CERPEN: Republik Psikopat

TIAP Sabtu, memang tidak ada kuliah. Meskipun demikian, semua mahasiswa fakultas psikologi, Universitas Nusantara , tetap wajib hadir. Kegiatan tiap Sabtu yaitu Saturday Discussion atau diskusi kelompok membahas materi-materi psikologi. Temanya ditentukan masing-masing kelompok. Tujuannya, untuk pendalaman materi.

Antara lain, membahas Gestalt Psychology  Max Wertheimer, psikologi personal Gordon Allport, psikoanalisis Sigmund Freud, psikologi individual Alfred Adler, skala IQ Stanford-Binet,tes Kraepelin, psikologi sosial Albert Bandura, teori skizofrenia Eugen Bleuler, teori psikopat Prof.Dr.Hare dan lain-lain.

Sabtu itu, seperti biasa, kelompok saya yang bernama Komunitas Psycho2005 berkumpul di taman fakultas. Sebetulnya jumlah kelompok dibatasi maksimal sepuluh orang. Yang hadir sembilan orang termasuk saya. Yaitu,Encung, Arifin, Miepsye, Gaguk, Poppy, Slamet Wahyudi, Cowwy, Erna dan saya. Darmaji tidak hadir karena sakit.

“Teman-teman. Sesuai kesepakatan, hari ini kita diskusi tentang psikopat. Karena psikologi adalah ilmu sosial, saya mohon teman-teman memberikan defisini, psikopat itu apa,” saya membuka diskusi. Kebetulan, Sabtu itu saya ditunjuk sebagai koordinator. Encungpun angkat tangan.

“Psikopat adalah suatu gejala kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Artinya, psikopat bukan penyakit jiwa, bukan gangguan jiwa dan bukan  kelainan jiwa melainkan gangguan kepribadian, “begitu ujar Encung yang disetujui teman-teman.

“Ada yang lain yang lebih jelas?” tanya saya. Giliran Arifin angkat tangan.

“Kalau saya rangkum berbagai definisi psikopat, maka psikopat adalah seseorang yang berperilaku menyimpang dari norma sosial, norma hukum dan norma agama. Psikopat ringan yaitu seseorang yyang perilakunya menyimpang dari norma sosial. Psikopat sedang yaitu seseorang yang perilakunya menyimpang dari norma hukum dan psikopat berat adalah seseorang yang perilakunya menyimpang dari norma agama,” begitu definisi yang dikemukakan Arifin. Dalam diskusi memang semua angggota kelompok bebas mengemukakan pendapat.

“Lantas, apa beda psikopat,skizofrenia dan paranoid?” tanya Miepsye sambil makan bakso.

“Psikopat memang berarti dari kata psyeche yang berarti jiwa,tetapi bukan sakit jiwa. Pengidap psikopat tak menyadari kalau dirinya mengidap psikopat. Sedangkan skizofrenia, dia sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Pelakunya biasa disebut orang gila tapi tanpa gangguan mental. Sedangkan paranoid didefinisikan sebagai penyakit mental di mana seseorang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Atau, gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan yang tidak rasional,” sahut Gaguk yang memang pernah membuat makalah ttentang beda psikopat,skizifrenioa dan paranoid.

“Apa sih, contoh dari skizofrenia?”,saya memberi umpan berupa pertanyaan.

“Contohnya yaitu, seseorang mengalami delusi,yaitu keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya. Misalnya, seseorang presiden bernama Bimbim takut ke negeri Belanda karena menganggap ada kelompok RMS atau pengadilan HAM yang dianggap bisa membahayakan dirinya. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.” begitu contoh yang dikemukakan oleh Poppy.

“Contoh paranoid?” tanya saya lagi.

“Contoh lain, penderita paranoid selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi. Misalnya, seorang presiden bernama Bimbim yang sensitif terhadap informasi intelijen akan adanya teroris yang akan membunuh dirinya, curiga adanya capres lain yang akan membunuhnya, curiga terhadap pemberitaan Wikileak, rasa ketakutan terbongkarnya kasus Bank Mercury,curiga terhadap parpol koalisi yang berbeda pendapat” sahut Slamet Wahyudi yang asli berasal dari Gresik.

“Ada yang ingin menambahi?” saya membuka pertanyaan lagi.

“Ada! Paranoid yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang penting. Misalnya, seorang sekretaris kabinet yang merasa orang penting, maka dengan semena-mena akan menuntut MikroTV dan Harian Media Nusantara karena dianggap menjelek-jelekkan pemerintah. Juga, adanya menteri perekonomian yang mengalami  halusinasi, seolah-olah kalau angka pertumbuhan ekonominya tinggi, lantas dianggap semua masyarakat sudah sejahtera. Juga adanya menteri yang mengalami gangguan emosi, memaksa penganut Ahmadiyah untuk bertobat.” begitulah komentar Cowwy. Cowwy bukann mana cewek, tetapi nama panggilan cowok. Nama lengkapnya Sukowiyono.

“Ha ha ha….Bagus!Bagus! Kita butuh contoh konkrit, nih! Coba nih sekarang, apa contoh kongkritnya penderita psikopat ringan, psikopat sedang dan psikopat berat?” tanya Arifin.

“Setuju….!” serentak semua menjawab setuju.

“Psikopat ringan yaitu seseorang yang menyimpang dari norma sosial. Misalnya, suka berbohong. Katanya beras cukup, lho kok impor? Katanya angka kemiskinan turun, lho kok masih banyak yang makan nasi aking? Kebohongan juga dilakukan para calon wakil rakyat yang mengobral janji saat kampanye,tetapi setelah terpilih tak merealisasikan janji-janjinya.Suka menutupi fakta sebenarnya. Misalnya kasus Bank Mercury,” Gaguk berpendapat.

“ Kalau saya berpendapat, psikopat sedang yaitu seseorang yang perilakunya menyimpang dari norma hukum. Misalnya, korupsi, rekening gendut, kejahatan kerah putih, memalsukan ijasah sarjana, mark up atau penggelumbungan biaya, memenangkan pemilu atau pilkada dengan cara money politik, mengubah undang-undang tentang hukuman koruptor yang semula minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun menjadi minimal 1 tahun dan maksimal 7 tahun,” ini pendapat Erna.

“Kalau saya punya pendapat. Psikopat berat yaitu seseorang yang melanggar norma agama. Misalnya, membunuh aktivis HAM Muchdir, memenjarakan mantan Ketua Tim Pemberantasan Korupsi Anton Sardji tanpa didukung fakta-fakta hukum yang kuat melainkan lebih bersifat fitnah. Menjual sumber daya alam dengan harga murah ke kapitalis asing, padahal seharusnya itu digunakan untuk kemakmuran rakyat.” itulah uraian yang disampaikan Cowwy. Cukup panjang lebar.

“Wah,hebat…….,” serentak teman-teman bertepuk tangan memberikan pujian. Belajar psikologi memanng harus disertai contoh-contoh kongkrit sehingga memudahkan pemahamannya.

“Kalau begitu, bagaimana dengan kondisi republik kita. Layak atau tidak kalau disebut sebagai Republik Psikopat?” saya bertanya ke para anggota Komunitas Psycho2005.

“Ya,layak,dong. Semua ciri-ciri psikopat ada semua. Kebohongan, menutupi kasus-kasus besar, korupsi, pungli, berpihak kepada koruptor, berpihak kepada kapitalis asing, curhat melulu, harga sembako mahal, mendewakan teknologi nuklir yang sangat berbahaya, mendewakan angka-angka statistik. Bahkan termasuk psikopat berat karena menganggap politik adalah tuhan, kekuasaan adalah tuhan dan harta kekayaan adalah tuhan mereka” lancar sekali contoh-contoh yang dikemukakan Miepsye.

“Kalau begitu, bagaimana kesimpulannya?” saya berusaha mengakhiri diskusi. Maklum, hari semakin siang.

“Kalau menurut saya, republik kita ini 70% diisi pemimpin yang psikopat, 70% pejabatnya juga psikopat dan 70% wakil rakyatnya juga psikopat. Itu berdasar hasil penelitian di Amerika yang mengatakan bahwa 70% politisi adalah penderita psikopat, tetapi mereka tak menyadari kalau mengidap psikopat” ujar Slamet Wahyudi.

“Lantas, kesimpulan khususnya apa?” saya terus bertanya.

“Kesimpulan khusus. Skizofrenia yaitu seseorang yang menganggap pihak lain sebagai ancaman. Paranoid yaitu seseorang yang merasa takut secara berlebihan. Sedangkan psikopat yaitu seseorang yang berkepribadian dan berperilaku menyimpang dari norma,” Encung menimpali.

“Lalu, solusinya bagaimana?” tanya Gaguk.

“Kalau menurut saya, sebaiknya di dalam seleksi para politisi untuk menduduki jabatan-jabatan politik, harus ada tes psikologi yang komprehensif. Itu untuk pencegahannya. Kalau sudah terlanjur seperti sekarang, seharusnya ada tim psikolog yang memberikan terapi-terapi. Oleh karena itu, berrhati-hatilah kita memilih calon pemimpin,pejabat dan wakil rakyat. Jangan memilih yang terindikasikan penyimpangan norma sosial, norma hukum dan norma agama,” itulah kesimpulan yang disampaikan Erna.

Akhirnya sayapun menutup acara diskusi.

“Terima kasih teman-teman. Berhubung Erna sudah membuat kesimpulan, saya tak perlu membuat kesimpulan. Acara diskusi hari ini selesai. Saatnya kita makan siang bersama”

Maka, kamipun bubar dan bersama-sama menuju kantin untuk makan siang bersama

Sumber gambar: venuslifemode.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

https://fsui.wordpress.com

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: