CERPEN: Seminggu di Jerman

SESUDAH lulus dari fakultas MIPA, saya jadi penasaran dengan negara yang bernama Jerman. Kebetulan, pacar saya saat itu baru lulus dari fakultas sastra. Namanya Ghea, dan akan mengambil program S-2 di Jerman. Nah, ceritanya saya akan mengantarkan Ghea sekaligus rekreasi di Jerman.

Pertama kali berada di Berlin, agak sulit juga mencari hotel yang murah. Maklum, di rantauan harus berhemat. Namun akhirnya saya dapatkan juga sebuah hotel kecil tetapi bersih dan nyaman.

Sesudah beristirahat sebentar, makan, mandi maka saya dan Ghea-pun segera siap-siap untuk melongok objek wisata.

“Kita ke Brandenburger Tor dulu, Harry” Ajak Ghea yang sudah pernah lima kali berkunjung ke Jerman. Sesampai di Brandenburger Tor, Ghea mengatakan gerbang Brandenburger merupakan gerbang yang bersejarah. Lihatlah gerbang penuh kemegahan ini dari bagian barat. Tempat ini seperti menjadi saksi bisu atas bersatunya Jerman yang dipisahkan akibat kekalahan negeri ini saat Perang Dunia II. Saya cuma manggut-manggut saja. Maklum, saya masih “ndeso” banget.

Setelah foto bersama dengan latar belakang gerbang Brandenburger, saya dan Ghea melanjutkan jalan-jalan ke Unter den Linden yang juga biasa disebut Berlin Walk. Ini merupakan boulevard yang anggun dan asri.

“Kita teruskan” Ajak Ghea menyebrangi jembatan Schloss menuju Schloss Platz. Katanya, rute ini dirancang oleh Friedrich Wilhelm.

“Oh, indah sekali” Saya bergumam mengagumi keindahan panorama alam di sekitar. Saat itu udara cukup dingin. Mantel tebal yang saya pakai rasa-rasanya masih kurang tebal. Agak menggigil juga.

Kemudian saya dan Ghea menuju ke bagian Timur. Bagian timur Unter den Linden kini menjadi objek kunjungan wisata yang menarik. Salah satunya adalah State Opera yang dulunya dipakai sebagai Forum Fridericianum..

Tentu, tak lupa kami mengunjungi objek wisata lain. Yaitu, Reichstag dan Bundestag. Setelah puas lantas mampir ke museum.

“Yuk, kita ke museum” Ajak Ghea yang cantik dan langsing itu. Nama museum itu Checkpoint Charlie.Museum ini paling direkomendasikan untuk dikunjungi di pagi hari.

Terakhir, hari itu saya diajak Ghea ke objek wisata yang dipilih sebagai monumen masa depan kota Berlin ini adalah Fernsehturm atau yang lebih dikenal sebagai menara teve.

Di sini, tak sengaja saya bertemu dengan teman lama. Namanya Wesman yang hari itu 18 Agustus merupakan hari ulang tahunnya.

“Hai! Wesman! Hallo! Wie geht es dir?” Saya sapa Wesman.

“Gute Nachrichten!” Wesman tampak kaget tapi gembira. Kamipun mengobrol sebentar.

“Herzlichen Glückwunsch zum Geburtstag” Saya mengucapkan ulang tahun ke Wesman yang kebetulan jatuh pada hari itu, 18 Agustus.

“Danke” Wesman menjawab senang.

Esok harinya saya dan Ghea ke salah satu pusat belanja yang terkenal. Yaitu di Pentheseleia. Tempat ini berada di Tucholskystraf3e 31. Kendaraan umum yang dapat kami gunakan adalah kereta bawah tanah tujuan Oranienburger Tor.

Pilihan berbelanja lainnya adalah Orlando. Di sini kami dapat memilih beragam jenis sepatu sesuai keinginan.

“Oh! Barangnya bagus-bagus! Harganya juga bagus alias mahal!” Komentar saya ke Ghea. Ghea Cuma tertawa saja.

Orlando terletak di Rosenthaler Str. 48. Saya dan Gheapun dapat mengunjungi Groopie Deluxe, sebuah tempat yang menyediakan berbagai pilihan gaun-gaun malam yang indah serta aneka blazer nan elegan.

Hari berikutnya masih mengunjungi tempat belanja, yaitu di KaDeWe. Bangunan ini terletak di Tauentzienstra ini memiliki luas 60.000 meter persegi. Karena saya ingin membeli barang-barang bermerk, Gheapun mengajak saya ke Quartier 206.

Hari berikutnya saya menemani Ghea untuk mengambil program S-2 untuk jurusan sastra dan budaya Jerman.

Tanpa terasa, satu minggu kami berada di Jerman. Saya merasa senang berpacaran dengan Ghea karena sekaligus dia bisa menjadi guide saya selama di Jerman. Saya benar-benar kagum melihat beberapa objek wisata di Jerman. Sayapun berjanji suatu saat saya akan ke Jerman lagi.

Meskipun demikian, saya lebih menyukai objek wisata di Indonesia karena bersifat natural atau alami. Sedangkan objek wisata di Jerman banyak yang merupakan hasil rekayasa manusia.

Hari terakhir Ghea mengantarkan saya ke bandara. Dan seperti mimpi, pesawat telah take off meninggalkan Jerman.

Hariyanto Imadha

Facebooker

 

http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=474314305296

 

 

 

 

Iklan

CERPEN: Mahasiswi Itu Bernama Endang Syarikawati


“DIA-LAH yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.(QS. Al-Baqarah ayat 22)

BUS yang saya naiki dari Jakarta berangkat pagi hari. Tujuannya ke Sukabumi. Ceritanya, saya mau mengunjungi nenek saya. Beberapa jam kemudian, sampai juga di terminal Sukabumi. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus bacang. Wah, masih hangat. Rasanya nikmat sekali.

Sesudah itu naik angkot dan turun di depan Matahari Department Store. Lantas melanjutkan ke terminal angkot. Kemudian naik angkot jurusan Desa Bojong Lopang. Penuh. Di antaranya ada lima mahasiswi. Kok tahu mahasiswi? Dari percakapannya tentang perkuliahan, dosen, kampus maka saya mengambil kesimpulan dia mahasiswi.

Daripada sepanjang perjalanan melamun, maka iseng-iseng saya tanya kepada mereka.

“Mau kemana,Teh?,” saya mulai menyapa salah satu dari mereka.”Teh” artinya saama dengan “Mbak” di Jawa.

“Ke Bojong Lopang,Mang,” jawabnya. Saya yang orang Jawa dipanggil “Mang”. Ya, tidak apa-apalah.”Mau kemana, Mang?,” ganti mahasiswi itu bertanya.

“Mau ke Bojong Lopang juga. Mau menengok nenek,” saya menjelaskan tujuan saya ke Desa Bojong Lopang. Mahasiswi itu manggut-manggut. Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya tahu nama mahasiswi itu bernama Endang Syarikawati. Bapaknya Jawa, ibunya Sunda. Ceritanya, Endang dan teman-teman, dari Bojong Lopang akan meneruskan ke Bojong Tipar.

“Dalam rangka apa?” tanya saya. Endang menjelaskan, teman-temannya yang semua kuliah di Bandung, sebentar lagi akan menghadapi ujian semester. Untuk itu, mau minta doa restu ke orang tua.

“Orang tua siapa,?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya.

“Maksudnya, orang pintar, Mang,” Endang menjelaskan. Sekarang saya faham. Kelima mahasiswa itu akan ke paranormal supaya bisa lulus ujian.

“Tahunya dari mana kalau di Bojong Tipar ada orang pintar,” saya berlagak dan memberi kesan seolah-olah percaya hal-hal yang bersifat syirik itu.

“Dari teman-teman di Bandung. Terbukti,kok. Mereka lulus semua,” Endang berkata dengan nada yakin, padahal belum pernah melakukannya.

“Bagaimana tuh, caranya? Kebetulan saya juga akan menghadapi ujian semester,nih. Saya kuliah di Universitas Borobudur, Jakarta,” saya terus memancing. Karena saya sudah dipercaya, maka Endangpun bercerita. Katanya, nanti Endang dan teman-temannya akan diberi air putih yang sudah diberi doa, kemudian diminum. Tapi, syaratnyaa harus membeli bunga tujuh rupa yang dijual di teras padepokan paranormal itu. Sesudah minum air putih, nanti disuruh mandi sendiri dan bunga tujuh rupa harus dimasukkan ke bak mandi. Begitu cerita Endang. Karena penasaran, saya tidak jadi berkunjung ke rumah nenek, melainkan menuju ke Desa Bojong Tipar. Itupun harus naik ojek, sebab angkot hanya sampai Desa Bojong Lopang. saya penasaran, ingin tahu, seperti apa sih padepokannya paranormal itu.

Tak lama kemudian, sampai juga. Rumahnya ukuran sedang tapi cukup mewah. Di depan rumahnya ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Sayapun duduk di sebuah kursi. Cukup banyak pengunjungnya. Ada sekitar 100 orang. Uniknya, mereka yang mau menemui paranormal, harus mengambil nomor urut. Persis, seperti mau periksa dokter. Saya juga mengambil nomor, hanya untuk memberi kesan kalau saya juga ada keperluan bertemu dengan paranormal. Padahal, saya cuma ingin tahu, apa saja sih persoalan mereka?

Dari hasil ngobrol-ngobrol, mereka ada yang minta doa enteng jodoh, penglaris usaha, ingin kebal dari ilmu santet, ingin cepat naik jabatan, ingin cepat kaya, ingin lulus ujian semester, ingin cepat naik pangkat, ingin cepat dapat pekerjaan dan masih banyak lainnya. Bagi yang sudah dua tiga kali datang menceritakan, mereka harus membeli bunga tujuh rupa, ada juga harus beli keris kecil, yang lainnya bercerita harus beli cincin kuningan dan lain-lain. Katanya, semua benda itu sudah diberi doa oleh paranormal yang ternyata bernama Mbah Kawul, pindahan dari Situbondo, Jawa Timur.

Kalau saya lihat sih, mereka yang datang tergolong orang-orang berpendidikan. Ada mahasiswa, ada sarjana, ada PNS, ada guru dan bahkan ada dosen.

Sesudah puas melakukan pengamatan tingkah laku mereka, akhirnya saya kembali ke Desa Bojong Lopang menemui nenek saya. Sayapun cerita tentang orang-orang yang datang ke Mbah Kawul. Nenek saya yang fanatik Islam mengatakan “Itulah perbuatan orang-orang syirik. Mereka menganggap benda-benda punya kekuatan tertentu. Padahal, kalau ingin lulus, ya belajar. Ingin laris, ya berusaha maksimal.Mau dapat jodoh, ya harus pandai bergaul.Ingin kebal santet, ya perdalam Al Qur’annya. Seharusnya umat Islam yang punya keinginan, berdoalah ke Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta keajaiban dari kembang tujuh rupa, keris,cincin,batu dan semacamnya. Itu, syirik namanya,”

Saya cuma mengangguk-angguk. Hari sudah sore. sayapun minta izin ke nenek untuk shalat Ashar. Nenekpun mempersilahkan dengan senang hati.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi secara tak sengaja dengan Endang Syarikawati.

“Wah, saya nggak lulus ujian semester,Mang,” katanya kecewa.

Sumber foto:

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150258492645297

 

 

 

CERPEN: Di Antara Pinus-pinus Kaliurang

YOGYAKARTA, 14 Februari 1980. Tanggal ini sampai kapanpun tidak akan saya lupakan. Betapa tidak? Tanggal itu merupakan hari yang sangat indah sepanjang hidup saya. Hari-hari yang sangat menyenangkan.

Seperti biasa, tiap Sabtu siang saya minum-minum di Restoran Hellen, Jl. Malioboro. Menunggu Erna Valentina pulang sekolah. Saat itu kelas III di SMA Stella Duce. Sudah satu tahun saya pacaran. Sayang, hanya tiap Sabtu bisa bertemu. Maklum, dia tinggal di Asrama Putri Stella Duce yang sangat disiplin.

“Hai! Lama menunggu?” Sapa Erna Valentina ketika memasuki restoran. Sudah mengenakan pakaian biasa. Bukan seragam sekolah. Saya dan Erna Valentinapun pesan makanan kesukaan masing-masing.

Sesudah itu, seperti biasa, dengan mengendarai sepeda motor sewaan, maka saya dan Erna Valentinapun segera meluncur santai menuju perbukitan Kaliurang. Sesudah memarkir sepeda motor di warung bakso, maka saya dan Erna Valentina segera naik ke perbukitan.

Walaupun siang, udaranya dingin sejuk. Setapak demi setapak mengitari taman rekreasi Kaliurang itu. Di beberapa bangku saya lihat ada beberapa pasangan muda-mudi sedang asyik berpacaran.

“Yuk, ke pohon pinus kembar,” ajak Erna Valentina. Segera saya dan Erna Valentina menuju pohon pinus kembar. Kata orang-orang, kalau berfoto berdua di situ, pacarannya akan abadi seumur hidup. Dengan menggunakan kamera otomatis lengkap dengan triangle (tiga kaki), maka sayapun segera berfoto di depan pohon pinus kembar itu.

“Yuk, kita abadikan nama kita di pohon ini,” ajak saya.

Sayapun segera mengeluarkan pisau lipat. Secara bergantian saya menulis nama saya “Elfan”, kemudian Erna Valentina menulis “Erna”. Tak lupa menulis tanggal “14 Februari 1980”. Sesudah itu saya cium Erna Valentina penuh rasa sayang.

Indah! Indah sekali hari itu.

YOGYAKARTA, 14 Februari 2009. Sekarang tahun 2009. Berarti kenangan indah itu telah terjadi 29 tahun yang lalu. Sayapun datang lagi ke Kaliurang. Cuma, kali itu saya datang sendiri.

Setapak demi setapak saya naik ke perbukitan Kaliurang. Masih dingin sejuk seperti tahun 1980 yang lalu. Saya cari pohon pinus kembar. Ternyata masih ada. Lebih terharu lagi ketika saya membaca tulisan “Elfan & Erna, 14 Februari 1980”. Masih terbaca dengan sangat jelas.

Tentu, saya teringat kenangan indah di masa muda saya. Terbayang wajah Erna Valentina yang mirip artis Tanti Yosepha itu. Cewek yang cantik, putih, dan rambut pendek. Cewek yang hanya bisa saya pacari tiap Sabtu saja.

Sayapun teringat foto Erna Valentina yang saya simpan di dompet. Saya ambil dan saya pandangi, oh..cantik sekali pacar saya waktu itu. Saya jadinya teringat kenangan indah waktu saya berfoto bersama di depan pohon pinus kembar itu.

Rasa-rasanya kejadian itu seperti mimpi. Cepat berlalu. Namun tak mungkin terlupakan. Bagi saya, Erna Valentina adalah cinta pertama saya. Bagi Erna Valentina, saya adalah cinta pertamanya.

Namun cinta tak selamanya berarti memiliki. Tak selamanya cinta pertama berakhir dengan “happy ending”. Tak selamanya cinta pertama akan berlangsung ke jenjang pErna Valentinikahan. Perpisahan yang di luar dugaanpun terjadi. Semua juga karena asalah salah saya sendiri.

Ya, salah saya sendiri. Seperti biasa, saya tiap Sabtu pagi selalu datang ke Hotel Intan, Jl. Sosrokusuman, belakang Restoran Hellen. Maklum, saat itu saya kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti,Jakarta. Hanya seminggu sekali bisa ke Yogyakarta.

Nah, pagi itu saya terkejut, kok pagi-pagi Erna Valentina sudah ada di hotel tempat saya akan menginap. Namun setelah saya dekati, ternyata bukan. Cewek itu namanya Erna Valentini, adik kandung Erna Valentina. Dia cuma menyampaikan pesan kalau Erna Valentina sakit dan sedang istirahat di rumah neneknya di Solo. Maklum, Erna Valentina sudah tidak punya orang tua lagi.

Ternyata, Erna Valentini tak kalah menariknya dibanding Erna Valentina. Daripada saya tidak punya acara, maka saya mengajak Erna Valentini jalan-jalan. Kebetulan Erna Valentini sedang libur sekolah dan dia kos di rumah temannya. Jadi, bebas ke mana saja.

Ya, makan bersamalah. Saya belikan T-Shirt-lah. Lama-lama tiap Sabtu pagi saya bertemu dengan Erna Valentini. Artinya, tiap Sabtu pagi Erna Valentini membolos sekolah. Saat itu kelas 2 di SMA swasta. Sayapun berpacaran dengan Erna Valentini.

Nah! Hari naaspun tiba. Ketika sedang asyik-asyiknya di kamar hotel, berdua dengan Erna Valentini, datanglah Erna Valentina. Pas, saya sedang tidur-tiduran dengan Erna Valentini. Bisa dibayangkan betapa marahnya Erna Valentina saat itu.

“Saya yang salah Erna Valentina. Saya minta maaf,” kata saya waktu itu. Namun, tampaknya tiada maaf untuk saya. Maka, hubungan saya dengan Erna Valentina yang sudah terjalin selama satu tahunpun bubarlah.

Sumber foto: 010789.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

 

 

 

http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150355812630297

 

 

 

CERPEN:Sebuah Percakapan di Kantin Psikologi

SIANG itu suasana kantin Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran, Bandung biasa-biasa saja. Tidak sepi dan tidak ramai. Masih ada beberapa kursi yang kosong. Namun suasana santai cukup terasa nyaman karena lagu-lagu klasik menemani para pengunjungnya untuk menikmati makanan atau minumannya masing-masing.

Saat itu saya sedang makan siang dengan Windy Arulina, mahasiswi fakultas psikologi, yang kebetulan sudah tiga tahun ini menjadi pacar saya. Tiap hari bertemu sebab saya kuliah di fakultas filsafat pada universitas yang sama.

Saya merasa beruntung punya pacar Windy, di samping cantik, cerdas juga saya bisa menggali ilmu yang dimilikinya.

“O ya, Windy. Teman-teman sering ngledek saya. Katanya saya ini penderita Egoistic Active Syndrome (EAS) karena saya selalu membantah pendapat mereka. Benar atau tidak,sih?” Suatu saat saya mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Ha ha ha…Di dalam psikologi tidak dikenal istilah itu. Ada istilah lain. Untuk mengatakan apakah seseorang itu penderita sakit jiwa, atau minimal mengalami gejala sakit jiwa, tentu harus melalui suatu proses diagnosa. Bisa melalui observasi medis ataupun observasi psikologis. Itu butuh waktu.” Windy menjawab cukup berbobot.

“Jadi, tidak hanya berdasar prasangka?” Komentar saya.

“Betul sekali. Kita tidak boleh mengatakan seseorang sakit jiwa ini sakit jiwa itu tanpa observasi yang mendalam dan bisa dipertanggungjawabkan”. Jelas Windy.

“Bagaimana pendapat Windy terhadap saya? Apakah saya egois atau bagaimana? Jujur saja, Windy” Saya mendesak Wind

“ Ha ha ha…Secara umum Harry baik-baik saja. Memang agak egois, tapi masih dalam batas kewajaran. Kalau Harry kadang-kadang atau sering mengatakan pendapat orang lain salah, itu saya maklumi. Misalnya, kita dapat soal ujian terdiri dari 100 pertanyaan dan harus dijawab dengan kata ‘salah’, apakah kita harus mengisinya dengan kata ‘benar’.Logikanya,begit

“Artinya?

“Ya, kalau salah ya harus kita katakan salah. Kalau benar harus kita katakan benar. Nah, kalau soal salah atau tidak salah tentu bidang Harry,bukan? Kan Harry kuliah di fakultas filsafat” Komentar Windy

“Ya, kalau soal benar atau tidak benar memang bidang saya. Justru itulah saya dengan mudah saya bisa menilai apakah pendapat teman saya salah atau tidak salah. Itu bidangnya ilmu logika atau epistemology” Saya menjelaskan.

“Bagus. Sekarang Windy yang mau tanya.nih. Bukannya Windy menguji Harry, tapi Windy benar-benar ingin tahu. Apakah untuk berlogika harus belajar ilmu logika,sih?” Windy ingin tahu

“Itulah. Banyak mahasiswa nonfilsafat mengatakan, untuk apa belajar ilmu logika. Tanpa belajar ilmu logikapun saya bisa berlogika. Justru, pendapat demikian menyalahi ilmu logika. Bagaimana dia bisa mengatakan belajar ilmu logika itu tidak penting kalau dia tidak tahu ilmu logika itu apa? Bagaimana dia bisa mengatakan A tidak penting kalau dia tidak tahu A?” Saya menjelaskan.

“Benar juga ya. Lantas apa bedanya logika dan ilmu logika?” Windy bertanya penuh keingintahuan

“Logika itu semua orang bisa.Pelacur bisa berlogika, preman bisa berlogika, koruptor bisa berlogika. Logika demikian biasa disebut logika formal atau logika untung-untungan. Tingkat kesimpulannya terbatas pada logis yang belum tentu benar”

“Lantas, kalau mau berpikir benar bagaimana?”

“Berpikir atau berlogika benar harus belajar ilmu logika atau logika material. Biasa disebut epistemology. Tungkat kebenarannya sama dengan ilmu matematika” Saya menjelaskan.

“Contohnya?” Pinta Windy yang wajahnya mirip Yuni Shara itu

“Misalnya, saya pernah membuat artikel berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Watak” Saya katakan, yang bisa mengubah watak adalah niat dan kemauan. Tapi, orang ramai-ramai membantah pendapat saya. Katanya, puasa bisa mengubah watak. Coba, bagaimana logikanya orang bisa mengubah watak tanpa didasari niat dan kemauan? Tentu tidak bisa,bukan?” Cukup panjang saya menjelaskan.

“He he he…Benar juga. Lagipula mengubah watak itu adalah bidangnya psikologi.Bidang saya. Bukan bidangnya agama. Dari sudut psikologi, mengubah watak itu tidak cukup dari sudut agama atau berpuasa saja. Tetapi harus melalui proses yang panjang dan lama. Kalau selama berpuasa mereka berbuat baik, itu dari segi perilaku atau behaviournya. Tidak pada segi watak atau characternya. Tingkah laku dan watak itu berbeda. Tingkah laku bisa diubah dan bahkan dibuat-buat, tetapi watak tidak bisa dibuat-buat atau artificial”. Uraian Windy cukup ilmiah. Selesai bicara, dia meminum jus durian kesukaannya.

“Jadi, kesimpulannya, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum faham psikologi dan filsafat,ya?” Kata saya sambil meminum Coca Cola kesukaan saya.

“Betul 100 persen. Padahal, untuk bicara psikologi atau filsafat, tak perlu harus menjadi sarjana psikologi atau sarjana filsafat. Cukup mempelajari atau memahami satu aspek tertentu. Dan hanya aspek itu saja yang dibicarakan. Sama halnya kalau kita membuat makalah, skripsi, disertasi atau thesis. Misalnya, SBY adalah doktor ekonomi pertanian, ya beliau kompetensinya hanya bicara tentang ekonomi pertanian. Bukan bicara ekonomi mikro-makro secara total”. Windy yang cerdas itu menjelaskan

Acara diskusi seperti itu sering kami lakukan tiap makan siang bersama di kantin Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran. Sayang, kami berdua sudah kenyang. Windy dan saya harus mengikuti jadwal perkuliahan berikutnnya.

Kami berdua meninggalkan kantin. Kami melangkah menuju fakultas masing-masing, Windy melambaikan tangan dan saya juga melakukan hal yang sama

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

http://www.facebook.com/note.php?note_id=278489830296

 

 

CERPEN: Pengalaman Mati Suri Selama Lima Jam

CERPEN: Pengalaman Mati Suri Selama Lima Jam

Mati Suri

JAKARTA 1975. Begitu turun di terminal Pasarminggu, saya langsung naik becak menuju Komplek Perumahan Bea Cukai. Sebenarnya jalan kaki juga bisa, Cuma karena sedang capai, maka saya pilih naik becak.

Tetapi, ketika berada di depan kantor kelurahan, becak membelok secara mendadak ke kanan, yaitu ke komplek perumahan tersebut. Tiba-tiba dari belakang sebuah mobil kecepatan tinggi menabrak becak saya. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa.

Ketika saya sadar, saya merasakan ada sesuatu yang aneh. Kok saya tiba-tiba bisa milihat tubuh saya yang berdarah-darah diangkat beberapa orang. Saya melihat tubuh saya diletakkan di pinggir jalan. Saya juga melihat tubuh pengemudi becak yang tergeletak di jalan aspal sekitar tujuh meter dari becak. Becak dalam kondisi ringsek. Dan sebuah mobil berwarna putih berhenti dekat becak itu.

Akhirnya saya sadar.

“Oh, saya sudah meninggal” saya bergumam di dalam kesadaran (consiousness) saya. Mungkin karena saya rajin shalat, maka ketika nyawa saya berpisah dengan raga, saya tidak merasakan sakit apapun. Tidak terasa. (Q.S An Naziaat 1-5).

Dalam keadaan meninggal ini saya kehilangan konsep ruang dan waktu. Artinya, saya tak kenal istilah lama atau sebentar. Saya tak mengenal kata pagi, siang, sore atau malam. Saya tidak tahu apa itu artinya Senin, Selasa dan seterusnya.

Melalui kesadaran saya melihat tubuh saya diangkat beberapa orang.

“Kita bawa ke puskesmas!” teriak beberapa orang itu. Sayapun terus memantau pergerakan tubuh itu. Sayapun mengikuti mereka. Aneh, tidak dengan cara berjalan kaki, tetapi tubuhku melayang sekitar 40 cm di atas tanah. Saya menuju ke puskesmas itu dengan kekuatan kesadaran.

“Coba baringkan di tempat tidur” pinta dokter ke tiga orang yang menggotong tubuh saya. Saya sempat melihat cukup banyak orang di luar puskesmas yang melihat kecelakaan itu.

Saya melihat dokter itu memeriksa tubuh saya. Kemudian dihubungkan dengan peralatan kedokteran, terutama alat pemantau denyut jantung. Ternyata, grafiknya rata. Artinya, secara medis terbatas, saya dinyatakan meninggal. Tapi ini belum merupakan pernyataan final.

Dokter yang bernama Dokter Halim itu memeriksa susunan syaraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan saya.

“Masih berfungsi baik” Dokter itu menjelaskan kepada para penolong saya.

“Maksudnya, Dok?” mereka ingin tahu.

“Ya, tubuh ini mati suri. Mati suri atau (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Jadi, walaupun jantungnya tidak berfungsi, ada kemungkinan bisa hidup lagi. Cuma, entah berapa lama, saya tidak tahu. Saya akan mencoba untuk menghidupkan lagi. O ya, tolong keluarganya diberitahu”

Dokter itu menunjukkan alamat saya sesuai yang ada di KTP saya, yaitu Komplek Bea Cukai No.36. Artinya, hanya berjarak sekitar 100 meter dari pukesmas. Beberapa orangpun segera menuju rumah kakak saya itu.

Tiba-tiba saya berada di dunia yang lain. Dua cahaya putih bersih mendatangi saya.

“Assalamu’alaikum.” ujar beliau berdua. Dua cahaya putih.

“Oh, Wassalamu’alaikum” saya terkejut dan menjawab. Saya baru

sadar, ada dua malaikat mendekati saya.

Tiba-tiba dalam waktu singkat saya diajak ke tempat yang lain. Namun yang membuat saya terkejut, tiba-tiba di leher saya ada tasbih terdiri dari 99 butir untaian mutiara.

Saya kemudian dibawa ke Masjid Nabawi dan melihat makam Nabi Muhammad. Di makam Nabi itu ada pintu kecil dan saya melihat seseorang memberi makan anak-anak fakir miskin. Aneh bin ajaib, tiba-tiba saya hafal Al Quran 30 juz. Padahal, selama hidup saya cuma mampu menghafal lima juz aja.

“Mari, kita ke tempat yang lain” ajak dua orang malaikat itu. Saya melesat ke atas dengan kecepatan yang luar biasa. Tahu-tahu saya sampai di sebuah tempat yang terang benderang. Semuanya indah. Di hadapan saya ada tiga orang pria yang umurnya rata-rata 17 tahun dan seorang wanita cantik juga berusia 17 tahun pula. Semua mengenakan pakian seperti sutera putih bersih.

“Tiga pria itu, ayahmu bernama Haji Soendjani, sebelahnya kakakmu pertama bernama Handri dan paling kanan kakakmu bernama Habdul Azis. Sedangkan paling kiri, dekat ayahmu, adalah ibumu” sabda malaikat.

Sayapun menyalami mereka semua. Wajah mereka ceria semua.Tiba-tiba ayah dan ibu saya berkata.

“Harry, belum waktunya kamu meninggal. Kembalilah ke dunia. Banyaklah bersedekah. Jangan tinggalkan shalat. Baca Al Quran tiap malam. Bantulah fakir miskin dan para yatim piatu.. Apalagi, besok adalah Tahun Baru 1 Muharram yang merupakan Hari Kasih Sayang bagi para yatim piatu”

Namun sebelum kembali ke dunia, kedua malaikat itu mengajak saya pindah ke dimensi yang lain. Saya melihat sebuah danau yang untuk orang jahat merupakan danau yang airnya sangat panas. Bukan hanya uang panas yang keluar dari danau yang mendidih itu tetapi juga api.

Saya melihat bekas teman kuliah dan dosen yang pernah menipu saya ada di situ. Mereka berteriak-teriak sambil tangannya menggapai-gapai.

“Harry! Maafkan saya! Saya bertobat.Tolonglah saya” Namun saya tak bisa berbuat banyak. Saya juga melihat teman-teman saya yang lain yang semasa hidupnya melakukan korupsi, mereka berteriak histeris karena tubuhnya terasa ditusuk-tusuk benda tajam berkali-kali. Saya juga melihat bekas teman SMP saya yang dulu pernah mencuri barang-barang saya dan menipu saya memanggil nama saya. Semua meminta tolong agar saya mau memaafkan mereka. Lagi-lagi saya tak bisa berbuat banyak. Sebab, mereka sendirilah yang menentukan masuk ke api neraka.

Kedua malaikat itu kemudian mengajak kembali ke dunia. Dengan kecepatan yang luar biasa, saya sudah tiba di dunia saya semula. Pelan saya buka mata saya. Setelah melihat langit-langit, saya baru sadar kalau saya berada di puskesmas Komplek Perumahan Bea Cukai Pasarminggu.

“Allahu akbar!” tiba-tiba saya mendengar dokter mencupkan kata itu. Kemudian saya lihat saudara-saudara saya ada di sebelah kanan dan kirim tempat tidur saya. Mereka berteriak kegirangan. Satu persatu mencium pipi saya.

“Alhamdulillah” Sayapun bersyukur. Pelan tapi pasti, saya bangkit dari posisi telentang. Menurut dokter, saya mengalami mati suri selama lima jam.

Esok harinya, 1 Muharram, saya akan menepati saran-saran dari kedua almarhum orang tua saya. Saya akan santuni anak-anak yatim piatu yang ada di yayasan.

Ucapan almarhum ayah dan ibu masih teringat di benak saya

“Harry, belum waktunya kamu meninggal. Kembalilah ke dunia. Banyaklah bersedekah. Jangan tinggalkan shalat. Baca Al Quran tiap malam. Bantulah fakir miskin dan para yatim piatu.Apalagi, besok adalah Tahun Baru 1 Muharram yang merupakan Hari Kasih Sayang bagi para yatim piatu”

Hariyanto Imadha

Facebooker

NB:Demi Allah swt, kecelakaan itu benar-benar saya alami.

http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=391061860296