CERPEN: Soal Keislaman Seseorang Hanya Allah swt yang Berhak Menilainya”

SABTU, kantor saya libur. Saya dan istri saya, Laura dan anak saya Lovina yang berusia lima tahun, saya ajak makan siang bersama di Food Court, Plasa Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masing-masing memesan makanan kesukaan masing-masing. Sambil makan, tentu ngobrol ke sana ke mari.

“Kok, Liesda di-PHK,Pa?” Laura bertanya ke saya. Matanya melihat saya.Menunggu jawaban. Namun, sebelum menjawab, dia berkata lagi,” Saya lihat Liesda kerjanya selama ini baik.”. Komentarnya tentang bendahara saya yang bernama Liesda.

“Ya, kalau soal kerja memang baik. Sewaktu saya menyeleksi dia sebagai karyawan, saya cuma melihatnya secara fisik, ijasahnya dan ketrampilannya. Secara fisik dia sopan, cantik,berijasah sarjana akuntansi dan punya pengalaman kerja sebagai asisten akuntan selama tiga tahun…” komentar saya.

“Terus, kenapa di-PHK?”

“Terpaksa. Mungkin tak ada pilihan lain. Seminggu yang lalu, sewaktu kantor sudah tutup, saya punya firasat yang tidak enak,” saya memulai bercerita. Saya memang punya perusahaan mebel berkantor di salah satu ruko di Pondok Indah, sedangkan pabriknya di kawasan Pulogadung.

“Lantas?”

Ya, saya membuka pembukuannya dan saya cocokkan dengan uang yang disimpan di lemari besi. Ternyata kurang Rp 8 juta.”

“Sudah ditanya, kenapa itu terjadi?”

“Sudah,sih. Katanya dia pinjam dulu untuk menambah biaya rumah sakit ibunya”

“Nah, kan baik kan tujuannya?”

“Bukan di situ persoalannya. Kalau memang pinjam, ya dia harus bilang sama saya,dong. Kan dia sama saya ada di dalam satu ruangan yang sama. Lagipula, dia melakukan hal seperti itu sudah tiga kali ini. Yang pertama dan kedua kali uangnya sudah dikembalikan dan dia meminta maaf. Tapi, untuk yang ketigakalinya tidak saya maafkan, sebab dia mengulangi kesalahan yang sama”

“Ah, Liesda kan sopan,Pa. Berkerudung, rajin shalat dan pandai membaca Al Qur’an.” kata Laura setengah membela Liesda.

“Ya,betul. Tapi, kita menilai keislaman seseorang tidak bisa dari kegiatan fisiknya saja. Soal shalat, semua karyawan saya rajin shalat, kecuali Mathews yang beragama Kristen. Soal membaca Al Qur’an, banyak karyawan saya yang bisa membaca Al Qur’an walaupun tidak semuanya qatam. Tapi, keislaman secara nonfisik? Keimanan Liesda? Bagaimana cara kita menilai keislaman dan keimanan seseorang? Apa tolok ukurnya? Menilai hanya secara subjektif? Tidak boleh dan tidak bisa”

“Kenapa tidak boleh dan kenapa tidak bisa?”

“Ya, keislaman dan keimanan seseorang yang sesungguhnya, hanya Allah swt yang berhak menilainya. Para koruptor itu sebagian juga beragama Islam dan rajin shalat. Bahkan naik haji. Apakah orang yang melakukan korupsi bisa dikatakan sbagai orang Islam yang baik?”

“Ya,betul. Tapi Liesda kan rajin shalat, Pa,” masih saja Laura membela Liesda.

“Betul. Untuk rajin shalatnya,saya memberti nilai 100. Untuk pandai membaca Al Qur’annya, saya memberi nilai 100. Untuk sopan santunnya, saya memberi nilai 100. Tetapi, untuk mengambil uangnya tanpa memberi tahu, saya beri nilai 0. Sebab, itu sama saja mencuri,”

“Tapi, kan uangnya sudah dikembalikan semua,Pa,” sergah Laura,isteri saya.

Belum sempat saya menjawab, tiba-tiba Pak Broto Nugraha melihat saya dan menuju ke arah saya. sayapun bersalaman. Pak Broto adalah teman saya sewaktu masih kuliah. Dan secara kebetulan Pak Broto adalah mantan Boss-nya Liesda. Karena saya tahu latar belakang Liesda sewaktu bekerja di perusahaan Pak Broto, maka saya memanfaatkan kesempatan itu agar Pak Broto mau menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan Liesda.

“Liesda? Oh, tentu saya tahu,” jawab Pak Broto yang duduk di sebelah saya yang kemudian memesan makanan. Kemudian, katanya .” Liesda memang cantik,pandai,sopan,rajin shalat,pandai membaca Al Qur’an, tetapi terpaksa saya keluarkan….”

“Kok….Memangnya kenapa,Pak?” isteri saya bertanya.

“Ya, bagaimana lagi. Dia mencuri uang kantor saya, Rp 19 juta. Masih lumayan tidak saya laporkan ke polisi,” jawab Pak Broto.

“Astaga,” komentar Laura, isteri saya.

Sepulang dari makan siang, saya dan Laura mengajak Lovina jalan-jalan ke Taman Impian Jaya Ancol. Dan sepanjang perjalanan Laura baru menyadari masalah keislaman seseorang.

“Saya baru menyadari, kalau keislaman seseorang tidak bisa dilihat dari jilbabnya saja, dari pecinya saja, dari sopan-santunnya saja,dari gelar sarjananya saja atau dari predikat hajinya saja, tetapi dari perilakunya. Sebab, perilaku sesungguhnya merupakan cermin keislaman dan keimanan seseorang.”

“Betul. Dan keislaman dan keimanan seseorang, hanya Allah swt yang berhak menilainya. Sebab, keislaman dan keimanan merupakan hal yang abstrak. Tidak dapat dilihat. Artinya, orang bisa saja disebut Islam secara fisik, tetapi belum tentu nonfisiknya Islami.”

Sumber foto: kevinbarbeecom

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: