CERPEN : Muslimah Kok Percaya Astrologi, Sih?

WAKTU itu saya masih menjadi aktivis senat mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kebetulan, untuk mengisi liburan, sekitar 150 mahasiswa punya rencana untuk tour ke Yogyakarta, Borobudur dan sekitarnya. Untuk itu telah siap tiga buah bus full AC dari Big Bird.

Namun, rencana keberangkatan tertunda gara-gara ada seorang mahasiswi mendekati saya dan menyatakan mengundurkan diri.

“Ya, Mas Harry. Saya mau mengundurkan diri. Soal biaya tour tidak saya minta. Saya sumbangkan untuk dana panitia saja” Begitu kata Sylvana.

“Lho, memangnya sakit?” Saya ingin tahu.

“Bukan”

“Terus, kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa. Pokoknya Sylvana nggak ikut deh, Mas. Biar teman-teman lainnya saja”

“Lho, nggak bisa begitu dong. Harus ada alas an yang jelas…”

Setelah saya desak, akhirnya Sylvana mengajak saya ke ruang senat. Saya bawakan tasnya yang sebenarnya persiapan untuk ikut tour.

Saya dan Sylvanapun duduk di kursi yang ada di ruang senat.

“Begini lho, Mas Harry” Sylvana memulai pembicaraannya sambil menyodorkan sebuah majalah ke saya. Lantas ditunjukkan ke halaman ramalan bintang atau astrologi.

“Di situ, Mas. Saya dalam minggu-minggu ini dikatakan jangan ke luar kota karena saya akan tertimpa musibah.”

Saya mulai mengerti alas an Sylvana. Namun, mengerti tidak berarti menerima argumentasi itu.

“Sylvana agamanya Islam, kan?” Saya memancing Sylvana.

“Ya, iya lah. Masak tidak tahu”

“Begini, lho. Ramalan bintang itu kan dibuat manusia. Walaupun dia ahli perbintangan, tetapi kebenaran yang dibuat oleh manusia tidak pernah seratus persen benar. Artinya, kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah”

“ Iya, sih. Tetapi selama ini banyak benarnya daripada tidak benarnya” Sanggah Sylvana.

“Iya sih, itu kebetulan saja. Ramalan yang mutlak benar ya yang ada di Al Quran itu. Misalnya, kiamat itu pasti terjadi. Juga, setiap orang akan mendapat rezeki atau musibah, tetapi waktunya tidak bisa diramalkan. Kalau ramalan bintang atau astrologi meramalkan minggu-minggu ini Sylvana akan terkena musibah, itu omong kosong saja. Memangnya dia Tuhan?”

Sylvana diam saja. Sayapun melanjutkan memberikan pencerahan.

“Sebagai orang beragama, apalagi Sylvana beragama Islam, maka kita wajib percaya kepada Al Quran. Jangan percaya ramalan-ramalan bintang kek, ramalan shio ke, ramalan berdasarkan weton kek,…semua itu buatan dan rekayasa orang”

“Bagaimana dengan ramalan Jayabaya, Mama Lauren, Mas Harry?” Sylvana ingin tahu.

“Sebaiknya tidak usah percaya, kecuali kalau yang diramalkan sudah terbukti. Sebelum ramalannya terbukti, ya jangan percaya. Sudahlah, percayalah bahwa musibah itu Tuhan yang menentukan. Bukan penulis ramalan bintang atau astrologi itu. Jangan pikiran Sylvana mengikuti ajaran sesat seperti itu. Ayo, kita berangkat. Serahkan masalah musibah kepada Tuhan sebab hanya Tuhan yang Maha Tahu…”

Akhirnya kepercayaan Sylvanapun muncul. Diapun bangkit dari kursinya. Sambil membawa tas berisi pakaiannya, diapun menuju ke bus bergabung dengan teman-teman lainnya.

Sesudah berdoa bersama, maka rombongan terdiri dari tiga buah bus itupun pelan-pelan dan satu persatu meninggalkan halaman kampus. Menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Kemudian, meluncur melalui jalan raya menuju ke Yogyakarta.

Sesampai di Yogyakarta, kami langsung menuju ke Hotel Maerakaca yang satu bulan sebelumnya telah kami booking. Semua peserta memasuki kamar masing-masing dan semua kamar hotel itu penuh dengan rombongan dari kampus. Waktu itu masih pagi dan dimanfaatkan oleh semua rmbngan untuk mandi pagi, berganti pakaian, kemudian semuanya kembali ke bus menuju restoran untuk makan pagi bersama di tiga buah restoran di Jl. Malioboro.

Kebetulan, saya duduk bersama Rudy, Indarwan, Jeki dan Sylvana. Ketika sedang menunggu makanan, tiba-tiba ada seorang bertampang mahasiswa bertanya, apakah kursi kosong di depan saya atau di samping Sylvana kosong. Saya jawab kosong. Karena restoran itu tidak khusus rombongan, maka pengunjungnyapun campur.

“Permisi, mBak” Kata pemuda itu meminta izin ke Sylvana.

“Oh, silahkan..” Sylvana mempersilahkan.

Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata benar dia salah seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Karena kebetulan mahasiswa itu berasal dari Jakarta, dan kebetulan berasal dari Cipete yang kebetulan Sylvana juga dari Cipete, maka keduanya akhirnya terlihat langsung akrab.

Sesudah makan pagi, maka rombonganpun meluncur ke Candi Borobudur. Ternyata, mahasiswa tadi juga ke Borobudur. Cuma, dia naik sepeda motor. Eh, ternyata berdua dengan Sylvana. Ya, nggak apa-apalah, toh masih muda.

Hari kedua, rombongan menuju ke Pantai Parangtritis dan Pantai Samas. Hari ketiga ke Kaliurang, Kraton, Kebun Binatang dan objek wisata yang ada di dalam kota. Eh, ternyata Sylvana selalu didampingi mahasiswa yang akhirnya saya tahu namanya Wisnu.

Hari ketiga rombongan meluncur ke objek wisata lainnya yang ada di sekitar koya Yogyakarta. Kemudian hari keempat adalah hari bebas.

“Mas Harry, saya minta izin untuk jalan-jalan,boleh?” Pinta Sylvana.

“Sama Wisnu, Mas”

“Naik apa?”

“Motor, Mas”

“Boleh. Tapi paling lambat pukul 15:00 harus kembali ke Hotel Maerakaca sesuai jadwal yang sudah kita susun. Hati-hati saja,ya?” Saya memberi nasehat.

Itulah awal pertemuan Sylvana dan Wisnu yang dalam perkembangannya mereka berdua pacaran. Bahkan ketika perkuliahan di Jakarta sudah dimulai, ternyata mereka berdua rajin saling berkirim surat. Singkat cerita, mereka berdua resmi berpacaran. Saya turut gembira melihat mereka. Maklum, Sylvana cantik dan sedangkan Wisna tampan. Pasangan yang ideal.

Tanpa terasa, kuliahpun selesai. Kami diwisudha. Selesai wisudha, Sylvana yang masih mengenakan toga itu mendatangi saya sambil memberikan sebuah amplop.

“Apa ini?” Saya ingin tahu.

“Undangan, Mas Harry”

“Lho, jadi menikah dengan Wisnu?”

“Alhamdulillah!”

Sayapun meledek.

“Nah! Terima kasih dng sama saya! Coba, kalau Sylvana jadi membatalkan untuk ikut tour, tentu nggak bakalan ketemu sama Wisnu,tuh”

“Ha ha ha…Iya,ya. Terima kasih atas pencerahan yang diberikan Mas Harry”

Begitulah pengalaman yang pernah saya alami. Sampai hari ini Wisnu tetap menjadi seorang suami yang setia mendampingi Sylvana. Oleh karena itu, janganlah kita percaya kepada ramalan bintang atau astrologi.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Catatan:

Cerpen ini diambil dari pengalaman pribadi penulis dan benar-benar terjadi Hanya nama-nama yang diganti.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: