CERPEN: Belok Kiri Boleh Langsung

BIASANYA, di tiap perempatan jalan ada tulisan “Belok Kiri Boleh Langsung”. Begitu pula perempatan dekat sekolah saya, SMAN 6 Surabaya, tepatnya dekat Mitra Theatre, juga ada tulisan itu. Tiap kali pulang sekolah, dengan mengendarai sepeda motor, saya pasti melewati belokan itu kekiri. Tepatnya, ke Utara.

Uniknya, tiap kali saya belok kiri, dari arah Utara ke Selatan, saya sering melihat siswi dariu SMAN lain yang sedang menunggu pergantian lampu merah ke lampu hijau. Diapun sering bertatap pandang dengan saya. Kalau saya hitung, mungkin sudah empat kali itu terjadi.

Suatu hari, kejadian itu terulang. Ketika dia melihat saya, saya coba untuk tersenyum. Ternyata dia membalas. Sepeda motorku yang semula belok kiri menuju Utara, saya putar balik mengarah ke Selatan dan berhenti di samping sepeda motornya.

“Pulang sekolah, ya?’. Saya tahu kalau dia baru pulang sekolah. Biasa, basa-basi saja.

“Iya”. Katanya sambil tersenyum. Ternyata, dari dekat tampak kecantikannya.

“Boleh saya antar?”. Saya tambah berharap. Dia tak menjawab. Lampu lalu lintas telah berganti hijau. Sepeda motor bebeknyapun meluncur ke Selatan. Saya ikuti. Rupa-rupanya saya tak sia-sia. Dia melambatkan sepeda motornya dan kamipun ngobrol berkenalan.

Akhirnya saya tahu siapa dia. Namanya Yordhan. Siswi SMAN 5 Surabaya. Dia tinggal di Jl. Tegalsari. Tinggal bersama kakaknya. Sampai depan rumahnya saya tahu diri. Saya janji kapan-kapan akan mampir ke rumahnya.

“Kapan-kapan saya mampir,ya?

“Boleh”. Dia mengangguk sambil tersenyum ramah. Dia membunyikan klakson memanggil pembantunya agar pintu pagar dibuka. Itulah awal perkenalan saya dengan Yordhan.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang indah. Pulang sekolah, saya langsung ke SMAN 5 atau Yordhan yang menunggu kepulangan saya di depan kantor pos yang ada di depan SMAN saya.

Namun yang paling sering, kami sering beli es kacang ijo di Selatan kantor pos itu. Terkenal dengan sebutan kacang ijo Pak Usup. Rasanya memang luar biasa nikmat. Jangan heran kalau banyak pelajar SMAN yang jajan di situ.

Tanpa terasa hubungan saya dan Yordhan telah berlangsung dua tahun. Pada tahun kedua ini saya dan Yordhan sama-sama duduk di bangku kelas tiga. Bedanya saya kelas III IPS sedangkan dia kelas III IPA. Apalagi, sebentar lagi merupakan ujian akhir SMA kami.

“Wah, nggak terasa ya, hubungan kita sudah dua tahun”. Ujar Yordhan ketika kami berada di depan kantor pos.

“Iya. Sebentar lagi kita akan menjadi mahasiswa. Rencananya Yordhan akan kuliah di mana?”. Saya ingin tahu.

“Kalau Tuhan mengizinkan, saya akan meneruskan ke Fakultas Kedokteran, Unair”. Harapnya sambil tersenyum ceria.

“Kalau saya mungkin ke Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia”.

“Oh, kita berpisah, dong”. Tiba-tiba muka Yordhan kecut.

“Jangan khawatir. Sebulan sekali saya akan ke Surabaya”. Saya memberikan harapan ke Yordhan. Akhirnya Yordhan pun mengerti. Semula dia mengharapkan saya meneruskan ke Fakultas Ekonomi Unair saja. Namun karena saya jelaskan saya di Jakarta tidak hanya kuliah, tetapi juga akan membuka usaha, maka akhirnya diapun memahaminya.

Setelah puas ngobrol ngalor ngidul, sayapun memboncengkan Yordhan untuk menuju ke sekolahnya. Soalnya, siang hari itu, ada rapat persiapan acara malam perpisahan siswa SMAN 5. Kebtulan Yordhan adalah ketua panitianya.

Sepeda motor yang saya kemudikan meluncur di Jl. Pemuda menuju arah Timur. Pas di perempatan, seperti biasa sepeda motor belok kiri langsung ke Utara. Di luar dugaan, ada dua anak kecil menyeberang secara tiba-tiba. Secara reflek saya menghindar. Namun yang terjadi adalah, kedua anak kecil itu tidak tertabrak, tetap Yordhan terpelanting dan sepeda motor terjungkal dan sayapun terjatuh di jalan aspal.

Sempat saya melihat Yordhan mengaduh kesakitan sambil memegang kaki kirinya. Sebagian kepalanya berdarah. Orang-orangpun menolong kami berdua. Ternyata, kepala sayapun berdarah. Masih beruntung ada yang mau mengantarkan kami ke rumah sakit.

Di rumah sakit dokter mengatakan luka di kepala saya tidak parah. Sedangkan sebaliknya, luka di kepala Yordhan cukup parah dan tulang kaki kirinya patah. Saya diperbolehkan pulang, sedangkan Yordhan terpaksa harus rawat inap.

Saya segera menelepon saudara Yordhan dan setelah itu saya kembali ke tempat kejadian kecelakaan untuk mengambil sepeda motor yang oleh masyarakat dititipkan di restoran yang ada di dekat lokasi itu. Ternyata di situ ada dua polisi sedang menunggu saya.

Akhirnya sayapun diperiksa polisi di tempat kejadian dan saya jelaskan awal peristiwa hingga akhir peristiwa. Sekitar satu jam kemudian polisi mengijinkan saya mengambil sepeda motor. Ternyata sepeda motor rusak cukup parah. Roda depan penyok dan tidak mungkin bisa dipakai. Terpaksa memanggil becak untuk membawa sepeda motor itu ke bengkel.

Seminggu kemudian Yordhan sudah sembuh. Namun untuk berjalan harus menggunakan tongkat penyangga. Sepeda motor sayapun sudah bisa dipakai lagi. Namun saya mengalami hal yang membuat saya sedih. Karena, sikap Yordhan tak seperti dulu lagi. Dia selalu menampakkan sikap ogah bicara atau bahkan ogah bertemu dengan saya.

Bahkan akhirnya tiap malam Minggu saya tak bisa lagi bertemu . Tak mau lagi menerima telepon saya. Surat-surat sayapun tidak dibalas. Akhirnya dari teman dekatnya saya mengetahui sebab kenapa dia bersikap seperti itu.

Yordhan menganggap cacat di kakinya adalah merupakan kesalahan saya. Padahal, kecelakaan itu murni di luar dugaan dan tak terhindarkan. Namun Yordhan tak mau menerima kenyataan itu. Walaupun saya sudah meminta maaf, namun tak ada gunanya dan tak ada hasilnya.

Apa boleh buat, akhirnya hubungan kami tak bisa berlanjut. Kami jalan sendiri-sendiri. Setelah lulus dia melanjutkan di Fakultas Kedokteran Unair. Sedangkan saya diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Sejak itu saya tak pernah bertemu lagi.

Sumber foto: sichikaze.blog.friendster.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: