CERPEN: Zahra Primadona SMAN 1 Bojonegoro

“WAHAI Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al-Ahzab : 59).

ZAHRA bukan siswa pondok pesantren. Bukan siswa sekolah Islam, melainkan sekolah umum. Yaitu di salah satu SMAN di Bojonegoro. Meskipun demikian, tiap hari senantiasa berpakaian muslimah, termasuk berjilbab. Tingkah lakunya sederhana. Tidak sombong.Kalau berbeda pendapat dengan orang lainpun tidak pernah membawa-bawa ayat Al Qur’an maupun haditz.Melainkan menggunakan penalaran.

Sebenarnya dia adik kelas. Dia kelas 2 sedangkan saya kelas 3. Meskipun demikian, perbedaan kelas tak jadi masalah.Kebetulan saja, Zahra tergolong cantik. Dia suka bertukar pendapat, tapi tak pernah memaksakan pendapat. Itu yang membuat saya suka. Bahkan naksir.

“Assalamu’alaikum…,” ucap saya sambil masuk ke kelasnya. Kebetulan jam istirahat,

“Wa’allaikum salaam,” sahutnya singkat juga. Saya lihat dia sedang duduk sendiri sambil membaca novel. Entah apa judulnya.

“Kok, nggak keluar kelas?”

“Lagi males,” singkat jawab Zahra.dia tersenyum.Bibirnya mungil menawan.

“Wah, suka novel juga,nih? Apa nih judulnya?”. Zahra tidak menjawab. Tetapi menyerahkan novel itu ke saya seolah-olah mengatakan “Coba, baca saya sendiri judulnya”.

“Oh, judulnya ‘Balada Gadis-gadis Berjilbab’”, komentar saya. “Membahas apa,nih?” saya kembalikan novel itu ke Zahra yang wajahnya mirip Cinta Laura itu.

“Hmmm, tentang pengertian jilbab menurut Al Qur’an dan pengertian jilbab menurut zaman sekarang”

“Wah,menarik juga,tuh. Boleh,dong saya diberi inti ceritanya. Buat pencerahanlah. Kalau soal agama Islam Zahra tentu lebih pandai daripada saya,” sayapun duduk di depan bangkunya. Saya menghadap ke belakang supaya bisa berbicara dengan dia.

“Begini Harry. Sekarang ini kan ada bermacam-macam jilbab. Ada jilbab gaul, jilbab selebriti,jilbab syar’i dan lain-lainnya.Pertanyaannya, bagaimana pengertian jilbab sebenarnya menurut pandangan Islam?”

“Kalau menurut saya, yang dimaksud adalah penutup kepala dan leher bagi wanita muslimah yang dipakai secara khusus dan dalam bentuk yang khusus pula.Itu menurut saya,” begitu pendapat saya “Setahu saya sih, Al-Qur’an juga memakai kata-kata lain yang maknanya hampir sama dengan kata ‘jilbab’ dalam bahasa Indonesia, seperti kata khumur (penutup kepala) dan hijab (penutup secara umum).Lalu, bagaimana kata-kata serupa dalam ayat-ayat Al Quran tersebut diterjemahkan dan dipahami dalam bahasa syara’ (agama) oleh para sahabat Nabi dan ulama. Bagaimana menurut Zahra?”

“Arti kata jilbab ketika Al-Qur’an diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya Ruuhul Ma’ani.” Zahra memberikan argumentasinya.

“Wah, kalau begitu tampaklah jelas kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri,” saya mengambil kesimpulan, bahwa pengertian jilbab menurut Al Qur’an di era Nabi Muhhamad SAW berbeda dengan pengertian jilbab di era sekarang

“Iya. Malahan ada ulama yang mewajibkan memakai niqob atau burqo’ (cadar) karena semua badan wanita adalah aurat (bagian badan yang wajib ditutup) seperti Abdul Aziz bin Baz Mufti Arab Saudi, Abu Al a’la Al Maududi di Pakistan dan tidak sedikit ulama-ulama Turky, India dan Mesir yang mewajibkan bagi wanita muslimah untuk memakai cadar yang menutup muka,” Zahra menguraikan pendapatnya.

“Tapi pada intinya, jilbab harus menutup aurat,bukan? Cuma, bagian-bagian mana saja yang dimaksudkan sebagai aurat?” pertanyaan itu saya sampaikan ke Zahra karena saya memang benar-benar belum tahu batasan aurat.

“Kalau menurut madzhab Hambali mengecualikan wajah saja selain itu semuanya aurat termasuk telapak tangan dan kaki. Sedangkan ulama-ulama madzhab Maliki menjelaskan bahwa dalam shalat aurat laki-laki, wanita merdeka dan budak, terbagi menjadi dua.”

“Apa itu,” saya ingin tahu.

“Pertama,aurat mughalladhah (berat), bagi wanita merdeka aurat ini adalah semua badan kecuali tangan, kaki, kepala dada dan sekitarnya (bagian belakangnya).

Kedua,aurat mukhaffafah (ringan), untuk wanita merdeka adalah tangan, kaki, kepala, dada dan bagian belakangnya, dua lengan tangan, leher, kepala, dari lutut sampai akhir telapak kaki dan adapun wajah dan kedua telapak tangan (luar atau dalam) tidak termasuk aurat wanita dalam shalat baik yang mugalladhah atau yang mukhaffafah.” dengan lancar Zahra menjelaskan pandangan madzhab Hambali.

“Kalau begitu, apa komentar Zahra mengenai jilbab sekarang ini?”

“Menurut saya, penutup kepala tanpa cadar saya namakan kerudung. Sedangkan penutup kepala dengan cadar adalah jilbab”

“Jadi, yang dipakai sebagian besar muslimah adalah kerudung? Bukan jilbab?”

“Ya, begitulah. Bukankah di Al Quran, Juz 22 ayat ke-59 surat ke-33 dikatakan bahwa ‘Ya ayyuhan-nabiyyu qul li’azwajika wa banatika wa nisa il-mu’minina yudnina ‘alaihinna min jalabibihinn. Al Quran ada penjelasan ke-690 yang mengatakan bahwa yang dimaksud jilbab yaitu sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala,wajah dan dada”.

“Kok, Zahra tidak memakai cadar?”

“Ya, di Indonesia tafsir jilbab bermacam-macam.Tidak memakai cadar tidak apa-apa.Kecuali kalau kita tinggal di Pakistan,Turky, India dan Mesir, semua muslimah wajib memakai cadar.Di Indonesia tergantung masing-masing muslimah, mau mengikuti tafsir yang mana”

“Kenapa bisa berbeda tafsir seperti itu? Bukankah sumbernya sama,yaitu dari Al Qur’an?”

“Betul. Al-Qur’an sering menggunakan arti kiyasan atau dalam sastra arab disebut majaz (penggunaan satu kata untuk arti lain yang bukan aslinya karena keduanya saling terkait), hal ini menimbulkan benih perbedaan,” lancar sekali Zahra memberikan penjelasan. Maklum, walaupun dia bukan siswa pondok pesantren, tetapi di rumahnya punya satu lemari buku-buku tentang Islam. Apalagi, sejak SMP Zahra mempelajari Islam sendiri dan dibimbing ustadz tetangganya.

Sayang, bel masuk segera dimulai.

“Wassallaamu’alaikum,” sayapun pamit ke Zahra.

“Wa’allaikumsalaam,” jawabnya.

Sumber foto: http://www.blogdunia.co.cc.

Hariyanto Imadha

Alumni SMAN 1 Bojonegoro

Tahun Masuk 1969

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: