CERPEN: Misteri Penjual Kue Bacang

SUDAH lama, tiap pagi saya malas sarapan di rumah. Dan biasanya, sebelum naik bus Trans, di terminal BSD City saya biasa membeli kue bacang. Penjualnya seorang laki-laki setengah umur.

“Cuma makan pagi saja,ya? Makan siang pasti tidak makan. Iya,kan?” tanyanya ketika pertama kalinya saya membeli kue-kuenya. Saya cuma mengangguk, sebab kenyataannya demikian. Biasanya, kalau makan kue bacang, perut saya terasa kenyang sehingga siang haripun saya tak merasa lapar.

Lain hari, sesudah membayar harga kue bacang, penjualnya memberi komentar lagi.

“ Di rumah pasti tinggal sendiri,ya?” Lagi-lagi saya cuma mengiyakan. Sebab, kenyataannya saya memang tingggal sendiri. Tidak ada istri, anak maupun pembantu rumah tangga.

Lain harinya lagi, seperti biasa, pagi-pagi saya sarapan kue bacang di terminal BSD City. Penjual kue itupun selalu memberi komentar.

“ Sampeyan dari Bojonegoro, Jawa Timur,ya?” komentarnya. Kali ini saya tertarik untuk bertanya.

“Kok, tahu saya dari Bojonegoro,Pak?” saya ingin tahu. Namun, penjual kue itu cuma tersenyum saja tanpa mengeluarkan kata-kata jawaban. Karena saya buru-buru ke Mangga Dua, maka saya segera berlari menuju ke bus Trans yang mulai berjalan pelan akan meninggalkan terminal.

Entah hari yang ke berapa, penjual kue itu pagi-pagi itu juga berkomentar lagi.

“Sampeyan bintangnya Gemini,ya?”

“Kok,tahu?” tanya saya sambil membayar harga sebuah kue bacang. Lagi-lagi penjual kue itu tak menjawab.

Suatu hari lain lagi, karena saya terlambat datang, sayapun ketinggalan bus dan harus menunggu datangnya bus berikutnya. Sambil duduk-duduk dan makan kue bacang, sayapun ngobrol-ngobrol dengan penjual kue itu.

Saya tanya namanya, dia tak mau menyebutkan. Saya tanya dari kota mana asalnya, dia tak bersedia memberi tahu. Semua pertanyaan yang ada hubungan dengan pribadinya tak pernah ada jawabannya saja. Dia cuma tersenyum atau tertawa saja. Lama-lama saya menilai penjual kue itu sebagai sosok yang misterius. Ini yang membuat saya menjadi penasaran.

Yang mengherankan, dia tahu betul kehidupan saya sejak kecil hingga sekarang. Dia tahu nama-nama cewek yang pernah saya pacari sewaktu di bangku SMP, SMA ataupun bangku kuliah. Dia juga tahu kalau saya juga pernah aktif di senat mahasiswa.

Bahkan dia juga tahu kalau saya punya hobi membuat puisi, cerpen, novel, surat pembaca dan artikel-artikel populer. Dia juga tahu kalau saya punya akun di Facebook dan Twitter.

Yang mengejutkan adalah, ketika pagi itu, sehabis mengambil uang di ATM BRI di pasar Moderen, BSD City, dia dengan tepat menyebutkan saldo terakhir saya. Sayapun mencocokkan dengan struk ATM yang ada di saku saya. Ternyata, semua angkanya tepat.

“Kok, tahu,sih? Sampeyan paranormal,ya?” saya penasaran.

“Hahaha…Saya manusia biasa saja,” dia merendahkan diri. Namun, saya yang pernah menekuni bidang psikologi sejak 1973 tentu tahu bahwa penjual kue itu mempunyai kemampuan ESP atau Extra Sensory Perception atau yang biasa disebut indera keenam yang cukup tajam..

Sayapun menjadi tertarik dengan penjual kue bacang itu. Perkenalan sayapun sudah satu setengah tahun berjalan. Namun, dia tetap merahasiakan nama dan jati dirinya. Entah kenapa, saya tidak tahu. Bahkan penjual-penjual koran, minuman dan siapa saja yang berjualan di terminal bus Trans BSD City memanggilnya dengan nama panggilan Pak Bacang, karena dia berjualan kue bacang.

Sampai suatu saat, ketika dia tahu saya akan ke Ciledug untuk bertemu dengan salah seorang pemilik bengkel modifikasi motor, diapun menasehati saya.

“Sebaiknya sampeyan jangan ke Ciledug. Batalkan saja,” dia menasehati saya.

“Kenapa?” saya penasaran.

“Nanti sampeyan kena musibah. Percayalah…”

Namun karena saya sudah terlanjur berjanji, sayapun tak memperhatikan nasehat penjual kue itu. Soalnya, saya lebih percaya kepada Tuhan daripada percaya kepada ramalan-ramalan yang dibuat oleh manusia. Bagi saya, hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang akan terjadi.

Begitulah, saya nekat pergi ke Ciledug naik angkot. Sesampai di depan bengkel, sayapun turun. Baru melangkah sekitar sepuluh meter, saya baru sadar. Saya kecopetan.

“Oh, Tuhan…” sayapun terkejut sekali. sayapun terpaksa harus kehilangan KTP, SIM dan kartu ATM Bank BRI dan uang sekitar Rp 300.000. Huh! Sial! Saya sadar untuk mengurus semuanya itu perlu waktu lama. Juga perlu biaya yang tidak sedikit. Sayapun jadi ingat nasehat Pak Bacang itu. Ternyata nasehatnya terbukti. Meskipun demikian, saya menganggap ramalannya hanya merupakan kebetulan saja.

Seminggu kemudian, saya ke terminal lagi. Seperti biasa, saya sarapan dengan cara memakan kue bacang. Itu sudah cukup mengenyangkan perut saya.

“Saya tahu sampeyan di Ciledug kena musibah. Coba, kalau sampeyan menuruti nasehat saya, sampeyan tentu tidak akan kena musibah. Tapi jangan berkecil hati. Beberapa hari lagi sampeyan akan mendapatkan rezeki besar…,” begitu kata Pak Bacang. Sayapun mendengarkan antara percaya dan tidak.

“Kalau ramalan Pak Bacang benar, saya akan berikan 25% untuk sampeyan…” sayapun bernazar. Pak Bacang cuma tertawa saja. Entah tertawa senang atau tertawa sinis atau tertawa meledek atau tertawa tak percaya, saya tidak tahu.

Oh Tuhan! Beberapa hari kemudian ramalan Pak Bacang, si penjual kue itu terbukti. Saya memenangkan hadiah utama dari Bank BCA KCU Serpong, Tangerang Selatan berupa sebuah mobil seharga Rp 1 milyar.. Karena saya tak kuat membayar pajaknya, maka saya minta mentahnya saja sesudah dipotong pajak. Bersih saya terima Rp 750 juta sesudah dipotong pajak 25% atau Rp 250 juta.

Esok harinya, sayapun ke terminal BSD City. Saya cari Pak Bacang, ternyata tidak jualan. Saya tanyakan ke penjual koran yang ada di terminal itu. maklum, saya ingin bertemu dengan Pak Bacang untuk memeberikan 25% dari Rp 750 juta yang saya terima. Itu nazar saya dan harus saya penuhi.

Namun, mendapat jawaban dari tukang koran yang mengejutkan sekali. Katanya, Pak Bacang meninggal dua hari yang lalu karena sakit jantung.Celakanya, tak seorangpun yang mengetahui di mana alamat lengkapnya. Mereka cuma mengatakan Pak Bacang tinggal di Desa Cilenggang.

Empat hari kemudian, saya melihat di terminal ada seorang ibu berjualan kue bacang. Saya yakin, pasti dia isteri Pak Bacang. Ketika saya tanyakan, ternyata benar. Dia isteri Pak Bacang yang punya nama asli Pak Suwadji.

Siapa Pak Suwadji? Dari isterinya saya mendapat informasi bahwa sudah lama Pak Suwadji almarhum mempunyai kemampuan ESP atau indera keenam. Katanya, itu bawaan sejak lahir. Bukan karena belajar atau berguru.

Akhirnya sayapun bercerita tentang nazar saya. Dan kebetulan uangnya sudah saya bawa di tas kecil dan terbungkus rapi. Dengan bicara setengah berbisik, saya minta ibu Suwadji berhati-hati dengan uang itu. Tentu, isteri Pak Suwadji almarhum merasa senang sekali menerima uang sebanyak Rp 187.500.000.

Karena takut dirampok, sayapun mengantarkan Bu Suwadji ke Bank BCA yang jaraknya Cuma sekitar 50 meter dari terminal. Untunglah, Bu Suwadji membawa KTP dan tidak buta huruf. Pendidikannya lulusan SMP Indramayu.

O, betapa hebat Pak Suwadji almarhum. Mempunyai kemampuan ESP yang sampai sekarang masih merupakan sebuah misteri.

Sumber foto: ngerejekeni.multiply.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: