CERPEN: Trauma Kereta Biru Malam

OSPEK telah selesai. Kuliahpun dimulai. Waktu itu saya duduk di tingkat dua di sebuah Akademi Bahasa Asing di Jakarta. Ada mahasiswi baru, adik kelas, namanya Devy Anggrahita. Tentu cantik. Karena itulah saya tertarik. Karena saya sebelumnya adalah panitia ospek, tentu dia tahu dan kenal saya.

“Rumah Devy di mana, sih?” Saya mengikuti Devy menuju kantin.

“Di Tanah Abang”

“Boleh saya main-main ke rumah?”

“O, boleh. Tidak ada larangan” Begitu ucap Devy dengan ramah. Tidak ada sedikitpun sikap sombong atau angkuh atau semacamnya. Kepada siapapun dia bersikap seperti itu. Jadi, jangan heran kalau Devy banyak teman. Di kantinpun saya membuat janji, Minggu ini saya akan ke rumahnya.

Sesuai dengan janji, Minggu pagi sekitar pukul 10:00 WIB saya telah sampai di rumahnya dan di sambut dengan wajahnya yang ceria. Sayapun dipersilahkan duduk. Sekitar lima menit kemudian, Devy memperkenalkan kakak perempuannya. Namanya Deva Anggrahini. Cantik juga. Akhirnya kami bertiga ngobrol ngalor ngidul sambil sesekali tertawa.

“O, ya. Nanti, 17 Juni saya akan ulang tahun. Mau nggak merayakannya bersama teman-teman lain?” Saya menawarkan ajakan ke Devy dan Deva.

“Di mana?” hampir serentak Devy dan Deva bertanya.

“Biasa, sih. Di Kentucky, Kebayoran Baru” saya sebut sebuah restoran langganan saya.

“Oke. Kami pasti datang” Sahut Devy.

 

Dan memang, tepat 17 Juni teman-teman akrab saya datang semua, baik yang satu tingkat ataupun adik kelas. Total sekitar 75 orang yang datang. Lumayan banyak. Walaupun di dalam undangan sudah saya tulis bahwa saya tidak menerima kado berupa apapun, namun masih ada juga yang membawa kado. Tapi tak apalah, sudah terlanjur.

 

Akhirnya, rutin tiap malam Minggu saya datang ke rumah Devy. Cuma, malam Minggu pertama saya agak kecewa karena Devy sudah ada yang ngapeli, yaitu mahasiswa dari Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Terpaksa saya ngobrol-ngobrol dengan Deva di ruang tamu yang lain.

Itulah awal mulanya. Sebenarnya saya naksir Devy, karena Devy sudah punya pacar, terpaksa saya putar haluan memacari Deva, kakaknnya. Tak apa-apa, kakaknya juga cantik.

Akhirnya, seperti di sinetron saja, sejak malam Minggu itu Deva resmi jadi pacar saya. Ke setiap ada acara, saya selalu mengajak Deva. Teman-teman sekampus juga tahu kalau saya berpacaran dengan Deva.

Seperti lazimnya berpacaran, maka saya juga sering mengajak Deva nonton film atau sekadar makan siang bersama di restoran. Hal ini sudah berlangsung sekitar enam bulan dan lancar-lancar saja.

Sampai suatu liburan semester, senat mahasiswa kampus saya akan mengadakan rekreasi ke Yogyakarta, termasuk ke Borobudur dan objek wisata lainnya. Atas dasar itu dan atas izin dari teman-teman di senat mahasiswa, saya berniat mengajak Deva ikut serta.

Pada awalnya Deva senang sekali saya ajak ke Yogya, tetapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram.

“Kenapa?” Desak saya suatu ketika saya di teras rumahnya.

“Lebih baik saya tidak ikut” Tampak wajah Deva semakin murung.

Setelah saya desak, akhirnya Deva mau meceritakan pengalamannya yang tidak enak. Katanya, dulu dia pernah menjadi pramugari Kereta Api Bima Jurusan Jakarta-Surabaya pergi-pulang melalui stasiun Yogyakarta. Pada zamannya, tiap ruang penumpang bisa dikunci dari dalam.

“Apapun reaksi Harry, saya akan ceritakan terus terang” Demikian ujar Deva. Kemudian melanjutkan cerita dengan satu dua butir air mata yang mulai menetes di pipinya.

“Saat saya bertugas itulah, ada seorang penumpang memanggil saya ke ruangannya. Katanya, ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Namun, ketika saya masuk ke ruangan penumpang, pintu langsung ditutup dan dikunci dari dalam. Saya dibius. ”

Deva mulai terisak.

“Saat itulah, saya diperkosa…” Kini Deva benar-benar menangis. Sesekali saputangannya membasuh pipinya yang basah. Saya jadi teringat. Beberapa bulan atau tepatnya hampir satu tahun yang lalu memang saya pernah membaca koran yang memuat berita perkosaan pramugari itu. Ternyata, saya berhadapan langsung dengan mantan pramugari itu.

“Jadi, Harry harus tahu. Saya sudah tidak perawan lagi. Terserah Harry, mau meneruskan berhubungan dengan saya atau tidak”. Sambil terisak-isak Deva mengakhiri ceritanya.

Saat itu saya tak bisa memberikan komentar apa-apa. Sebab, cerita itu di luar dugaan saya. Sayapun tak bisa secara tergesa-gesa mengambil keputusan. Bahkan sampai saya selesai diwisudapun saya masih belum bisa mengambil keputusan.

Namun akhirnya dengan bijaksana, Deva sendirilah yang mengakiri hibungan saya dengan dia. Tampaknya Deva memahami perasaan saya. Deva cukup dewasa dan tidak ingin memaksa siapa saja untuk mencintainya.

Sekarang tahun 2011. Usia Deva telah 53 tahun dan masih hidup sendiri.

Sumber foto: forum.detik.com/

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

https://fsui.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: