Suatu Hari dalam Kehidupan Vanessa

Sumber foto: nashelf.wordpress.com

TIAP kali saya mendengar lagu “One Day in Your Life” yang dibawakan Michael Jackson, hati saya pasti tersentak dan sekaligus saya menatap masa lalu saya yang seharusnya sudah saya lupakan. Sebuah masa lalu di mana saat itu saya sedang berstatus mahasiswa Fakultas Filsafat , Universitas Gajah Mada.

Satu-satunya mahasiswi yang pertama kali saya kenal bernama Vanessa Putri, yang juga baru saja diterima di fakultas yang sama. Dia satu angkatan dengan saya. Secara kebetulan saja, waktu kuliah duduknya dekat bangku saya. Dan kebetulan juga ketika ke kantin, saya bertemu dan makan siang bersama dia. Kebetulan lagi tempat kosnya berdekatan dengan tempat kos saya.

-“O, tinggal di Sosrokusuman juga?”. Saya terkejut. Saat itu kebetulan saya duduk berdampingan di bus kampus sewaktu pulang kuliah.

-“Iya. Tapi sebelumnya saya ikut tante di Jl. Magelang”. Lembut suaranya. Kalau saya perhatikan, cantik juga mahasiswi ini. Langsing, rambutnya halus sebahu. Akhirnya saya dan Vanessa bicara kesana kemari.

Di kampus itu saya juga punya kenalan mahasiswa yang baik hati. Namanya Maskanto. Sering secara tak sengaja bertemu di perpustakaan. Entah kenapa, tiap kali bertemu saya, dia selalu tanya kok tidak bersama Vanessa. Tentu, saya jawab kalau Vanessa lebih sering bersama mBak Areta daripada dengan saya.

Meskipun demikian, saya juga sering mengantarkan Vanessa belanja di Malioboro, makan siang bersama di restoran Hellen atau sekadar rekreasi bersama di Kaliurang, Pantai Samas, Borobudur dan lain-lain. Cukup banyak foto kenang-kenangan antara saya dan Vanessa. Saat itu saya dan Vanessa punya lagu favorit yang sama, yaitu “One Day in Your Life” yang dibawakan penyanyi nyentrik Michael Jackson.

Satu hal yang tak pernah diketahui teman-teman sekampus, saya sebenarnya sudah lama punya pacar. Yaitu, sejak saya dan Lia masih sama-sama duduk dibangku SMAN 6 Surabaya. Dia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, sedangkan saya di Fakultas Filsafat UGM dengan tujuan memperdalam ilmu logika dan epistemologi.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, saya memang terlibat dalam kehidupan Vanessa. Walaunpun hubungan saya dengan Vanessa sudah berjalan tiga tahu, namun saya tetap menganggap bahwa Lia yang kuliah di Surabaya adalah satu-satunya pacar saya.

Banyak teman sekampus menilai, saya berpacaran dengan Vanessa. Itu tidak benar. Saya hanya menganggap dia sebagai teman kuliah. Tidak lebih dari itu. Hal ini membuat Maskanto penasaran sehingga suatu hari dia bertanya kepada saya.

-“Lho, jadi kamu menganggap Vanessa sebagai teman biasa?”. Maskanto agak terkejut.

-“Ya,iyalah. Tidak lebih dari itu”.Saya berkata jujur.

-“Tapi kamu nggak boleh begitu. Kamu selama ini telah memberi hati.Telah memberikan harapan”. Maskanto menasehati saya.

-“Sikap saya  terhadap  mahasiswi lain, sama. Dengan Retno, Ayu, Treska atau Rossa, atau siapa saja sama. Saya juga sering ke rumah mereka, pinjam buku atau sekadar ngobrol-ngobrol”.Saya menjelaskan.

Akhirnya memang saya sadar. Saya terlalu akrab dengan Vanessa. Bahkan mBak Areta sendiri pernah mengatakan kepada saya kalau Vanessa sebenarnya sudah lama naksir saya. Bahkan beberapa teman saya juga mengatakan demikian.

Hingga akhirnya, ketika saya dan Vanessa sedang duduk berdua di Kampus Bulaksumur. Beristirahat sambil memandangi pohon-pohon cemara yang bergoyang ditiup angin, maka terjadilah percakapan yang tak pernah terduga.

-“Harry, sebenarnya sikap kamu terhadap saya bagaimana?”. Vanessa membuka pembicaraan. Serba salah posisi saya waktu itu. Namun, saya tetap harus berkata jujur. Apapun resikonya.

-“Ya, selama ini kita berteman Vanessa”

-“Berteman bagaimana?”. Vanessa mendesak.

-“Berteman biasa. Tidak lebih dari itu”.Saya lihat Vanessa memandang saya dengan pandangan mata yang tak saya mengerti.

-“Jadi, Harry sudah punya pacar?”

-“Sudah. Dia kuliah di Fakultas Kedokteran, Unair?”

-“Kenapa tidak bilang sejak dulu?”. Nada bicara Vanessa meninggi. Tampak dia mulai marah. Saya tak pernah menduga hal ini terjadi. Demi Tuhan, sikap saya terhadap mahasiswi lainnya sama.Bersahabat biasa.

-“Apakah karena kaki saya pincang sehingga Harry malu punya pacar seperti saya?”. Kali ini Vanessa benar-benar marah. Dia mulai menangis. Saya benar-benar tak menyangka ada pertanyaan seperti itu. Memang benar, Vanessa kaki kirinya pincang akibat kecelakaan sepeda motor sewaktu dia masih duduk di kelas satu SMA. Dia pernah bercerita tentang kecelakaan itu.

Demi Tuhan, saya diam saja. Tak tahu harus bicara bagaimana. Namun saya memahami kemarahan Vanessa. Mungkin sudah tiga tahun dia menunggu kepastian. Padahal, saya cuma menganggapnya sebagai sahabat saja.

-“Saya minta maaf kalau selama ini saya dianggap salah. Tapi, saya mohon Vanessa memahami. Dengan mahasiswi lain saya juga bersikap yang sama”.

Vanessa tak menjawab. Sambil mengusap air matanya di pipi dengan sapu tangan, dia lantas meninggalkan saya sendiri. Saya pandangi kepergiannya hingga hilang dari pandangan mata saya. Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

Yang pasti, esok harinya saya tak melihat Vanessa datang kuliah. Semula saya mengira dia sakit. Namun dari mBak Areta dan Maskanto saya mendapat informasi kalau Vanessa sudah keluar dari kampus UGM. Dia pulang ke Bandung untuk mengambil kursus bahasa Perancis. Kabarnya, akan bekerja di Paris.

Selanjutnya adalah hari-hari tanpa Vanessa. Saya kemudian ingat sebuah pepatah yang mengatakan “Dalamnya laut dapat diduga, hati wanita siapa tahu?”.Yang pasti, saya dalam posisi hari-hari tanpa Vanessa. Betapapun juga, saya menganggap persahabatan saya dengan dia adalah persahabatan yang indah. Selama tiga tahun, saya selalu bersama. Hingga suatu hari, dalam kehidupannya, saya baru tahu kalau sesungguhnya Vanessa mencintai saya.

”One Day in Your Life”. Itulah lagu kesayangan saya dan Vanessa.

HARIYANTO IMADHA

Alumni FSUI

%d blogger menyukai ini: