CERPEN: Galau Cinta di Danau Ranau

SAYA lupa tahunnya. Yang pasti, saat itu saya menjadi konsultan manajemen untuk mengerjakan proyek sistem dan prosedur perpajakan yang merupakan proyek Dirjen PUOD Departemen Dalam Negeri. Saat itu yang menjadi mendagri yaitu Rudini. Saya bertugas di Kantor Dinas Pendapatan Dati II Kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu-Selatan), Sumatera Selatan.

“Jadi ke Danau Ranau,Mas,” tiba-tiba saya dikejutkan suara empuk dan enak di dengar. Ternyata Ranti sudah datang mengendarai motornya. Ranti adalah karyawati Pemda Kab Dati II OKU sebagai Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan di Dinas Pendapatan Daerah.

“Oh, ya,ya…Jadi,dong!,” tergagap saya menjawabnya. Sayapun menuju ke motornya dan saya yang mengemudikannya. Sedangkan Ranti yang memberi petunjuk arah jalan menuju ke Danau Ranau.

Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatera. Danau ini terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Propinsi Sumatera Selatan

Selama perjalanan banyak yang kami bicarakan. Ternyata Ranti seorang gadis yang cerdas dan punya wawasan yang luas. Apapun yang saya bicarakan, selalu mendapatkan komen-komen yang menyegarkan. Apalagi, Ranti tergolong cantik. Rambutnya pendek mirip Demi Moore sewaktu main film The Ghost.

“Eit…salah jalan, Mas!,” Teriak Ranti. Karena keasyikan ngobrol, saya belok kanan yang ternyata salah jalan. Sayapun memutar motor dan selanjutnya mengikuti petunjuk Ranti. Minggu itu memang merupakan hari yang menyenangkan buat saya. Dan seminggu sebelumnya saya sudah membuat janji dengan Ranti. Maklum, saya belum tahu Danau Ranau itu seperti apa.

Tak lama kemudian, sampailah kami di Danau Ranau. Sesudah menaruh sepeda motor di tempat parkir, maka saya dan Ranti segera menuju danau yang sangat indah itu. Menuurut Wikipedia yang saya baca sewaktu di hotel, . Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar.

Secara geografis topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini praktis menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk. Begitu, informasi dari Wikipedia.

“Yuk, kita ke Pulau Marisa,” ajak Ranti. Pulau Marisa adalah pulau kecil yang ada di tengah Danau Ranau. Dengan menggunakan perahu kecil yang kami sewa, maka sampailah kami ke pulau kecil tapi indah itu. Ada air terjun, sumber air panas dan bahkan ada juga penginapan. Tentu, semua peristiwa indah itu saya abadikan melalui kamera foto. Yaitu, sejak dari hotel, selama dalam perjalanan dan selama di Pulau Marisa.

Tanpa terasa, saya jatuh cinta kepada Ranti. Apakah Ranti juga punya perasaan yang sama? Saya tidak tahu. Yang pasti saya merasakan indahnya hari itu.

Akhirnya, tiap Minggu saya dan Ranti ke Danau Ranau. maklum, belum semua wilayah danau itu saya nikmati. Yang pasti, minggu berikutnya saya tidak ke Pulau Marisa, tetapi mencarter perahu nelayan untuk berputar-putar sekitar danau itu. Mereka mencari ikan Danau terkenal sering para nelayan untuk mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Senang saya melihatnya jika nelayan iitu berhasil mendapatkan ikan dalam jumlah yang lumayan banyak. Di sebelah lain, juga ada beberapa perahu nelayan yang dicarter para wisatawan.

Minggu ketiga, saya datang lagi ke Danau Ranau. Ada satu dua orang berjualan duren di situ. harganya murah, padahal buahnya besar. Tentu, saya dan Ranti langsung menikmati durian yang manis dan legit itu. Kami berdua duduk di sebuah perbukitan dengan tikar sewa.

Saat itulah, saya pertamakalinya memeluk dan mencium Ranti dan dia membalas ciuman saya dengan hangat. Dan saya merasa senang karena tugas saya ke Kabupaten OKU ternyata membawa kenangan yang sangat indah.

Enam bulan saya bertugas di Kabupaten OKU. Selanjutnya saya harus bertugas ke Kabupaten Dati II Muara Enim, Kotip Prabumulih, Kabupaten Dati II Lahat dan Kabupaten Dati II Baturaja dan Kabupaten Dati II Bengkulu Selatan.

Saatnya saya harus berpisah dengan Ranti yang saya cintai. Sekitar lima karyawan mengantarkan saya, termasuk kepala dinas. Dan tentu saja Ranti. Mereka mengantarkan saya ke terminal bus. Dan sebelum berangkat, Ranti sempat memasukkan amplop putih ke tas punggung saya. Saya tak tahu apa isinya. Namun pengalaman saya selama bertugas di Jawa Timur, amplop itu seringkali berisi uang.

“Hati-hati di jalan,Mas Harry,” pesan Ranti. saya lihat air matanya menetes membasahi pipinya. Saat itu  dia berada di dalam bus dan bus belum berangkat. Ketika bus akan berangkat, saya cium Ranti dan Ranti kemudian turun dari bus.

“Ya, baik-baik di OKU,” sahut saya.

Tak lama kemudian, bus segera meluncur menuju ke jalan raya dan kemudian menuju ke Kabupaten Dati II Muara Enim. saya jadi teringkat amplop yang diselipkan di tas punggung saya. Maklum, saat itu bus berhenti sebentar di rumah makan. Siapa tahu di amplop itu ada uangnya.

Namun, ternyata amplopnya tipis. Sesudah saya buka, isinya ternyata sebuah undangan.

“Oh, Tuhan….” terhentak saya membaca undangan itu. Ternyata, bulan depan Ranti akan melangsungkan pernikahan.

Sesampai di Muara Enim, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur di sebuah hotel. Saya hanya bisa melihat hasil foto-foto saya dan Ranti selama di Danau Ranau.

Sungguh! Hati ini terasa galau sekali. Tak pernah saya duga, harapan saya kandas begitu saja.

“Semoga kau berbahagia,Ranti,” gumam saya sambil mencium foto Ranti.

Karena capai, sayapun kemudian tertidur.

 

Sumber foto: potlot-adventure.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen’

Sejak 1973

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: