CERPEN: Pacar Saya Mirip Kate Middleton

SAYA merasa bangga punya pacar mirip Kate Middleton. Banyak orang berdecak kagum tiap kali berpapasan dengan pacar saya yang bernama Kate. Entah kenapa sewaktu Katemasih bayi, ibunya memberi nama Kate. Mungkin kebetulan saja kalau dia mirip Kate Middleton.

Memang saya akui, dia memang cantik. Cuma, dia terlalu narsis sehingga seringkali lebih memperhatikan dirinya sendiri daripada saya. Tapi tak apalah, saya memakluminya.

“O ya, jangan lupa nanti siang saya akan ke Apollo Mall” Begitu dia bicara dengan saya melalui ponselnya. Maksudnya sih sudah jelas, minta supaya saya mengantarkannya. Tapi tak apalah, sebagai seorang pacar, saya harus setia melakukan apa saja.

Siang itu akhirnya saya antarkan memakai mobil Honda silver menuju mal yang dimaksud. Yang namanya belanja, Kate cukup butuh waktu lama. Dari toko A, ke toko B sampai toko Z dan kemudian kembali lagi ke toko A. Coba baju ini, baju itu, coba lainnya dan coba-coba terus. Tapi tak apalah, mungkin yang namanya wanita memang begitu.

“Kalau yang ini bagaimana?” Tanya Kate sambil menunjukkan sebuah gaun. Pada awalnya saya dulu mengalami kesulitan untuk menjawabnya. Namun karena akhirnya saya sering juga membaca majalah-majalah mode, maka akhirnya saya bisa juga menilai apakah sebuah gaun sesuai dengan dia atau tidak.

“Bagus. Serasi dengan tubuhmu yang langsing dan kulitmu yang putih” Saya memberikan penilaian. Akhirnya, gaun itupun dibelinya. Masih untung dia membeli memakai uangnya sendiri. Maklum, orang tuanya tergolong kaya.

“Cantik nggak kalau saya pakai gaun tadi?” Dia menatap saya di dalam mobil dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.

“Cantik. Cantik sekali, asal pakaian yang Kate pakai coraknya bagus, kontemporer dan tidak ada kembarannya” Saya akhirnya suka memberikan pujian. Maklum, dia memang narsistis.

Selama menuju ke restoran kesukaan kami berdua, Kate lebih banyak cerita tentang dirinya sendiri. Tentang kecantikannya. Tentang koleksi sepatunya, bajunya, perhiasannya dan tentang koleksi bonekanya yang sudah satu lemari. Saya selalu mengiyakannya.

Punya pacar cantik tetapi narsistis memang harus sabar. Harus selalu bisa memberikan perhatian dan pujian. Walaupun kadang-kadang membosankan dan menyebalkan, hal itu harus saya lakukan.

Cuma, ketika dia bicara mendapat tawaran untuk menjadi peragawati, saya agak keberatan. Maklum, menjadi peragawati ataupun model sekalipun, tentu akan menjadi perhatian publik. Saya cuma khawatir justru hal itu akan membuat citra Kate menjadi kurang baik.

“Setuju,nggak, Harry? “Dia meminta pendapat.

“Wah, rasa-rasanya saya kurang setuju. Kalau menjadi bintang sinetron dan mendapat peran yang baik, mungkin saya bisa menyetujuinya” Saya akhirnya bicara terus terang.

“Memang saya bisa jadi pemain sinetron”

“Saya yakin bisa. Kate sudah punya modal kecantikan. Soal akting bisa dipelajari. Anak kecil saja bisa,kok. Kenapa Kateyang sudah dewasa tak bisa?” Saya memberikan semangat.

Begitulah, sesudah makan siang saya mengantarkan dia ke rumah sahabat baik saya yang punya perusahaan film dan sinetron yang cukup terkenal. Kehadiran Katepun diterima dengan baik.

Begitulah, setelah melalui rangkaian tes dan latihan-latihan akting, akhirnya Katepun diterima untuk menjadi peran utama dalam sebuah sinetron berjudul :Kopenhagen 2009”.

Karena salah satu adegan harus dilakukan di Kopenhagen, terpaksa saya menyetujuinya dan karena kesibukan saya kuliah, maka saya tak bisa mengikuti kegiatan itu.

Satu bulan kemudian Katepulang dari Kopenhagen dan anehnya sikapnya terhadap saya berubah. Nampak acuh tak acuh saja. Bahkan di luar dugaan dia mengatakan bahwa hubungan saya dan dia sebaiknya terbatas persahabatan saja. Tak lebih dari itu.

Sesudah saya lakukan penelitian dan pengamatan, akhirnya saya tahu penyebabnya. Kate telah berpindah hati. Dia menjadi pacar Gunawan, sahabat baik saya, yang memiliki perusahaan film dan sinetron itu. Ya, saya tak mau ribut-ribut. Mungkin Kate bukan jodoh saya.

Sumber foto: http://www.proinvestasi.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Iklan

CERPEN: Misteri Pipa Besi Yang Keenam

SEJAK SD, saya punya hobi mencari kesibukan. Hari ini, pagi-pagi, saya menciptakan Pitor V5 atau kanopi/atap motor versi ke-5. Supaya pengendara motor tidak kepanasan dan kehujanan. Desain sudah saya buat di komputer. Kemudian ke bengkel las  Aero langganan saya. Lokasinya di BSD City, tangerang Selatan. Dua kilometer dari rumah saya.

Saya minta bantuan jasa las untuk enam batang besi itu. Kemudian saya tinggal beli lauk pauk. Satu jam kemudian saya ambil enam buah besi yang sudah di las. Sampai di rumah saya baru ingat, keenam pipa besi itu seharusnya di bor. Wah, ternyata saya lupa. Untuk balik lagi, malas.

Karena sejak puluhan tahun yang lalu punya pengalaman membor sendiri menggunakan bor listrik, maka satu persatu pipa besi ukuran 1 inci itu saya bor dengan sangat mudah. maklum, sudah pengalaman puluhan tahun.

Sesudah membor pipa kelima, saya istirahat dulu. Maklum saatnya shalat Jum’at. Nah, sekitar pukul 13:00 WIB, saya mulai membor pipa keenam. Aneh, kok tidak bisa. Meleset terus. Padahal, caranya sama dengan kelima pipa sebelumnya.

Saya mulai membor menggunakan mata bor baja ukuran kecil. Ternyata meleset. Pipa besi saya lukai dulu memakai uncek. Ternyata unceknya meleset terus. Pakai paku, apalagi. Terpeleset terus. Saya lukai memakai gergaji besi,sedikit saja dan tterluka. Kemudian saya bor memakai bor baja ukuran kecil tadi. Tetap meleset.

“Aneh” gumam saya sendirian. Mau minta bantuan tukang yang sedang merenovasi rumah tetangga agak jauh, ternyata tiap Jum’at mereka libur. Logika saya mengatakan, mungkin bornya tumpul. Terpaksa, beli di toko material yang tak jauh dari rumah. Saya coba lagi untuk membor. Terpeleset lagi.Terpeleset terus.gagal lagi.Gagal lagi. Jangkrik! Kenapa ini?

Tanya ke siapa ya? Akhirnya saya bukan Facebook dan membuat status. Bunyinya “

ISENG: Mau ngebor pipa besi kok meleset terus. Gimana ya, caranya?”

Lantas, satu jam kemudian para Facebooker memberi komentar.

-Navay Mendchientaiemoe “C’lalu Pak ?My fans”

– Ubaidilah Mubarok “Bor kayu  dipakai ngebor besi.He he he”

-Dinik Lestari “Caranya…Tanyakan pada rumput yangg bergoyang, Pak….Hehehehe”

-Joko Suryanto Parengan “Diuncek dulu ,Pak. Pakai bor baja yangg mata bor paling kecil dan pendek”

-Uzi Lou’ay “Dilas mawon, Pak Harry…”

-Irina Natalia “Dinodai dulu, Pak, biar kena di bor. Wkwkwkwk”

-Hendra Purba “Bapak ini bisa aja, ngebornya pake perasaan dong! Jangan grusa grusu”

-Ki Tanto Ap “Ngebor Besi Ratnasari (dalam mimpi) aja, Mas….”

-Slamet Saksono R”Diketok paku baja dulu bos…”.

Sebenarnya, saran teman-teman Facebooker di atas sudah pernah saya praktekkan sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan kelima pipa besi sebelumnya bisa dilas dengan lancar.

Saya kok merasakan ada sesuatu hal yang irrasional. Tapi saya mencoba rasional saja. Akhirnya, pipa besi keenam iitu saya bawa ke bengkel las dan bubut di ttempat lain, yaitu di daerah Cilenggang. Sekitar empat kilometer dari rumah saya. Ada sekitar lima bengkel di situ.

Bengkel pertama menolak, alasannya edang banyak order. Bengkel kedua mau. Tapi di sini bukan hanya saya yang heran, tukang bengkelpun heran. Pipanya tidak bisa dibor. Sayapun pindah-pindah ke bengkel lainnya. Sudah tiga buah bengkel las dan bubut gagal membor pipa saya.

“Aneh!” gumam saya.

“Mungkin pipa beesinya ada mahluk halusnya,Pak” kata tukang bengkel yang terakhir.

“Ha ha ha…” saya tertawa. Saya percaya mahluk halus itu ada. Tapi kalau dikaitkan dengan pipa besi itu, saya tidak yakin. Saya tetap mencoba bersikap rasional. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

Namun, baru saja saya keluar dari bengkel, saya bertemu dengan Ustadz Choirie.

“Ada apa,Pak? “ tanyanya.

“Oh, mau ngebor pipa,Pak. Tapi gagal terus” jawab saya jujur.

“gagal terus bagaimana?” tanya pak ustadz lagi. Sayapun menceritakan pengalaman-pengalaman saya yang aneh. Pak ustadz tidak percaya. Sayapun membuktikan. Tukang bengkel iitupun juga turut membuktikan. Pak ustadzpun mengangguk-angguk.

“Mungkin di dalam pipa ada mahluk halusnya,Pak Ustadz,” kata tukang bengkel.

“Bagaimana,Pak,sarannya?” saya bertanya ke pak ustadz.

“Hmmm,saya tidak menguasai hal-hal seperti ini. Tapi tak ada salahnya ya, nanti dicoba di rumah. Coba, sebelum membor pipa itu, sampeyan baca ayat Qursi dulu. Tapi dengan catatan, ini Cuma saran lho. Saya sendiri belum pernah mencobanya, Maaf kalau saran saya keliru” ujarnya santun sekali.

Sesudah mengucapkan terima kasih, sayapun pulang. Sesudah minum aiir putih dingin dari kulkas, sayapun mencoba memppraktekkan saran dari Pak Ustadz Chorie.

“Bismillah….” saya kemudian membaca ayat Qursi dengan serius.

Sesudah itu saya ambil bor dengan mata bor yang pernah saya gunakan entuk membor lima pipa besi sebelumnya. Bukan menggunakan mata bor yang baru saya beli.

Sayapun segera menekankan bor listrik ke pipa besi keenam yang sudah saya tandai bagian-bagian yang akan saya lobangi.

“Cling!Cling!Cling!……….” Aneh! Ternyata sangat mudah. Tidak terpeleset-peleset lagi. Sama dengan sewaktu saya membor lima pipa besi sebelumnya.

“Benarkah pipa besi saya yang keenam ada mahluk halusnya?”

“Wallahu a’lam bis-shawaab”

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu mana yang benar.

Sumber foto: tokobautbali.com/

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger.

CERPEN: Siti Kuntilani Si Hantu Warnet

JEMBER. Di kota ini, tepatnya dekat kantor pos, saya mendirikan sebuah warnet dengan fasilitas 20 unit komputer. Buka mulai pukul 09:00-21:00 setelah itu tutup. Lumayanlah bisnis warnet di kota ini. Cukup ramai.

Tempat itu saya beli sekitar dua tahun yang lalu dan sekaligus saya jadikan tempat tinggal. Saya hanya punya empat karyawan. Shift pagi dua karyawan dan shift sore dua karyawan.

Seperti biasa, setelah wartnet tutup, sayapun mulai online untuk membuat atau mengedit beberapa situs. Maklum, di samping warnet saya juga membuka jasa layanan pembuatan situs. Pemesannya se-Indonesia.

Malam semakin larut. Suasana agak sepi. Lampu warnet hanya saya nyalakan sebuah saja. Lebih sepi lagi karena di rumah itu saya tinggal sendiri. Maklum, saat itu saya masih bujangan. Lalu lintas di luar warnet juga mulai sepi.

Sedang asyik-asyiknya saya menggerak-gerakkan mouse, tiba-tiba saya mendengar ada kursi digeser dan seolah-olah ada orang yang duduk. Sayapun keluar dari sekat nomor 1 tempat saya lembur.

Begitu saya melihat ada cewek duduk di kursi warnet, jantungpun berdetak serasa meledak. Aneh, padahal semua pintu warnet sudah terkunci semua. Cewek itu bisa saya lihat dengan jelas, duduk menghadapi komputer layaknya sedang ngenet. Kebetulan komputer di sekat nomor 5 itu belum saya matikan.

Walaupun cuma satu lampu yang saya nyalakan, namun lampu TL 20 watt ini cukup menerangi cewek itu. Berambut pendek, berbaju kota-kotak dan mengenakan celana jean ketat dan sepatu hak tinggi. Wajahnya lumayan cantik.

Namun karena saya yakin hantu, maka sayapun mencoba membaca ayat Qursi. Ternyata memori otak saya blank. Saya tidak mampu berdoa. Akhirnya, dengan setengah takut setengah berani, cewek itupun saya sapa.

-“Siapa, ya?”

Cewek itu melihat saya dan tersenyum.

-“Kaget ya,Mas? Maaf kalau kaget. Saya tidak bermaksud menganggu,kok.” Jawabnya sangat jelas.

Diapun melanjutkan ucapannya. Sementara rasa takut saya mulai berkurang sedikit. Meskipun demikian jantung tetap berdetak keras.

-”Sebenarnya saya sudah lama tinggal di rumah ini. Sudah sekitar 50 tahun. Sebelum rumah ini dibangun, berdiri rumah orang tua saya.”

-”Lantas, kenapa baru sekarang menampakkan diri?.” Saya ingin tahu.

-”Ya, sebenarnya tiap hari, baik siang atau malam saya selalu di warnet ini. Melihat para netter. Jaman saya dulu internet belum ada, Mas. Sambil melihat para netter sayapun mempelajari internet. Sayapun pernah mencoba membuat e-mail dan online sendiri saat Mas sudah tidur”. Cewek yang belum saya ketahui itu bercerita.

-”Kalau boleh tahu, siapa nama mBak?” Saya penasaran untuk mengetahui lebih lanjut tentang cewek itu.

-”Nama saya, Siti Kuntilani. Biasa dipanggil Anik. Saya baru berani menampilkan diri karena saya yakin Mas mau menolong saya. Saya tahu, Mas orangnya baik dan rajin shalat”. Pintanya.

-”Maksudnya?” Saya jadi penasaran.

-”Begini,Mas. Sekitar 50 tahun yang lalu, saya sudah berkeluarga. Ternyata suami saya seorang pencemburu. Kami sering bertengkar. Bahkan saya sering ditampar, dipukul dan ditendang. Akhirnya, suatu ketika suami saya mengambil pisau dan ditusukkan di tubuh saya berkali-kali”. Cewek itu terus bercerita.

Malam semakin larut. Saya lihat sudah pukul 24:00. Itu adalah pengalaman saya bertemu dengan mahluk halus dan bercakap-cakap. Untunglah dia bukan setan atau jin jahat, melainkan arwah penasaran.

Cewek itupun melanjutkan ceritanya.

-”Akhirnya saya dibunuh. Mayat saya di kubur di bawah lantai rumah ini. Tepatnya di kamar tidur sebelah Barat. Arwah saya belum bisa diterima alam baka, melainkan masih berkeliaran di alam fana ini. Oleh sebab itu, Mas. Saya minta tolong”.Pinta Siti Kuntilani.

-”Minta tolong apa? Kalau bisa akan saya lakukan. Kalau tidak, saya minta maaf.”

-”Begini,Mas. Tolong, kerangka saya diambil. Masih utuh,kok. Tolong kerangka itu dimandikan secara Islam dan dikubur secara Islam”

-”Boleh saya tahu. Apakah mBak Siti masih punya saudara, atau famili yang masih hidup? Kalau ada, di mana alamatnya?”. Saya mulai berani bercakap-cakap dengan roh Siti Kuntilani. Sayapun mencatat nama dan alamat familinya yang masih hidup.

-”Oke! Akan saya usahakan untuk membantu mBak Anik”. Begitu janji saya.

-”Terima kasih, Mas. Hanya Allah swt yang bisa membalas amal baik,Mas”.Ucapnya. Dan setelah itu tiba-tiba Siti Kuntilani lenyap dari pandangan mata saya.

Saya usap mata saya. Ya, dia benar-benar menghiulang. Saya yakin saya tidak mimpi atau berimajinasi. Saya yakin apa yang saya alami benar-benar nyata. Hari telah pukul 01:00 dinihari. Saya lembur hingga pukul 02:00 dini hari kemudian tidur di ruang warnet.

Esok harinya saya ke Ketua RT dan Ketua RW menceritakan pengalaman semalam. Kemudian ke kantor kelurahan dan akhirnya ke kantor polisi. Sesudah itu menghubungi famili-famili Siti Kuntilani yang masih hidup. Kemudian mencari tukang gali kubur.

Dua hari kemudian, Ketua RT,Ketua RW, Lurah dan kepolisian serta famili-famili Siti Kuntilanipun hadir. Juga ada beberapa warga atau tetangga.

Penggalianpun dilakukan dengan hati-hati. Ada dua wartawan yang mengabadikan peristiwa itu.Benar. Sekitar 50 cm, maka terlihatlah kerangka yang benar-benar masih utuh dan beberapa helai rambut. Sesuai dengan pesan almarhum, maka kerangka itupun dimandikan secara Islam. Agak aneh juga bagi saya, kerangka kok dimandikan. Tapi itu adalah amanah, tak ada salahnya dilakukan. Sesudah itu, siangnya dimakamkan di tempat sesuai yang diinginkan famili-famili almarhum. Dimakamkan secara Islam juga.

Hari berikutnya saya harus datang ke kantor polisi. Polisi mengajukan banyak pertanyaan. Hampir tiga jam. Sesudah itu famili-famili almarhum juga dimintai keterangan. Biasalah, itu memang  merupakan salah satu tugas polisi.

Menurut kesaksian seorang ahli, kerangka itu memang sudah berumur sekitar 50 tahun dan informasi ini sudah disampaikan ke polisi. Itu artinya, 50 tahun yang lalu saya belum lahir. Kalau saya dicurigai membunuh, tentu tidak masuk akal.

Esok harinya, rumah yang saya jadikan tempat bisnis warnet mulai ramai lagi. Bahkan tambah ramai. Aura bisnis sayapun bersinar terang.

Sumber foto:jenglot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen sejak 1973

CERPEN: Cintaku Biru di Universitas Bengkulu

BENGKULU. Betapa gembira hati saya ketika membaca pengumuman di papan pengumuman Universitas Bengkulu bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di fakultas hukum. Esok harinya saya segera melengkapi semua syarat administrasi termasuk biaya kuliah dan lain-lain.

Tepat pada waktunya, hari pertama masuk adalah pengarahan tentang masa orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek). Saat itu masih boleh berpakaian bebas. Tanpa saya rencanakan sebelah saya duduk calon mahasiswi baru. Sayapun langsung memperkenalkan diri.

“Harry. Harry Laksamana,” saya menjabat tangannya.

“Oh, saya Gita. Gita Asmarawati,” dia membalas perkenalan saya.

Sesudah itu kami berdiam. Mencatat petunjuk raka (mahasiswa senior) tentang apa saja yang harus kami bawa esok hari di hari pertama ospek. Sesudah selesai pengarahan, sayapun makan siang dulu di kantin kampus. Lagi-lagi, saya bertemu lagi dengan Gita. Kamipun duduk berdua dan ternyata punya selera makanan dan minuman yang sama.

Selesai makan siang saya langsung menuju ke tempat parkir sepeda motor. Eh, lagi-lagi di perjalanan saya bertemu dengan Gita lagi. Ternyata rumahnya tak jauh dari rumah saya.

“Kok, saya tidak pernah melihat Gita,” saya ingin tahu sambil terus mengendarai motor berdampingan dengan motor Gita.

“Iya, saya lulusan dari Medan,’ jawabnya dalam logat Batak. Nama lengkap Gita yaitu Gita Asmarawati Tampubolon.

Esok harinya mulailah acara ospek. Semua cama-cami harus mengenakan baju dan celana berwarna putih tiap hari. Tidak boleh kotor. Acaranya tidak sekejam mapram. Gojlokan memang ada tetapi masih di batas yang wajar. Paling disuruh menyanyi, berjoget,merayu cewek dan mengumpulkan tanda tangan sebanyak-banyaknya dari para mahasiswa senior.

“Wah, bisa bantu saya nggak.” Tanya Gita sepulang ospek. Maklum, hari itu semua cama-cami dapat tugas agar esok membawa kayu bakar sebanyak tiga batang dengan ukuran dan panjang tertentu.

“Oke! Kita cari bersama-sama,” saya menyetujui untuk membantu Gita.

Begitulah, dari hari ke hari saya selalu saling bekerja sama dengan Gita di dalam merealisasikan tugas-tugas dari panitia ospek. Apakah saya jatuh cinta? Ya, jujur saja saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun saya tidak langsung mengatakan sebab kami masih dalam tahap pedekate dan menyelami sifat dan kebiasaan masing-masing.

Hari terakhir ospek diakhiri dengan acara berkemah di sekitar Danau Toba sekalian berekreasi. Tidak ada acara gojlokan di sini karena acaranya murni rekreasi. Tak lupa saya dan Gita sering berfoto bersama. Dari bahasa tubuhnya saya menafsirkan bahwa Gita bisa menerima cinta saya. Itulah sebabnya saya tak menyatakan cinta secara lisan maupun tulisan. Bahkan ketika saya mencium bibirnya, dia diam saja.

Saat itu saya merasakan betapa indahnya cinta kami berdua. Hari demi hari adalah hari yang indah. Hari demi hari hanya ada rasa senang di hati saya. Sayapun sudah dikenal kedua orang tuanya dengan baik. Begitu pula kedua orang tua saya sudah mengenal Gita secara positif.

Saat kuliahpun kami selalu duduk berdampingan. Diam-diam saya mengakui Gita memang merupakan salah satu mahasiswi tercantik di fakultas hukum. Jangan heran kalau ada beberapa mahasiswa terutama yang sudah senior mencoba mendekati Gita. Untunglah, Gita tetap dekat dengan saya.

Tiap Minggu kami pasti berkeliling kota terutama ke tempat-tempat rekreasi atau tempat bersejarah. Antara lain ke sebuah rumah yang dulu pernah ditempati Bung Karno. Juga ke Benteng Malboro. Juga ke pantai Bengkulu. Tak lupa makan ketupat Bengkulu yang terkenal lezat itu. Apalagi kalau bumbunya pedas, saya suka sekali.

Kadang-kadang kami juga ke mal. Kalau saya beli T-Shirt, maka Gitalah yang memilihkannya. Ternyata pilihan Gita tepat sesuai dengan selera saya. Begitu pula ketika saya memilihkan T-Shirt untuknya, ternyata dia tertawa senang sekali.

“Wow, tepat sekali.Warna cream warna favorit Gita.” Begitu ungkapan kegembiraannya sewaktu kami berada di mal.

Hari-hari indah kami nikmati bersama. Satu bulan dua bulan. Satu tahun dua tahun. Akhirnya tanpa terasa, saya telah memasuki semester kelima.

Nah, di sini ada sesuatu yang tidak pernah saya pahami. Tiba-tiba saja Gita tak mau lagi bersama saya. Tidak cuma satu hari, tetapi berhari-hari sampai satu bulan. Kalau saya dekati, selalu menghindar.

Pernah saya coba bertanya langsung, tetapi Gita menghindar. Saya datangi ke rumahnya, tidak pernah mau keluar. Ketika saya tanyakan ke teman-teman dekatnya, termasuk ke maminya, semua menjawab tidak tahu. Saya kirim surat tidak dibalas. Saya telepon, langsung ditutup.

“Apa salah saya, Gita? Kalau memang saya salah, saya meminta maaf,” tanya saya. Namun Gita segera menghindar ke teman-teman kuliahnya. Adakah cowok lain yang singgah di hatinya? Tidak juga. Di kampus dia selalu bersama teman wanitanya. Tiap malam Minggu juga tidak ada cowok datang ke rumahnya. Bahkan saya tidak pernah melihat Gita bersama cowok lain.

Terus terang saya jadi bingung. Apakah saya punya kesalahan? Kesalahan apa? Mungkinkah Gita kena fitnah? Atau barangkali ada pihak ketiga yang bermain black magic agar hubungan kami putus? Sejuta pertanyaan ada dipikiran saya. Namun, tidak ada jawaban yang pasti. Apakah lebih baik cari cewek lain toh di fakultas hukum banyak mahasiswi yang cantik. Namun, rencana ini tak pernah menjadi kenyataaan sebab saya masih mencintai Gita.

Tanpa terasa, ujian semester enam telah selesai. Nilai ujian saya merosot. Mungkin akibat sikap Gita yang misterius itu. Akhirnya, dengan sangat berat, saya terpaksa harus meninggalkan Universitas Bengkulu. Saya pandangi kampus itu untuk terakhir kalinya. Di situlah, cintaku biru, sebiru warna dinding Universitas Bengkulu.

Akhirnya, saya memutuskan meneruskan kuliah di fakultas hukum di Jakarta. Saya tinggalkan segala kenangan indah pernah saya miliki. Sebuah cinta biru yang berakhir dengan misteri-misteri yang sampai hari ini saya tidak pernah menemukan jawabannya.

Sumberfoto: skyscrapercity.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Separuh Jiwaku Pergi

JAKARTA,Minggu 8 November 2009. Hari ini hari terakhir pameran Indocomtech 2009 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) dekat Jembatan Semanggi, Jakarta. Karena itu merupakan pameran komputer teknologi terkini, maka dengan mengendarai Honda Freed putih yang baru saya beli, sayapun meluncur ke JCC tersebut.

Ternyata pengunjungnya luar biasa banyak. Seperti biasa saya berjalan dari anjungan ke anjungan untuk melihat produk-produk yang ditawarkan. Hari itu rasanya cukup menyenangkan karena beberapa kali saya bertemu dengan teman lama.

Namun kunjungan saya ke JCC juga mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu, di mana saya sempat berkenalan dengan salah seorang gadis penjaga anjungan.

“Nama saya,Krisdiana” katanya menjawab pertanyaan saya. Sayapun bersalaman. Saat itu sedang ada pameran mobil dan motor. Gadis itu ramping, berambut pendek, putih. Mirip Krisdayanti. Saat itu juga hari Minggu, tanggalnya lupa, tetapi pasti bulan November tahun 1999.

Itulah awal saya kenal. Tentu tak salah kalau saya jatuh cinta. Apalagi saya masih bujangan. Sayapun hari Minggu berikutnya ke rumah Krisdiana di kawasan Bintaro, Sektor 3. Sebuah rumah tipe sedang, minimalis tetapi terkesan mewah.

“Wah, saya kira nggak jadi ke sini” Diapun mempersilahkan saya duduk. Diperkenalkannya saya dengan mama dan kedua adik perempuannya. Papanya sudah lama meninggal karena sakit. Jadi, rumah itu isinya perempuan semua.

“Oh, saya kalau janji pasti saya tepati”. Sayapun mengobrol. Enak juga bicaranya. Krisdiana ternyata alumni Fakultas Psikologi UI. Karena belum dapat kerja, iseng-iseng menjadi penjaga anjungan pameran yang sebenarnya hanya cocok untuk lulusan SMA.

Tanpa terasa, hubungan saya berlangsung satu tahun. Karena saya sudah punya rumah di Perumahan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara, sudah punya mobil Honda, dan sudah bekerja di PT Ayodya Pratama Komputindo di Setiabudi Building I, maka sayapun memberanikan diri melamar Krisdiana yang cantik dan rajin shalat itu.

Pernikahan cukup sederhana dan hanya keluarga saya dan keluarga Kris yang hadir. Yang penting pernikahan sah. Karena kebetulan sama-sama Jawa, maka kami mengenakan pakaian adat Jawa.

Hari demi hari hanya rasa indah saja yang saya rasakan. Bulan madu hanya ke Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu. Banyak kenangan indah yang saya abadikan dalam bentuk foto.

Tetapi prahara itupun datang tanpa sengaja.Ketika saya berada di kantor, salah seorang tetangga saya telepon.

“Betul,Mas. Saya melihat sendiri. Kalau itu kakak laki-lakinya tidak mungkin. Bukankah Mas Harry pernah bilang kalau Krisdiana tidak punya kakak laki-laki?” Begitu penjelasan tetangga saya lewat telepon.

Namun sepulang dari kantor, saya lupa menanyakan hal itu ke Krisdiana. Bahkan hari berikutnya juga tidak saya tanyakan. Saya khawatir pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya.

Sampai akhirnya, ketika saya hanya setengah hari kerja di kantor karena kepala saya agak pusing, maka saya pulanglah sesudah izin ke atasan saya. Begitulah. Ketika mobil yang saya kendarai mulai memasuki jalan menuju rumah, saya melihat ada mobil BMW parkir di depan rumah.

“Kenalkan Mas Harry, ini bekas teman kuliah. Kami sedang merencanakan reuni”. Kris memperkenalkan laki-laki itu. Dia berdiri menyalami saya. Tak lama kemudian laki-laki itu pamit pulang.

Karena tak ada bukti-bukti yang kuat tentang adanya perselingkuhan, maka kehidupan sayapun berlangsung biasa-biasa saja. Sampai suatu saat ketika saya dan Krisdiana menjalankan ibadah umroh, saya sangat terkejut mendengar ucapan Krisdiana.

“Maaf Mas. Lebih baik saya terus terang saja. Selama ini saya telah berbuat dosa banyak. Saya minta cerai saja,Mas” Seperti disambar petir saya mendengarnya.

“Kenapa” Saya ingin tahu.

“Sudah sejak mahasiswa saya berpacaran sama dia,Mas. Laki-laki yang sering ke rumah, Johan namanya. Sesudah lulus, dia ke Amerika. Sejak itu tak ada kabarnya. Ternyata kami bertemu lagi,Mas” Kridiana menjelaskan.

Lebih menyakitkan lagi, Krisdiana mengaku sejak kuliah sudah berhubungan intim dengan pacarnya itu. Sakit! Sakit sekali. Sebagai laki-laki saya merasa dipermainkan. Merasa ditipu. Merasa dikhianati. Tak saya sangka keindahan-keindahan yang saya nikmati selama ini cuma merupakan keindahan semu saja. Akhirnya, saya memutuskan cerai saja dengan Krisdiana. Saya pikir, masih banyak wanita lain yang cantik, baik hati dan setia.

Tiba-tiba saya tersadar ketika salah seorang penjaga anjungan bertanya ke saya.

“Bagaimana, jadi beli notebooknya,nggak? Boleh ditawar,kok”

-“Oh, anu…hmm..saya pikir-pikir dulu” Saya baru sadar kalau hari itu saya sedang di pameran Indocomtech 2009.

“Oh! Cinta memang punya dua sisi. Bisa sebagai madu.Bisa sebagai racun”

Sayapun segera meninggalkan JCC dan sempat saya mendengar lagu yang diputar di salah satu anjungan. Lagu “Separuh Jiwaku Pergi” yang dibawakan oleh Anang. Tiap kali saya mendengar lagu itu, hati saya terasa teriris-iris.

Video “Separuh Jiwaku Pergi” (Anang):

Sumber foto: inasgo.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Akhirnya Presiden dan Wakil Presiden Tewas Tertembak

YOGYAKARTA. Saya yang pernah memperdalam ilmu metafisika di fakultas filsafat merasa beruntung karena ilmu ini ternyata banyak manfaatnya. Metafisika ada di mana-mana. Ada di dalam konteks agama, klenik, mistik, filsafat, ilmu pengetahun, dan lain-lain.

Namun ilmu metafisika di dalam konteks filsafat adalah ilmu yang mempelajari bahasa alam dan bahasa sosial. Cara kerjanya mirip ilmu statistik. Yaitu berdasarkan data atau fakta kemudian dibuat prediksi.

“Memangnya metafisika bisa membuat prediksi?” Momos bertanya kepada saya. Saat itu saya sedang duduk-duduk santai di taman milik Universitas Terbuka, Yogyakarta. Di samping Momos juga ada Rini, Shanty, Dedeh, Taufik, Bambang, Djoko dan lain-lain. Mereka adalah teman sekampus saya di Fakultas MIPA.

“Bisa. Metafisika bukan ilmu kira-kira seperti yang dipersepsikan orang selama ini. Ilmu metafisika ada metodologinya. Ada cara berlogikanya. Bahkan mantan Presiden America, Abraham Lincoln pernah berkata, bahwa janganlah kita menilai apa yang tampak di mata kita (fisika), tetapi lihatlah apa yang terjadi di balik kejadian yang tampak di mata kita (metafisikaa), ” saya menjelaskan.

“Kalau begitu, bagaimana prediksi Harry mengenai politik negeri kita di masa mendatang ?” Shanty ingin tahu.

“Begini. Munculnya fenomena Ponari itu tidak terjadi secara kebetulan. Tuhan melalui bahasa alam dan bahasa sosial selalu memberi sinyal-sinyal kepada manusia tentang apa yang akan terjadi. ” Saya mulai menerangkan.

“Lantas?” Rini yang manis itu ingin tahu.

“Begini. Ponari itu ada maknanya, yaitu (po)litik (na)sional (ri)cuh. Artinya, pelaksanaan pemilu akan terjadi kericuhan. Apalagi banyaknya kasus manipulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT). Saya yakin penggandaan atau manipulasi DPT itu dilakukan oleh parpol menengah dan oknum KPU. Di samping itu, Indonesia memang belum profesional di dalam pengelolaan database.”

Kemudian saya lanjutkan.

“Soalnya, untuk mengajukan capres, parpol harus memiliki paling sedikit 25 persen suara secara nasional. Parpol menengah ini sangat ketakutan. Apalagi ada rencana dua parpol besar akan berkoalisi. Kalau dua parpol berkoalisi, tentu bisa meraih suara minimal 50 persen. Sisanya yang 50 persenakan diperebutkan puluhan parpol menengah dan kecil. Atas dasar itulah ada satu parpol menengah melakukan manipulasi data.”

Saya berhenti bicara sebentar. Saya minum Coca Cola yang segar. Lantas, kata saya lagi.

“Caranya, menyogok oknum KPUD yang tentu tidak akan menolak uang. Kalau KPU memang benar-benar punya DPT yang akurat, seharusnya DPT itu dibagikan ke semua parpol dan diumumkan juga secara online di website KPU” Saya berbicara berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Ilmu metafisika memang harus berbicara berdasarkan fakta. Bukan berdasarkan ilmu kira-kira.

“Terus, akan ada kejadian apa lagi?” Dedeh sangat ingin tahu.

“Ya, tentu terjadi kericuhan setelah pemilu legislatif nanti. Nanti kalian akan melihat kekacauan yang luar biasa di negara kita ini. Bukan tak mungkin ada beberapa kantor KPU dirusak atau dibakar massa. Bukan tidak mungkin banyak orang terluka atau tewas karena berdemo dan harus adu jotos atau lempar batu dengan para petugas keamanan. ” Saya memberikan prediksi yang memiliki tingkat probabilitas yang tinggi. Statistikpun harus memiliki probabilitas.

“Lantas, apa makna tewasnya pasien Ponari akibat berdesak-desakan itu?” Taufik ingin tahu. Wajahnya serius sekali.

“Tewasnya pasien akibat berdesak-desakan menggambarkan adanya persaingan yang sangat ketat antar capres. Nanti ada pihak ketiga yang akan campur tangan memanfaatkan situasi” Lagi-lagi saya membuat prediksi. Prediksi ini juga ditunjang intuisi atau indera keenam yang saya miliki sejak kecil.

“Siapa itu pihak ketiga?”, Bambang penasaran.

“Pihak ketiga yaitu beberapa snipper atau penembak jitu. Mereka adalah orang-orang bayaran. Mereka akan menembak capres tertentu hingga tewas”. Saya berhenti bicara sebentar.

Setelah meminum beberapa teguk Coca Cola, sayapun melanjutkan bicara.

“Sesudah itu, cawapresnyapun ditembak. Situasi chaos, panik, kacau balau akan mewarnai negeri ini. ” kata saya.

“Wah, kalau begitu, bagaimana ya solusinya nanti?” Shanty yang anaknya menteri sosial ini penasaran.

Sebenarnya acara membuat prediksi bukan hal yang baru bagi saya. Tanggal, bulan dan tahun meninggalnya ibu saya juga pernah saya prediksikan dengan tepat. Sekitar 15 tahun sebelum Megawati terpilih sebagai presiden, saya sudah menulis kata Presiden Megawati di kamar kos saya.

Saya juga berhasil menafsirkan ramalan Jayabaya bahwa Indonesia akan dipimpin oleh lima orang presiden dengan masa jabatan yang lama dengan nama akhir NoTo<spasi>NaGoRo. No yaitu Soekarno atau Koesno dan To adalah Soeharto.

Sedangkan <spasi> artinya ada lima presiden yang masa jabatannya pendek. Yaitu, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY dan presiden terlantik 2009 nanti.

Indonesia akan mulai masa keemasan mulai presiden dengan nama akhir NaGoRo dan saat presiden dengan nama akhir Ro, maka Indonesia akan menjadi negara federal terdiri dari delapan negara bagian (seperti yang diramalkan Joyoboyo) seperti Malaysia dan Indonesia akan menjadi negara yang maju.

Bahkan dengan kemampuan metafisika yang saya miliki, saya sanggup kuliah di enam PTN/PTS sekaligus dan semua matakuliah lulus. Kenapa? Karena saya bisa memprediksikan soal-soal ujian semester yang akan keluar dan terbukti 90 persen prediksi saya terbukti.”

“Apakah prediksi tentang capres dan cawapres akan tewas terbunuh akan terbukti?” Djoko mengharapkan jawaban.

“ Ada kemungkinan itu akan terjadi sesudah mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Tepatnya sebelum 2014. Senjata yang digunakan cukup canggih, yaitu senjata laser yang tak berbunyi dan punya jarak tembak yang sangat jauh.. Walaupun presiden dan wakil presiden memakai rompi antipeluru, namun senjata laser mampu menembusnya ” saya mengakhiri pembicaraan.

Kami semua kemudian berdiri dan berjalan menuju ke ruang kuliah karena tutorial matakuliah Fisika segera dimulai.

Catatan:

Cerpen ini hanya merupakan hasil imajinasi penulis yang bersifat fiktif

Sumber foto: http://www.roadsterdrift.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Kisah Dora dan Dama

SAYA termasuk penyayang binatang. Namun yang saya pelihara adalah binatang yang cerdas dan lucu. Akhirnya saya dapatkan seekor kucing betina, cerdas dan lucu. Saya beri nama Dora. Kenapa saya beri nama Dora? Ya, asal saja.

Seminggu kemudian saya dapatkan seekor anjing jantan, lucu dan cerdas. Saya beri nama Dama. Kenapa saya beri nama Dama? Ya, asal saja.

Mira, anak perempuan saya yang berusia lima tahun sangat sayang dengan Dora. Sebaliknya Aditya, anak laki-laki saya yang berusia tujuh tahun sangat suka dengan Dama. Maya, istri saya, sayang Dora. Dan saya sangat suka dengan Dama.

Di rumah Dora dan Dama saya lepas bebas. Uniknya, mereka berdua tak pernah bertengkar. Justru, mereka berdua sering saling becanda seperti kakak dan adik. Kadang kejar-kejaran, bergumul pura-pura menggigit, ber-“ciluk ba” dan lain-lain. Sungguh, binatang yang menggemaskan.

Uniknya, mereka juga suka nonton televisi. Dora paling suka nonton acara filem kartun. Sedangkan Dama suka nonton acara balap motor atau balap mobil. Bahkan kalau ditawari makananpun, mereka tidak memakannya, kecuali acara televisi kesukaannya sudah selesai.

Dora dan Dama saya ajari cara BAB (Buang Air Besar) di WC jongkok. Semula agak susah juga. Namun karena mereka cerdas, maka dalam waktu singkat, mereka sudah mengerti. Habis BAB, Dora atau Dama menginjak tombol yang sudah saya atur sedemikian rupa. Mereka menyiram BAB-nya sendiri sampai bersih.

Namun, suatu hari Mira berteriak-teriak ke saya.

“Papa! Papa!…Kenapa Si Dora dan Si Dama? Kok diam saja, Pa?”

Sayapun segera mencari Dora dan Dama. Benar, saya melihat mereka berdua terkulai lemas di lantai di dekat kandangnya. Ketika saya gerak-gerakkanpun mereka kurang bergairah. Sinar matanya tampak lesu.

“Ada apa, Pa?” Istri saya, Maya, ingin tahu. Baru saja selesai masak di dapur.

“Mungkin Dora dan Dama sakit, Ma. Entah kenapa, saya tidak tahu”

“Bawa ke Dokter Hernik saja, Pa” Usul Aditya.

Kebetulan hari itu Sabtu. Saya tak ke kantor. Kebetulan pula Mira dan Aditya masih libur. Segera saya, Maya, Mira dan Aditya segera membawa Dora dan Dama ke Dokter Hernik, dokter hewan.

Sesudah diperiksa, Dokter Hernikpun memberikan penjelasan.

“Mereka berdua kena sakit, Pak Harry. Dora dan Dama harus rawat inap di sini. Sekitar dua tiga hari. Bagaimna?”.

Setelah saya meminta pendapat Maya dan anak-anak, akhirnya saya menyetujui saran dokter hewan itu. Akhirnya, saya sekeluarga meninggalkan sementara waktu Dora dan Dama yang merupakan kesayangan kami.

Tiga hari rumah saya sepi. Tidak ada suara meong-meong. Tidak ada suara guk-guk. Tak ada canda Dora. Tak ada canda Dama.

Syukurlah, hari keempat Dora dan Dama bersama kami lagi. Wajahnya cerah dan lincah. Kembali lucu seperti sediakala. Begitu kami menyayanginya, kadang-kadang Dora dan Damapun menemani kami tidur di tempat tidur. Pagi-pagi Subuh, Dora dan Dama membangunkan kami dengan bunyi meong-meong dan guk-guknya yang khas itu.

Namun, beberapa minggu kemudian ternyata ada keanehan.

“Pa, kok Dora hamil? Dihamili Dama, ya?” Mira ingin tahu.

“Ah, ya nggak mungkin. Dari teori genetika tidak mungkin anjing menghamili kucing” Komentar saya setelah tahu bahwa Dora memang hamil.

“Tapi, kalau Tuhan menghendaki, kan bisa saja,Pa?” Celoteh Aditya.

“Ah,ngawur saja kamu” Saya marahi Aditya.

Seribu tanda tanya muncul di benak saya. Mungkinkah anjing menghamili kucing? Rasa-rasanya saya belum pernah membaca berita ada anjing jantan bisa menghamili kucing betina. Jadi, bagaimana itu bisa terjadi? Aneh!

Karena saya bukan ahli binatang, sayapun telepon ke Dokter Hernik. Dokter itu terkejut mendengar cerita saya. Namun akhirnya dokter hewan itu baru sadar dan memberikan penjelasan.

“Oh, maaf Pak Harry. Di tempat saya, kandang kucingnya penuh. Terpaksa saya campur dengan kucing lain tetapi sejenis. Saya lupa kalau kucing saya kucing jantan. Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Atas kesalahan saya, saya bersedia memberi ganti rugi, Pak” Begitu suara Dokter Hernik di telepon.

Saya tidak marah. Justru saya mengucapkan terima kasih.

“Tidak apa-apa, Dok. Justru saya mengucapkan terima kasih karena sebentar lagi saya punya banyak kucing yang lucu-lucu. Wah, kita bisa besanan,nih”

“Ha ha ha…Besanan, Pak? Bisa-bisa saja” Dokter Hernik tertawa senang karena saya tak menuntut ganti rugi apapun.

Begitulah, akhirnya Dora benar-benar melahirkan empat anak. Tiga hidup satu mati. Karena saya takut anak-anak Dora dimakan Dama, maka terpaksa saya harus menempatkan anak-anak Dora dan Dora di dalam kandang khusus. Anak-anak saya suka melihat kucing-kucing kecil yang berebut menyusu ke induknya itu. Uniknya, ketiga kucing kecil itu masing-masing punya warna bulu berbeda. Coklat, hitam dan putih. Semua lucu-lucu.

Dan tak heran dalam waktu satu-dua bulan anak-anak kucing itu telah besar. Saya berinama mereka Si Coklat, Si Hitam dan Si Putih. Semua betina. Sayapun punya kesibukan lagi. Mengajari kucing-kucing itu supaya menjadi kucing yang cerdas dan lucu.

Akhirnya, suasana rumah saya menjadi semakin ramai dan meriah. Apalagi kalau saya sedang memakai komputer. Anak-anak kucing itu berebut naik meja melihat ke layar monitor.

Manakala saya membuka Facebook, ketiga anak-anak kucing itupun serempak memberi respon.

“Meong… ! Meong… ! Meong…!”

Kelihatannya, anak-anak kucing itu penggemar Facebook juga..

Sumber foto: acehforum.or.id

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger