CERPEN: Pembantuku Mirip Cinta Laura

JAKARTA. Sudah lima tahun mBok Minah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Hasil kerjanya sangat memuaskan. Sayang, karena anaknya di desa sering sakit, terpaksa mBok Minah mengundurkan diri. Sebagai ucapan terima kasih, saya memberinya uang Rp 5 juta untuk biaya pengobatan anaknya dan sebagian untuk modal usaha kecil-kecilan.

Terpaksa, Minggu itu saya, istri saya dan Antok anakku yang masih duduk di bangku SMP kelas satupun terpaksa harus mencari pembantu baru. Avanza putih metalik yang saya kendaraipun meluncur ke daerah Cempaka Putih. Di siutu ada beberapa penyalur pembantu rumah tangga.

Di penyalur yang pertama, istriku belum mendapatkan calon pembantu yang cocok. Namun di penyalur kedua, tiba-tiba istri saya berkata kegirangan sambil menunjuk seseorang yang ada di rumah itu.

“Pa, Pa, ada yang mirip Cinta Laura. ”

Sayapun melihat cewek yang ditunjuknya.

Benar, saya lihat ada cewek berumur sekitar 18 tahun parasnya mirip sekali dengan Cinta Laura. Setelah istri saya ngobrol-ngobrol dengan cewek itu, akhirnya jadilah cewek itu dipilih sebagai calon pembantu rumah tangga menggantikan mBok Minah yang sudah pulang kampung.

Selama satu minggu, istriku mengajari cewek itu—namanya Cipluk Lestari—caranya menggunakan mesin cuci, seterika, rice cooker, blender, kompor gas, food processor dan lain-lain. Kemudian selama seminggu diajari memasak tujuh macam masakan kesukaan saya dan istri saya, Mona. Masakan tersebut antara lain, nasi goreng spesial, semur daging sapi, sop kentang, ayam goreng dan otak goreng dan lain-lain. Semua resep menyontek dari buku resep masakan.

Suatu saat, saya dan Mona pergi sebentar ke Blok M. Ketika pulang, saya lihat anak saya sedang belajar komputer dan didampingi Cipluk. Sebenarnya saya menganggap hal itu biasa saja. Namun ketika iseng-iseng saya melihat komputer Antok, agak kaget juga ya, ternyata dia sudah mampu membuat tabel Excel dengan rumus-rumusnya. Padahal, pelajaran Word saja belum selesai.

Ternyata, menurut Antok, dia diajari Cipluk.

Lain hari, saya dan istri saya tercengang. Kok tiba-tiba Antok minta dibelikan modem. Katanya, ingin belajar internet dan akan diajari Cipluk. Sayapun membelikannya modem external untuk TelkomNet Instan.

Sayapun ingin tahu Cipluk bisa settingnya atau tidak. Ternyata, dia bisa memasang modem itu dengan benar. Bahkan settingnya juga benar. Ketika dicoba, ternyata bisa online.

Akhirnya sayapun ingin tahu Cipluk lebih lanjut.

“Memangnya kamu dulu lusan dari mana?” Tanya saya.

“Dari SMAN 1, Wonogiri, Pak” Jawabnya cukup mengejutkan saya dan Mona. Maklum, biasanya yang ingin jadi pembantu itu lulusannya cuma SD atau SMP.

“Kamu lulusan SMA kok jadi pembantu, sih? Kok nggak cari kerja di perusahaan atau kantor. ” Istri saya menimpali.

“Lamaran saya ditolak terus, Bu. Nggak apa-apa jadi pembantu asal halal, ” ucap Cipluk polos.

“Surat Tanda Tamat Belajarnya dibawa nggak? Boleh lihat?”. Istriku ingin tahu.

Ciplukpun masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian kembali sambil membawa STTB. Saya dan Mona pun melihat isi STTB itu.

Saya dan Mona saling berpandangan karena kagum. Saya lihat Cipluk lulusan SMA jurusan IPA. Nilai Matematika 9, Biologi 8, Fisika 9, Kimia 8 dan lain-lainnya 8.

Istri sayapun merasa tertarik melihat nilai-nilai yang bagus itu.

“Mau nggak kamu saya kuliahkan? Nanti saya yang membiaya sampai lulus sarjana”. Istri saya menawarkan ke Cipluk.

“Kalau ibu tidak keberatan, saya bersedia, ” jawab Cipluk.

“Memangnya kamu ingin kuliah di fakultas apa?”. Saya ingin tahu.

“Kalau bisa fakultas teknik, Pak. Saya ingin jadi arsitek”. Polos jawabannya.

“O, kebetulan saya juga arsitek, ” sambut Mona.

Kebetulan, hari itu adalah saat pengambilan formulir pendaftaran di Universitas Trisakti. Saya, Mona, Antok dan Cipluk segera meluncur ke kampus Universitas Trisakti.

Sesudah mengambil formulir, sayapun mengajak Cipluk ke Taman Impian Jaya Ancol. Maklum, dia sama sekali belum pernah ke Jakarta.

Hari-hari berikutnya Cipluk sudah berstatus mahasiswa. Waktunyapun terbagi dua, yaitu di rumah mengerjakan tugas-tugasnya sebagai pembantu rumah tangga, sesudah itu kuliah. Malam harinya belajar. Semua biaya perkuliahan saya tanggung. Memang sih, saya dan Mona melihat Cipluk cukup cerdas dan sayang kalau tidak ada yang membiaya perkuliahannya. Maklum, orang tuanya di Wonogiri tergolong orang miskin.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Tanpa terasa, Cipluk sudah lima tahun bekerja di rumah saya. Kebetulan, kuliahnyapun lulus dengan nilai terbaik. Bahkan, langsung mendapatkan tawaran kerja di PT Bumi Prasidi di kawasan Tebet. Acara wisudanya juga dihadiri kedua orang tuanya.

Seminggu kemudian Cipluk sudah berstatus sebagai karyawati. Istri sayapun mencarikan rumah

kontrakan di daerah Tebet. Dia tinggal berdua dengan adik laki-laki yang meneruskan sekolah di salah satu SMA di Tebet juga. Sejak saat itu, Cipluk yang mirip Cinta Laura itu tidak bekerja lagi di tempat saya.

Meskipun demikian, kadang-kadang masih suka mampir ke rumah saya di Jl. Prof. Joko Soetono SH (dekat STM Penerbangan), Kebayoran Baru.

Sumber foto: athutz.blog.binusian.org

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Dengkulmu Mlocot…!!!

DI BSD City, Tangerang, tiap pagi Senin sampai dengan Jumat, saya punya kegiatan survei peluang bisnis. Cukup naik motor. Sedangkan tiap Sabtu survei di plasa, mal ataupun square. Saya mencari bisnis apa yang laku saat itu. Ini penting, sebab membuka bisnis tidak boleh asal-asalan. Saya lihat, ada beberapa toko yang sepi karena kalah bersaing dengan mini market. Sebaliknya, usaha bengkel motor dan mobil prospeknya sangat baik.

Pagi itu, saya melewati samping Pasar Moderen ke arah terminal bus Trans. Namun, secara tiba-tiba, motor yang ada di depan saya tiba-tiba belok kanan secara sangat mendadak. Tentu, saya yang waktu itu mengendarai motor dengan kecepatan 70 km per jam tak sempat mengerem. Apalagi jaraknya sangat dekat sekali.

Braaak….! Kecelakaan tak terhindarkan. Suara rem yang saya injak seperti anjing menjerit. Motor oleng. Sayapun terpelanting. Hampir ditabrak mobil dari belakang. Untung, pengemudinya cukup cekatan. Pengemudi motor depanpun terpelanting.

Sesudah bangun dengan rasa sakit sekujur tubuh yang lecet di sana-sini, saya sempat melihat roda depan motor saya sudah penyok. Mirip angka delapan. Sedangkan motor yang saya tabrak, rusak ringan. Hanya setang atau setirnya yang bengkok sedikit.

“Bagaimana,sih! Belok kanan mendadak begitu!” bentak saya ke pengemudi motor itu.

“Kamu yang nggak lihat! Saya sudah nyalakan lampu sign!,” dia membalas membentak.

“Iya! Tapi, menyalanya mendadak. Begitu kamu belok, baru kamu nyalakan lampu sign!” ganti saya marah-marah, sebab kenyataannya dia menyalakan lampu sign secara mendadak.

Saat itupun orang-orang banyak berkerumun. Sebagian membantu meminggirkan motor saya dan motor orang itu.

“Kamu yang salah, kenapa tidak hati-hati!” dia menyalahkan saya.

“Kamu yang ngawur! Kenapa mau belok kanan nggak lihat kaca spion!” bentak saya. Sayapun mulai sangat emosional.

Saya lihat, orang itu mendekati motornya, naik, menstarter dan akan kabur. Untunglah, beberapa orang yang ada di situ langsung menghadangnya. Tak beberapa lama kemudian, beberapa tukang ojek yang saya kenal baik dengan saya, mendekati saya. Tampaknya mereka akan membantu saya.

“Jangan takut, Boss. Akan saya bantu,” begitu kata beberapa tukang ojek.

Dan memang, ketika hampir terjadi perkelahian antara saya dengan laki-laki itu, beberapa tukang ojekpun melerai, bahkan salah seorang tukang ojek yang bernama Kardiman yang berbadan kekar itu sudah mengacungkan tinju ke arah laki-laki itu.

“Saya minta ganti rugi…!” kata saya.

“Gantgi rugi? Kamu yang menabrak saya kok kamu yang minta ganti rugi. Seharusnya kamu dong yang mengganti rugi. Motor saya juga rusak.Tahu!!!”

“Motor kamu cuma setangnya saja bengkok. Mudah diperbaiki. Lihat nih, roda depan saya. Mirip angka delapan!” saya menunjukkan ke arah roda depan motor saya yang ringsek.

“Sudah! Sudah! Lapor polisi saja,Mas!” teriak salah seorang anggota masyarakat.

“Nggak usah! Nggak usah” teriak laki-laki itu ke salah seorang anggota masyarakat yang mengusulkan untuk lapor ke polisi. Saat itu kerumunan masyarakat semakin ramai. Apalagi, lokasinya dekat pasar moderen dan komplek pertokoan.

“Ayo! Ganti roda depan saya!” saya tak tahan lagi menahan emosi. Apalagi saya dapat dukungan sekitar lima hingga enam tukang ojkek yang saya kenal dengan baik.

“Apa? Sudah saya bilang! Kamu yang menabrak kok kamu yang minta ganti rugi. Nggak punya otak ya kamu!” hardiknya.

“Kamu yang nggak punya otak! Brengsek!”

“Kamu yang brengsek! Kamu yang bangsat!” dia mendekati saya dan berusaha memukul saya. Untung, ada tukang ojek menghalang-halanginya. Saya dan dia sudah sama-sama emosi. Caci maki dan sumpah serapahpun keluar dari mulut saya dan mulutnya.

“Kalau kamu nggak mau ganti rugi, berarti kamu yang bangsat!” sumpah saya.

“Kamu yang anjing!” mulai kasar kata-kata yang dikeluarkan.

“Dengkulmu mlocot! Tahu…..?!!!” tanpa sengaja saya mengeluarkan cacian Jawa Timuran.

Tiba-tiba wajah orang itu berubah.

“Kamu dari Jawa Timur,ya?” tanyanya.

“Ya! Kenapa? Saya arek Suroboyo!” hardik saya. Padahal, saya asli orang Bojonegoro.

“Oooh, sama kalau begitu! Saya juga arek Suroboyo. Kalau begitu….damai saja, Mas…!” dia mendekati saya dan menyalami saya. Kemudian katanya lagi “ Saya minta maaf, Mas. Akan saya ganti semua kerugian…”. Sekali lagi, diapun menyalami saya. Emosi sayapun menurun.

Dia kemudian meminta tolong ke empat tukang ojek untuk mengangkat motor saya ke Bengkel Aero yang jaraknya hanya 15 meter dari tempat kejadian. Dia juga yang membayar tukang ojek yang membantu mengangkat motor saya.

 

Namun, sampai di bengkel, karyawan bengkel mengatakan, ongkos perbaikan hampir sama dengan beli roda baru. Jadi, sebaiknya beli roda baru saja. Laki-laki yang bernama Eddy Poernomo itupun meminta tolong untuk membelikan roda baru yang bentuknya sama persis dengan punya saya. Diapun memberikan beberapa lembar uang ke karyawan bengkel.

 

Tak lama kemudian, rodapun telah diganti baru. Cukup lama juga. Sekitar satu jam. Sesudah saya coba, ternyata bisa saya pakai dengan sempurna. Termasuk rem ,keseimbangan dan lain-lainnya. Kemudian, karyawan bengkel memperbaiki setang motor laki-laki itu. Semua ongkos bengkelpun dibayar laki-laki itu.

 

Karena emosi sudah dingin, apalagi laki-laki itu sudah bertanggung jawab, maka tak ada lagi sumpah serapah di antara kami. Bahkan, sebelum berpisah, kami ngobrol-ngobrol dulu.

“Jawa Timurnya di mana,Mas?” tanya dia sambil duduk-duduk santai di depan bengkel.

“Sebenarnya sih, dari Bojonegoro,” kata saya jujur.

“Oh, dekat,dong. Saya dari Lamongan. Di BSD City bisnis apa, Mas?”

Sayapun bercerita, salah satu bisnis baru saya yaitu memproduksi kanopi atau atap motor agar tidak kehujanan dan kepanasan.

“Wah, boleh tuh! Boleh nanti saya bantu memasarkannya?” laki-laki itu menawarkan keinginannya dengan serius.

“Memangnya sampeyan sekarang bisnis apa?” ganti saya yang bertanya.

“Saya baru saja membuka agen kopi merek GAR Caffe. Kopi baru. Salah satu pemiliknya Pak Arifin Siregar, mantan petinggi Bank Indonesia”

“Wah, boleh juga,tuh. Bagaimana cara jadi agen? Kebetulan saya juga tahu, bisnis kopi renceng masih sangat bagus” sayapun menanggapi dengan baik.

Esok harinya, kami bertemu lagi untuk merealisasikan komitmen masing-masing. Dia telah membeli lima buah kanopi motor untuk dijual ke teman-temannya. Sedangkan saya sudah memesan beberapa kardus kopi merek GAR Caffe sebagai permulaan. Tempat sudah ada. Tingggal mencari beberapa salesman yang juga merangkap sebagai salesman kanopi motor produksi saya.

Begitulah. Sebuah kejadian yang di luar dugaan. Gara-gara saya mengucapkan umpatan “dengkulmu mlocot”, saya mendapatkan mitra bisnis yang serius dan sangat menguntungkan.

Sumber gambar: jlegong.blogspot.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

https://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

CERPEN : Sahabatku Ternyata Seorang Psikopat

BOJONEGORO. Saya SD, SMP dan SMAN kelas 1 sekolah di kota ini. Tentu, teman saya cukup banyak. Maklum, sejak kecil saya menyukai pergaulan. Salah satu teman saya sejak SMP namanya Endri. Waktu itu saya menganggap dia biasa-biasa saja. Namun, sejak saya membuka Perpustakaan Garuda di Jl. Trunojoyo No.4, maka saya mulai mempunyai hobi membaca. Tidak hanya komik, buku silat, tetapi Cuma agama dan ilmu pengetahuan. Salah satunya psikologi. Saat iitulah, saya tertarik psikologi. Meskipun demikian, saya tak pernah punya cita-cita sarjana psikologi. Bahkan, mungkin saat itu di Indonesia belum ada fakultas psikologi.

Namun, sesudah saya pindah dari kota itu, saya tak pernah bertemu dengan Endri. Yang pasti saya tahu, Endri jago lukis, jago membuat puisi, enak diajak bicara, ramah dan pandai melucu.

Sesudah 39 tahun, sayapun bertemu. Itupun di Facebook. Dia dulu yang ne-add saya. Kemudian saya konfirmasi.

“Hai! Ini Harry yang dari Bojonegoro,ya? Yang dulu tinggal di Jl. Ade Irma Suryani No.5,” begitu tanyanya di inbox saya.

Kemudian terjadilah saling kirim pesan. Dia tanya, saya kuliah di mana, Saya jawab apa adanya dan sesuai fakta, bahwa saya alumni enam perguruan tinggi.

“Kalau Endri, lulusan dari mana?” ganti saya bertanya.

“Oh, saya sudah Prof.Dr. Saya lulusan dari Jepang”

“Wah, hebat dong. Prof.Dr-nya dari mana?” saya penasaran ingin tahu.

“Wah, ngggak usah saya sebutkan. Saya tidak mau dianggap sombong. Di Jepang saya di University of Tokyo”

“Wah,hebat dong. Coba dong, ngomong bahasa sedikit saja. Misalnya, apa bahasa Jepangnya “selamat pagi?” tanya saya di inboxnya.

“Hallo,Harry. Saya kan sudah bilang, saya tak mau memamerkan ilmu saya. Masak saya bohong,sih? Harry an kenal saya sejak SMP dulu. Saya juga pernah kuliah di Jerman dan Perancis. Di Perancis saya di University of Sorbone,” ceritanya di inbox saya.

“Wuuuah…kalah,dong saya. Walaupun saya kuliah di enam perguruan tinggi, tetapi di Indonesia,” kata saya. saya yang pernah kursus bahasa Perancis di Culturel Francais, Jl. Salemba Raya (depan Kampus UI) pun bertanya ke Endri dalam bahas Perancsis. Ternyata, tak ada jawaban yang berhubungan dengan pertanyaan saya.

Endri lantas cerita kenal dosen-dosen saya di Fakultas Filsafat UGM, Fakultas Ekonomi Universitas Ttrisakti, Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan lain-lain. Nah, mulai di sini saya merasa aneh. Kenapa semua nama yang disebutkan tidak ada satupun ada di kampus-kampus saya?

Tanpa saya minta, diapun cerita kalau di Jerman dia kuliah mengambil spesialisasi mikrobiologi. Sedangkan di Perancis spesialisasi Fisika. Sedangkan di Tokyo spesialisasi Antropoli Buudaya. Semua ceritanya kelihatannya masuk akal. Namun saya yang punya hobi membaca psikologi sejak SMP dan efektif sejak 1973 mulai curiga. Ada banyak hal yang tidak konsisten. Dia tampaknya berkata tidak jujur. Selalu berkelit kalau saya tanya. Artinya, ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Sudah ada tiga ciri-ciri psikopat yang saya dapatkan. Pertama, dia suka berbohong. Kedua, merasa dirinya hebat. Ketiga, bicaranya terkesan hebat dan egosentrik.

Saya semakin yakin, ketika saya di FB membuat artikel berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Watak Seseorang”, sebuah artikel psikologi, maka reaksinya luar biasa. Endri langsung mengatakan sakit jiwa. Katanya saya merasa selalu benar terus. Katanya, saya menghina agama Islam. Dan kata-kata lain yang menghunjam perasaan saya. Menginjak-injak martabat saya. Di sini, saya menemukan ciri keempat psikopat, yaitu suka menyakiti hati orang lain. Suka menyerang penulisnya daripada tulisannya.

Kalau saya pelajari, tuduhan-tuduhannya itu tidak didukung fakta dan penalaran. Kalau saya dikatakan sakit jiwa, dari kalimat yang mana? Kalau dikatakan saya selalu merasa benar terus, di kalimat yang mana? Kalau saya dianggap menghina agama Islam, di kalimat yang mana. Di sini, saya menemukan ciri gejala psikopat kelima, yaitu orang yang hidup tidak berdasarkan fakta. Hidup dalam dunia ilusi.

Tidak cuma itu. Diapun meremove dan memblokir FB saya. Lho, salah saya di mana? Walaupun saya diblokir, dengan menggunakan taktik “spy facebooker”, saya tetap bisa membaca status-statusnya. Ternyata, ada beberapa Facebooker juga tanya,  Prof Dr-nya dari mana. jawabannya juga berbelok-belok. Tidak jujur. Hebatnya, dia menamakan diri sebagai Prof Dr Harya Wiryanagara, SH,MH. Hahaha….sxaya semakin saja kalau sahabat saya ternyata mengalami gejala psikopat.

Untuk meyakinkan dan membuktikan, sayapun melakukan “penyelidikan”. Kebetulan dia juga tinggal di Tangerang, sama dengan saya. Berdasarkan alamatnya yang saya dapatkan di FB-nya, maka sayapun meluncur ke daerahnya. Tidak ingin menemui dia, tetapi saya ingin ngobrol-ngobrol dengan oorang sekampung itu. Agak jauh dari rumahnya.

“Pak, apa betul di RT sini ada yang namanya Prof.Harya Wiryanagara,SH,MH?” saya tanya ke seseorang bapak yang sedang mengendong anaknya yang masih bayi.

“Oh,ya,ada dia tinggal di RT 007,” jawsabnya.

“Memang dia mengajar di mana sih,Pak?”

“Wah, kurang tahu,ya. Kabarnya sih, dulu mengajr di Universitas Indonesia. Terus, berhenti karena bosan,” jelas bapak itu.

“Oh, begitu. Apa betul dia ustadz,Pak?”

“Hahaha…Siapa bilang? Cuma pakaiannya saya ustadz. Wong, dia membaca Al Qur’an saja tidak bisa,kok. Shalat Jum’at juga tidak pernah”

“Oh,begitu. Kalau begitu , bagaimana pendapat bapak tentang dia?”

“Ya, selama ini baik-baik saja. Tidak pernah membuat keributan. bahkan dia membuka jasa melukis wajah.”

“Oh,ya? Berapa tarifnya,Pak?’

“Untuk satu lukisan wajah, antara Rp 100.000 hingga Rp 250.000, tergantung besar kecilnya ukuran kanvas,” jelas bapak itu. Saya semakin yakin, dia adalah Endri sahabat saya sewaktu masih SMP. Bedanya, saya di SMPN 2 Bojonegoro, sedangkan Endri di SMP lain.

Sayapun meneruskan perjalanan. Di perempatan saya bertemu dengan seorang yang penampilannya sih mahasiswa. Sayapun memperkenalkan diri dan ingin menanyakan sesuatu. Tternyata benar, dia mahasiswa. Kebetulan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang baru saja lulus.

Sayapun bertanya tentang Endri yang berubah namanya menjadi Prof.Dr.Harya Wiryanagara,SH,MH. Saya dan diapun duduk di bangku yang terbuat dari bambu di bawah pohon Kers.

“Apa betul sih, di Prof.Dr,SH,MH?” saya mulai tanya ke sarjana psikologi yang bernama Rizal Parengkuan itu.

“Hahaha…Bohong, Pak. Dia itu kuliah saja nggak pernah,kok” katanya jujur.

“Terus, di sini dia ustadz?” saya bertanya lagi.

“Hahaha….Ustadz dari Hongkong,Pak? Shalat Jum’at saja dia tidak pernah,kok. Ustadz pakaiannya doang” Rizal tertawa terbahak-bahak.

“Terus, dia kerjanya sebagai apa?”

“Kerjanya? Oh, Pak Endri sejak dulu terkenal sebagai tukang pijit atau tukang uurut,Pak?”

“Tukang pijit?” saya terkejut tak percaya.

“Iya,Pak. Demi Allah…” Rizal meyakinkan saya.

Nah, sayapun yakin 100% bahwa teman lama saya memang penderita psikopat. Suka berbohong, merasa hebat, egosentrik, suka menyakiti hati orang lain yang dianggap lebih hebat dari dirinya dan menutup-nuutupi fakta-fakta sesungguhnya.

Sayapun langsung pulang dan merasa tak ada gunanya bertemu dengan Endry yang mengaku punya predikat Prof,Dr,SH,MH itu.

Sumber foto: prelyqu.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

https://fsui.wordpress.com

 

 

CERPEN: Pramugari Itu Bernama Lolita

JAKARTA, 1 Januari 2006. Saya masih berstatus Konsultan manajemen dari PT Bumi Apsari Bi-Epsi dengan gaji Rp 15 juta per bulan bersih. Artinya, biaya transportasi,akomodasi dan lain-lain ditanggung perusahaan.

Sebenarnya ada tugas ke Surabaya dan berangkat pukul 10:00 WIB bersama teman saya bernama Prawoto. Namun, berhubung teman saya sering menipu, maka beberapa hari sebelumnya saya menukar tiket untuk jam pemberangkatan pukul 08:00 WIB.

Begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung masuk ke dalam. Tak lama kemudian para penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat. Ya, lancar-lancar saja. Setelah menaruh tas kecil di atas kursi, saya lantas duduk. Saat berangkat, ternyata kursi di sebelah saya kosong. Saya duduk dekat jendela.

Eh, tak lama kemudian lewat pramugari dengan keretadorongnya, memberikan satu kotak roti, peren dan minuman gelas. Sempat jantung saya berdetak keras ketika memandang pramugari itu.

“Wow! Cantik sekali!”, gumam saya dalam hati. Sayapun cari akal untuk berkenalan dengan pramugari itu. Kalau namanya sih, bisa saya baca di label nama di dadanya, yaitu Lolita. Tapi, saya inginnya kenal langsung dan ngobrol-ngobrol. Tapi, bagaimana ya caranya?

Nah, hanya dalam waktu singkat saya punya ide. Begitu dia lewat, langsung saya panggil.

“Mbak, bisa minta tolong?” saya tanya

“Ada apa,Mas? Ada yang bisa saya bantu?” jawabnya standar.

“Ini, bagaimana nih cara memasang seat beltnya?”

“Lho, waktu take off tadi belum dipakai?” pramugari itu terkejut. Duduk di kursi sebelah saya yang kosong.

“Begini,Mas caranya…”.Pramugari yang cantik itu terus memegang seat belt dan memberi petunjuk. Sebenarnya sih, saya sudah tahu. Cuma pura-pura tidak tahu.

Saya kira, sesudah itu, pramugari itu akan pergi. Ternyata tidak, justru duduk di samping saya.

“Mau ke Surabaya,ya Mas?” tanyanya. Sementara itu pesawat terus melaju menerabas awan-awan putih. Pesawat telah terbang cukup tinggi.

“Oh,ya. Kebetulan ada tugas di Surabaya?”

“Di mana,Mas?”

“Kebetulan saya jadi konsultan untuk Dinas Pendapatan Daerah untuk Kotamadya Surabaya,” jawab saya.

“Oh, nanti menginap di hotel mana,Mas?” tanyanya. Pikir saya, cewek kok anyanya begitu. Tapi, tak apalah,mungkin dia kehabisan bahan pertanyaan.

“Di Hotel Brantas. Oh, ya. Boleh kenalan?” sayapun memanfaatkan kesempatan. Sayapun memberikan kartu nama dan diapun ternyata juga punya kartu nama. namanya Lolita Rachmalila, rumah di Tebet, Jakarta Selatan.

Begitulah, beberapa hari kemudian sayapun menghubungi HP Lolita, apakah hari Minggu itu ada acara atau tidak. Ternyata tidak ada acara. Bahkan saya dipersilahkan main-main ke rumahnya di Tebet. Tentu, saya dengan menggunakan Honda Civic Wonder warna hitam segera meluncur ke Tebet dan disambut dengan ramah oleh Lolita.

“Selamat pagi,Mas Harry. Susah tidak mencari rumah saya?”

“Oh, tidak. Ternyata dengan kantor saya. Kantor saya di dekat Gedung Bioskop Wira,” jawab saya langsung duduk di kursi teras rumah. Tak lama kemudian, mamanya juga keluar. Lolitapun memperkenalkan saya dengan mamanya. Ya, Cuma mamanya. Papanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit diabetes. Sedangkan Lolita putera tunggal. Kemudian, saya ngobrol kesana-kemari.

Satu hal yang membuat saya harus sabar, ternyata tidak mudah mengajak Lolita jalan-jalan. Maklum, Lolita anak semata wayang. mamanya tentu tidak ingin Lolita menjadi wanita yang tidak baik, keluyuran dengan sembarang laki-laki. Bahkan Lolita pernah berterus terang, saya boleh pergi ke mana saja dengan Lolita kalau Lolita sudah resmi menjadi isteri saya.

Isteri? Tidak mudah. Jika saya melamar Lolita selama Lolita masih berstatus pramugari, maka saya harus mengganti biaya training dan ikatan dinasnya yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Sama dengan harga sebuah mobil baru. Kecuali kalau masa kontrak kerjanya sudah habis, yaitu selama lima tahun. Wow, terlalu lama.

Satu tahun saya berpacaran. Tidak pernah kemana-mana. Cuma malam Minggu saja. Itupun Cuma di rumah Lolita. Satu-satunya jalan yaitu, ketika Lolita tugas ke Surabaya, maka saya harus ikut terbang. Nah, di Surabaya saya bia berbuat bebas terbatas dengan Lolita. Jalan-jalan, makan-makan di resto, foto bersama atau berbelanja di Tunjungan Plasa. Ya, namanya juga berpacaran. Seperti itulah. Yang pasti, saya dan Lolita sudah saling jatuh cinta. Diam-diam kami telah tukar cincin secara diam-diam tanpa sepengetahuan mamanya. Kamipun sudah saling berjanji saling setia hingga sampai kapanpun. Duh, indahnya cinta kami saat itu.

Nah, tanpa terasa, saat itu sudah tanggal 1 Januari 2007. Saya saat itu berada di bandara Juanda untuk menemani keberangkatan Lolita yang dapat tugas terbang ke Manado. Pesawat lepas landas pada pukul 12.55 WIB dari Bandara Juanda

Sebelum pulang, saya makan dulu di salah satu resto di bandara. Kebetulan, saya ditemani Murdanto, dulu teman SMAN saya yang juga jadi pilot yang saat itu belum jadwalnya tugas.

Saya dapat informasi dari Murdanto, bahwa pesawat di mana Lolita bertugas, membawa 96 orang penumpang. yang terdiri dari 85 dewasa, 7 anak-anak dan 4 bayi. Dipiloti oleh Kapten Refri A. Widodo dan co-pilot Yoga Susanto, dan disertai pramugari Verawati Chatarina, Dina Oktarina, Nining Iriyani dan Ratih Sekar Sari. Pesawat tersebut juga membawa 3 warga Amerika Serikat. Tentu, Murdanto tahu itu sebab dia juga pilot pada perusahaan yang sama dengan pesawat tempat Lolita bertugas.

Sesudah kenyang, sayapun pulang menuju ke Hotel Brantas tetap saya menginap. Sambil istirahat di ruang hotel yang full AC, sayapun menonton televisi. Dari channel yang satu ke channel yang lainnya. Lantas, berhenti pada MetroTV yang membawakan acara Breaking News. Apalagi menyangkut berita pesawat yang ditumpangi Lolita.

Beritanya, seharusnya pesawat tiba di Bandara Sam Ratulangi , Manado pukul 16.14 WITA. Pesawat kemudian dilaporkan putus kontak dengan pengatur lalu-lintas udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makasar setelah kontak terakhir pada 14:53 WITA. Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada jarak 85 mil laut barat laut Kota Makassar pada ketinggian 35.000 kaki.

Semula saya menanggapi biasa-biasa saja. Namun sehabis mandi sore, saya dikejutkan dengan berita bahwa, Adam Air Penerbangan KI-574 adalah sebuah penerbangan domestik terjadwal Adam Air jurusan Surabaya-Manado, yang sebelum transit di Surabaya berasal dari Jakarta,hilang dalam penerbangan.

Satu dua hari kemudian, saya mendapat kepastian informasi dari manajemen Adam Air di Jakarta, bahwa pesawat Adam Air KI-574 yang juga ditumpangi Lolita, telah meledak di udara dan dipastikan semua penumpang dan awak pesawat, termasuk pramugari Lolita, telah tewas dan jenasahnya tak mungkin ditemukan karena pesawat langsung menukik dan tenggelam ke laut yang dalamnya sekitar 2000 meter.

“Oh,My God!….,” saya langsung terkulai lemas di kantor Adam Air.

Sumber foto: wings900.com

Catatan:

Mengucapkan turut berduka cita atas keluarga yang ditinggalkan para korban peristiwa Adam Air KI-574. Semoga tabah menghadapinya. Dan, semoga semua arwah korban kecelakaan pesawat Adam Air tersebut bisa diterima di hadirat Tuhan Yang Mahaesa.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

https://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

CERPEN: Ketika Sahabat Menjadi Pengkhianat

SIANG itu saya sedang makan siang di Food Court, Plasa Senayan , Jakarta Selatan bersama teman bisnis saya, Prabowo, namanya.

“Harry, saya terkejut membaca statusmu di FB,” ujarnya.

“Soal,apa?” saya ingin tahu.

“Soal pengkhianatan mantan sahabat Harru sewaktu SMAN 1 di Bojonegoro?”

“Oh,itu? Bagi saya bukan hal yang baru. Sewaktu saya dan dia, namanya Dianna, masih sama-sama di SMAN, dia memang punya watak sirik. Watak iri,”

“Contohnya?”

“Ya, waktu itu tahun 1969-anlah. Saya pelopor radio amatir, namanya Radio Armada 151 berlokasi di Jl. Ade Irma Suryani,Sumbang. Berada pada gelombang 86 MW. Zaman dulu belum ada FM. Eh, dia iri, lantas mendirikan radio.Tak tanggung-tanggung, gelombangnya di 85 FM. Untuk radio kecil, gelombang 85 MW dan 88 MW itu sangat berdekatan. Sinyalnya lebih kuat. Jadi, ingin mematikan radio amatir saya. Setelah saya protes, kemudian pindah ke gelombang SW,” saya mengingatkan Prabowo bahwa, Dianna sejak SMAN memang punya atak sirik.

“Oh, jadi soal dia menyabotase kegiatan reuni, juga dia juga?”

“Ya,iyalah. Semua alumni SMAN 1 Bojonegoro lulusan 1971 tahu, saya adalah pelopor reuni sejak 1971 hingga 1995, bahkan hingga 2000. Saya keluar uang banyak untuk melacak para alumni yang tersebar di Jabodetabek. Eh, enak saja. Dianna mengambil alih tanpa permisi. Bahkan memposisikan saya sebagai peserta. Itu kan penghinaan namanya. Wajar kalau saya tersinggung,” saya menjelaskan.

“Tapi, ada yang bilang Harry itu sombong. Kenapa?”

“Orang yang menilai saya sombong 100% adalah orang-orang yang belum mengenal saya secara pribadi. Cara berpikir mereka sempit seperti katak dalam tempurung. Semua pakar psikologi tentu tahu, untuk menilai seseorang itu butuh observasi dan itu butuh waktu yang relatif lama. Tidak cukup dengan membaca status atau catatan atau artikel saya. Saya kan penulis. Saya memahami berbagai gaya bahasa.”

“Tapi, kenapa ada kesan seperti itu?”

“Ya, saya mengusulkan ke Dianna, supaya diadakan acara rekreasi ke Bali. Tapi, usul saya ditolak. Seolah-olah saya ini tidak berhak usul.Seolah-olah saya tak mampu melakukan hal itu. Padahal, sewaktu saya pindah ke SMAN 6 Surabaya, saya sanggup mengadakan tour ke Bali. Bahkan, sewaktu kuliah di Fakultas Ekonomi Trisakti Jakarta, saya juga pernah mengadakan rekreasi ke Bali. Bahkan, sewaktu saya jadi aktivis Senat Mahasiswa di Akademi Bahasa Asing “Jakarta”, saya juga puluhan kali mengadakan rekreasi ke berbagai objek wisata di Jawa Barat. Jadi, sikap Dianna yang sombong itulah yang justru membuat saya sangat tersinggung,” cerita saya.

“Oh, begitu?Tapi kenapa harus menyebut Harry alumni enam perguruan tinggi? Apakah itu tidak memberikan kesan sombong?”

“Itulah. Orang Indonesia itu aneh. Kalau saya tidak menyebut gelar, saya dianggap lulusan SMA. kalau saya menyebutkan lulusan satu perguruan tinggi saja, teman-teman saya dari universitas lainnya ttersinggung karena nama universitasnya tidak saya sebut. Kalau saya sebut semua, katanya saya sombong. Bagi saya, apa yang saya katakan itu fakta. Apakah saya sombong atau tidak tergantung IQ masing-masing orang. Bagi orang yang IQ-nya rendah dan negative thinking, tentu saya dianggap sombong. Kenyataannya, teman-teman yang mengenal saya secara pribadi, tak mengatakan begitu. Mereka tahu siapa saya…,” saya sambil menyantap rendang otak yang sangat lezat sekali.

Siang itu Food Court Plasa Senayan cukup ramai pengunjung. Adalah kebiasaan saya makan siang bersama rekan-rekan bisnis di resto. Tidak hanya di Plasa Senayan, tetapi juga di resto lain. Antara lain Senayan City, Solaria, American Hamburger, Ayam Bulungan, Kentucky dan lain-lain.Tidak hanya dengan Prabowo, tetapi juga dengan rekan bisnis lainnya.

“Terus, bagaimana sikap Harry?” Prabowo masih ingin tahu. Maklumlah, Prabowo orangnya memang penuh dengan rasa simpati dan empati terhadap masalah-masalah yang saya hadapi.

“Ya, sejak SD saya orangnya tegas dan konsisten. Lebih baik saya punya musuh sejati daripada sahabat palsu. Saya memusuhinya seumur hidup saya. Dan saya ak akan menghadiri reuni-reuni yang diadakan Dianna bersama Bimbim. Bimbim itu juga berjiwa pengkhianat. Musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya. Lebih baik saya punya musuh yang jelas-jelas musuh.”

“Oh, baguslah kalau Harry berpegang tegung pada komitmen. Itu sangat penting dalam bisnis. Sebab, orang yang berjiwa pengkhianat dalam persahabatan, dia juga bisa berjiwa pengkhianat dalam bisnis”

“Betul Di dalam bisnis sayua juga pernah dikhianati karyawan saya. Dia keluar, kemudian mendirikanusaha yang sama, yaitu mendirikan lembaga pendidikan komputer. Tidak jauh dari tempat saya. Ketika dia kalah bersaing, lantas menggunakan cara-cara dukun yang dilarang agama. Usaha sayapun sepi. Saya tak mau membalasnya. Semua saya serahkan kepada Tuhan. Toh, akhirnya, rumah tangganya kacau dan akhirnya cerai dengan suaminya. Hidupnya kacau balau”

“Mungkin dia terkena hukum karma”

“Ya,begitulah watak saya. Kalau saya dijahati orang, saya tak mau membalasnya. Tuhan itu Maha Adil. Dan banyak orang yang pernah berbuat jahat kepada saya, hidupnya tidak bahagia, tidak kaya bahkan sengsara. Bahkan Dianna, yang sewaktu SMAN mengkhianati saya, sampai usia 57 tahun tidak dikaruniai anak. Jadi nenek mandul. Mungkin karena stres tidak punya anak, maka pelampiasannya ya dia mengadakan reuni-reuni itu” saya terus menjelaskan. Semua berdasarkan fakta. Bukan merekayasa. Sya paling takut berbohong, sbab Tuhan Maha Tahu.

“Ya,ya,ya…Saya sekarang bisa memahami cara berpikir Harry. Tegas, konsisten dan berdasarkan fakta…,” komen Prabowo.

“Ya,begitulah. Banyak orang salah menilai saya. Salah faham tentang saya. Coba, kalau saya sombong, tidak mungkin dong saya terpilih sebagai sekretaris senat mahasiswa. Tidak mungkin saya terpilih sebagai ketua BPM/BEM.”

“Hahaha….Memang, masyarakat kita masih banyak yang logikanya bengkok. Dan, tidak faham psikologi”

“Benar. Apa yang Prabowo katakan benar 100 persen. Saya tahu itu. Apalagi, sejak 1973 saya mempunyai hobi sebagai Pengamat Perilaku. Wah, kasihan benar masyarakat kita ini. Bahkan, yang berpendidikan S1,S2 dan S3 juga banyak yang logikanya tidak lurus. Merka merasa benar, padahal salah. Kalau diluruskan, mereka ngeyel…”

“Ha ha ha…Saya percaya itu. Saya juga punya teman seperti itu. Kalau saya luruskan pendapatnya, justru dia tersinggung dan membodoh-bodohkan saya…Ha ha ha…”

“Ya, begitulah. Orang yang cara berpikirnya dogmatis-pasif, memang enggan menerima teori-teori baru atau pendapat-pendapat baru. Enggan menerima perbedaan pendapat”

Sayang, nasi sudah habis. Minuman sudah habis. Perut telah kenyang. Sesudah bincang-bincang sebentar tentang rencana bisnis berikutnya, maka saya dan Prabowopun kembali ke kantor masing-masing.

Mobil Honda Jazz putihpun saya kendarai menuju kantor saya di Kawasan Bintaro Jaya.

 

Sumber foto: yustisi.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

https://fsui.wordpress.com

 

 

CERPEN: Selamat Tidur Lia Amelia

LIA, 26 Maret 1972, terpaksa meninggalkan saya dan sahabat-sahabat lainnya karena menderita kanker otak. Berhari-hari saya menjaganya di rumah sakit. Berhari-hari menemani Lia berbicara di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya pusat, bibirnya pucat dan kering, matanya sayu.

“Harry, kalau saya punya kesalahan, tolong saya dimaafkan,” katanya ketika saya membezoeknya.

“Tentu,Lia,” jawab saya sambil mengelus tangannya. Saya cium berkali-kali telapak tangannya. saat itu, pulang sekolah, saya langsung membezoeknya bersama Arifin, Agus Nuriman, Gaguk dan Andharini.

“Harry, boleh saya titip pesan?” Lia bertanya.

“Boleh. Apa itu?”

“Harry, kembalilah ke Siska,” pinta Lia. Cukup mengejutkan saya. Memang Lia tahu, sebelum saya berpacaran dengan Lia, saya berpacaran dengan Siska, siswa SMAN 5. Terus terang, saya tak bisa mengucapkan kata apa-apa. Saya cuma berdiam diri.

“Bagaimana,Harry? Kok,diam saja,” Lia terus mendesak. Arifinpun menasehati saya supaya menjawab pertanyaan Lia.

“Kenapa Lia berkata seperti itu?” saya ingin tahu.

“Harry,…jangan lupakan hari-hari indah kita. Tapi, coba lupakanlah. Semua telah berlalu. Saya tak mungkin bersamamu,Harry,”

“Lia, jangan berkata seperti itu. Berdoalah. Tuhan sayang sama Lia,” saya duduk di tempat tidur dan saya cium kening Lia,

“Harry,” bisik Lia. Lirih sekali suaranya.

“Ada apa?”

“Ciumlah saya, Harry…” pintanya. Untuk kedua kalinya, saya cium keningnya.

“Terima kasih Harry,” lirih kata Lia. Lalu, matanya terkatup.

“Lia…Lia…Lia…” saya panggil Lia tiga kali. Tak ada jawaban. saya pegang tangannya. Tak ada denyut nadi.

“Liaaaa! Jangan Liaaaa….!” saya berteriak histeris. saya peluk Lia erat-erat.Air mata tak terbendungkan lagi. Ya, itulah saat yang paling menyedigkan bagi saya. Lia telah pergi. Selamanya. saya kehilangan. Saya sedih.

Saat itu, Arifin dan teman-teman lainpun segera berbagi tugas. Ada yang mengabari ibunya Lia. Ada yang menelepon teman-teman. Ada yang menyiapkan acara pemakaman.

Tak sulit memberi teman-teman, sebab siang itu masih banyak teman-teman yang belum pulang karena latihan basket, latihan band dan mempersiapkan penerbitan buletin Elka dan kesibukan lainnya. bahkan saat itu guru-guru juga sedang rapat.

Sungguh, saya tak tahan menahan air mata. Satu persatu membasahi pipi. Rasa-rasanya saya telah kehilangan segala-galanya. Hidup ini terasa kosong. Hari itu saya telah kehilangan. Kehilangan seseorang yang mau memahami isi saya. Seseorang yang mau berbagi hari-hari ceria. Saat itu, dia telah tiada.

“Sudahlah, Harry. Relakan saja, Lia,” ujar Miepsye, sahabat satu kelas sewaktu waktu itu masih duduk di bangku SMAN 6 Surabaya. Saat itu adalah saat pemakaman Lia. Seluruh siswa SMAN itu berduka. Seluruh guru juga hadir, kecuali Pak Qomar yang saat itu tidak mengajar karena sakit.

Saya pandangi para tukang kubur yang sibuk dan berusaha memasukkan jenasah Lia ke liang kubur. Dan, akhirnya berhasil juga. Lantas saya dengar doa dari dalam kubur. Saya juga turut berdoa.

“Semoga Lia diterima Allah swt,Harry,” kata Poppy yang berdiri di sebelah kanan saya.

“Tabahkan,Harry,” Jerry Jerminas menepuk pundak kiri saya.

Saya Cuma bisa berdiam dan terisak. Sekuat tenaga saya berusaha tabah. Namun tetap juga air mata tak mau berhenti. Betapa tak sedih. Sudah dua tahun saya berpacaran dengan Lia. Saat itu dia di kelas IPA, sedangkan saya di IPS.

Seluruh teman juga merasa kehilangan. Sebab, Lia merupakan jago basket di sekolah saya. Walaupun tinggi badannya normal-normal saja, tapi 99% bola yang dilemparkan pasti masuk. Enam buah piala hasil pertandingan basket SMAN se-Surabaya masih tersimpan dengan rapi di lemari ruang kepala sekolah.

Saat itu, para tukang kuburpun menguruk lubang kubur dengan tanah. Sedikit demi sedikit. Sementara ratusan siswa SMAN 6 yang hadir saat itu hanya bisa menunduk. Atau memandangi makam itu dengan pandangan kosong. Saya juga lihat ibunya terus menyka air mata. Ayah Lia sudah meninggal lima tahun yang lalu karena sakit.

“Turut berduka cita, Harry,” tiba-tiba Pak Salehudin, kepala sekolah saya, sudah ada di sebelah kanan saya. saya sambut uluran tangannya.

“Terima kasih, Pak,” salam saya.

Lia. Lia Amelia. Entah sudah berapa puluh kali malam Minggu saya apel ke rumahnya. Entah sudah berapa ratus kali saya dan Lia minum ice cream di Rendevouz, Jl. Kayun. Entah berapa ratus lembar foto kenangan yang saya buat bersama Lia. Entah sudah berapa kali saya dan Lia minum es bubur kacang ijo di Selatan Kantor Pos. Entah berapa belas kali belanja bersama di Tunjungan. Tak terhitung. Semua tinggal bayang-bayang.

Yah, sore itu juga Lia dimakamkan. Hari yang paling kelabu bagi saya. Betapa menyakitkan, kehilangan orang yang paling saya kasihi. Lia, tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan enak diajak bicara.

Nah, sore itu pengurukan makam telah selesai. Semua berdoa bersama. Silih berganti menaburkan bunga di makam Lia. Sayapun bersujut di samping makam Lia.

“Lia. Selamat tidur Lia Amelia. Semoga Allah swt memaafkan semua kesalahan dan menghapus semua dosa. Semoga abadi di sorga. Ya, Lia…saya akan kembali ke Siska, seperti yang pernah kau ucapkan di saat-saat hari terakhir Lia…..”

Sesudah menaburkan bunga untuk kesekian kalinya, maka acara pemakamanpun selesai. satu persatu meninggalkan macam. Dan kemudian sepi. Saya pulang paling terakhir. Sebelum meninggalkan makam, saya pandangi sekali lagi makam Lia.

“Selamat jalan Lia…Selamat tidur Lia Amelia…”

Sumber foto: bandung.detik.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Dulu Dulu Sekarang Sekarang

DULU. Siapa sih tidak kenal Vindra? Dia merupakan salah satu mahasiswi dari lima mahasiswi tercantik di kampus saya. Yaitu, Fakultas Psikologi, Unpad, Bandung. Bahkan banyak mahasiswa dari fakultas teknik atau fakultas lainnya mengadu untung untuk bisa berkenalan dengan dia.

Beruntunglah saya, saya satu fakultas dan bahkan boleh dikatakan satu angkatan dan juga selalu satu ruangan kuliah. Tentu, tiap hari saya bisa menikmati kecantikannya. Putih, langsing, semampai, rambutnya rapi, pakaiannya modis, tutur sapanya enak, kalau diajak ngomong selalu konek dan tidak membosankan. Apalagi, kalau siang sering mau saya ajak makan siang bersama di kantin Unpad.

“Oh,ya. Besok saya nggak masuk,Harry. Tolong ya, besok harinya saya pinjam catatannya,” pesan Vindra sewaktu saya dan Vindra makan siang di kantin.

“Memangnya ada acara apa?” saya ingin tahu. Saya terus santap nasi goreng sambil mendengarkan musik instrumentalia di kantin itu.

“Mau ke Jakarta. Ada keponakan ulang tahun. Tidak menginap,kok. Malam juga sudah pulang,” jawabnya sambil meminum juice jeruk kesukaannya. Siang itu saya cuma sama Vindra. Biasanya sih berempat, dengan Tika dan Erlien. Cuma, kebetulan Tika dan Erlien hari itu tidak masuk karena sakit. saya,Vindra,Tika,Erlien,Bowo dan Merly adalah kelompok belajar bersama.

Begitulah, esok harinya saya memenuhi janji saya untuk Vindra. Semua materi kuliah saya catat dengan rapi. Untunglah, saya punya tulisan tangan cukup rapi. Saya tulis dengan tinta hitam supaya jelas kalau difotokopi. Itulah pola kerja sama kami di kampus. Jika ada yang tidak masuk, maka lainnya wajib mencatat lengkap dan sekaligus memfotokopinya sesuai dengan kebutuhan.

Tanpa terasa, semester demi semester, saya berhasil menundukkan hati Vindra. Kemanapun Vindra pergi, selalu bersama saya. Di mana ada Vindra, di situ ada Vindra. Kedua orang tua Vindra juga telah mengenal saya secara baik. Dia tinggal di Jl. Biliton, sedangkan saya tinggal di Jl.Sumbawa. Tak begitu jauh.

Tak jarang, saya tiap Minggu rekreasi bersama Vindra. kadang ke Tangkuban Perahu, obyek wisata Panenjoan,objek wisata Alam Situ Patengan,obyek wisata Candi Cangkuang, Perkebunan Teh Subang,Pemandian Air Panas Ciater,Taman Bunga Cihideung ,Spirit Camp & Sahabat Alam ,Taman Bunga Parongpong,Kebun Strawbery Parongpong,Curug Cimahi dan lain-lain.

Saat itulah, saya merasakan indahnya cinta. Dan Vindrapun juga merasakan demikian. Mungkin, ada ribuan foto kenangan yang telah kami buat. Tanpa terasa, kami berpacaran sejak semester pertama hingga semester terakhir. Selama itu berjalan mulus. Tak pernah cekcok. Justru saling menyemangati. Akhirnya, kami berdua lulus sebagai sarjana psikologi Unpad, Bandung.

Dan proses lamaran dan pernikahanpun berjalan lancar. Kedua orang tua Vindra dan kedua orang tua saya juga hadir. Teman-teman sekampus, baik yang dari fakultas psikologi maupun fakultas lain juga hadir. Juga beberapa dosen yang kami undang juga hadir. Betapa hari-hari itu merupakan hari yang menyenangkan.

KEMUDIAN. Sayapun menempati rumah baru di kawasan Bandung Selatan. Luas tanah 200 meter persegi, luas rumah 100 meter persegi. Arsitek minimalis moderen. Rumah yang cukup cantik lengkap dengan mobil. Rumah, hadiah dari orang tua saya, sedangkan mobil hadiah dari orang tua Vindra.

Saya dan Vindra sama-sama bekerja di perusahaan swasta. Sama-sama bagian personalia. Sama-sama menekuni pekerjaan dengan penuh rasa senang. Bedanya, Vindra bekerja di Bandung Barat, sedangkan saya di Bandung Utara.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Namun, hingga tahun kedua, saya belum dikaruniai seorang bayipun. Menurut dokter, masalah ada pada pihak Vindra. Katanya, sel-selnya kurang memenuhi jumlah yang kesuburan. Sudah bermacam-macam obat dicoba, tak ada hasilnya.

 

“Maaf,ya Harry. saya belum bisa memberikan anak buat Harry,” katanya suatu Minggu. Saat itu saya dan Vindra duduk di bangku di bawah pohon Akasia. Saya cuma mengangguk saja.

“Kok,diam saja,Harry? Menyesal ya, menikah ama Vindra?” tanya Vindra.

“Oh, tentu tidak. Saya lagi memikirkan masalah personalia di kantor,” alasan saya.

“Aduh, masalah kantor jangan dibawa-bawa ke rumah,dong,” kata Vindra setengah mengomel.

Belakangan memang Vindra tampil beda. Sering ngomel. Masalah kecil sering diributkan. Entah kenapa, tubuhnya yang dulu langsing sekarang menjadi gendut. Rambutnya tak terurus seperti dulu. Pakaiannyapun seadanya. bahkan terkesan pakaian orang kampung. Orangpun pasti akan mengira Vindra adalah pembantu saya. maklum, tampilannya memang seperti itu. Kecantikannya sudah pudar.

Bahkan jika di tempat tidur, nafsu seks saya sering tiba-tiba berhenti mendadak. Bagaimana tidak. Tubuh Vindra tak sewangi dulu. Bau keringat yang tak sedap. Sudah tahu akan melakukan hubungan intim, juga tak gosok gigi. Di mata saya, Vindra sudah jauh berbeda. Sekarang tampak berwajah pembantu rumah tangga dari desa di atas gunung terpencil sana. Tak pernah lagi pakai listik, bedak ataupun parfum. Bahkan malas mandi.

“Kenapa ya isteri saya jadi begini?” tanya saya dalam hati. Walaupun saya sarjana psikologi, namun sulit untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Terasa ada yang aneh pada diri Vindra.

Di kantor, saya sering termenung, namun tetap sambil bekerja. kadang-kadang saya ditegur Erlien, dulu teman kuliah yang kebetulan bekerja satu kantor dan satu ruangan dengan saya.

“Harry! Akhir-akhir ini kok Harry sering melamun,sih? Nggak seperti biasanya, banyak tertawa, banyak bikin cerita lucu, bicara politik, bicara filsafat, bicara masalah-masalah sosial….Ada apa,sih?”

Semula saya diam saja. Namun karena Erlien adalah sahabat baik saya sewaktu masih sama-sama kuliah, maka akhirnya sayapun menceritakan masalah saya ke Erlien. Sebetulnya sih, saya enggan menceritakan karena itu urusan pribadi saya. Tapi karena Erlien juga sarjana psikologi, tak ada salahnya kalau saya mencoba mencari masukan dari dia. Siapa tahu, ada alternatif solusi yang bisa saya pilih.

“Oh, itu? Bagaimana kalau saat makan siang saja nanti kita bicarakan dan kita diskusikan?” ajak Erlien yang tak kalah cantiknya dengan Vindra. Saat itu Erlien telah berstatus janda satu anak karena suaminya meninggal karena sakit jantung.

Begitulah, saat siang saya dan Erlien makan bersama di salah satu resto yang tak jauh dari kantor. Sesudah ngobrol ke sana ke mari, mulai soal urusan kantor, musik, politik, akhirnya ke masalah saya.

“Jadi, Harry merasa tak cocok dengan Vindra? Alasannya?” Erlien mulai tanya.

“Ya, Vindra sangat berbeda dengan Vindra yang dulu. Bukan karena Vindra sekarang tampak jelek. Bukan karena sekarang Vindra tak mampu memberi anak. Bukan karena Vindra bau keringat daripada bau parfum. Tapi, rasa-rasanya saya kehilangan cinta. Saya tak mencinai Vindra lagi…” saya berterus terang. Apa adanya. Sejujurnya.

“Boleh saya cerita? Tapi saya mohon Harry merahasiakan masalah ini.Janji?”

“Janji! Saya akan merahasiakannya.”

Erlien yang merupakan teman akrab Vindra sejak di SMA-pun bercerita panjang lebar tentang Vindra.

“Benar itu?” saya bertanya setengah terkejut.

“Demi Allah swt,Harry. Apa yang saya ceritakan memang demikian adanya,” Erlien meyakinkan saya.

Untuk membuktikan kebenaran ucapan Erlien, maka pulang kantor saya dan Erlien segera menuju ke rumah Pak Encep di pinggiran kota. Dia laki-laki setengah baya. Pakaiannya serba hitam. Dia seorang dukun. Dan dari Pak Encep, saya baru yakin apa yang dikatakan Erlien memang benar.

“Oh,Tuhan….Vindra telah main guna-guna. Saya telah dipelet Vindra sejak semester pertama?. Oh….benar-benar di luar dugaan…”

SEKARANG. Itulah masa lalu saya beberapa tahun yang lalu. Dan selama beberapa tahun ini, saya sudah cerai dengan Vindra. Kemudian menikah dengan Erlien. Saya punya dua anak. Satu anak perempuan dari Erlien dengan suaminya terdahulu,yang telah meninggal. Kedua, anak kandung saya dengan Erlien. Kedua anak saya cantik, seperti mamanya. Kami tinggal, Cluster Sevilla di BSD City, Tangerang Selatan. Saya hidup bahagia bersama mereka.

Sumber foto: matanews.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

https://fsui.wordpress.com