CERPEN: Muslimah-muslimah yang tak Berjilbab

BEKASI. Saat itu saya mengelola lembaga pendidikan komputer (LPK) “Indodata”. Lokasinya di Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai, dekat pintu tol Bekasi Timur. Jumlah karyawan saya waktu ada 24 orang. Empat belas di antaranya instruktur komputer berpendidikan sarjana komputer dan 10 lainnya merupakan staf pendaftaran, penjaga malam dan tenaga pemasaran. Terdiri dari 12 perempuan dan 12 laki-laki.

Waktu saya perhatikan, semua karyawan saya tergolong rajin shalat. Tetapi saya merasa ada yang kurang. Semua karyawati saya tidak berjilbab. Akhirnya, pada saat ada rapat evaluasi yang saya selenggarakan tiap Sabtu, maka sambil bercanda saya sisipkan sebuah kalimat.

-“Saya suka punya karyawati-karyawati cantik,lho. Namun sebenarnya kalian akan 13 kali lebih cantik kalau memakai jilbab”.

Semua karyawati saya tersenyum tersipu. Mungkin mereka menyadari bahwa ada yang kurang pada dirinya. Memang sih, ada di antara mereka yang mengatakan bahwa memakai jilbab tidak wajib. Namun sebagian berpendapat, memakai jilbab itu wajib. Tapi, ada satu lagi yang berpendapat, bisa wajib bisa tidak tergantung tujuannya.

Apapun argumentasinya, keesokan harinya saya terkejut. Ternyata guyonan saya ditanggapi serius. Semua karyawati sudah mengenakan jilbab. Bahkan yang namanya Lies Umariyah mengenakan cadar atau penutup muka.

Karena saya ingin tahu argumentasinya, maka pada jam istirahat, Lies Umariyahpun saya panggil di ruang kerja saya.

-“Lies, kok kamu beda sendiri? Yang lainnya tidak memakai cadar kok kamu memakai cadar sendiri. Kok seperti istrinya Amrozi saja”. Saya ingin tahu sambil bercanda.

-“Ah, Bapak ada-ada saja. Bukankah di Al Quran, Juz 22 ayat ke-59 surat ke-33 dikatakan bahwa ‘Ya ayyuhan-nabiyyu qul li’azwajika wa banatika wa nisa il-mu’minina yudnina ‘alaihinna min jalabibihinn…”

-“Ah sudah,sudah. Tidak usah copy paste atau membeo Al Quran. Katakan to the point alasan kamu memakai cadar”. Saya memotong kalimat Lies Umariyan yang bersifat copy paste itu. Sayapun menunggu jawaban Lies Umariyah sambil memandangi wajahnya yang cuma kelihatan kedua matanya saja itu.

-“Begini,Pak. Bukan maksud saya menggurui bapak yang tentu lebih pandai dari saya. Di dalam Al Quran ada penjelasan ke-690 yang mengatakan bahwa yang dimaksud jilbab yaitu sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala,wajah dan dada”

Sayapun membuka Al Quran yang tiap hari memang ada di meja kantor saya. Sesudah saya cek, apa yang dikatakan Lies Umariyah memang benar.

-‘Terus? Kenapa kamu memakai cadar atau penutup wajah”. Saya ingin tahu.

-“Iya,Pak. Bukankah di dalam penjelasan tersebut dikatakan dengan jelas

bahwa, yang dimaksud jilbab yaitu harus berfungsi menutup kepala (kerudung), menutup wajah (cadar) dan dada (maksudnya tubuh atau aurat)”.

-‘Terus, apa pendapatmu tentang teman-temanmu lainnya yang tidak memakai cadar?”

-“Wah, Bapak kan lebih pandai dari saya”. Lies Umariyah merendahkan diri.

-“Begini,lho. Saya bertanya karena saya belum mengerti. Saya bertanya karena saya ini goblok”. Agak marah juga saya terhadap Lies Umariyah.

-“Maaf,Pak. Kalau menurut pendapat saya, mereka itu belum berjilbab. Mereka cuma berkerudung. Berjilbab dan berkerudung itu beda artinya.Kalau jilbab itu kerudung lengkap dengan cadar atau niqab”. Lies Umariyah menjelaskan.

Saya manggut-manggut mulai memahami argumentasi Lies Umariyah. Kalau saya pikir benar juga. Kalau begitu di Indonesia itu 99,99 persen kaum muslimahnya cuma berkerudung. Belum bisa dikatakan berjilbab.

-“Tapi, di Nanggroe Aceh Darussalam juga banyak lho yang tidak bercadar.” Satu pertanyaan lagi buat Lies Umariyah.

-“ Ya, saya tidak tahu,Pak. Saya tahunya cuma mengikuti apa kata Al Quran. Kalau penjelasan di Al Quran itu dianggap salah, tentu ada kemungkinan penjelasan-penjelasan lainnya juga ada yang salah, Pak. Setahu saya sih, terjemahan, transliterasi dan penjelasannya tentu dibuat oleh para pakar agama Islam yang kompeten. Masak ya salah? Saya yakin Al Quran yang kita miliki tidak salah. Bukankah sebelum diterbitkan pasti sudah melalui kajian yang mendalam dan profesional,Pak”. Ucap Lies Umariyah penuh dengan penalaran.

Nah, muslimah yang berbicara memakai penalaran itulah yang paling saya suka.

Saya akhirnya punya kesimpulan bahwa, 99 persen muslimah di Indonesia belum berjilbab. Mereka cuma berkerudung. Berjilbab sudah pasti berkerudung. Namun, berkerudung belum pasti berjilbab.

Oleh karena itu saya menyebut perempuan-perempuan tak bercadar adalah muslimah-muslimah yang tak berjilbab.

 

Catatan:

Ini cuma cerpen. Tidak perlu dibahas.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

About these ads

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: