PUISI: Bangsa Indonesia Bangsa Pemalu
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu memakan kojor
tetapi tidak malu memakan pizza
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu makan di warung
tetapi tidak malu makan di kentucky
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu memakai produk indonesia
tetapi tidak malu memakai produk itali
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu kalau tidak lulus ujian
tetapi tidak malu membeli bocoran soal ujian
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu dianggap bodoh
tetapi tidak malu memakai gelar sarjana yang salah
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu memakai nama-nama indonesia
tetapi tidak malu memakai nama arab,inggeris,amerika, dll.
bangsa indonesia bangsa pemalu
malu dianggap miskin
tetapi tidak malu melakukan korupsi
Hariyanto Imadha
Penulis puisi
PUISI: Republik Wedhus Gembel
republik wedhus gembel
rakyatnya miskin tanpa embel-embel
legislatifnya suka saling mendongkel
eksekutifnya suka ngeyel
yudikatifnya suka salam tempel
.
republik wedhus gibas
rakyatnya miskin dan susah bernafas
legislatifnya suka saling melibas
eksekutifnya suka kipas-kipas
yudikatifnya suka terima uang pas
.
republik wedhus cempe
rakyatnya miskin dan jadi kere
legislatifnya suka berpakaian perlente
eksekutifnya suka mencla-mencle
yudikatifnya suka bersikap memble
.
Sumber foto: my.opera.com
.
Hariyanto Imadha
Penulis puisi
Sejak 1973
PUISI: Republik Telek Lentung
konon ada sebuah republik
katanya kaya sumber daya alam dan tambang
nyatanya utangnya luar biasa
minyak habis tinggal lentungnya
konon ada sebuah republik
katanya tanahnya subur makmur
tongkat kayu jadi tanaman
nyatanya petaninya banyak yang miskin
konon ada sebuah republik
katanya pemerintahannya bersih dan berwibawa
nyatanya korupsi merajalela
pemimpinnya juga tidak tegas
konon ada sebuah republik
katanya bersih tanpa pungli dan tanpa suap
nyatanya seperti kandang ayam
banyak teleknya
itulah republik telek lentung
pemimpinnya gendeng
wakil rakyatnya sinting
rakyatnya diperas membayar pajak
untuk mereka berleha-leha
Sumber foto: segalacerita.com
Hariyanto Imadha
Penulis Puisi
Sejak 1973
PUISI: Beda Puisi dan Sok Puisi
SAYA punya teman. Kalau soal lukisan, dia memang jagonya. Apa alirannya, tidak jelas. Tapi soal puisi, jelas bukan puisi dalam arti sesungguhnya. Hanya kumpulan kata yang tak jelas maknanya. Hanya menonjolkan indahnya kata tanpa arti. Jelas, teman saya tak bisa membedakan mana yang pusi dan mana yang sok puisi.
Beda puisi dan sok puisi.
Puisi
-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat biasa yang mudah dipahami.
-Tata bahasanya benar.
-Istilah yang digunakan benar.
-Tiap kata dan kalimat ada arti atau maknanya
-Tiap kata dan kalimat tak pernah menyimpang dari judul.
Contoh
“Negeri Para Begundal”
Kita ini hidup di negeri begundal
Pejabatnya sibuk mengurusi politik sundal
Rebutan jabatan dan berlomba hidup royal
Dengan cara main suap atau saling jegal
Kita ini hidup di negeri sundal
Pemilu berantakan dikatakan normal
Rakyat dibohongi lembaga survei yang tak bermoral
Karena dibayar oleh politikus bermoral kadal
Kita ini hidup di negeri abnormal
Orang salah dapat jabatan orang benar terpental
Mau jadi polisi,mau jadi PNS,mau jadi TNI, rumah dan tanah terjual
Karena oknum pejabatnya sudah rusak mental
Kita ini hidup di negeri terpental
Rakyat dibohongi angka-angka statistik yang tak masuk akal
Padahal utang bangsa kita sudah sangat fatal
Pemilu banyak menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang begundal
Oleh: Hariyanto Imadha
Sok puisi
-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat biasa yang sulit dipahami.
-Tata bahasanya sering keliru.
-Istilah yang digunakan kadang keliru.
-Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya
-Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.
-Ada pesan yang disampaikan
Contoh
“Pelangi Sendu Beratap Gulana”
ketika sepi menyendiri menepi tanpa kisi-kisi
sembilu merah mengalir darah
terlunta kata dan cinta
terpana masa lama yang sirna
entah kapan buaian itu berhenti
tanpa kinanti mengguncang harap
tertata rindu kecup di birunya langit
kelam,kelam dan kelam
terantuk tergaruk dan luka lecet di jari kelingking
menggapai rindu tepian laut
ketika debur ombak berhenti bernafas
bertebar galau merebak jiwa
o,sendunya,sendunya
tak terkatakan kemana cinta berlari
dari ujung makam hingga rel kereta api
hanya noda cinta memagut harap
nan jauh dari kilau fatamorgana
Oleh: Gatoloco Dot Com
Nah, semoga Anda bisa membedakan mana yang “puisi” dan mana yang “sok puisi”
Semoga bermanfaat.
Sumber gambar: sugengsetyawan.blogspot.com
Hariyanto Imadha
Blogger





















Iya yah pak…. Yang pertama mudah dimengerti tapi yang kedua kok malah mbundettt mbuh ngomong apa aku ra mudeng……. Hehe
Terima kasih pak…
JAWABAN:
Mengerti atau tidak mengerti memang relatif,sih.
Justru yg sy sering dengar dan saya simak dalam acara2 panggung terbuka puisi yang di baca type ke 2 pak Har. bahkan seolah yg sy tangkap penilaian dr org2 puisinya bagus, mrk baca dr kota ke kota yg lain. kalo sy sendiri masih belajar . . .
trimakasih pak Har, mengingatkan kembali plajaran kesusastreraan kala smp dan sma.
TANGGAPAN:
Salah kaprah tentang puisi memang sudah lama. Sebenarnya puisi memang memuat kata-kata yang indah, tetapi harus bermakna.
Yang terjadi yaitu asal katanya indah,maka dianggap bagus. Yang benar, makna katanya yang harus bagus dan bukan kata-katanya yang bagus.
Idealnya, kata indah harus diimbangi makna yang iindah pula.