CERPEN: Dulu Dulu Sekarang Sekarang

DULU. Siapa sih tidak kenal Vindra? Dia merupakan salah satu mahasiswi dari lima mahasiswi tercantik di kampus saya. Yaitu, Fakultas Psikologi, Unpad, Bandung. Bahkan banyak mahasiswa dari fakultas teknik atau fakultas lainnya mengadu untung untuk bisa berkenalan dengan dia.

Beruntunglah saya, saya satu fakultas dan bahkan boleh dikatakan satu angkatan dan juga selalu satu ruangan kuliah. Tentu, tiap hari saya bisa menikmati kecantikannya. Putih, langsing, semampai, rambutnya rapi, pakaiannya modis, tutur sapanya enak, kalau diajak ngomong selalu konek dan tidak membosankan. Apalagi, kalau siang sering mau saya ajak makan siang bersama di kantin Unpad.

“Oh,ya. Besok saya nggak masuk,Harry. Tolong ya, besok harinya saya pinjam catatannya,” pesan Vindra sewaktu saya dan Vindra makan siang di kantin.

“Memangnya ada acara apa?” saya ingin tahu. Saya terus santap nasi goreng sambil mendengarkan musik instrumentalia di kantin itu.

“Mau ke Jakarta. Ada keponakan ulang tahun. Tidak menginap,kok. Malam juga sudah pulang,” jawabnya sambil meminum juice jeruk kesukaannya. Siang itu saya cuma sama Vindra. Biasanya sih berempat, dengan Tika dan Erlien. Cuma, kebetulan Tika dan Erlien hari itu tidak masuk karena sakit. saya,Vindra,Tika,Erlien,Bowo dan Merly adalah kelompok belajar bersama.

Begitulah, esok harinya saya memenuhi janji saya untuk Vindra. Semua materi kuliah saya catat dengan rapi. Untunglah, saya punya tulisan tangan cukup rapi. Saya tulis dengan tinta hitam supaya jelas kalau difotokopi. Itulah pola kerja sama kami di kampus. Jika ada yang tidak masuk, maka lainnya wajib mencatat lengkap dan sekaligus memfotokopinya sesuai dengan kebutuhan.

Tanpa terasa, semester demi semester, saya berhasil menundukkan hati Vindra. Kemanapun Vindra pergi, selalu bersama saya. Di mana ada Vindra, di situ ada Vindra. Kedua orang tua Vindra juga telah mengenal saya secara baik. Dia tinggal di Jl. Biliton, sedangkan saya tinggal di Jl.Sumbawa. Tak begitu jauh.

Tak jarang, saya tiap Minggu rekreasi bersama Vindra. kadang ke Tangkuban Perahu, obyek wisata Panenjoan,objek wisata Alam Situ Patengan,obyek wisata Candi Cangkuang, Perkebunan Teh Subang,Pemandian Air Panas Ciater,Taman Bunga Cihideung ,Spirit Camp & Sahabat Alam ,Taman Bunga Parongpong,Kebun Strawbery Parongpong,Curug Cimahi dan lain-lain.

Saat itulah, saya merasakan indahnya cinta. Dan Vindrapun juga merasakan demikian. Mungkin, ada ribuan foto kenangan yang telah kami buat. Tanpa terasa, kami berpacaran sejak semester pertama hingga semester terakhir. Selama itu berjalan mulus. Tak pernah cekcok. Justru saling menyemangati. Akhirnya, kami berdua lulus sebagai sarjana psikologi Unpad, Bandung.

Dan proses lamaran dan pernikahanpun berjalan lancar. Kedua orang tua Vindra dan kedua orang tua saya juga hadir. Teman-teman sekampus, baik yang dari fakultas psikologi maupun fakultas lain juga hadir. Juga beberapa dosen yang kami undang juga hadir. Betapa hari-hari itu merupakan hari yang menyenangkan.

KEMUDIAN. Sayapun menempati rumah baru di kawasan Bandung Selatan. Luas tanah 200 meter persegi, luas rumah 100 meter persegi. Arsitek minimalis moderen. Rumah yang cukup cantik lengkap dengan mobil. Rumah, hadiah dari orang tua saya, sedangkan mobil hadiah dari orang tua Vindra.

Saya dan Vindra sama-sama bekerja di perusahaan swasta. Sama-sama bagian personalia. Sama-sama menekuni pekerjaan dengan penuh rasa senang. Bedanya, Vindra bekerja di Bandung Barat, sedangkan saya di Bandung Utara.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Namun, hingga tahun kedua, saya belum dikaruniai seorang bayipun. Menurut dokter, masalah ada pada pihak Vindra. Katanya, sel-selnya kurang memenuhi jumlah yang kesuburan. Sudah bermacam-macam obat dicoba, tak ada hasilnya.

 

“Maaf,ya Harry. saya belum bisa memberikan anak buat Harry,” katanya suatu Minggu. Saat itu saya dan Vindra duduk di bangku di bawah pohon Akasia. Saya cuma mengangguk saja.

“Kok,diam saja,Harry? Menyesal ya, menikah ama Vindra?” tanya Vindra.

“Oh, tentu tidak. Saya lagi memikirkan masalah personalia di kantor,” alasan saya.

“Aduh, masalah kantor jangan dibawa-bawa ke rumah,dong,” kata Vindra setengah mengomel.

Belakangan memang Vindra tampil beda. Sering ngomel. Masalah kecil sering diributkan. Entah kenapa, tubuhnya yang dulu langsing sekarang menjadi gendut. Rambutnya tak terurus seperti dulu. Pakaiannyapun seadanya. bahkan terkesan pakaian orang kampung. Orangpun pasti akan mengira Vindra adalah pembantu saya. maklum, tampilannya memang seperti itu. Kecantikannya sudah pudar.

Bahkan jika di tempat tidur, nafsu seks saya sering tiba-tiba berhenti mendadak. Bagaimana tidak. Tubuh Vindra tak sewangi dulu. Bau keringat yang tak sedap. Sudah tahu akan melakukan hubungan intim, juga tak gosok gigi. Di mata saya, Vindra sudah jauh berbeda. Sekarang tampak berwajah pembantu rumah tangga dari desa di atas gunung terpencil sana. Tak pernah lagi pakai listik, bedak ataupun parfum. Bahkan malas mandi.

“Kenapa ya isteri saya jadi begini?” tanya saya dalam hati. Walaupun saya sarjana psikologi, namun sulit untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Terasa ada yang aneh pada diri Vindra.

Di kantor, saya sering termenung, namun tetap sambil bekerja. kadang-kadang saya ditegur Erlien, dulu teman kuliah yang kebetulan bekerja satu kantor dan satu ruangan dengan saya.

“Harry! Akhir-akhir ini kok Harry sering melamun,sih? Nggak seperti biasanya, banyak tertawa, banyak bikin cerita lucu, bicara politik, bicara filsafat, bicara masalah-masalah sosial….Ada apa,sih?”

Semula saya diam saja. Namun karena Erlien adalah sahabat baik saya sewaktu masih sama-sama kuliah, maka akhirnya sayapun menceritakan masalah saya ke Erlien. Sebetulnya sih, saya enggan menceritakan karena itu urusan pribadi saya. Tapi karena Erlien juga sarjana psikologi, tak ada salahnya kalau saya mencoba mencari masukan dari dia. Siapa tahu, ada alternatif solusi yang bisa saya pilih.

“Oh, itu? Bagaimana kalau saat makan siang saja nanti kita bicarakan dan kita diskusikan?” ajak Erlien yang tak kalah cantiknya dengan Vindra. Saat itu Erlien telah berstatus janda satu anak karena suaminya meninggal karena sakit jantung.

Begitulah, saat siang saya dan Erlien makan bersama di salah satu resto yang tak jauh dari kantor. Sesudah ngobrol ke sana ke mari, mulai soal urusan kantor, musik, politik, akhirnya ke masalah saya.

“Jadi, Harry merasa tak cocok dengan Vindra? Alasannya?” Erlien mulai tanya.

“Ya, Vindra sangat berbeda dengan Vindra yang dulu. Bukan karena Vindra sekarang tampak jelek. Bukan karena sekarang Vindra tak mampu memberi anak. Bukan karena Vindra bau keringat daripada bau parfum. Tapi, rasa-rasanya saya kehilangan cinta. Saya tak mencinai Vindra lagi…” saya berterus terang. Apa adanya. Sejujurnya.

“Boleh saya cerita? Tapi saya mohon Harry merahasiakan masalah ini.Janji?”

“Janji! Saya akan merahasiakannya.”

Erlien yang merupakan teman akrab Vindra sejak di SMA-pun bercerita panjang lebar tentang Vindra.

“Benar itu?” saya bertanya setengah terkejut.

“Demi Allah swt,Harry. Apa yang saya ceritakan memang demikian adanya,” Erlien meyakinkan saya.

Untuk membuktikan kebenaran ucapan Erlien, maka pulang kantor saya dan Erlien segera menuju ke rumah Pak Encep di pinggiran kota. Dia laki-laki setengah baya. Pakaiannya serba hitam. Dia seorang dukun. Dan dari Pak Encep, saya baru yakin apa yang dikatakan Erlien memang benar.

“Oh,Tuhan….Vindra telah main guna-guna. Saya telah dipelet Vindra sejak semester pertama?. Oh….benar-benar di luar dugaan…”

SEKARANG. Itulah masa lalu saya beberapa tahun yang lalu. Dan selama beberapa tahun ini, saya sudah cerai dengan Vindra. Kemudian menikah dengan Erlien. Saya punya dua anak. Satu anak perempuan dari Erlien dengan suaminya terdahulu,yang telah meninggal. Kedua, anak kandung saya dengan Erlien. Kedua anak saya cantik, seperti mamanya. Kami tinggal, Cluster Sevilla di BSD City, Tangerang Selatan. Saya hidup bahagia bersama mereka.

Sumber foto: matanews.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

https://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: