Cinta Bersemi di Perpustakaan LIPI

JAKARTA. Saat itu, pagi pukul 09:00 WIB saya ke Perpustakaan LIPI, Jl.Gatot Soebroto. Sesudah melihat daftar katalog dan mencatat buku yang akan saya pilih, maka saya pun menuju ke rak kelompok buku kategori sastra.

Ada tiga buku yang saya ambil. Pertama, A Tale of Two Cities, ditulis oleh komentator bernama Dent GK Chesterton. Kedua, judul sama, diceritakan kembali oleh Patricia Atkinson. Ketiga, judul sama, sebuah ilustrasi yang ditulis Sir John Shuckburgh diterbitkan oleh Oxford Press.

Untuk apa? Saya sedang menyusun skripsi saya di Akademi bahasa Asing “Jakarta”, Jurusan Bahasa Inggeris. Berjudul “The Summary of A Tale of Two Cities” (A Summary of Charles Dickens,s Historical Novel).

Sesudah mengambil buku-buku itu, saya langsung duduk di ruang baca. Ada sebuah meja sangat besar dengan sekitar 20 kursi.

Ketika sedang asyiknya membuka lembaran-lembaran buku dan sesekali mencatat, ada seorang cewek duduk di sebelah saya. Namun saya cuek saja. Tetap konsentrasi ke buku.

Namun, sekitar sepuluh menit kemudian, cewek di sebelah saya menegur saya dengan pelan-pelan.

-“Maaf,Mas. Boleh pinjam ballpoint-nya? Ballpoint saya tintanya habis”

Sayapun menengok. O, ternyata dia cantik juga,ya?

-“Oh,silahkan. Kebetulan saya bawa dua”. Saya berikan satu ballpoint untuk dia.

-“Terima kasih,Mas”

Kemudian hening lagi. Kalau semula konsentrasi saya ke buku bisa 100 persen, maka angka itu tiap menit berkurang. Busyet! Cantik amat cewek itu.

-“Kuliah di mana?”. Saya memberanikan diri menegur.

-“Di Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara”. Singkat ucapannya.

-“Menyusun skripsi”. Saya ingin tahu.

-“Oh,tidak. Saya baru semester keempat. Cuma membuat makalah untuk bahan diskusi”. Dia menjelaskan.

Kemudian hening lagi.

Satu jam kemudian.

‘Maaf,Mas.Saya cabut duluan. Terima kasih ballpointnya”. Cewek itu berdiri, mengembalikan ballpoint, kemudian meninggalkan saya, menuju pintu keluar, kemudian hilang dari pandangan mata.

Edan!.Cewek tadi cantik benar. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya mungil. Pokoknya sempunalah. Tapi, tapi, ya Tuhan. Kenapa saya tidak tanya nama, alamat atau nomor teleponnya?

Tiba-tiba saya melihat selembar kertas yang tadi dicoret-coret cewek tadi. Iseng-iseng saya ambil. Eh, ternyata ada pesan buat saya.

-“Mas terima kasih ballpointnya. Nama saya Vanza Yunita. Alamat saya di Jl…..tepatnya di belakang gedung bioskop Wira. Nomor telepon saya…(sekian-sekian). Oh, langsung kertas itu saya cium, saya lipat dan saya masukkan ke saku baju. Hari itu saya merasakan dapat durian runtuh.

Sesudah membuat janji lewat telepon, akhirnya Minggu saya ke rumahnya. Rumahnya kecil, tetapi bertingkat. Vanza ternyata anak tunggal. Ayahnya bekerja di Bank BRI. Vanza tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas. Apalagi saya saat itu juga kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, maka diskusi tentang ekonomi tentu sangat menarik.

Nah, hari-hari berikutnya tentu saya dan Vanza bertemu di Perpustakaan LIPI. Belajar sambil pacaran. Wah, susah juga ya? Namun asyik juga pacaran di perpustakaan. Tempatnya sejuk karena AC. Suasananya tenang dan nyaman. Banyak buku-buku yang menarik untuk dibaca. Saya dan Vanzapun sudah saling bertukar foto. O, benar-benar cantik sempurna wajah Vanza.

Hari-hari selanjutnya biasalah. Jalan-jalan ke Taman Mini, ke Ancol, nonton bioskop, ke kafe, bahkan kalau Minggu bersama-sama main bowling. Bahkan kalau Sabtu jalan-jalan ke mall. Beli bajulah, beli celanalah, beli kamera digitallah.

Yang pasti Vanza bukan tipe cewek materialistis. Saya dan Vanza saling traktir secara bergantian. Kalau ke Kentucky, kadang saya yang bayar, kadang Vanza yang bayar. Sudah lama saya merindukan pacaran model begini.

-“Ulang tahun datang,Ya?”. Ucap Vanza sambil memberikan undangan ulang tahun. Sayapun datang. Wah, temannya cukup banyak. Jalan di sepanjang rumahnyapun penuh dengan mobil. Sebagian yang datang adalah mahasiswi. Cowoknya hanya sekitar 20 persen.

Ketika acara pemotongan kue ultah, teman-temannyapun dengan kompak berkata:

-“Cium…cium…cium…”.Diucapkan berkali-kali.

Walaupun saya sudah berpacaran selama enam bulan, namun pada ultah Vanza pada tanggal 17 Juni itupun akhirnya saya cium juga. Tidak perlu malu-malu.Asyiiik…!

Sesudah ultah Vanza, maka sayapun konsentrasi untuk menghadapi ujian skripsi. Selama sebulan saya tak pernah ke rumah Vanza. Maklumlah, ujian tersebut menggunakan bahasa Inggeris. Kalau ujian skripsi di fakultas ekonomi sih gampang. Ngomongnya pakai bahasa Indonesia. Tidak ada susahnya.

Bahasa Inggerisnyapun harus bahasa Inggeris sastra. Bukan bahas Inggeris umum (general English). Banyak idiomatic expression yang harus dipahami. Banyak usage yang harus digunakan secara tepat. Demikian juga faktor pronunciation, phonemic, grammar maupun structurenya. Ada lima dosen penguji. Satu lulusan Amerika dan satu native speaker dan tiga sarjana lokal. Salah satu dosen lokal namanya cukup dikenal, yaitu Djalinus Syah. Beberapa bukunya pernah diterbitkan.

O, betapa bahagia saya ketika saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (bacanya kum-lau-de). Sebenarnya sih, cumlaude masih di bawah magna cumlaude (magna dibaca ma-nya). Di atas magna cumlaude masih ada summa cumlaude.

Esok harinya, sayapun menuju ke rumah Vanza untuk menyampaikan kabar gembira bahwa saya telah lulus ujian di Akademi Bahasa Asing “Jakarta”. Sekaligus bermaksud menyampaikan undangan wisuda. Namun ternyata rumahnya sepi. Hanya ada pembantunya. Pembantu itu menyerahkan sebuah amplop yang ternyata isinya adalah undangan pernikahan antara Vanza dengan entah siapa.

Terselip selembar kertas. Isinya singkat, jelas, tapi membuat hati saya perih.

-“Mas, Vanza minta maaf. Semua di luar dugaan Vanza. Vanza terpaksa dijodohkan dengan pria pilihan ayah saya. Ayah saya punya utang Rp 10 miliar dan tak mampu melunasinya, Mas. Saya serba salah. Namun sebagai seorang anak, sayapun harus berbakti kepada orang tua. Betapapun juga, Mas adalah cinta pertama saya.Maafkan saya. Semoga Mas mendapatkan pacar yang melebihi saya. Dari: Vanza Yuanita.”

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari kosong dan hampa bagi saya. Terkadang saya pergi ke Perpustakaan LIPI. Bukan untuk menyusun skripsi, tetapi sekadar bernostalgia. Alangkah indahnya hari-hari ketika saya masih bersama Vanza. Sebuah keindahan yang tidak mungkin terulang lagi.

Sumber foto:http://emteika.files.wordpress.com/2008/08/library.jpg

Hariyanto Imadha

Panulis Cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: