu masih ada tetapi ditutupi koran. Dua orang satpam berjaga agar kerumunan orang itu tidak menganggu posisi jenasah gadis yang katanya bernama Leena itu. sayapun turut mendekat. Ada juga dua orang karyawati Starpage yang ada di dekatnya. Mereka berdua menangis di sisi jenasah itu.

Tanpa sengaja, saya mendengar tanya jawab antara satpam itu dengan dua karyawati itu. katanya, jenasah itu bernama Leena Lapian.Dia karyawati baru dan baru tiga minggu bekerja di Starpage.

“Leena Lapian?” tersentak saya mendengar nama itu.Sepertinya nama itu pernah saya kenal.Tapi, di mana? Otak sayapun berpikir keras. Leena Lapian? Leena Lapian? Leena Lapian? Di manakah saya pernah bertemu nama itu?

“Astaga!” tersentak lagi saya. Saya baru ingat. nama itu memang pernah saya kenal. Ya. nama itu pernah saya kenal.

Waktu itu saya sedang mengirim surat kilat khusus di Kantor Pos Mampang Prapatan. Lantas ada seorang gadis cantik meminjam ballpoint saya. Oh,ya,ya….Dia namanya Leena Lapian. Dia memang gadis cantik yang dulu saya pernah jatuh hati padanya. Cuma karena dia terkesan angkuh, maka saya tidak pernah lagi datang ke rumahnya yang ada di kawasan Pulo Raya.

Sesudah saya konfirmasi ke kedua karyawati yang ada di samping jenasah itu, maka saya semakin yakin kalau Leena itu memang Leena Lapian yang dulu saya pernah mengenalnya. namun itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sejak dulu memang melihat Leena sebagai gadis cantik tetapi terkesan angkuh. Mungkin mentang-mentang dia tinggal di daerah Kebayoran Baru, maka kedatangan saya ke rumahnya dengan naik motor dicuekin saja. Tapi kalau ada cowok lain datang naik mobil, sambutannya ceria sekali. bahkan kalau ada cowok datang naik mobil dan kebetulan saya juga ada di rumah Leena, maka seringkali saya dicuekin. Karena saya tahu diri, akhirnya saya mengalah untuk permisi pulang. Kejadian seperti itu sudah tiga kali saya alami dan saya harus tahu diri.

Tak berapa lama, dua karyawati lagi turun dari lift. Langsung menemui kedua karyawati yang sebelumnya sudah ada di samping jenasah. karyawati yang baru turun itu menunjukkan semacam surat pamit yang diketik rapi oleh almarhumah Leena Lapian.

Katanya, dia lakukan itu karena dia telah dihamili pacarnya. Namun pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Bahkan pindah ke Makasar. Karena tiap hari disalahkan oleh kedua orang tuanya dan dia merasa malu, maka dia nekat terjun bebas dari lantai tinggi Gedung Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin, Jakarta.

“Leena Lapian. Saya masih ingat nama itu.Bahkan saya masih menyimpan fotonya…” saya berkata sendiri dalam hati. Sayapun berjalan menuju ke halte menunggu bus jurusan Blok M. Maklum, saya tidak mobil. Saya orang miskin. Mana ada cewek Jakarta yang cantik yang mau dengan saya yang tidak punya mobil ini?

Sumber foto:

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.