Cinta Bersemi di Perpustakaan LIPI

JAKARTA. Saat itu, pagi pukul 09:00 WIB saya ke Perpustakaan LIPI, Jl.Gatot Soebroto. Sesudah melihat daftar katalog dan mencatat buku yang akan saya pilih, maka saya pun menuju ke rak kelompok buku kategori sastra.

Ada tiga buku yang saya ambil. Pertama, A Tale of Two Cities, ditulis oleh komentator bernama Dent GK Chesterton. Kedua, judul sama, diceritakan kembali oleh Patricia Atkinson. Ketiga, judul sama, sebuah ilustrasi yang ditulis Sir John Shuckburgh diterbitkan oleh Oxford Press.

Untuk apa? Saya sedang menyusun skripsi saya di Akademi bahasa Asing “Jakarta”, Jurusan Bahasa Inggeris. Berjudul “The Summary of A Tale of Two Cities” (A Summary of Charles Dickens,s Historical Novel).

Sesudah mengambil buku-buku itu, saya langsung duduk di ruang baca. Ada sebuah meja sangat besar dengan sekitar 20 kursi.

Ketika sedang asyiknya membuka lembaran-lembaran buku dan sesekali mencatat, ada seorang cewek duduk di sebelah saya. Namun saya cuek saja. Tetap konsentrasi ke buku.

Namun, sekitar sepuluh menit kemudian, cewek di sebelah saya menegur saya dengan pelan-pelan.

-“Maaf,Mas. Boleh pinjam ballpoint-nya? Ballpoint saya tintanya habis”

Sayapun menengok. O, ternyata dia cantik juga,ya?

-“Oh,silahkan. Kebetulan saya bawa dua”. Saya berikan satu ballpoint untuk dia.

-“Terima kasih,Mas”

Kemudian hening lagi. Kalau semula konsentrasi saya ke buku bisa 100 persen, maka angka itu tiap menit berkurang. Busyet! Cantik amat cewek itu.

-“Kuliah di mana?”. Saya memberanikan diri menegur.

-“Di Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara”. Singkat ucapannya.

-“Menyusun skripsi”. Saya ingin tahu.

-“Oh,tidak. Saya baru semester keempat. Cuma membuat makalah untuk bahan diskusi”. Dia menjelaskan.

Kemudian hening lagi.

Satu jam kemudian.

‘Maaf,Mas.Saya cabut duluan. Terima kasih ballpointnya”. Cewek itu berdiri, mengembalikan ballpoint, kemudian meninggalkan saya, menuju pintu keluar, kemudian hilang dari pandangan mata.

Edan!.Cewek tadi cantik benar. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya mungil. Pokoknya sempunalah. Tapi, tapi, ya Tuhan. Kenapa saya tidak tanya nama, alamat atau nomor teleponnya?

Tiba-tiba saya melihat selembar kertas yang tadi dicoret-coret cewek tadi. Iseng-iseng saya ambil. Eh, ternyata ada pesan buat saya.

-“Mas terima kasih ballpointnya. Nama saya Vanza Yunita. Alamat saya di Jl…..tepatnya di belakang gedung bioskop Wira. Nomor telepon saya…(sekian-sekian). Oh, langsung kertas itu saya cium, saya lipat dan saya masukkan ke saku baju. Hari itu saya merasakan dapat durian runtuh.

Sesudah membuat janji lewat telepon, akhirnya Minggu saya ke rumahnya. Rumahnya kecil, tetapi bertingkat. Vanza ternyata anak tunggal. Ayahnya bekerja di Bank BRI. Vanza tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas. Apalagi saya saat itu juga kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, maka diskusi tentang ekonomi tentu sangat menarik.

Nah, hari-hari berikutnya tentu saya dan Vanza bertemu di Perpustakaan LIPI. Belajar sambil pacaran. Wah, susah juga ya? Namun asyik juga pacaran di perpustakaan. Tempatnya sejuk karena AC. Suasananya tenang dan nyaman. Banyak buku-buku yang menarik untuk dibaca. Saya dan Vanzapun sudah saling bertukar foto. O, benar-benar cantik sempurna wajah Vanza.

Hari-hari selanjutnya biasalah. Jalan-jalan ke Taman Mini, ke Ancol, nonton bioskop, ke kafe, bahkan kalau Minggu bersama-sama main bowling. Bahkan kalau Sabtu jalan-jalan ke mall. Beli bajulah, beli celanalah, beli kamera digitallah.

Yang pasti Vanza bukan tipe cewek materialistis. Saya dan Vanza saling traktir secara bergantian. Kalau ke Kentucky, kadang saya yang bayar, kadang Vanza yang bayar. Sudah lama saya merindukan pacaran model begini.

-“Ulang tahun datang,Ya?”. Ucap Vanza sambil memberikan undangan ulang tahun. Sayapun datang. Wah, temannya cukup banyak. Jalan di sepanjang rumahnyapun penuh dengan mobil. Sebagian yang datang adalah mahasiswi. Cowoknya hanya sekitar 20 persen.

Ketika acara pemotongan kue ultah, teman-temannyapun dengan kompak berkata:

-“Cium…cium…cium…”.Diucapkan berkali-kali.

Walaupun saya sudah berpacaran selama enam bulan, namun pada ultah Vanza pada tanggal 17 Juni itupun akhirnya saya cium juga. Tidak perlu malu-malu.Asyiiik…!

Sesudah ultah Vanza, maka sayapun konsentrasi untuk menghadapi ujian skripsi. Selama sebulan saya tak pernah ke rumah Vanza. Maklumlah, ujian tersebut menggunakan bahasa Inggeris. Kalau ujian skripsi di fakultas ekonomi sih gampang. Ngomongnya pakai bahasa Indonesia. Tidak ada susahnya.

Bahasa Inggerisnyapun harus bahasa Inggeris sastra. Bukan bahas Inggeris umum (general English). Banyak idiomatic expression yang harus dipahami. Banyak usage yang harus digunakan secara tepat. Demikian juga faktor pronunciation, phonemic, grammar maupun structurenya. Ada lima dosen penguji. Satu lulusan Amerika dan satu native speaker dan tiga sarjana lokal. Salah satu dosen lokal namanya cukup dikenal, yaitu Djalinus Syah. Beberapa bukunya pernah diterbitkan.

O, betapa bahagia saya ketika saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (bacanya kum-lau-de). Sebenarnya sih, cumlaude masih di bawah magna cumlaude (magna dibaca ma-nya). Di atas magna cumlaude masih ada summa cumlaude.

Esok harinya, sayapun menuju ke rumah Vanza untuk menyampaikan kabar gembira bahwa saya telah lulus ujian di Akademi Bahasa Asing “Jakarta”. Sekaligus bermaksud menyampaikan undangan wisuda. Namun ternyata rumahnya sepi. Hanya ada pembantunya. Pembantu itu menyerahkan sebuah amplop yang ternyata isinya adalah undangan pernikahan antara Vanza dengan entah siapa.

Terselip selembar kertas. Isinya singkat, jelas, tapi membuat hati saya perih.

-“Mas, Vanza minta maaf. Semua di luar dugaan Vanza. Vanza terpaksa dijodohkan dengan pria pilihan ayah saya. Ayah saya punya utang Rp 10 miliar dan tak mampu melunasinya, Mas. Saya serba salah. Namun sebagai seorang anak, sayapun harus berbakti kepada orang tua. Betapapun juga, Mas adalah cinta pertama saya.Maafkan saya. Semoga Mas mendapatkan pacar yang melebihi saya. Dari: Vanza Yuanita.”

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari kosong dan hampa bagi saya. Terkadang saya pergi ke Perpustakaan LIPI. Bukan untuk menyusun skripsi, tetapi sekadar bernostalgia. Alangkah indahnya hari-hari ketika saya masih bersama Vanza. Sebuah keindahan yang tidak mungkin terulang lagi.

Sumber foto:http://emteika.files.wordpress.com/2008/08/library.jpg

Hariyanto Imadha

Panulis Cerpen

Sejak 1973

Lakum Dinukum Waliyadin

 

Sumber foto: kolomkiri.wordpress.com

YOGYAKARTA 1980. Sebenarnya perkenalan saya dengan Anita terjadi secara tak sengaja. Yaitu, ketika saya sedang asyik berjalan-jalan di trotoar Malioboro sambil melihat-lihat etalase toko, tanpa sengaja saya menabrak seorang gadis sehingga buku-buku yang dibawanya terjatuh.

“Oh, maaf…Tak sengaja” Saya langsung merunduk membantu mengambilkan buku-bukunya yang terjatuh.

“Oh, nggak usah Mas. Biar saya ambil sendiri…” Dia juga merunduk mengambil bukunya. Sepintas saya melihat di sampul bukunya ada huruf berbunyi “Anita”. Mungkin itu namanya.

“Namanya Anita,ya?” Saat itu kami berdua telah berdiri. Gadis yang masih berseragam SMA itu terkejut.

“Kok,tahu kalau nama saya Anita?”

Saya tertawa

“Dari buku Anita” Saya menunjuk namanya yang ada di bukunya.

“Ah,curang. Situ namanya siapa,dong?”

Akhirnya kamipun berkenalan. Kebetulan siang itu saya belum makan siang.

“Setuju tidak kalau saya traktir Anita makan siang di Restoran Hellen?” Saya mengajak Anita sambil menunjuk restoran yang ada di seberang jalan.

“Wow, kalu ditraktir sih,boleh”

Akhirnya kami berdua makan di restoran itu. Kami duduk berhadapan. Sangat jelas saya melihat kecantikan wajahnya. Katanya, Anita duduk di kelas III salah satu SMA di Yogyakarta. Dia tinggal di Asrama Putri Stella Duce. Siang itu baru saja pulang sekolah untuk membeli buku novel karya Mira W kesukaannya.

Sayapun memperkenalkan diri bahwa saya mahasiswa Fakultas Filsafat, UGM. Sayapun katakan bahwa saya kos di daerah Lobaningratan. Perkenalan itu lancar saja. Kami saling ngobrol dan tertawa. Seolah-olah kami telah berkenalan lama.

Pertemuan pertama itupun tentu ada kelanjutannya. Tiap Sabtu kami berjanji bertemu di Restoran Hellen. Sebenarnya sulit untuk bertemu sebab Asrama Putri Stella Duce sangat keras disiplinnya. Jadi, seringkali Anita kabur dari asramanya hanya karena ingin bertemu dengan saya.

Suatu saat ketika kami berdua di Samas, maka itu adalah kenangan terindah pertama yang kami nikmati. Tidak ada kata cinta sebab bahasa tubuh kami telah berbicara tentang hal itu. Paling indah ketika saya mencium bibir Anita dan dia diam pasrah. Indah sekali hari itu. Tubuh kami dibelai angin pantai yang dingin sejuk.

Tak lupa kenangan yang indah itu kami abadikan dalam bentuk foto. Tentu, atas bantuan orang lain untuk memfoto kami.

Tanpa terasa, Anita telah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Tak heran kalau saya sering ke kampusnya. Bahkan tak jarang berpacaran di ruang perpustakaan kampusnya. Kebetulan, saya juga suka membaca buku-buku psikologi.

Tiga tahun sudah. Kebetulan, kuliah saya di fakultas filsafat telah selesai. Hari wisuda saya juga dihadiri Anita. Saat itulah, saya harus kembali ke Jakarta.

“Anita, rencananya dua hari lagi saya akan kembali ke Jakarta” Saya pamit ke Anita.

“Lantas, bagaimana dengan hubungan kita? Berlanjut atau sampai di sini?” Anita memandang saya penuh harap.

“Pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab, Anita?

“Kenapa?” Anita penasaran.

Saya mengajak Anita ke kantin dan membicarakan hubungan saya dengan Anita. Memang, saya baru menyadari kalau antara saya dan Anita berbeda agama.

“Maaf Anita. Mungkin Anita tahu, saya seorang muslim sedangkan Anita beragama Kristen.”

“Emamngnya itu masalah? Kalau menurut hukum Indonesia, kita bisa menikah secara sah. Pada prinsipnya sebuah perkawinan sah secara hukum apabila memenuhi kedua syaratnya, baik syarat materiil maupun formil. Di Indonesia, syarat sahnya perkawinan di atur dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.  Dalam Undang-undang ini, tepatnya dalam pasal 2 diatur bahwa sebuah perkawinan sah secara hukum apabila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaan dari masing-masing pihak yang akan menikah dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Anita menjelaskan dari sudut pandang hukum.

“Iya,sih. Menurut pandangan Islam, Dalam agama Islam, terdapat dua aliran yang memberikan pandangan mengenai hal ini. Aliran yang pertama menyatakan bahwa dimungkinkan adanya perkawinan beda agama. Hanya saja hal ini dapat dilakukan jika pihak pria beragama Islam, sementara pihak perempuan beragama non-Islam (Al Maidah(5):5). Jika kemudian kondisinya sebaliknya, maka menurut aliran ini, perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan (Al Baqarah(2):221). Di sisi yang lain, aliran yang satunya lagi menyatakan bahwa dalam agama Islam, apapun kondisinya, perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan (Al-Baqarah [2]:221).” Saya menjelaskan posisi saya ke Anita.

Sayapun menambahkan.

“Bahkan menurut agama Anita, Kristen Protestan, dikatakan bahwa Dalam agama Kristen (Protestan) perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan. Alasan apapun yang mendasarinya, dalam agama ini perkawinan beda agama dilarang. (I Korintus 6 : 14-18).”

“Tapi kita bisa menikah di luar negeri. Berdasarkan UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan, di Indonesia tidak dimungkinkan untuk melakukan perkawinan beda agama. Yang kemudian mungkin dapat dilakukan adalah melakukan perkawinan beda agama di luar negeri kemudian mencatatkan perkawinan tersebut di KUA / Kantor Catatan Sipil.” Anita menjelaskan.

“Iya sih. Tapi, Perlu digarisbawahi bahwa dengan dicatatkannya perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri tidak serta merta membuat perkawinan itu sah di mata hukum Indonesia. (KUA/KCS hanya lembaga pencatat perkawinan)” Saya mengutip sebuah kalimat yang pernah saya baca bberapa hari yang lalu.

Cukup lama saya dan Anita membicarakan masalah perbedaan agama itu. Tentu tidak mungkin saya sebagai seorang muslim harus berpindah agama ke Kristen Protestan. Sebaliknya, Anitapun tidak mau kalau demi pernikahan harus meninggalkan agamanya.

“Begini Anita. Andaikan kita nanti masuk sorga, kita tidak mungkin akan bertemu. Surgaku adalah surgaku. Surgamu adalah surgamu”

Saya lihat. Anita berwajah sedih. Matanya berkaca-kaca. Kemudian satu persatu air matanya meleleh di pipinya.

“Jadi, kita harus berpisah?”

Sulit saya menjawabnya.

“Anita. Sesungguhnya saya mencintai Anita. Tapi demi masa depan, sebaiknya kita mengambil jalan yang terbaik. Baik bagi agama saya dan baik bagi agama Anita. Hari ini kita harus mengambil kuputusan, Anita. Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari saya…”

“Jadi, kita harus berpisah?” Anita memandang saya sambil mengusap air mata di pipinya menggunakan sapu tangan. Saya tak bisa menjawab.

Sekitar 15 menit kami saling berdiam diri.

“Baiklah, Harry. Mungkin kita belum berjodoh. Tolong simpan kalung ini untuk kenang-kenangan dari saya”. Anita mencopot kalung dengan hiasan salib. Saya menerimanya dengan sedih sekali.

Secara kebetulan, dari tempat kos saya sudah menyiapkan tasbih buat kenang-kenangan Anita.

“Anita. Saya hanya bisa memberikan ini” Saya menyerahkan untaian tasbih ke Anita. Anitapun menerimanya dengan penuh rasa sedih.

Itulah pertemuan saya dengan Anita untuk yang terakhir kalinya. Ketika kereta api mengantarkan saya ke Jakarta, Anitapun mengantarkan sampai di stasiun Tugu, Yogyakarta. Dari jendela kereta api, saya hanya bisa melambaikan tangan ke Anita dan Anitapun melambaikan tangan ke arah saya.

Keretapun mulai berjalan, meninggalkan stasiun Tugu, meninggalkan Yogyakarta, meninggalkan Anita, meninggalkan sejuta kenangan indah.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Cintaku Biru di University of Saskatchewan

 

Sumber foto: facilities.usask.ca

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dll. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www.campussaskatchewan.ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dll. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs.Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts.. Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya. O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dll. Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

-“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

-“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran. Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita mau saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya. Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita..

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Calon Isteriku Seorang Pelacur

Sumber gambar: hitmansystem.com

KUPIKIR, tingkah manusia kadang-kadang menggelikan. Coba Anda pikir, saya telkah dipecat dari PT PPM (Pusat Pelayanan Manajemen) hanya karena persoalan yang sangat kecil.Sekecil kerikil.Tingkah manusia yang saya anggap menggelikan yaitu pemecatan itu tidak berdasarkan akal sehat melainkan semata-mata bertitik tolak pada pemikiran politis,kekuasaan,otoriterisme,subjectivisme dan logika yang sangat dangkal.

Tapi, saya yang memiliki latar belakang pendidikan yang sangat luas bisa memaklumi bahwa pemecatan itu adalah merupakan kristalisasi rasa frustasi  dari sang pemecat sekaligus merupakan refleksi ego yang haus akan harga diri.

-“Mampir,Mas?”,tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara renyah seorang gadis cantik.Saya baru sadar bahwa saya telah berada di Hotel Paripurna lantai II.Sekaligus saya tersadar bahwa tujuan saya di hotel itu adalah mencari inspirasi untuk membuat cerita pendek atau artikel yang akan saya kirimkan ke majalah Femina dan Sarinah.Maklum, setelah dipecat dari PPM, saya harus kembali ke profesi saya  yang lama sebagai seorang pengarang., Demi sesuap nasi.

Saya pandang gadis itu.Cantik,ramah dan mempunyai daya tarik yang luar biasa.Wajahnya yang mirip Agnes Monica membuat saya betah melihatnya.Tak ada kesan sedikitpun bahwa dia sebenarnya seorang pelacur.

Saya pun masuk kamarnya.Pintu ditutupnya.Di pintu luar tergantung tulisan berbunyi “Do Not Disturb”.Saya pandangi sekeliling kamar.Ada dua buah tempat tidur,sebuah meja hias,lemari,dua kursi santai,AC dan kamar mandi yang dilengkapi dengan air panas.

-“Sebentar ya,Mas…” kata gadis itu sambil berjalan  menuju ke kamar mandi.Pelan saya berjalan menuju mejua hiasnya.Iseng-iseng saya membuka laci.Wow,…ada buku.Dasar saya pecinta buku, maka saya perhatikan buku itu.Judulnya cukup menarik,”Prostitution:A Psychological Approach:,karya R.L.Suzanne Heldon.Kemudian buku satunya berjudul “Belinda:A House of Love” oleh Caroline Breadley.Dan buku ketiga berjudul “Prostitution:Are You with It?” diususun oleh Elizabeth Burdock. Ketiga buku itu bagus dan saya pernah membacanya semasa saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM.

-“Kok,ada buku-buku di sini?”,tanyaku ke gadis muda yang bernama Ita itu.-“Sudah sebulan buku-buku itu di situ.Punya tamuku.Mungkin ketinggalan.Mungkin dia lupa.Mmm…o ya,Mas.Maaf ya,Ita sedang M nih.Ngobrol-ngobrol saja,ya?”,katanya sambil tersenyum.

-“Nggak apa-apa.Saya ke sini memang Cuma ingin ngobrol-ngobrol.Tidak lebih dari itu.Saya Cuma ingin bertanya,saya ingin bercerita dan juga saya ingin kamu bercerita.Saya kadang-kadang lebih suka menghargai seorang pelacur yang jujur daripada seorang pejabat yang berjiwa pengecut,berani memfitnah,tapi tak berani mengakui kesalahannya.Dulu saya pernah bekerja di PPM,pernah difitnah.Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan dan hanya bisa dilakukan oleh manusia yang berjiwa biadab!”,kata saya sambil meminum Fanta Grape yang dingin segar itu.

Saya dan Ita pun akhirnya terlibat dalam diskusi yang menarik.Diskusi tentang hidup,kehidupan dan penghidupan. Suasana di kamar itu enah,dingin dan nyaman.Sedangkan suasana di bekas kantorku,PPM,seperti di rumah sakit jiwa Grogol.

“Saya akan sering datang ke sini”,kata saya sambil menyelipkan uang sebesar Rp 250.000.Ternyata Ita menolaknya.

“Ita tak membutuhkannya,Mas”.Bawalah.Toh Mas Yanto membutuhkan uang bukan? Untuk makan,transpor,dll.Lagipula,Mas Yanto sekarang dalam keadaan menganggur…”,kata Ita polos.

Saya terharu mendengar kata-kata Ita.Dia seoramng pelacur, tetapi memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi.Dia masih sempat memperhatikan urusan perut.Urusan nomor wahid di dunia.Sementara pejabat-pejabat PPM yang memecat saya, terus terang saja sama sekali tidak memiliki rasa perikemanusiaan seperti itu. Pada dasarnya tindakan PHK atau pemecatan bertentangan dengan sila kedua dari Pancasila,kecuali kalau disertai pesangon atau memberikan pekerjaan di tempat lain.

Detik berganti detik,menit berganti menit,jam berganti jam,hari berganti hari,minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.Saya semakin terlibat dalam keakraban persahabatan dengan Ita.

Aneh,saya tiba-tiba menyadari bahwa saya telah mulai mencintai Ita.Oh,lucu kedengarannya, saya yang sarjana ini berpacaran dengan seorang pelacur.Tapi, memang begitulah kenyataannya.Kami telah saling mencintai.

 

HUBUNGAN kami pun akhirnya diketahui mama (papa sudah meninggal pada tahun 1977).

-“Jadi,kamu akan menikah dengan seorang pelacur? Apakah kamu sudah gila? Ingat Yanto, kamu adalah sarjana sedangkan Ita adalah sampah masyarakat!” kata mama suatu hari.Mama benar-benar marah,namun saya tetap berusaha meyakinkan mama.

-“Mama,Ita memang pelacur.Tapi,itu dulu.Kini Ita sudah insyaf.Apa jadinya jika masyarakat tidak bersedia memaafkan dan menerima seorang pelacur yang telah bertobat? Tuhan pun bisa memaafkan umat-Nya yang bertobat.Kenapa manusia tidak bisa? Kenapa mama tidak bisa?’ tanya saya.

-“Pernikahan bukanlah milikmu berdua.Ada keterikatan dengan keluarga.Apakah kamu ingin merusak nama baik  keluarga kita? Tidak ada satupun putra mama yang senekat kamu”

-“Jadi,mama tidak menyetujuinya?

Mama menggeleng pasti.

-“Mama,mama tentu tahu,di dunia ini tak satupun wanita yang bercita-cita untuk menjadi seorang pelacur. Hati wanita sama.Semua wanita ingin dihargai,dicintai,termasuk mama. Kalau saja,semua laki-laki tidak bisa memaafkan pelacur yang telah bertobat, akan jadi apa kaum Hawa itu? Saya ingin menikahi Ita karena dia adalah seorang wanita.Saya ingin memiliki keturunan dari Ita.Saya mencintai Ita,mama”,saya mencoba meyakinkan mama.

-“Cinta? Hidup tak cukup dengan cinta,tapi juga perlu nama baik. Pantaskan seorang sarjana menikah dengan bekas pelacur?” tanya mama.

-“Kenapa tak pantas? Sebagai sarjana saya menganggap itu wajar. Hanya masyarakat yang cara berpikirnya masih sempit yang mengatakan itu tak pantas.Sayta memperlakukan Ita sebagai mahluk-Nya. Tak ada manusia yang sempurna,mama.Banyak wanita bukan pelacur, tetapi hatinya kotor.Lagipula,tidak semua pelacur itu jahat. Hati seorang wanita tetap hati seorang wanita.Dia juga butuh kasih sayang murni.Mama juga “ saya tetap berusaha meyakinkan mama.Kemudian saya berkata lagi:

-“Tuhan tidak pernah melarang laki-laki menikah dengan seorang bekas pelacur.Yang dilarang adalah perzinahan.Hanya wanita yang menduakan Tuhan yang tidak boleh dinikahi,mama.Itu menurut kitab suci,mama.Menurut sabda Tuhan…”

-“Mama mengerti. Tapi,kenapa kamu tak mencoba mencari gadis yang lain yang lebih terhormat? Toh teman-temanmu banyak:Nunie Hendrati,Lidia,Titien,Renny,Tutty Wardhani,Etta,Yurnita,dll.Mereka gadis-gadis baik dan dari keluarga terpandang” mama menasehati.

-“Tapi,mama.Pernikahan akan terasa hambar kalau tidak dilandasi cinta.Bukankah mama dulu juga menikah berdasarkan cinta?Cinta adalah segala-galanya,mama.Cobalah mama memahami jiwa saya.Sudah cukup lama saya mengalami shock. Mama tentu ingat bahwa saya telah kehilangan Ika,Maya dan Yudha. Tiga kali saya mencintai gadis baik-baik dari keluarga terpandang, namun ketiga-tiganya dipanggil oleh Tuhan. Cobalah untuk mengerti perasaan saya,mama”. Tak ada kata menyerah untuk meyakinkan mama.

-“Sudaaah…jangan ngeyel!Pokoknya mama tidak setuju.Titik!”,mama mulai marah dengan berjalan menuju ke teras depan rumah.

PUSING! Nasib saya di tahun 1985 memang jelek.Dipecat dari PPM hanya karena persoalan sepele.Fakultas Ekonomi Unersitas Trisakti juga tidak mau menerima saya sebagai dosen.Musibah lain,mobil saya mengalami kecelakaan.Sepoeda motor Honda CB-100 dicuri orang.Terakhir,rencana pernikahan saya dengan Ita tidak disetujui mama.

Untuk menghindari tekanan batin yang datang beruntun itu, saya pergi ke Jogja,saya menggunakan waktu saya untuk bernostalgia ke salah satu kampus saya yaitu Fakultas Filsafat UGM. Saya mampir ke Fakultas Psikologi di mana almarhumah Erna Stella atau Maya,bekas pacar saya, pernah kuliah.

Seperti dulu, saya duduk di kantin.Cuma bedanya, kini saya duduk sendiri.Pandangan saya kosong.Pikiran  menyeleonong seenaknya,angan-angan saya morat-marit seperti morat-maritnya manajemen,admninistrasi dan organisasi PPM.Sudah dua botol Green Sands saya minum.

Tiba-tiba lamunan saya dibubarkan oleh datangnya sekelompok mahasiswi ke kantin.Gaduh sekali.Mereka berjumlah kira-kira 20 orang.Silih berganti mereka menyalami dan menciumi salah seorang mahasiswi yang duduknya membelakangi saya.Ucapan selamat pun saya dengar bertalu-talu,bersahut-sahutan dan tumpang tindih.

-“Selamat dong ya…Wah,asyik juga nih..mulai hari ini dapat embel-embel ‘sarjana psikologi’.Selamat Ade Rosita!” begitu ucapan-ucapan mereka yang saya dengar dengan jelas.

Dan dada saya terasa terguncang ketika saya melihat wajah mahasiswi  yang dipanggil Ade Rosita itu.Diapun terkejut.Bangkit dari tempat duduknya,dia berlari kecil menuju tempat duduk saya.Skripsi yang ada di meja jatuh tersenggol.

-“Mas,Mas Yanto.Kok,ada di sini…”,hampir dia menjerit histeris.Saya sadar,mahasiswi yang saya hadapi adalah Ita.Ya,dia adalah Ita yang pertama kali saya temui di salah satu kamar di hotel Paripurna,Jakarta.

Itapun saya sambut,saya dekap erat.Dia menangis dalam dekapan saya.Kemudian,akhirnya saya mengerti duduk persoalannya.

-“Ita,sejak dulu,sejak saya menemukan buku-buku psikologi di kamar hotelmu,saya memang sudah merasakan aneh.Saya sudah mencurigai Ita.Namun, saya baru yakin hari ini bahwa Ita sebenarnya seorang mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang dulu sedang mengadakan penelitian di Hotel Paripurna.Semua untuk bahan skripsi Ita.Selamat untuk Ita…”,sayapun menyalami Ita dan tak lupa kucium pipinya.

Setelah menyeka air matanya, Ita pun memperkenalkan saya kepada teman-temannya.

-“Kenalkan dong,ini Mas Yanto.Calon suami Ita…!”

Sumber gambar: hitmansystem.com

Hariyanto Imadha

Penulis Cerpen

Sejak 1973

 

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiktif belaka.