CERPEN: Nuniek Izinkanlah Aku untuk Menghamilimu

ENTAH kenapa kok saya tertarik dengan mahasiswi bernama Nuniek itu. Tetapi, mungkin karena pembawaannya yang anggun, sederhana, manis dan barangkali juga karena enak diajak bicara. Jadi, tak heran kalau tiap hari saya selalu sering ngobrol dengan dia di kampus.

Bukan saja saya tertarik, tetapi ada rasa aneh ada di dalam diri saya, yaitu saya ingin menghamilinya.

“Apa? Ingin menghamilinya? Ha ha ha…memangnya kamu sudah siap berumah tangga?” Ledek Jatmiko, teman sekampus saya. Dia merupakan sahabat baik saya yang selalu saya ajak tukar pikiran atau berdiskusi tentang apa saja.

“Ah, saya juga tak tahu kenapa saya punya pikiran seperti itu” Ujar saya ketika kami berdua sedang berada di kantin kampus. Kebetulan hari itu Nuniek tak masuk kuliah.

Terus terang saya ragu melakukan pendekatan ke Nuniek. Maklum, kabarnya dia sudah punya pacar dan sekarang pacarnya sedang kuliah di Jerman. Tapi, ketika hal itu saya konfirmasikan, Nuniek mengatakan itu tidak benar. Namun kata Farid, adik Nuniek, mengatakan Nuniek masih sering menerima surat dari pacarnya itu. Jadi, mana yang benar?

“Ah, siapa bilang saya punya pacar di Jerman” Begitu jawab Nuniek suatu ketika saya menanyakannya. Karena jawaban seperti itulah, maka tiap malam Minggu saya memberanikan diri untuk apel seperti lazimnya berpacaran.

Bahkan Nuniek juga tak menolak saya ajak nonton bioskop, makan malam di restoran atau sekadar jalan-jalan di dalam kota, walaupun cuma menggunakan sepeda motor. Yang penting, sebelum pukul 23:00, Nuniek harus sudah tiba di rumah sesuai pesan mamanya. Papanya telah lama meninggal.

Namun isu bahwa Nuniek punya pacar di Jerman tidak hanya datang dari adiknya, Farid, tetapi juga dari teman kuliahnya. Antara lain Lenny, Yulita, Diana dan lain-lain. Bahkan ada yang pernah menunjukkan foto Nuniek sedang berpelukan dengan pacarnya.

“Atas dasar informasi seperti itu, saya ingin menghamili Nuniek” Saya menjelaskan ke Jatmiko. Tapi Jatmiko memberi nasehat supaya saya berpikir panjang sebab kalau sampai Nuniek hamil, darimana biaya untuk membesarkannya.

“Pikir, dong. Kan kamu beleum bekerja. Darimana kamu dapat uang untuk membesarkan anakmu nanti? Kamu pikir gampang cari uang di Jakarta ini?’ Nasehat ini juga datang dari Bambang Pramono.

Kalau saya pikir-pikir memang ada benarnya juga. Tapi masalahnya, saya kawatir kalau Nuniek benar-benar sudah punya pacar. Berarti saya menjadi laki-laki cadangannya dong. Nanti kalau pacarnya pulang dari Jerman, saya akan dicampakkannya.

Mungkin ,karena perasaan takut kehilangan Nuniek itulah yang membuat keinginan saya untuk menghamili Nuniek menjadi tambah menguat. Tiap hari saya selalu berpikir bagaimana caranya membujuk Nuniek yang punya nama lengkap Nuniek Holiesta Rini itu mau saya hamili.

Akhirnya kesempatan itupun ada. Saat itu semua keluarganya sedang rekreasi ke luar kota dan kebetulan Nuniek tidak ikut. Bahkan kebetulan pembantunya sudah dua hari pulang kampung ke Padalarang. Rumahnya tampak kosong dan sepi.

Sebagai laki-laki normal tentu saya harus mencari strategi yang bagus. Itulah sebabnya, ketika Nuniek saya ajak ke kamar tidurnya dia mau saja. Saat yang baik itupun saya gunakan untuk mencium bibirnya dengan penuh kehangatan. Nuniek tampak juga membalas ciuman saya.

“Nuniek, izinkanlah saya untuk menghamilimu” Saya nekat mengatakan itu. Apa boleh buat. Namun tampaknya dia tak memberikan reaksi penolakan. Akhirnya dalam waktu singkat kami berdua telah siap melakukan hubungan suami istri.

“Tapi, apa Harry tidak menyesal nanti?” Nuniek bertanya.

“Menyesal bagaimana?”

Akhirnya Nuniek mengaku kalau sebenarnya sudah tak perawan lagi. Menurut pengakuannya, sejak SMA dia sudah melakukan hal itu dengan pacarnya yang ada di Jerman itu.

Tiba-tiba saya menjadi tak bernafsu. Kecewa sekali. Sejak dulu saya selalu mendambakan seorang gadis yang masih perawan. Kalau memang Nuniek masih perawan, saya bersedia mengawininya. Kenyataanya Nuniek sudah tidak perawan lagi.

Sayapun segera mengenakan pakaian lagi dan tak jadi meneruskan keinginan saya untuk menghamili Nuniek.

 

Sumber foto: ntunkz.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: