CERPEN: Selamat Tidur Lia Amelia

LIA, 26 Maret 1972, terpaksa meninggalkan saya dan sahabat-sahabat lainnya karena menderita kanker otak. Berhari-hari saya menjaganya di rumah sakit. Berhari-hari menemani Lia berbicara di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya pusat, bibirnya pucat dan kering, matanya sayu.

“Harry, kalau saya punya kesalahan, tolong saya dimaafkan,” katanya ketika saya membezoeknya.

“Tentu,Lia,” jawab saya sambil mengelus tangannya. Saya cium berkali-kali telapak tangannya. saat itu, pulang sekolah, saya langsung membezoeknya bersama Arifin, Agus Nuriman, Gaguk dan Andharini.

“Harry, boleh saya titip pesan?” Lia bertanya.

“Boleh. Apa itu?”

“Harry, kembalilah ke Siska,” pinta Lia. Cukup mengejutkan saya. Memang Lia tahu, sebelum saya berpacaran dengan Lia, saya berpacaran dengan Siska, siswa SMAN 5. Terus terang, saya tak bisa mengucapkan kata apa-apa. Saya cuma berdiam diri.

“Bagaimana,Harry? Kok,diam saja,” Lia terus mendesak. Arifinpun menasehati saya supaya menjawab pertanyaan Lia.

“Kenapa Lia berkata seperti itu?” saya ingin tahu.

“Harry,…jangan lupakan hari-hari indah kita. Tapi, coba lupakanlah. Semua telah berlalu. Saya tak mungkin bersamamu,Harry,”

“Lia, jangan berkata seperti itu. Berdoalah. Tuhan sayang sama Lia,” saya duduk di tempat tidur dan saya cium kening Lia,

“Harry,” bisik Lia. Lirih sekali suaranya.

“Ada apa?”

“Ciumlah saya, Harry…” pintanya. Untuk kedua kalinya, saya cium keningnya.

“Terima kasih Harry,” lirih kata Lia. Lalu, matanya terkatup.

“Lia…Lia…Lia…” saya panggil Lia tiga kali. Tak ada jawaban. saya pegang tangannya. Tak ada denyut nadi.

“Liaaaa! Jangan Liaaaa….!” saya berteriak histeris. saya peluk Lia erat-erat.Air mata tak terbendungkan lagi. Ya, itulah saat yang paling menyedigkan bagi saya. Lia telah pergi. Selamanya. saya kehilangan. Saya sedih.

Saat itu, Arifin dan teman-teman lainpun segera berbagi tugas. Ada yang mengabari ibunya Lia. Ada yang menelepon teman-teman. Ada yang menyiapkan acara pemakaman.

Tak sulit memberi teman-teman, sebab siang itu masih banyak teman-teman yang belum pulang karena latihan basket, latihan band dan mempersiapkan penerbitan buletin Elka dan kesibukan lainnya. bahkan saat itu guru-guru juga sedang rapat.

Sungguh, saya tak tahan menahan air mata. Satu persatu membasahi pipi. Rasa-rasanya saya telah kehilangan segala-galanya. Hidup ini terasa kosong. Hari itu saya telah kehilangan. Kehilangan seseorang yang mau memahami isi saya. Seseorang yang mau berbagi hari-hari ceria. Saat itu, dia telah tiada.

“Sudahlah, Harry. Relakan saja, Lia,” ujar Miepsye, sahabat satu kelas sewaktu waktu itu masih duduk di bangku SMAN 6 Surabaya. Saat itu adalah saat pemakaman Lia. Seluruh siswa SMAN itu berduka. Seluruh guru juga hadir, kecuali Pak Qomar yang saat itu tidak mengajar karena sakit.

Saya pandangi para tukang kubur yang sibuk dan berusaha memasukkan jenasah Lia ke liang kubur. Dan, akhirnya berhasil juga. Lantas saya dengar doa dari dalam kubur. Saya juga turut berdoa.

“Semoga Lia diterima Allah swt,Harry,” kata Poppy yang berdiri di sebelah kanan saya.

“Tabahkan,Harry,” Jerry Jerminas menepuk pundak kiri saya.

Saya Cuma bisa berdiam dan terisak. Sekuat tenaga saya berusaha tabah. Namun tetap juga air mata tak mau berhenti. Betapa tak sedih. Sudah dua tahun saya berpacaran dengan Lia. Saat itu dia di kelas IPA, sedangkan saya di IPS.

Seluruh teman juga merasa kehilangan. Sebab, Lia merupakan jago basket di sekolah saya. Walaupun tinggi badannya normal-normal saja, tapi 99% bola yang dilemparkan pasti masuk. Enam buah piala hasil pertandingan basket SMAN se-Surabaya masih tersimpan dengan rapi di lemari ruang kepala sekolah.

Saat itu, para tukang kuburpun menguruk lubang kubur dengan tanah. Sedikit demi sedikit. Sementara ratusan siswa SMAN 6 yang hadir saat itu hanya bisa menunduk. Atau memandangi makam itu dengan pandangan kosong. Saya juga lihat ibunya terus menyka air mata. Ayah Lia sudah meninggal lima tahun yang lalu karena sakit.

“Turut berduka cita, Harry,” tiba-tiba Pak Salehudin, kepala sekolah saya, sudah ada di sebelah kanan saya. saya sambut uluran tangannya.

“Terima kasih, Pak,” salam saya.

Lia. Lia Amelia. Entah sudah berapa puluh kali malam Minggu saya apel ke rumahnya. Entah sudah berapa ratus kali saya dan Lia minum ice cream di Rendevouz, Jl. Kayun. Entah berapa ratus lembar foto kenangan yang saya buat bersama Lia. Entah sudah berapa kali saya dan Lia minum es bubur kacang ijo di Selatan Kantor Pos. Entah berapa belas kali belanja bersama di Tunjungan. Tak terhitung. Semua tinggal bayang-bayang.

Yah, sore itu juga Lia dimakamkan. Hari yang paling kelabu bagi saya. Betapa menyakitkan, kehilangan orang yang paling saya kasihi. Lia, tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan enak diajak bicara.

Nah, sore itu pengurukan makam telah selesai. Semua berdoa bersama. Silih berganti menaburkan bunga di makam Lia. Sayapun bersujut di samping makam Lia.

“Lia. Selamat tidur Lia Amelia. Semoga Allah swt memaafkan semua kesalahan dan menghapus semua dosa. Semoga abadi di sorga. Ya, Lia…saya akan kembali ke Siska, seperti yang pernah kau ucapkan di saat-saat hari terakhir Lia…..”

Sesudah menaburkan bunga untuk kesekian kalinya, maka acara pemakamanpun selesai. satu persatu meninggalkan macam. Dan kemudian sepi. Saya pulang paling terakhir. Sebelum meninggalkan makam, saya pandangi sekali lagi makam Lia.

“Selamat jalan Lia…Selamat tidur Lia Amelia…”

Sumber foto: bandung.detik.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: