CERPEN:Sebuah Percakapan di Kantin Psikologi

SIANG itu suasana kantin Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran, Bandung biasa-biasa saja. Tidak sepi dan tidak ramai. Masih ada beberapa kursi yang kosong. Namun suasana santai cukup terasa nyaman karena lagu-lagu klasik menemani para pengunjungnya untuk menikmati makanan atau minumannya masing-masing.

Saat itu saya sedang makan siang dengan Windy Arulina, mahasiswi fakultas psikologi, yang kebetulan sudah tiga tahun ini menjadi pacar saya. Tiap hari bertemu sebab saya kuliah di fakultas filsafat pada universitas yang sama.

Saya merasa beruntung punya pacar Windy, di samping cantik, cerdas juga saya bisa menggali ilmu yang dimilikinya.

“O ya, Windy. Teman-teman sering ngledek saya. Katanya saya ini penderita Egoistic Active Syndrome (EAS) karena saya selalu membantah pendapat mereka. Benar atau tidak,sih?” Suatu saat saya mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Ha ha ha…Di dalam psikologi tidak dikenal istilah itu. Ada istilah lain. Untuk mengatakan apakah seseorang itu penderita sakit jiwa, atau minimal mengalami gejala sakit jiwa, tentu harus melalui suatu proses diagnosa. Bisa melalui observasi medis ataupun observasi psikologis. Itu butuh waktu.” Windy menjawab cukup berbobot.

“Jadi, tidak hanya berdasar prasangka?” Komentar saya.

“Betul sekali. Kita tidak boleh mengatakan seseorang sakit jiwa ini sakit jiwa itu tanpa observasi yang mendalam dan bisa dipertanggungjawabkan”. Jelas Windy.

“Bagaimana pendapat Windy terhadap saya? Apakah saya egois atau bagaimana? Jujur saja, Windy” Saya mendesak Wind

“ Ha ha ha…Secara umum Harry baik-baik saja. Memang agak egois, tapi masih dalam batas kewajaran. Kalau Harry kadang-kadang atau sering mengatakan pendapat orang lain salah, itu saya maklumi. Misalnya, kita dapat soal ujian terdiri dari 100 pertanyaan dan harus dijawab dengan kata ‘salah’, apakah kita harus mengisinya dengan kata ‘benar’.Logikanya,begit

“Artinya?

“Ya, kalau salah ya harus kita katakan salah. Kalau benar harus kita katakan benar. Nah, kalau soal salah atau tidak salah tentu bidang Harry,bukan? Kan Harry kuliah di fakultas filsafat” Komentar Windy

“Ya, kalau soal benar atau tidak benar memang bidang saya. Justru itulah saya dengan mudah saya bisa menilai apakah pendapat teman saya salah atau tidak salah. Itu bidangnya ilmu logika atau epistemology” Saya menjelaskan.

“Bagus. Sekarang Windy yang mau tanya.nih. Bukannya Windy menguji Harry, tapi Windy benar-benar ingin tahu. Apakah untuk berlogika harus belajar ilmu logika,sih?” Windy ingin tahu

“Itulah. Banyak mahasiswa nonfilsafat mengatakan, untuk apa belajar ilmu logika. Tanpa belajar ilmu logikapun saya bisa berlogika. Justru, pendapat demikian menyalahi ilmu logika. Bagaimana dia bisa mengatakan belajar ilmu logika itu tidak penting kalau dia tidak tahu ilmu logika itu apa? Bagaimana dia bisa mengatakan A tidak penting kalau dia tidak tahu A?” Saya menjelaskan.

“Benar juga ya. Lantas apa bedanya logika dan ilmu logika?” Windy bertanya penuh keingintahuan

“Logika itu semua orang bisa.Pelacur bisa berlogika, preman bisa berlogika, koruptor bisa berlogika. Logika demikian biasa disebut logika formal atau logika untung-untungan. Tingkat kesimpulannya terbatas pada logis yang belum tentu benar”

“Lantas, kalau mau berpikir benar bagaimana?”

“Berpikir atau berlogika benar harus belajar ilmu logika atau logika material. Biasa disebut epistemology. Tungkat kebenarannya sama dengan ilmu matematika” Saya menjelaskan.

“Contohnya?” Pinta Windy yang wajahnya mirip Yuni Shara itu

“Misalnya, saya pernah membuat artikel berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Watak” Saya katakan, yang bisa mengubah watak adalah niat dan kemauan. Tapi, orang ramai-ramai membantah pendapat saya. Katanya, puasa bisa mengubah watak. Coba, bagaimana logikanya orang bisa mengubah watak tanpa didasari niat dan kemauan? Tentu tidak bisa,bukan?” Cukup panjang saya menjelaskan.

“He he he…Benar juga. Lagipula mengubah watak itu adalah bidangnya psikologi.Bidang saya. Bukan bidangnya agama. Dari sudut psikologi, mengubah watak itu tidak cukup dari sudut agama atau berpuasa saja. Tetapi harus melalui proses yang panjang dan lama. Kalau selama berpuasa mereka berbuat baik, itu dari segi perilaku atau behaviournya. Tidak pada segi watak atau characternya. Tingkah laku dan watak itu berbeda. Tingkah laku bisa diubah dan bahkan dibuat-buat, tetapi watak tidak bisa dibuat-buat atau artificial”. Uraian Windy cukup ilmiah. Selesai bicara, dia meminum jus durian kesukaannya.

“Jadi, kesimpulannya, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum faham psikologi dan filsafat,ya?” Kata saya sambil meminum Coca Cola kesukaan saya.

“Betul 100 persen. Padahal, untuk bicara psikologi atau filsafat, tak perlu harus menjadi sarjana psikologi atau sarjana filsafat. Cukup mempelajari atau memahami satu aspek tertentu. Dan hanya aspek itu saja yang dibicarakan. Sama halnya kalau kita membuat makalah, skripsi, disertasi atau thesis. Misalnya, SBY adalah doktor ekonomi pertanian, ya beliau kompetensinya hanya bicara tentang ekonomi pertanian. Bukan bicara ekonomi mikro-makro secara total”. Windy yang cerdas itu menjelaskan

Acara diskusi seperti itu sering kami lakukan tiap makan siang bersama di kantin Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran. Sayang, kami berdua sudah kenyang. Windy dan saya harus mengikuti jadwal perkuliahan berikutnnya.

Kami berdua meninggalkan kantin. Kami melangkah menuju fakultas masing-masing, Windy melambaikan tangan dan saya juga melakukan hal yang sama

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

http://www.facebook.com/note.php?note_id=278489830296

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: