CERPEN: Pembantuku Mirip Cinta Laura

JAKARTA. Sudah lima tahun mBok Minah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Hasil kerjanya sangat memuaskan. Sayang, karena anaknya di desa sering sakit, terpaksa mBok Minah mengundurkan diri. Sebagai ucapan terima kasih, saya memberinya uang Rp 5 juta untuk biaya pengobatan anaknya dan sebagian untuk modal usaha kecil-kecilan.

Terpaksa, Minggu itu saya, istri saya dan Antok anakku yang masih duduk di bangku SMP kelas satupun terpaksa harus mencari pembantu baru. Avanza putih metalik yang saya kendaraipun meluncur ke daerah Cempaka Putih. Di siutu ada beberapa penyalur pembantu rumah tangga.

Di penyalur yang pertama, istriku belum mendapatkan calon pembantu yang cocok. Namun di penyalur kedua, tiba-tiba istri saya berkata kegirangan sambil menunjuk seseorang yang ada di rumah itu.

“Pa, Pa, ada yang mirip Cinta Laura. ”

Sayapun melihat cewek yang ditunjuknya.

Benar, saya lihat ada cewek berumur sekitar 18 tahun parasnya mirip sekali dengan Cinta Laura. Setelah istri saya ngobrol-ngobrol dengan cewek itu, akhirnya jadilah cewek itu dipilih sebagai calon pembantu rumah tangga menggantikan mBok Minah yang sudah pulang kampung.

Selama satu minggu, istriku mengajari cewek itu—namanya Cipluk Lestari—caranya menggunakan mesin cuci, seterika, rice cooker, blender, kompor gas, food processor dan lain-lain. Kemudian selama seminggu diajari memasak tujuh macam masakan kesukaan saya dan istri saya, Mona. Masakan tersebut antara lain, nasi goreng spesial, semur daging sapi, sop kentang, ayam goreng dan otak goreng dan lain-lain. Semua resep menyontek dari buku resep masakan.

Suatu saat, saya dan Mona pergi sebentar ke Blok M. Ketika pulang, saya lihat anak saya sedang belajar komputer dan didampingi Cipluk. Sebenarnya saya menganggap hal itu biasa saja. Namun ketika iseng-iseng saya melihat komputer Antok, agak kaget juga ya, ternyata dia sudah mampu membuat tabel Excel dengan rumus-rumusnya. Padahal, pelajaran Word saja belum selesai.

Ternyata, menurut Antok, dia diajari Cipluk.

Lain hari, saya dan istri saya tercengang. Kok tiba-tiba Antok minta dibelikan modem. Katanya, ingin belajar internet dan akan diajari Cipluk. Sayapun membelikannya modem external untuk TelkomNet Instan.

Sayapun ingin tahu Cipluk bisa settingnya atau tidak. Ternyata, dia bisa memasang modem itu dengan benar. Bahkan settingnya juga benar. Ketika dicoba, ternyata bisa online.

Akhirnya sayapun ingin tahu Cipluk lebih lanjut.

“Memangnya kamu dulu lusan dari mana?” Tanya saya.

“Dari SMAN 1, Wonogiri, Pak” Jawabnya cukup mengejutkan saya dan Mona. Maklum, biasanya yang ingin jadi pembantu itu lulusannya cuma SD atau SMP.

“Kamu lulusan SMA kok jadi pembantu, sih? Kok nggak cari kerja di perusahaan atau kantor. ” Istri saya menimpali.

“Lamaran saya ditolak terus, Bu. Nggak apa-apa jadi pembantu asal halal, ” ucap Cipluk polos.

“Surat Tanda Tamat Belajarnya dibawa nggak? Boleh lihat?”. Istriku ingin tahu.

Ciplukpun masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian kembali sambil membawa STTB. Saya dan Mona pun melihat isi STTB itu.

Saya dan Mona saling berpandangan karena kagum. Saya lihat Cipluk lulusan SMA jurusan IPA. Nilai Matematika 9, Biologi 8, Fisika 9, Kimia 8 dan lain-lainnya 8.

Istri sayapun merasa tertarik melihat nilai-nilai yang bagus itu.

“Mau nggak kamu saya kuliahkan? Nanti saya yang membiaya sampai lulus sarjana”. Istri saya menawarkan ke Cipluk.

“Kalau ibu tidak keberatan, saya bersedia, ” jawab Cipluk.

“Memangnya kamu ingin kuliah di fakultas apa?”. Saya ingin tahu.

“Kalau bisa fakultas teknik, Pak. Saya ingin jadi arsitek”. Polos jawabannya.

“O, kebetulan saya juga arsitek, ” sambut Mona.

Kebetulan, hari itu adalah saat pengambilan formulir pendaftaran di Universitas Trisakti. Saya, Mona, Antok dan Cipluk segera meluncur ke kampus Universitas Trisakti.

Sesudah mengambil formulir, sayapun mengajak Cipluk ke Taman Impian Jaya Ancol. Maklum, dia sama sekali belum pernah ke Jakarta.

Hari-hari berikutnya Cipluk sudah berstatus mahasiswa. Waktunyapun terbagi dua, yaitu di rumah mengerjakan tugas-tugasnya sebagai pembantu rumah tangga, sesudah itu kuliah. Malam harinya belajar. Semua biaya perkuliahan saya tanggung. Memang sih, saya dan Mona melihat Cipluk cukup cerdas dan sayang kalau tidak ada yang membiaya perkuliahannya. Maklum, orang tuanya di Wonogiri tergolong orang miskin.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Tanpa terasa, Cipluk sudah lima tahun bekerja di rumah saya. Kebetulan, kuliahnyapun lulus dengan nilai terbaik. Bahkan, langsung mendapatkan tawaran kerja di PT Bumi Prasidi di kawasan Tebet. Acara wisudanya juga dihadiri kedua orang tuanya.

Seminggu kemudian Cipluk sudah berstatus sebagai karyawati. Istri sayapun mencarikan rumah

kontrakan di daerah Tebet. Dia tinggal berdua dengan adik laki-laki yang meneruskan sekolah di salah satu SMA di Tebet juga. Sejak saat itu, Cipluk yang mirip Cinta Laura itu tidak bekerja lagi di tempat saya.

Meskipun demikian, kadang-kadang masih suka mampir ke rumah saya di Jl. Prof. Joko Soetono SH (dekat STM Penerbangan), Kebayoran Baru.

Sumber foto: athutz.blog.binusian.org

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: