CERPEN: Di Antara Pinus-pinus Kaliurang

YOGYAKARTA, 14 Februari 1980. Tanggal ini sampai kapanpun tidak akan saya lupakan. Betapa tidak? Tanggal itu merupakan hari yang sangat indah sepanjang hidup saya. Hari-hari yang sangat menyenangkan.

Seperti biasa, tiap Sabtu siang saya minum-minum di Restoran Hellen, Jl. Malioboro. Menunggu Erna Valentina pulang sekolah. Saat itu kelas III di SMA Stella Duce. Sudah satu tahun saya pacaran. Sayang, hanya tiap Sabtu bisa bertemu. Maklum, dia tinggal di Asrama Putri Stella Duce yang sangat disiplin.

“Hai! Lama menunggu?” Sapa Erna Valentina ketika memasuki restoran. Sudah mengenakan pakaian biasa. Bukan seragam sekolah. Saya dan Erna Valentinapun pesan makanan kesukaan masing-masing.

Sesudah itu, seperti biasa, dengan mengendarai sepeda motor sewaan, maka saya dan Erna Valentinapun segera meluncur santai menuju perbukitan Kaliurang. Sesudah memarkir sepeda motor di warung bakso, maka saya dan Erna Valentina segera naik ke perbukitan.

Walaupun siang, udaranya dingin sejuk. Setapak demi setapak mengitari taman rekreasi Kaliurang itu. Di beberapa bangku saya lihat ada beberapa pasangan muda-mudi sedang asyik berpacaran.

“Yuk, ke pohon pinus kembar,” ajak Erna Valentina. Segera saya dan Erna Valentina menuju pohon pinus kembar. Kata orang-orang, kalau berfoto berdua di situ, pacarannya akan abadi seumur hidup. Dengan menggunakan kamera otomatis lengkap dengan triangle (tiga kaki), maka sayapun segera berfoto di depan pohon pinus kembar itu.

“Yuk, kita abadikan nama kita di pohon ini,” ajak saya.

Sayapun segera mengeluarkan pisau lipat. Secara bergantian saya menulis nama saya “Elfan”, kemudian Erna Valentina menulis “Erna”. Tak lupa menulis tanggal “14 Februari 1980”. Sesudah itu saya cium Erna Valentina penuh rasa sayang.

Indah! Indah sekali hari itu.

YOGYAKARTA, 14 Februari 2009. Sekarang tahun 2009. Berarti kenangan indah itu telah terjadi 29 tahun yang lalu. Sayapun datang lagi ke Kaliurang. Cuma, kali itu saya datang sendiri.

Setapak demi setapak saya naik ke perbukitan Kaliurang. Masih dingin sejuk seperti tahun 1980 yang lalu. Saya cari pohon pinus kembar. Ternyata masih ada. Lebih terharu lagi ketika saya membaca tulisan “Elfan & Erna, 14 Februari 1980”. Masih terbaca dengan sangat jelas.

Tentu, saya teringat kenangan indah di masa muda saya. Terbayang wajah Erna Valentina yang mirip artis Tanti Yosepha itu. Cewek yang cantik, putih, dan rambut pendek. Cewek yang hanya bisa saya pacari tiap Sabtu saja.

Sayapun teringat foto Erna Valentina yang saya simpan di dompet. Saya ambil dan saya pandangi, oh..cantik sekali pacar saya waktu itu. Saya jadinya teringat kenangan indah waktu saya berfoto bersama di depan pohon pinus kembar itu.

Rasa-rasanya kejadian itu seperti mimpi. Cepat berlalu. Namun tak mungkin terlupakan. Bagi saya, Erna Valentina adalah cinta pertama saya. Bagi Erna Valentina, saya adalah cinta pertamanya.

Namun cinta tak selamanya berarti memiliki. Tak selamanya cinta pertama berakhir dengan “happy ending”. Tak selamanya cinta pertama akan berlangsung ke jenjang pErna Valentinikahan. Perpisahan yang di luar dugaanpun terjadi. Semua juga karena asalah salah saya sendiri.

Ya, salah saya sendiri. Seperti biasa, saya tiap Sabtu pagi selalu datang ke Hotel Intan, Jl. Sosrokusuman, belakang Restoran Hellen. Maklum, saat itu saya kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti,Jakarta. Hanya seminggu sekali bisa ke Yogyakarta.

Nah, pagi itu saya terkejut, kok pagi-pagi Erna Valentina sudah ada di hotel tempat saya akan menginap. Namun setelah saya dekati, ternyata bukan. Cewek itu namanya Erna Valentini, adik kandung Erna Valentina. Dia cuma menyampaikan pesan kalau Erna Valentina sakit dan sedang istirahat di rumah neneknya di Solo. Maklum, Erna Valentina sudah tidak punya orang tua lagi.

Ternyata, Erna Valentini tak kalah menariknya dibanding Erna Valentina. Daripada saya tidak punya acara, maka saya mengajak Erna Valentini jalan-jalan. Kebetulan Erna Valentini sedang libur sekolah dan dia kos di rumah temannya. Jadi, bebas ke mana saja.

Ya, makan bersamalah. Saya belikan T-Shirt-lah. Lama-lama tiap Sabtu pagi saya bertemu dengan Erna Valentini. Artinya, tiap Sabtu pagi Erna Valentini membolos sekolah. Saat itu kelas 2 di SMA swasta. Sayapun berpacaran dengan Erna Valentini.

Nah! Hari naaspun tiba. Ketika sedang asyik-asyiknya di kamar hotel, berdua dengan Erna Valentini, datanglah Erna Valentina. Pas, saya sedang tidur-tiduran dengan Erna Valentini. Bisa dibayangkan betapa marahnya Erna Valentina saat itu.

“Saya yang salah Erna Valentina. Saya minta maaf,” kata saya waktu itu. Namun, tampaknya tiada maaf untuk saya. Maka, hubungan saya dengan Erna Valentina yang sudah terjalin selama satu tahunpun bubarlah.

Sumber foto: 010789.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

 

 

 

http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150355812630297

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: