CERPEN: Dengkulmu Mlocot…!!!

DI BSD City, Tangerang, tiap pagi Senin sampai dengan Jumat, saya punya kegiatan survei peluang bisnis. Cukup naik motor. Sedangkan tiap Sabtu survei di plasa, mal ataupun square. Saya mencari bisnis apa yang laku saat itu. Ini penting, sebab membuka bisnis tidak boleh asal-asalan. Saya lihat, ada beberapa toko yang sepi karena kalah bersaing dengan mini market. Sebaliknya, usaha bengkel motor dan mobil prospeknya sangat baik.

Pagi itu, saya melewati samping Pasar Moderen ke arah terminal bus Trans. Namun, secara tiba-tiba, motor yang ada di depan saya tiba-tiba belok kanan secara sangat mendadak. Tentu, saya yang waktu itu mengendarai motor dengan kecepatan 70 km per jam tak sempat mengerem. Apalagi jaraknya sangat dekat sekali.

Braaak….! Kecelakaan tak terhindarkan. Suara rem yang saya injak seperti anjing menjerit. Motor oleng. Sayapun terpelanting. Hampir ditabrak mobil dari belakang. Untung, pengemudinya cukup cekatan. Pengemudi motor depanpun terpelanting.

Sesudah bangun dengan rasa sakit sekujur tubuh yang lecet di sana-sini, saya sempat melihat roda depan motor saya sudah penyok. Mirip angka delapan. Sedangkan motor yang saya tabrak, rusak ringan. Hanya setang atau setirnya yang bengkok sedikit.

“Bagaimana,sih! Belok kanan mendadak begitu!” bentak saya ke pengemudi motor itu.

“Kamu yang nggak lihat! Saya sudah nyalakan lampu sign!,” dia membalas membentak.

“Iya! Tapi, menyalanya mendadak. Begitu kamu belok, baru kamu nyalakan lampu sign!” ganti saya marah-marah, sebab kenyataannya dia menyalakan lampu sign secara mendadak.

Saat itupun orang-orang banyak berkerumun. Sebagian membantu meminggirkan motor saya dan motor orang itu.

“Kamu yang salah, kenapa tidak hati-hati!” dia menyalahkan saya.

“Kamu yang ngawur! Kenapa mau belok kanan nggak lihat kaca spion!” bentak saya. Sayapun mulai sangat emosional.

Saya lihat, orang itu mendekati motornya, naik, menstarter dan akan kabur. Untunglah, beberapa orang yang ada di situ langsung menghadangnya. Tak beberapa lama kemudian, beberapa tukang ojek yang saya kenal baik dengan saya, mendekati saya. Tampaknya mereka akan membantu saya.

“Jangan takut, Boss. Akan saya bantu,” begitu kata beberapa tukang ojek.

Dan memang, ketika hampir terjadi perkelahian antara saya dengan laki-laki itu, beberapa tukang ojekpun melerai, bahkan salah seorang tukang ojek yang bernama Kardiman yang berbadan kekar itu sudah mengacungkan tinju ke arah laki-laki itu.

“Saya minta ganti rugi…!” kata saya.

“Gantgi rugi? Kamu yang menabrak saya kok kamu yang minta ganti rugi. Seharusnya kamu dong yang mengganti rugi. Motor saya juga rusak.Tahu!!!”

“Motor kamu cuma setangnya saja bengkok. Mudah diperbaiki. Lihat nih, roda depan saya. Mirip angka delapan!” saya menunjukkan ke arah roda depan motor saya yang ringsek.

“Sudah! Sudah! Lapor polisi saja,Mas!” teriak salah seorang anggota masyarakat.

“Nggak usah! Nggak usah” teriak laki-laki itu ke salah seorang anggota masyarakat yang mengusulkan untuk lapor ke polisi. Saat itu kerumunan masyarakat semakin ramai. Apalagi, lokasinya dekat pasar moderen dan komplek pertokoan.

“Ayo! Ganti roda depan saya!” saya tak tahan lagi menahan emosi. Apalagi saya dapat dukungan sekitar lima hingga enam tukang ojkek yang saya kenal dengan baik.

“Apa? Sudah saya bilang! Kamu yang menabrak kok kamu yang minta ganti rugi. Nggak punya otak ya kamu!” hardiknya.

“Kamu yang nggak punya otak! Brengsek!”

“Kamu yang brengsek! Kamu yang bangsat!” dia mendekati saya dan berusaha memukul saya. Untung, ada tukang ojek menghalang-halanginya. Saya dan dia sudah sama-sama emosi. Caci maki dan sumpah serapahpun keluar dari mulut saya dan mulutnya.

“Kalau kamu nggak mau ganti rugi, berarti kamu yang bangsat!” sumpah saya.

“Kamu yang anjing!” mulai kasar kata-kata yang dikeluarkan.

“Dengkulmu mlocot! Tahu…..?!!!” tanpa sengaja saya mengeluarkan cacian Jawa Timuran.

Tiba-tiba wajah orang itu berubah.

“Kamu dari Jawa Timur,ya?” tanyanya.

“Ya! Kenapa? Saya arek Suroboyo!” hardik saya. Padahal, saya asli orang Bojonegoro.

“Oooh, sama kalau begitu! Saya juga arek Suroboyo. Kalau begitu….damai saja, Mas…!” dia mendekati saya dan menyalami saya. Kemudian katanya lagi “ Saya minta maaf, Mas. Akan saya ganti semua kerugian…”. Sekali lagi, diapun menyalami saya. Emosi sayapun menurun.

Dia kemudian meminta tolong ke empat tukang ojek untuk mengangkat motor saya ke Bengkel Aero yang jaraknya hanya 15 meter dari tempat kejadian. Dia juga yang membayar tukang ojek yang membantu mengangkat motor saya.

 

Namun, sampai di bengkel, karyawan bengkel mengatakan, ongkos perbaikan hampir sama dengan beli roda baru. Jadi, sebaiknya beli roda baru saja. Laki-laki yang bernama Eddy Poernomo itupun meminta tolong untuk membelikan roda baru yang bentuknya sama persis dengan punya saya. Diapun memberikan beberapa lembar uang ke karyawan bengkel.

 

Tak lama kemudian, rodapun telah diganti baru. Cukup lama juga. Sekitar satu jam. Sesudah saya coba, ternyata bisa saya pakai dengan sempurna. Termasuk rem ,keseimbangan dan lain-lainnya. Kemudian, karyawan bengkel memperbaiki setang motor laki-laki itu. Semua ongkos bengkelpun dibayar laki-laki itu.

 

Karena emosi sudah dingin, apalagi laki-laki itu sudah bertanggung jawab, maka tak ada lagi sumpah serapah di antara kami. Bahkan, sebelum berpisah, kami ngobrol-ngobrol dulu.

“Jawa Timurnya di mana,Mas?” tanya dia sambil duduk-duduk santai di depan bengkel.

“Sebenarnya sih, dari Bojonegoro,” kata saya jujur.

“Oh, dekat,dong. Saya dari Lamongan. Di BSD City bisnis apa, Mas?”

Sayapun bercerita, salah satu bisnis baru saya yaitu memproduksi kanopi atau atap motor agar tidak kehujanan dan kepanasan.

“Wah, boleh tuh! Boleh nanti saya bantu memasarkannya?” laki-laki itu menawarkan keinginannya dengan serius.

“Memangnya sampeyan sekarang bisnis apa?” ganti saya yang bertanya.

“Saya baru saja membuka agen kopi merek GAR Caffe. Kopi baru. Salah satu pemiliknya Pak Arifin Siregar, mantan petinggi Bank Indonesia”

“Wah, boleh juga,tuh. Bagaimana cara jadi agen? Kebetulan saya juga tahu, bisnis kopi renceng masih sangat bagus” sayapun menanggapi dengan baik.

Esok harinya, kami bertemu lagi untuk merealisasikan komitmen masing-masing. Dia telah membeli lima buah kanopi motor untuk dijual ke teman-temannya. Sedangkan saya sudah memesan beberapa kardus kopi merek GAR Caffe sebagai permulaan. Tempat sudah ada. Tingggal mencari beberapa salesman yang juga merangkap sebagai salesman kanopi motor produksi saya.

Begitulah. Sebuah kejadian yang di luar dugaan. Gara-gara saya mengucapkan umpatan “dengkulmu mlocot”, saya mendapatkan mitra bisnis yang serius dan sangat menguntungkan.

Sumber gambar: jlegong.blogspot.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

https://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: