CERPEN: Yang Merasa Paling Islami Justru Paling Tidak Islami

BANJARMASIN, tahun 2011, saya baru saja diwisuda dari Universitas Islam Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari (UNISKA). Acara wisuda itu juga dihadiri kedua orang tua saya. Sayang, pacar saya, Siti Nurlaeli, tidak bisa hadir karena juga sedang di wisuda di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Banjarbaru (STMIK Banjarbaru).

Di Banjarmasin, saya termasuk suku Bakumpai. Sedangkan Siti Nurlaeli suku Banjar. yang merupakan suku mayoritas di kota itu. Sebenarnya, hubungan saya dengan Siti Nurlaeli tidak disetujui kedua orang tuanya. Alasannya, saya berasal dari suku yang tergolong minoritas. Namun, Siti Nurlaeli tetap setia terhadap saya.

Selesai wisuda, saya melanjutkan program S-2. Sedangkan Siti Nurlaeli atau Lelly bekerja di stasiun televisi BanjarTV. Selama tiga tahun, hubungan saya lancar-lancar saja. Dalam arti, tidak pernah bertengkar. bahkan tiap Minggu sering rekreasi bersama. Antara lain ke Masjid Sultan Suriansyah ,Komplek Makam Sultan Suriansyah, Komplek Makam Pangeran Antasari,Museum Wasaka,Kubah Surgi Mufti, Pasar Terapung Muara Kuin dan Taman Agro Wisata PKK Banjar Bungas.

Minggu itu, kebetulan saya dan Lelly menikmati acara jalan-jalan di Carrefour.

“ Jadi beli HP Blackberry?” tanya saya sambil terus berjalan di samping Lelly.

“Ya,iyalah. HP Nokia saya sudah old fashion,nih,” Lelly mengiyakan. Tak lama kemudian sampailah ke counter HP. Dan akhirnya dia menjatuhkan pilihan ke Blackberry Gemini.

“Kenapa kok memilih Gemini?” tanya saya.

“Ya, soalnya saya berbintang Gemini,” sahutnya. Dalam hati saya Cuma berpikir, Lelly memang cantik, tetapi dalam soal penalaran, seringkali tidak pas. banyak penalarannya yang bengkok. Tapi apa boleh buat, saya mencintainya. Lagipula, tidak ada manusia yang sempurna.

“Oh, cocok kalau begitu,” puji saya, walaupun hati saya merasa kurang sreg. Seharusnya, membeli barang haruslah berdasarkan kriteria fungsi dan kualitas. Bukan berdasarkan hal-hal di luar itu.

Namun ada satu hal yang sangat mengganjal di hati saya, bahwa Lelly adalah penganut Ahmadiyah. Sebuah aliran yang mengaku beragama Islam, namun ajarannya menyimpang dari ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Keluarga Lellypun sebenarnya dijauhi oleh Suku Banjar. Bahkan tidak diakui sebagai Suku Banjar karena alirannya itu.

Karena saya alumni Universitas Islam Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari (UNISKA), maka saya sangat berhati-hati bicara soal Ahmadiyah dengan Lelly. Maklum, masalah agama dan keyakinan merupakan hal yang sangat sensitif. Meskipun demikian, secara bertahap saya ingin menyadarkan Lelly.

Sedang enak-enaknya berjalan, tiba-tiba saya bertemu dengan Nasrullah, yang baru diwisuda sebagai lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nasional (STIENAS).

“Hai,Harry. Apa kabar?” dia langsung menyalami saya dan Lelly.

“Baik, bagaimana khabar Nasrul?” ganti saya bertanya. Kemudian kami mengobrol ke sana kemari. Nasrul adalah dulu teman satu SMA dengan saya. Sejak dulu saya tahu, tingkah lakunya merasa paling Islami. Selalu menyalahkan orang lain. Apalagi, kertika dia tahu pacar saya berasal dari Ahmadiyah, maka caci makipun sering dilontarkan ke Lelly. Untunglah, Lelly sabar. Bahkan sudah dua tahun ini Nasrullah bergabung dengan ormas anarki. Sesudah mengobrol, akhirnya Nasrullah memisahkan diri dan melanjutkan perjalanannya.

Sedangkan saya, sesudah membeli HP, pakaian muslim dan muslimah, maka saya keluar dari Carrefour dan menuju food court. Saya dan Lelly duduk sambil menunggu makanan dan minuman yang saya pesan.

Sejak dulu, saya selalu berusaha menyadarkan beberapa kekeliruan dari ajaran Ahmadiyah. saya ceritakan panjang lebar sejarah Islam, sejarah nabi Muhammad SAW dan perkembangan agama Islam. karena saya lulusan universitas Islam, tentu lancar sekali uraian saya. Untunglah, Lelly bukan tipe-tipe yang langsung menolak perbedaan pendapat.

“Iya, akhirnya saya menyadari bahwa Miirza Ghulam Ahmad itu bukan nabi. Sebab, semua nabi memang mempunyai mukzizat dan mempunyai kitab suci masing-masing. Saya juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Saya bersedia untuk keluar dari Ahmadiyah, walaupun kedua orang tua saya menentangnya,” kata Lelly. Setelah tiga tahun saya memberikan pencerahan tentang Islam yang benar, baru hari itu Lelly mengakuinya secara jujur. Bahkan Lelly akan bertobat dan hari itu berjanji akan keluar dari Ahmadiyah.

“Alhamdulillah…,” sayapun mengucapkan syukur kepada Allah swt karena Lelly telah kembali ke jalan yang benar.

Namun, justtru sejak saat itulah musibah demi musibah harus saya hadapi. Lelly yang menyatakan keluar dari Ahmadiyah, diusir oleh kedua orang tuanya. Akhirnya kontrak rumah di pinggir kota. Celakanya, dia tinggal di daerah di mana Nasrullah tinggal. Baru satu Minggu tinggal di rumah kontrakannya, Nasrullah dan kawan-kawannya mengobrak-abrik rumah kontrakan Lelly dan mengusir Lelly.

“Enyah kamu! Ahmadiyah haram! Jangan tinggal di daerah kami!” teriak Nasrullah beserta sekitar 80 orang teman-temannya. Mereka merusak apa saja yang ada di dalam rumah. Saya yang saat itu datang terlambat memberi penjelasan kepada mereka, bahwa Lelly sudah bertobat dan memeluk agama Islam yang benar. Namun, semua tak percaya dengan penjelasan saya. Akhirnya, hari itu, Lelly harus pindah rumah kontrakan lagi. Untuk kerusakan rumah kontrakannya, saya terpaksa mengeluarkan uang Rp 9 juta untuk memperbaiki kerusakan rumah itu.

Ya, saya menerima kejadian itu sebagai sebuah kenyataan. Betapa sulit meluruskan logika yang bengkok. Butuh waktu. Menyadarkan Lelly yang semula pemeluk Ahmadiyah, juga butuh waktu. Menyadarkan orang-orang yang merasa paling Islami tetapi kelakuannya anarki, juga butuh waktu. Tidak mudah mengubah cara pikir orang atau sekelompok orang lain.

Namun, suatu saat ketika saya belanja di Plaza Posindo, saya bertemu lagi dengan Nasrullah yang merupakan tokoh ormas anarki itu. Entah kenapa, tiba-tiba dia meminta maaf ke saya dan Lelly.

“Maaf, saya baru sadar kalau Lelly benar-benar telah keluar dari Ahmadiyah,”

“Kok,tahu?” tanya Lelly heran.

“Ya, tiga kali saya sempat melihat Lelly shalat di Masjid Sultan Suriansyah. Kebetulan, saya punya toko di dekat masjid itu,” Nasrullah menjelaskan. Saat itu kami bertiga duduk di salah satu resto di Plaza Posindo itu.

“Alhamdulillah…,” ucap saya dan Lelly bersama-sama.

Sayapun mentraktir Nasrullah untuk makan siang bersama.

Sumber foto: id.wikipedia.org

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

https://fsui.wordpress.com

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: