CERPEN: Rumah Tetanggaku Ternyata Sarang Gay

SAYA tinggal di Malang, Jawa Timur. Saya bekerja di sebuah bank swasta yang cukup terkenal. Baru dua tahun saya pindah ke kota ini. Sebelumnya saya ditempatkan di Surabaya. Senang tinggal di Malang,. Udaranya sejuk. Lebih senang lagi saya makan apel juga buah-buahan apel Malang.

Namun, selama setahun ini ada yang membuat saya bertanya-tanya. Saya punya tetangga baru seberang rumah. Dia baru tinggal satu tahun. Laki-laki itu berusia sekitar 35 tahun. Semula, saya mengira dia bisnis burung. Maklum, di rumahnya banyak sangkar burung. Ternyata, mungkin bukan itu. Sebab, saya tak pernah melihat ada pembeli datang membeli burung. Atau, saya tak pernah melihat tetangga saya membawa burung itu ke pasar. Nama tetangga saya Robby.

Selama satu tahun, mobilnya sudah ganti dengan mobil yang lebih bagus. Dia tinggal dengan beberapa laki-laki yang lebih muda. Semula saya mengira laki-laki muda atau cowok-cowok itu adiknya. Semua kira-kira ada tiga cowok. Namun, semuanya mukanya tidak mirip. Juga ada seorang wanita muda. Usianya sekitar 38 tahun. Kadang-kadang saja dia datang ke rumah itu. Semula, saya mengira dia istrinya. Karena tidak tiap hari ada di rumah itu, maka kemungkinannya dia kakak Si Robby. nama wanita itu Nancy. Kabarnya mengelola sebuah kafe di Malang.

Pertanyaan saya selanjutnya. Si Robby bisnis apa? Kerja di mana? Selama ini, pagi, siang, sore, malam, lebih banyak di rumah. Hanya kadang-kadang saja keluar. Lantas, apa kerja cowok-cowok itu? Kalau saya amati, jumlah cowok terkadang lebih dari lima orang. rata-rata masih remaja dan parasnya ganteng. Pakaiannya rapi. Kadang tidur di rumah itu. Tetapi kadang-kadang puku23:00 WIB atau pukul 02:00 WIB keluar rumah. Sekolah? Kuliah? rasa-rasanya tidak jelas. saya tak pernah mereka membawa buku. Cowok-cowok itu rata-rata punya motor dan motornya baru dan bagus-bagus.

Lama-lama saya curiga. Intuisi saya mengatakan kemungkinan mereka adalah para gay. kaum homoseks panggilan. Apa iya? Sayapun di rumah membuka internet. Saya buka Google. Saya ketik “gay panggilan kawasan Malang”. Ternyata, ada ratusanlink atau tautan yang muncul. rata-rata mencantumkan nomor HP. Tidak ada satupun yang mencantumkan nomor telepon kabel. bahkan, ada yang mencantumkan foto. bahkan lengkap dengan data-data fisik seperti tinggi, berat dan lain-lain. Juga, disertakan tarif perjam.

Dengan menggunakan kartu perdana HP baru yang nomornya belum diketahui siapapun, saya mencoba menelepon mereka satu persatu. Saya tanya di mana alamatnya. Tentu, tak ada satupun yang mau menyebutkan alamat. Yang pasti mereka siap datang dan bertemu ditentukan ditentukan. Dan mereka ada juga yang mau melayani hubungan intim dengan sesama laki-laki ataupun dengan perempuan-perempuan yang kesepian.

Cukup banyak nomor HP yang harus saya hubungi. Pura-pura berminat saja. Tentu, saya tak mau menyebutkan identitas saya yang sebenarnya. Dan itu saya lakukan selama satu minggu.

Secara tak sengaja, ketika saya berada di kamar depan dan mencoba menghubungi nomor HP tertentu, tiba-tiba saya mendengar dering HP. Ketika saya menengok ke arah luar jendela, ternyata Si Robby sedang berada di luar rumahnya sedang pesan bakso. HP saya matikan. Kemudian, saya coba menghubungi nomor HP tersebut. Ternyata, HP Si Robby berbunyi lagi. saya matikan HP saya. Saya tidak mau berbicara. Saya kirim SMS pura-pura cari gay muda remaja dan tanya tarifnya berapa. Ternyata, saya melihat Si Robby sedang memencet tombol-tombol HP-nya. Benar. Sayapun mendapat jawaban. Sekarang saya yakin bahwa, rumah tetangga saya telah dijadikan sarang gay. Terlalu.

Biasanya sih, komunitas begituan dekat juga dengan urusan perdagangan narkoba. Say mencoba mencari informasi lewat SMS, apakah saya bisa mendapatkan narkoba. Saya katakan saya bersedia bayar mahal. Saya butuh sekali. Ternyata, saya dapat jawaban dari SMS juga. Tentu dari nomor HP Si Robby. Tentu, Si Robby bukanlah orang bodoh. Dia bilang bahwa dia tidak melakukan bisnis itu.

Wah, bagaimana ya cara saya membuktikan bahwa Si Robby juga bisnis narkoba? Sulit. Melaporkan ke polisi tanpa bukti juga tidak akan digubris. Sampai suatu saat, ketika rumah tetangga saya sepi. Tampaknya mereka keluar semua. Setelah yakin sepi, sayapun coba-coba melihat ke tempat sampahnya. Siapa tahu ada sisa-sisa narkoba. Ternyata tidak ada. Tentu, mereka tidak sebodoh itu.

Akhirnya saya ke Ketua RT. Kebtulan saya meminta izin untuk mendirikan les privat komputer, warnet dan mini market pribadi di rumah saya. Ya, semacam Indomart atau Alfamart kecil-kecilan. Ternyata Pak RT ada. Sambil mengurus surat izin atau tepatnya meminta persetujuan tersebut, sayapun memancing-mancing Pak RT tentang kegiatan Si Robby. Ternyata, Pak RT juga punya prasangka yang sama dengan saya. Yaitu, mencurigai rumah tersebut sebagai sarang gay. Cuma, bagaimana cara membuktikannya? Tidak mudah bukan? Apalagi, cowok-cowok itu melakukan kegiatannya di tempat lain. Rumah itu hanya tempat berkumpul saja.

Sampai suatu ketika, dua bulan kemudian, terjadi kebakaran di rumah itu. Semula apinya kecil, tapi dalam waktu singkat api sudah membesar. Masih untung, rumah itu ada di seberang rumah saya. Semua wargapun keluar. Apalagi hari Minggu. Semua membawa ember berisi air. Sekitar 30 menit kemudian datang dua buah mobil pemadam kebakaran. Seperempat jam kemudian apipun padam. Meskipun demikian, lima buah rumah terlanjyr hangus terbakaar habis. Tidak ada kurban jiwa.

Belakangan saya baru tahu, diberitahu Pak RT, Si Robby di situ hanya mengontrak rumah. Dan sejak terjadinya kebakaran itu, Si Robby dan cowok-cowoknya tidak pernah kelihatan lagi. Entah kemana. Yang pasti, seminggu kemudian, saya membaca sebuat surat kabar yang terbit di Malang, bahwa Si Robby dan cowok-cowok tertangkap polisi karena di mobilnya ditemukan 50 gram narkoba. Benar dugaan saya, bahwa mereka juga diberitakan sebagai para pelaku gay yang sangat meresahkan masyarakat kota Malang.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. Ckckckck.. .(¬˛¬”) cĸ.. cĸ.. cĸ.. ƪ(ˇ-ˇ)ʃ

    TANGGAPAN:
    Hehehe…Cuma cerpen saja,kok.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.