CERPEN: Hatinya Seputih Salju Paris

PARIS 1986. Saat itu saya terkena PHK politik dari sebuah BUMN. Beberapa hari kemudian saya berpikir, harus bekerja di mana?. Untunglah, saya ingat punya famili yang tinggal di Paris. Maka sayapun menghubungi famili saya dengan maksud saya ingin bekerja di negara tersebut. Familiku bekerja di kantor Konsulat RI di Marseilles. Namun, anak-anaknya yang sebaya saya tinggal di Paris.

Suatu saat ketika sedang duduk santai di salah satu restoran.

“Que volez-vous boire?” Tiba-tiba ada seorang wanita pelayan bertanya.

Sekilas saya melihat, betapa cantiknya dia. Dia menanyakan kepada saya, pesan minuman apa.

Dengan bahasa Perancis sekenanya sayapun menjawab.

“Je prendrai un verre de Madere, Bordeaux” Saya minta segelas Madeira. Tak lama kemudian pelayan itu datang sambil membawa pesanan yang saya minta. Tampaknya dia tahu saya pendatang baru di Perancis.

“Vouz vou parler Francais?” Dengan ramah dia bertanya apakah saya bisa berbahasa Prancis.

Karena saya butuh teman untuk ngobrol sebentar, maka saya persilahkan pelayan itu duduk di depan saya.

“Je ne la sais pas encore. Mon pere connait le francais parfaitement”. Saya jujur mengatakan kepadanya bahwa ayahku pandai berbahasa Perancis, sedangkan saya biasa-biasa saja. Pelayan itu mengangguk-angguk. Wow, cantik sekali cewek Perancis ini.

Walaupun dia pelayan, namun penampilannya cukup mengesankan. Kalau dibandingkan dengan pelayan di restoran yang ada di Indonesia, wah Indonesia masih jauh ketinggalan. Terutama dalam hal pelayanan terhadap para pelanggannya.

“Vou bovez trop peu,” katanya ketika dia melihat aku cuma meminum Madeira sedikit sekali. Ya, maklum, baru sekali itu saya mencoba meminum Madeira.

“Combien dois-je payer?. Saya menanyakan harga minuman yang harus saya bayar. Setelah membayar di kasir, sayapun melangkah meninggalkan restoran.

“Je vais maintenant”.Kata saya sewaktu berada di pintu keluar. Ternyata dia mengantar saya sampai ke pintu keluar.

“Je vous remercions,” dia mengucapkan terima kasih.

Esok harinya, saya mencoba mencari alamat bekas teman-teman saya yang pernah sekampus dengan saya. Maklum, sebelum bekerja di BUMN di Indonesia, saya juga pernah kuliah di Perancis. Namun saya kecewa, ternyata banyak teman-teman akrab saya yang sudah pindah alamat atau kembali ke negaranya. Maklum, dulu mereka di asrama mahasiswa atau numpang di rumah familinya.

Karena hari itu adalah hari libur, maka saya sempatkan saya mampir ke rumah Beatrice Barre di Paquerettes, Allones. Cukup jauh dari tempat tinggal saya. Dia adalah nama pelayan yang beberapa hari yang lalu saya mengenalnya.

Di rumahnya ternyata banyak mahasiswi yang kos. Nama mereka antara lain Btigitte Frohlich dari negara Switzerland, Cinzia Brunero dari Italia, Kimi Nisaka dari Jepang, Janet Richardson dari Amerika. Semua cantik, kecuali Philo Ford yang berasal dari Ghana itu. Tampaknya mereka suka dengan pria Indonesia.

“I’m very interested with your nation.Especially with men…like you!” Ujar Janet yang dari Amerika itu.

“Having some reasons?”. Saya ingin tahu.

“Of course. They are the best in bed”. Ujar Kimi Nisaka yang disambut tertawa oleh teman-teman lainnya. Mereka mengucapkan kata-kata itu sambil bercanda. Namun sebenarnya apa yang dikatakan adalah kejujuran.

Memang sih, ketika dulu saya kuliah di Perancis, betapa bebasnya mereka berbicara. Bahkan ada beberapa mahasiswi yang langsung tanya, apakah saya mau jadi pacarnya. Jangan heran kalau ada satu dua mahasiswi yang bahkan berani mengajak berhubungan intim. Untunglah, saya bisa menjaga nama baik Indonesia. Saya tidak ingin mereka punya kesan bahwa cowok Indonesia adalah cowok gampangan.

Entah kenapa, kalau semula saya naksir Beatrice Barre, tiba-tiba berubah naksir Kimi Nisaka yang berasal dari Nagoya, Jepang itu. Kimi yang bermata sipit itu memang putih dan cantik mirip peranakan Cina yang ada di Glodok.

“Saya suka makan gado-gado”. Kata Kimi yang ternyata juga bisa bahasa Indonesia dan pernah ke Indonesia. Bahkan sering ke Bali bersama ayah, ibu dan adik-adiknya. Namun, sebenarnya saya juga naksir Janet Richardson yang penuh perhatian itu.

Saya jadi bingung, dalam saat yang sama saya jatuh cinta kepada tiga gadis sekaligus. Yaitu, Beatrice Barre, pelayan restoran yang ternyata lulusan sebuah akademi di Perancis. Janet Richardson seorang mahasiswi calon arsitek. Dan Kimi Nikita seorang mahasiswi fakultas ekonomi, puteri salah seorang pemilik pabrik mobil Honda di Jepang.

Ketiga cewek itu tahu saya ke Perancis dalam rangka mencari pekerjaan. Mereka berebut untuk membantu saya mencari pekerjaan. Kimi menawarkan saya untuk bekerja di perusahaan mobil Honda. Sedangkan Beatrice menawarkan saya bekerja di perusahaan tekstil dan perhiasan milik pamannya. Lalu, Janet menawarkan saya bekerja di perusahaan milik ayah tirinya yang punya perusahaan komputer. Kebaikan mereka tidak hanya itu, mereka juga bersedia menjadi istri saya.

Bingung.Bingung.Bingung.Akhirnya setelah berkonsultasi dengan familiku yang bekerja di kantor Konsulat RI, maka sayapun melakukan shalat Istikharah tengah malam atau dinihari.

Ternyata saya mendapatkan sebuah inspirasi yang bagus. Saya akhirnya memilih Kimi Nikita. Alasannya, walaupun saya bekerja di perusahaan Honda, namun saya bekerja menggunakan komputer yang dilengkapi dengan software akuntansi. Sesuai jurusan yang pernah saya ambil ketika saya kuliah. Di samping itu, Kimi Nikita juga bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Tidak hanya itu, Kimi bersedia pindah ke agama Islam. Sedangkan Beatrice dan Janet tidak mau pindah ke agama Islam.

Beberapa bulan setelah Kimi Nikita menyelesaikan kuliahnya, sayapun menikah dengan Kimi Nikita secara Islam. Saya bangga karena menjadi menantu salah seorang pemilik pabrik mobil Honda di Jepang. Saya dan Kimi Nikita hidup bahagia di Tokyo. Sampai hari ini telah dikaruniai dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Ketiganya telah lulus program S-2 di Amerika dan ketiganya bekerja di Amerika.

Sumber foto: primaironline.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: