CERPEN: Mayesti Putri Seorang Konglomerat

TAHUN 1973, saya diterima di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Sebagai mahasiswa baru, maka sayapun ingin punya pengalaman untuk mengikuti OSPEK. Angkatan saya jumlahnya ada 500 mahasiswa. Terbanyak sepanjang sejarah fakultas. Maklum, lagi butuh dana untuk membangun gedung baru.

Di dalam acara itulah saya sempat berkenalan dengan seorang cami. Namanya Mayesti Putri Pratiwi. Dia lulusan SMAN 1 Boedoet, Jakarta. Cami itu tampil sangat menyenangkan. Selalu tersenyum ramah terhadap siapa saja. Bisa dimaklumi kalau dia disayang para raka. Maklum, dia juga cantik. Bahkan dapat predikat Primadona OSPEK’73. Saya tidak berani naksir. Maklum, dia anak salah seorang konglomerat yang cukup terkenal di Jakarta.

Sedangkan saya berasal dari keluarga sederhana.

Apalagi, lewat Yenny, sebelum menjadi mahasiswi Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan (APK), saya dikenalkan temannya bernama Hilda Porayouw, temannya sewaktu di SMEA. Gadis ini berasal dari keluarga miskin. Tinggal di sebuah rumah petak di kawasan Jl.Jembatan Tiga. Hilda, sudah beberapa bulan menjadi pacar saya

Tiga tahun kemudian. Menjelang ujian sarjana muda, saya menerima kabar yang sangat mengejutkan. Ayah saya di Jawa Timur meninggal. Jantung terasa berhenti. Pikiran menjadi gelap. Meninggalnya ayah , berarti saya tidak mungkin bisa meneruskan kuliah. Satu-satunya sumber dana kuliah berasal dari ayah.

-“Sudahlah,Har. Tidak usah dipikirkan terlalu mendalam. Itu sudah kehendak Allah swt.Tabahkan hatimu,Har”. Mayesti menasehati saya. Ucapan yang sama juga diucapkan oleh Shanty, Doddy, Treesye dan Rini. Mereka adalah teman kelompok belajar saya. Saat itu saya sedang duduk di depan salah satu ruang kuliah.

Selesai kuliah, saya pulang di kawasan Grogol.

Saya menyewa sebuah rumah petak yang sangat kecil. Semua kegiatan saya lakukan sendiri. Cuci-cuci, menyapu dan bersih-bersih rumah. Seterika juga memakai arang. Untuk mandipun harus menimba air dari sumur. Rumah petak itu tanpa listrik. Hanya ada penerangan berupa teplok dan petromak. Makan hanya dengan lauk pauk tempe atau kangkung rebus. Untunglah, Hilda sering datang ke rumah petak saya dan membantu memasak nasi, membuat ceplok, dadar atau masakan lainnya.

Hari Minggu itu, sesudah pulang dari gereja, Hildapun seperti biasa ke rumah petak saya. Namun ketika sedang asyik bercanda, tiba-tiba ada sebuah mobil Volvo biru berhenti di depan rumah petak. Lantas dari dalam mobil turun sesosok tubuh langsing berwajah cantik. O, di luar dugaan, Mayesti yang anaknya konglomerat itu mau datang ke rumah petak saya yang buruk ini.

-“Ada apa, Yes?”. Panggilan Mayesti memang Yes. Yesti.

-“Ah enggak apa-apa. Ini ada bantuan dari teman-teman. Untuk biaya ke Bojonegoro, Jawa Timur. Semoga masih sempat melihat pemakamannya. Cukup kok untuk beli tiket pesawat terbang dan ongkos taksi di sana. Maaf, teman-teman tidak bisa mengantarkan.”. Sebuah bungkusan diberikan. Saya menerimanya dengan sikap serba salah. Sesudah saya mengucapkan terima kasih, Mayestipun meninggalkan saya.

Hari berganti hari,bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Mayesti yang putri seorang konglomerat itu sering ke rumah petak saya. Sering juga membawa makanan atau kue. Semula saya menganggap sikap Mayesti biasa-biasa saja. Namun ternyata lebih dari itu.

Saya merasa serba salah. Sejak ayah meninggal, Mayestilah sumber dana perkuliahan saya. Mulai dari SPP, beli buku, sewa rumah petak dan seluruh biaya hidup ditanggung Mayesti. Sayapun tak pernah mengerti kenapa Mayesti yang putri konglomerat itu mau mencintai saya yang sangat miskin ini.

Namun, itulah kenyataan. Dalam posisi seperti itu, saya berada di pihak yang lemah. Saya terpaksa memiliki dua pacar, Hilda dan Mayesti. Walaupun tampaknya keduanya akur, namun dalam hati wanita siapa tahu.

Menjelang ujian sarjana, Mayesti mengajak belajar bersama di vilanya di Puncak. Saat itu saya mengira belajar bersama dengan anggota kelompok belajar lainnya. Ternyata, Mayesti sendiri yang membawa mobilnya.

Memang sih, siang hari hingga sore hari kami berdua belajar sampai lelah. Namun malam harinya ketika saya sudah berada di tempat tidur, ternyata Mayesti yang wajahnya mirip Yuni Shara itu masuk ke kamar saya.

Apa yang terjadi selanjutnya, tidak pantas saya tulis di sini. Sebagai laki-laki normalpun saya membutuhkan kehangatan seorang wanita. Malam itu, saya telah mengkhianati Hilda Porayouw, pacar pertama saya.

-“Harry,Mayesti ingin bicara sebentar”. Itu diucapkan di kampus sebulan kemudian. Hari itu Mayesti mengaku, telah hamil satu bulan. Tidak mengejutkan. Namun saya tidak tahu harus berbuat apa.

Atas permintaan Mayesti, sayapun ke rumah orang tuanya di kawasan Pondok Indah. Di hadapan kedua orangtuanya saya mengakui semua perbuatan, meminta maaf dan berjanji akan mempertanggungjawabkan.

Namun jawaban yang saya terima di luar dugaan.

“Apa? Kami ini dari keluarga terpandang! Tidak mungkin kami punya menantu dari keluarga gembel! Miskin! Melarat! Sampah…!!!”

Sayapun terpaksa meninggalkan rumah itu dengan gontai. Mayestipun segera mengeluarkan mobilnya dan mengantarkan saya ke rumah petak saya. Dalam perjalanan, Mayesti mengaku, sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu dijodohkan dengan seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa SPBU. Pengusaha kaya, tetapi Mayesti menolak.

Tepat saat wisuda (1 November 1978), semua teman kelompok belajar heran. Tidak melihat sosok Mayesti. Padahal, kelompok belajar kami lulus 100 persen menghadapi ujian sarjana.

Namun, seusai wisuda, salah seorang alumni bernama Yogie mengatakan kepada kami bahwa Mayesti dalam kondisi yang tidak tertolong lagi.

Jenasahnya masih di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ada sepucuk surat untuk saya. Isinya, Mayesti meminta maaf, terpaksa melakukan perbuatan itu sebagai protes atas sikap keras kedua orang tuanya yang memaksa menikah dengan orang lain. Mayesti, telah mengakhiri hidupnya sendiri dengan caranya sendiri. Selamat jalan, Mayesti…

Tanpa terasa, dua tetes air mata mengalir di pipi.

Sumber foto: likalikulaki.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: