CERPEN: Ilusi Cinta di Danau Toba

WAKTU itu saya masih duduk di kelas dua di salah satu SMAN di Medan. Kebetulan satu kelas dengan Irma Nasution, cewek cantik yang berasal dari Belawan. Sudah satu tahun saya memacarinya. Dan seperti biasa, tiap Minggu saya ke Danau Toba naik motor. Memang, cukup melelahkan, tapi cukup menyenangkan.

Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Sebuah danau vulkanik yang memiliki panjang 100 kilometer dengan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.Danau Toba sudah lama merupakan objek wisata utama di Sumatera Utara di samping Bukit Lawang dan Nias. Banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Yuk, naik motorboat…,” ajak Irma ke saya. Lantas dia tanya ke pramu wisata. Entah bicara apa, saya tidak mengerti sebab dia bicara dalam bahasa Batak. Sedangkan saya pindahan dari Jawa dua tahun yang lalu masih belum memahami bahasa daerah. Namun, tak lama kemudian Irmapun mengajak saya naik ke perhau bermotor itu. Saya dan Irma memilih bagian depan di bagian atas. Terbuka, tanpa atap. Karena masih pagi, maka udaranya segar. Perahu melaju mengelilingi Pulau Samosir dengan kecepatan sedang-sedang saja.

“Indah sekali hari ini,” kata saya ke Irma yang rambutnya menyibak mengurai tertiup angin. Di kanan kiri kami juga ada beberapa wisatawan juga asyik menikmati perjalanan yang menyenangkan itu.

“Saya jadi teringat film Titanic,” kata Irma.

“Oh,ya…kita ibarat  Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukater,” sahut saja.

“Hahaha…Berarti Harry jadi Leonardo DiCaprio dan saya jadi  Kate Winslet,dong.” Irma tertawa.

“Hahaha… mulai sekarang saya akan panggil Irma dengan panggilan Rose,” canda saya.

“Boleh, saya akan panggil Harry dengan panggilan Jack,” Irma menimpali.

Sebetulnya itu hanya becanda saja. Mulai hari itu saya memanggil Irma dengan panggilan Rose dan Irma memanggil saya dengan panggilan Rose. Saya dan Rosepun berada di ujung depan kapal menirukan adegan Jack dan Rose dalam film Titanic.

“Rose,…I love you…” kata saya sambil memeluk Rose. Sementara perahu naik turun mengikuti ombak danau Toba.

“I love you too, Jack,” Rosepun mencium saya. Kamipun berciuman dengan mesra.

Cukup banyak saya dan Rose berfoto di Danau Toba. Ada yang di tepi Danau, di perahu, di Pulau Samosir, di restoran dan di setiap sudut Danau Toba. Sebuah kenangan yang tidak mungkin terlupakan.

Masa SMA memang masa yang paling terkesan. Apalagi kalau jatuh cinta pas usia remaja. Terasa hari demi hari selalu indah. Kebetulan, Rose merupakan cewek yang setia dan cerdas. Teman-teman sesekolahanpun banyak yang iri. Tak jarang anak SMA lain datang ke SMA kami hanya karena ingin kenal Rose.

Nama Rose alias Irma Nasution saat itu memang cukup terkenal. Apalagi pulang sekolah dia langsung siaran di salah satu radio swasta. Namanya cukup terkenal. Suaranya di radio juga enak didengar. Tentu, saya rajin mengantarkan dan menjemputnya memakai motor.

Tanpa terasa, saya dan Rose telah lulus ujian SMAN. Sekolah kami lulus 100%. Dan teman-teman kelas III semuanya sepakat akan merayakan pesta syukuran dan sekaligus perpisahan di Danau Toba. Kebetulan saya menjadi ketua dan Rose menjadi sekretaris.

Saatnyapun tiba. Seluruh kelas tiga dan semua gurupun sudah berkumpul di dekat bus masing-masing. Semua ada enam buah bus termasuk sebuah ambulan. Dan Minggu pagi itupun rombongan berangkat dengan mengenakan T-Shirt berwarna biru sebagai T-Shirt kenang-kenangan terakhir.

Sampailah rombongan ke tempat tujuan. Sesudah saling berfoto bersama di berbagai tempat, maka semuanya membuat acara sendir-sendiri. Saya dan Rosepun mendaki ke sebuah tanah yang agak tinggi. Semacam pegunungan kecil.

Namun, di luar dugaan, Rose terpeleset.

“Tolooong…,” teriak Rose. Tubuhnya jatuh ke rerumputan dan berguling-guling ke bawah. Teman-teman yang kebetulan bersama kami segera menolong Rose. Saya dan teman-teman segera mengangkat tubuh Rose ke ambulan. Kebetulan rombongan mengajak seorang dokter lengkap dengan peralatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan.

Di dalam bus wajah Rose putih pucat. Diam, Matanya terpejam. Terbujur di tempat tidur lipat atau velbed. Dokterpun langsung memeriksanya. Hati saya berdetak, cemas dan jantung deg-degan….

“Maaf,…..” kata dokter kepada saya dan beberapa teman yyang ada di samping saya.

“Sebenarnya, Irma sudah lama menderita sakit jantung. Kebetulan, selama ini sudah tiga tahun menjadi pasien saya. Dan sudah dua kali operasi jantung…”

“Maksudnya…?” tanya saya.

“Ya, maaf…saya gagal untuk menyelamatkan Irma. Tuhan sudah memanggil Irma…,”

“Tidaaaak…Tidaaak…!” saya langsung berteriak histeris. Langsung memeluk dan mencium Rose. Saya cium pipinya yang pucat pasi itu.

Yah, itulah yang saya alami. Tepatnya, Minggu, 7 Maret 1999. Sudah berlalu sekitar 12 tahun yang lalu. Dan 7 Maret 2011, tahun ini, saya kembali ke Danau Toba. Membayangkan indahnya  masa lalu. Membayangkan semua kejadian indah semasa saya masih berpacaran dengan Rose. Sebuah ilusi cinta yang selalu indah. Indah sekali. Sayang,….semuanya sekarang hanya sebuah ilusi.

“Selamat jalan, Rose…,” gumam saya. Hari sudah sore. Dengan gontai dan hati galau, sayapun melangkah menuju mobil. Kemudian, pelan mobil yang saya kemudikan meninggalkan Danau Toba.

Sumber foto: travelborg.org.

 

Hariyanto Imadha

Blogger

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: