CERPEN: Bedebah Dot Com

“SEWAKTU saya masih duduk di SD, guru saya mengatakan bahwa negeri saya merupakan negeri yang kaya raya, terutama sumber daya alam. bahkan ketika saya dewasa, ada grup band bernama Koes Plus mengatakan, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Kolamnyapun kolam susu,” kata saya ke Marno, teman sekantor.

Saat itu saya bekerja di Bank of Tokyo, Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Bisa ngobrol karena saat itu jam istirahat. Saya dan Marno sedang makan siang bersama di sebuah resto kecil di belakang gedung itu.

“Ya, kenyataannya memprihatinkan. Kalau dulu kita eksportir BBM, sekarang kita telah menjadi importir BBM. Sumber daya alam kita dijual dengan harga yang muurah. Kenapa ya, bisa begitu?” tanya Marno sambil terus menyantap makanannya. Sayapun juga terus asyik menikmati ayam goreng kesukaan saya.

“Ya, persoalannya pemimpin kita tidak mampu mengelola keuangan secara efisien. Demi gengsi politik, maka banyak proyek-proyek tidak rasional yang dipaksakan dianggarkan di APBN. Akibatnya, APBN defisit. Secara teori, untuk menutupi defisit, ditutup dari pemasukan pajak. Kenyataannya, pajak tidak cukup, lantas menjual sumber daya alam,” saya mulai menceritakan ke Marno tentang hasil analisa saya.

“Dan, berhasil?”

“Tentu, tidak ada yang mau kalau sumber daya alam itu dijual dengan harga internasional. Akhirnya, sumber daya alam kita dijual dengan harga murah, sekitar 25% dari harga internasional. Antara lain, gas kita jual ke China. Kemudian oleh China, gas itu dibikin biji plastik. Lantas, Indonesia mengimpor biji plastik itu dengan harga yang luar biasa mahal”

“Apakah cukup untuk menutup defisit?”  Marno penasaran.

“Ternyata tidak cukup. Akhirnya kita terjebak utang, antara lain utang ke JICA Jepang untuk membayar gaji PNS/TNI dan Polri. Utang ke ADB yang saat itu untuk stimulus ekonomi dan gagal. Utang ke IMF untuk keperluan cadangan devisa. Utang ke World Bank untuk proyek-proyek lainnya.”

“Wah, kalau begitu caranya, kita akan terjebak utang selamanya,dong?”

“Itulah. Pemimpin dan pejabat kita memang manusia-manusia bedebah. Tidak bisa berhitung. Walaupun tak punya uang yang cukup, jumlah PNS ditambah terus. Padahal, idealnya cukup 1% dari jumlah penduduk, yaitu sekitar 2,7 juta saja. Kenyataannya, lebih dari 3 juta PNS. Banyak proyek-proyek yang dikorupsi. APBN bocor sekitar 30%”

“Setuju. Tampaknya pemerintah kita bersiikap konsumtif. Pokoknya, kalau anggaran pembangunan di APBN atau APBD kurang dari 50%, berarti pemimpin dan pejabat kita tak memprioritaskan pembangunan. Lebih memprioritaskan anggaran rutin yang lebih bersifat pemborosan daripada untuk rakyat,” komentar Marno.

“Betul. Pemimpin kita lebih suka membeli mobil mewah untuk para menterinya daripada membuat anggaran untuk masyarakat miskin. Sekolah gratis dan pengobatan gratis untuk masyarakat miskin masih banyak yang bersifat retorika belaka. Pemimpin kita lebih suka mengurusi politik daripada memikirkan rakyat miskin.”

“Betul. Saya juga prihatin melihat situasi negeri kita. Sekiitar 70% perekonomian kita dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70% gedung-gedung bertingkat di jakarta ternyata milik asing. Sekitar 70% perbankan milik kapitalisme asing. Sekitar 70% sumber daya alam kita dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70% bursa efek kita juga dikuasai kapitalis asing. Iitu menurut berita-berita yang saya baca dari berbagai koran,” Marno terus berkomentar.

“Itulah. Pemerintah kita terjebak pada pola pikir sistem ekonomi neolib. Banyak pengusaha kecil bangkrut karena kalah dengan pemodal besar. Dan untuk itu pemerintah tidak peduli. Pertanianpun amburadul. Petani dan buruh tani masih miskin abadi seperti dulu. Kita tak punya sistem pertanian yang baik. Menteri pertanian kita tidak kreatif.”

“Apalagi menteri perdagangan kita. Masak, kurang garam,impor garam. Kurang cabe, impor cabe. Kurang daging sapi, impor daging sapi. Apapun kekurangan yang kita miliki, selalu impor. Tidak kreatif. Otaknya tidak terpakai.”

“Mungkin,tidak punya otak?”

“Hahaha….Bisa jadi. “ Marno tertawa.

“Banyak kasus-kasus yang tidak dituntaskan. Kasus Bank Century, kasus Lumpur Lapindo, kasus rekening gendut perwira polri, kasus penjualan saham murah PT Krakatau Steel Tbk, kasus nasib eks pengungsi Timor Timur, kasus masih banyaknya korban tsunami Aceh yang belum memilik rumah seperti yang pernah dijanjikan pemerintah dan saya yakin kasus mafia pajak juga tak akan terselesaikan secara tuntas”

“Bagaimana ya, nasib bangsa kita kok terpuruk begini?”

“Itu salahnya rakyat juga, kkenapa memilih pemimpin dan wakil rakyat yang tidak berkualitas dan tidak bermoral. Kiita punya pemimpin bisanya curhat dan bikin polemik melulu. Wwakil rakyat kiita sibuk menghambur-hamburkan uang rakyat untuk studi banding dan menaikkan gajinya sendiri. Banyak wakil rakyat kita terlibat kasus korupsi. banyak gubernur, bupati dan walikota yang terlibat kasus korupsi.”

“Kira-kira apanya yang salah?”

“Yang salah adalah sistemnya. Kita tgak punya sistem politik yang benar. Tak punya sistem ekonomi yang benar. Tak punya sistem pertanian yang benar. Tak punya sistem ppendidikan yyang benar. Sistem biirokrasi kita juga tidak efisien. manajemen APBN dan APBD juga amburadul. Ditambah lagi, kualitas moral etika para pemimpin,pejabat dan wakil rakyat kita memang bobrok,” saya menjelaskan.

“Apa yang terjadi sekarang merupakan kesalahan rakyat ppemilih,ya?”

“Betul, rakyat telah salah memilih pemimpin dan wakil rakyat. Hasilnya, negeri kita menjadi negeri bedebah. Republik kita adalah Republik Bedebah!” saya menghela nafas panjang karena kecewa.

“Tepatnya, Republik Bedebah Dot Com,ya?”

“Hahaha…Betul sekali”

“Hahaha…,” Marnopun tertawa.

Sesudah membayar makanan, saya dan Marno kembali menuju ke Bank of Tokyo, tempat saya dan Marno bekerja.

Sumber foto modif: www.banjar-jabar.go.id

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: