BUDAYA: Ngakunya Orang Jawa Tetapi Tak Bisa Berbahasa Jawa
SUDAH lama suku Jawa mengalami “krisis budaya”, di mana generasi mudanya banyak yang tak mampu berbahasa Jawa, baik ngoko,kromo ataupun kromo inggil. Terutama di kota-kota besar. Hal ini karena faktor orang tua yang kurang peduli dengan budaya Jawa yang merupakan budayanya sendiri. kalau begini caranya, bukan tak mungkin dalam kurun waktu 50 tahun mendatang, tidak ada lagi orang Jawa yang mampu berbahasa Jawa.
Sejarah ngoko,kromo dan kromo inggil
Pembagian semacam ini muncul pada masa awal Kerajaan Mataram pimpinan Sultan Agung, dimana pada sebelumnya, bahasa Jawa tidak mengenal susunan semacam itu, sebagaimana yang dipahami, bahasa Jawa Kuno tidak mengenal bentuk-bentuk semacam ini.
Ngoko
Dalam tingkat tutur ngoko, tidak ada perbedaan antara lawan bicara disamping digunakan kepada orang-orang yang ada di lapisan sama ataupun sebaya.
Kromo
Sedangkan kromo dicitrakan sebagai tingkatan sopan santun dalam berbicara, menunjukkan ‘keanggunan’ dalam berbicara serta dianggap njawani . Tingkatan ini dipakai oleh para bawahan atau orang-orang dibawah maupun dalam keadaan resmi. Serta untuk orang yang belum dikenal. (Sumber: http://www.berbagicerita.com/bahasa-jawa-sekilas-asal-usul-bentuk-kromo-ngoko-dan-mengapa-bentuk-ini-tidak-dikenal-di-bahasa-jawa-using/).
Kromo inggil
Sedangkan kromo inggil ditujukan kepada orang yang lebih tua atau orang yang dipandang lebih berwibawa atau lebih dihargai.
Jumlah kosakata
Menurut Poedjosoedarsono dkk (1979), sebenarnya bahasa Ngoko adalah dasar dari semua kosakata bahasa Jawa. Karena itulah, maka bahasa Kromo tidak dapat disamakan atau disetarakan dengan ragam ngoko, karena terlalu banyaknya kata ngoko yang tidak memiliki padanan kromonya. Jumlah kosakata Ngoko mencapai ratusan ribu, sedangkan Kromo hanya berjumlah 850 kata, bahkan untuk Kromo Inggil hanya berjumlah 250 kata.
Nah, mengapa terjadi Ngoko-Kromo?
Menurut Benedict Anderson (1990), hal tersebut disebabkan adanya krisis politik-budaya yang terjadi di tanah Jawa sejak abad ke-16, dan makin mendalam sejak penjajahan Belanda yang serempak memfosilkan penguasa Jawa dan memfeodalkan hubungan mereka dengan rakyat bawah. Menurut Anderson lagi, bentuk Kromo ini adalah bentuk kekuasaan Jawa yang secara nyata (de facto), telah hilang. Raja-raja Jawa dijadikan sebagai boneka hidup yang dikendalikan Belanda. (Sumber: http://www.berbagicerita.com/bahasa-jawa-sekilas-asal-usul-bentuk-kromo-ngoko-dan-mengapa-bentuk-ini-tidak-dikenal-di-bahasa-jawa-using/)
Contoh ngoko,kromo dan kromo inggil
Contoh ngoko
“turu” : “Aku arep turu” (Saya akan tidur)
Diucapkan ke teman sebaya.
Contoh kromo
“tilem” : “Rahayu taksik tilem,Bu” (Rahayu masih tidur,Bu)
Diucapkan ke orang yang lebih tua tentang orang lain yang sebaya
Contoh krromo inggil
“sare” : “Bapak taksih sare” (Bapak masih tidur)
Diucapkan oleh orang muda terhadap orang yang lebih tua.
Tanggung jawab orang tua
Adanya “krisis budaya” ini sebenarnya merupakan tanggung jawab semua orang tua Jawa. Seharusnya merekapun wajib menggunakan bahasa Jawa di rumah. Minimal bahasa Jawa “ngoko”. Lebih baik lagi bahasa Jawa “kromo” dan “kromo inggil”.
Sebenarnya ada bahasa Jawa yang lebih tinggi dan lebih sulit lagi, yaitu bahasa Jawa Kuno. Boleh dikatakan bahasa Jawa Kuno ini sudah lenyap. Jadi, jika bahasa Jawa ngoko,kromo dan kromo inggil tidak diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, maka sekitar 50 tahun lagi, bahasa Jawapun akan lenyap dari permukaan bumi.
Oleh karena itu, semua orang tua Jawa, bertangguungjawab untuk melestarikan bahasa Jawa.
Sumber foto: www.java-heritage.com
Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger


















Assalamuala,ikum wr br? Sebelumnya. Saya mau memperkenalkan diri. Nama saya Saimin. Saya, dari purwokerto. Saya tidak sengaja browsing di internet. Ketemunya blog yg bapa tulis. . Dan saya sebagai orang jawa sangat malu karena saya, sendiri tidak bisa berbahasa jawa. Saya mau tanya apa blog bapa, memuat tata cara berbasa jawa. Dan membahasnya lebih lanjut, . Antara ngoko,kromo, dan kromo inggil. Trima kash. . .
TANGGAPAN:
Wah, saya belum punya blog yang khus membahas bahasa Jawa ngoko,kromo dan kromo inggil.
Coba cari di Google, barngkali ada penulis lain. tau barangkali ada blog khusus Bahasa Jawa.
Terima kasih.