CERPEN : Akibat Berprasangka Baik (Husnudzon)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 12 )

JAKARTA 1979. Saya saat itu masih berstatus mahasiswa Akademi Bahasa Asing “Metropolitan”. Saya punya gagasan mendirikan Lembaga Pendidikan Bahasa Inggeris dengan sarana komputer. Kalau gagasan itu terwujud, maka itu merupakan yang pertamakalinya terjadi di Indonesia.

Masalahnya, modal saya cuma Rp 30 juta. Oleh karena itu saya mencari mitra bisnis. Kebetulan, teman kuliah yang bernama mBak Dewi mau bergabung. Saya panggil mBak karena dia sudah berkeluarga. Seminggu kemudian salah seorang dosen bernama Pak Mucharom juga bergabung. Rapat demi rapatpun diadakan untuk membahas persiapan.

Tugaspun dibagi, saya kebagian mencari dan mengontrak tempat bertingkat. Sedangkan mBak Dewi bagian membeli komputer, meja dan kursi. Sementara Pak Mucharom bagian promosi melalui radio, televisi surat kabar dan spanduk. Masing-masing harus menyediakan modal Rp 30 juta. Saat itu satu dolar AS sama dengan Rp 2.100.

Akhirnya, saya menemukan sebuah gedung bertingkat di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Setelah disurvei oleh mBak Dewi dan Pak Mucharom, akhirnya tempat itu dianggap ideal. Hari berikutnya sayapun menemui Pak Ali Mustafa, pemilik bangunan itu. Sayapun bayar tunai Rp 30 juta untuk kontrak dengan jangka waktu dua tahun.

Tanda bukti berupa kuitansi tanpa meterai saya terima. Tidak perlu perjanjian atau kontrak tertulis apalagi ke notaris. Saat itu saya yakin dan percaya Pak Ali Mustafa orang jujur. Maklum, dia sudah empat kali naik haji.

-“Oke,mBak. Semua sudah saya persiapkan dengan baik. Kelas-kelas sudah dibersihkan,” kata saya ke mBak Dewi ketika bertemu di kampus.

-“O,iya. Besok saya akan survei harga-harga komputernya,” jawabnya meyakinkan.

Di mata saya, mBak Dewi adalah orang yang baik. Ramah, cantik, rajin shalat, pandai dan berjilbab.

-“Pak, tempat sudah siap. Kapan kita mulai promosi?” saya bertanya ke Pak Mucharom di ruang dosen.

-“O,bagus. Tapi, kita harus buat dulu materi-materinya. Kalau bisa sih kurikulumnya sama dengan Akademi Bahasa Asing kita. Cuma, bentuknya sebagai lembaga kursus. Maklum, kalau harus berbentuk akademi, kita akan menghadapi birokrasi yang berbelit-belit dan menghabiskan biaya banyak,” katanya menjelaskan. Masuk akal.

Di mata saya, Pak Mucharom seorang dosen yang baik. Apalagi dia sudah dua kali naik haji. Setiap mengajar selalu mengenakan peci. Dia juga rajin shalat dan sudah katam Al Quran sejak dia di bangku SMA.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan dan akhirnya tiga bulan. Ternyata belum ada realisasi pembelian komputer dari mBak Dewi. Alasannya, belum ada komputer yang cocok. Sedangkan Pak Mucharom juga belum siap dengan konsep promosinya karena peralatan komputernya belum tersedia.

Tanpa terasa, sudah enam bulan berlalu. Sayapun meminta kepastian mBak Dewi.

-“Bagaimana kepastiannya,mBak? Jadi apa nggak rencana kita?”

-“Wah, saya lagi ada masalah,nih. Uang saya habis untuk biaya opname anak saya di rumah sakit,” alasan mBak Dewi.

Dia bilang tidak punya uang lagi. Memang saya tahu anaknya diopname, tetapi saya yakin biayanya tak sebesar itu.

Sayapun menemui Pak Mucharom untuk meminta kepastian.

-“Bagaimana,Pak? Sudah enam bulan kok belum ada langkah-langkah kongkrit?” saya ingin tahu.

-“Iya ya. Tapi bagaimana ya. Saya lagi kena musibah. Mobil saya habis tabrakan dan harus masuk bengkel. Uang saya habis buat ongkos memperbaiki mobil,” begitu alasannya.

Saya juga tahu mobil Pak Mucharom rusak karena habis tabrakan. Namun yang rusak cuma bempernya saja. Biayanya tidak sampai Rp 30 juta.

Setelah saya merenung, saya punya prasangka yang buruk. Mungkin saya korban penipuan. Apalagi, di dalam kerja sama itu tidak ada perjanjian tertulis satu lembarpun.

Dugaan saya terbukti ketika suatu hari saya bertemu dengan Arief. Arief adalah anak Pak Ali Mustafa, pemilik gedung.

-“Mas, sampeyan sebetulnya ditipu sama bapak saya, mBak Dewi sama Pak Mucharom,” katanya ketika bertemu di tempat fotokopi, Pondok Labu.

-“Kok, kamu bisa bilang begitu?” saya ingin tahu

-“Iya, Mas. Uang sampeyan yang Rp 30 juta itu dibagi tiga orang. Yaitu bapak saya, mBak Dewi dan Pak Mucharom. Masing-masing mendapat Rp 10 juta.” Arief menjelaskan.

-“Kok, kamu bilang sama saya?” saya penasaran.

-“Habis bagaimana,Mas. Saya minta dibelikan sepeda motor, saya tidak dibelikan. Ya, akhirnya saya memutuskan membuka rahasia ini ke Mas,” pengakuan Arief jujur.

Oh Tuhan! Saya semakin yakin telah menjadi korban penipuan oleh orang-orang yang saya kira suci. Berjilbab, berpeci dan rajin shalat. Ternyata semua itu dijadikan senjata untuk meyakinkan orang saja. Teman-teman saya menasehati “Don,t look the book just from the cover”. Artinya, jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja

Hubungan bisnis adalah hubungan bisnis yang semua harus tertulis diatas meterai dan jika perlu di depan notaris.

JAKARTA, 2005. Ketika ada Reuni Akbar Akademi Bahasa Asing “Metropolitan”, maka saya mendapatkan fakta-fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata bukan hanya saya saja yang menjadi korban penipuan.

Adik-adik kelas saya, paling tidak ada lima orang dengan angkatan yang berbeda, juga korban penipuan mBak Dewi dan Pak Mucharom dengan modus operandi yang sama. Yaitu, pura-pura mengajak kerja sama bisnis mendirikan lembaga pendidikan bahasa Inggeris dengan sarana komputer. Semua korban juga melakukan hal yang sama, yaitu percaya begitu saja tanpa ada perjanjian tertulis.

Sejak itulah, saya selalu bersikap hati-hati. Pengalaman menunjukkan bahwa jilbab dan peci, rajin shalat, pandai membaca Al Quran atau pernah naik haji, tidak merupakan jaminan bahwa seseorang itu bermoral baik. Bahkan gelar sarjana atau gelar H atau Hj juga tidak merupakan cermin moral yang baik.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: