CERPEN: Perempuan-perempuan Najis

MOBIL Suzuki Karimun yang saya kendarai terus melaju, melaju dan melaju. Akhirnya, belok dan parkir di reshot (restoran dan hotel) Florensia di kawasan Sukabumi, Jawa Barat.

Sesudah memarkir mobil, saya duduk di sebuah kursi yang ada di resto itu. Saya memesan nasi dan sate kambing kesukaan saya. Semula saya tidak memperhatikan karyawati yang menanyakan soal makanan yang akan saya pesan. Namun, ketika saya melihat wajahnya, saya terkejut.

“Lho, kok ada di sini?”. Kalimat itu saya tujukan ke dia, yang ternyata bekas teman kuliah di Jakarta. Dia adik kelas. Namanya Nindya. Masih cantik seperti dulu.

“Oh, Harry, ya? Apa khabar?”

Kamipun terlibat pembicaraan singkat. Katanya, sejak dia cerai dari suaminya, terpaksa dia bekerja di resto itu. Maklum, biaya hidup darimana bisa didapatkan kalau tidak dengan bekerja? Terus terang, jamannya saya masih kuliah, saya pernah naksir Nindya. Sayang, saat itu dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

Selesai ngobrol sebentar, Nindya kemudian menugaskan ke karyawan lain untuk membuat dan mengantarkan makanan untuk saya. Sayapun melahap sate kambing dengan bumbu pedas kesayangan saya.

Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Selabintana. Di situ saya menemui pengurus dan berniat untuk menyewa tempat untuk keperluan diskusi dan seminar. Maklum, saya saat itu berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Bogor.

Sesudah semua urusan di Selabintana, Suzuki Karimun kersayangan pun meluncur meninggalkan kota Sukabumi. Saat itu sudah hampir maghrib danudara cukup dingin menyengat hingga ke tulang.

Rasa-rasanya saya sangat capai sekali. Akhirnya mobil saya belokkan danparkir di reshot Florensia. Bukan ke restorannya tetapi ke hotelnya. Ternyata, respsionisnya juga pernah saya kenal. Adik kelas juga sewaktu kuliah. Dia satu angkatan tetapi beda kelas dengan Nindya. Dulu dia termasuk mahasiswi cantik juga. Namanya Dewayani.

“Lho, kok kerja di sini? Katanya di Tokyo?”. Saya melihat dia.

“Iya. Terpaksa. Suami saya meninggal di Tokyo. Terpaksa saya pulang ke Indonesia”.

Karena sudah terlalu capai, badan pegal, maka saya langsung memesan kamar hotel kelas VIP. Sampai di kamar, langsung merebahkan badan di tempat tidur tanpa sempat mencopot sepatu ataupun ganti baju. Tanpa saya sadari, sayapun langsung tertidur.

Ketika ada karyawan mengetuk pintu sayapun terbangun. Dia menanyakan makanan apa yang saya pesan, akan di makan di kamar atau akan dimakan di restoran. Karena saya masih capai, maka saya minta makanan diantarkan ke kamar saja. Ketika karyawan tersebut meninggalkan kamar, maka sayapun cepat mandi sore. Habis mandi sore, rasa-rasanya badan terasa segar. Lampu-lampu hotelpun segera saya nyalakan karena sore hari telah berganti malam.

Karena badan saya sangat pegal, maka saya tanya ke karyawan yang mengantarkan makanan malam, apakah ada jasa pijat di hotel itu.

“Ada, Pak. Ada lima orang. Semua wanita. Semua cantik”. Jawabnya setengah promo

“Cantik atau tidak, tidak masalah. Tolong panggilkan saya satu”. Ucap saya sambil berganti baju malam. Waktu itu sudah pukul 20:00. Namun sesuai dengan permintaan saya, pemijat itupun datang ke kamar saya pukul 21:00.

Oh, terkejut saya melihat wajahnya. Diapun tak kalah terkejutnya. Lagi-lagi, dia adalah mantan adik kelas ketika kuliah. Namanya Sandra. Gadis Sunda. Kebetulan, dia cantik juga.

Setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya dia mengaku sudah janda pula. Suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Terpaksa Sandra bekerja di hotel itu. Sebenarnya dia bekerja di bagian personalia, yaitu sebagai kepala bagian karyawan, namun pemijat adalah pekerjaan sampingannya.

Ya, apa boleh buat. Karena saya ingin membantu keuangannya, saya malam itu dipijatnya. Semula dia agak malu dan serba salah. Namun, akhirnya sikapnya biasa-biasa saja

Sambil memijat dan dipijat, kampipun ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya Sandra bicara terus terang bahwa Sandra, Nindya dan Dewayanti terpaksa bekerja sambilan sebagai pemijat karena gaji sesungguhnya tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari

Yang mengejutkan saya, mereka bertiga merupakan pemijat komplit dengan tarif Rp 1 juta untuk short time atau satu jam dan Rp 5 juta untuk semalam.

“Masya Allah”. Saya terkejut dalam hati.

Esok harinya saya melanjutkan perjalanan ke Bogor dan selanjutnya mengatur persiapan seminar dengan anggota panitia. Secara kebetulan rektor mendatangi saya dan meminta bantuan untuk mencarikan tenaga sekretaris, resepsionis dan operator komputer.

Secara kebetulan pula, rektor kampus saya adalah kakak kandung saya sendiri yang juga mengelola pondok pesantren di Tangerang. Sayapun menceritakan pengalaman saya bertemu dengan Sandra, Dewayani dan Nindya. Saya meminta agar kakak saya mau menerimanya sebagai karyawan dengan gaji yang cukup besar. Sayapun siap membantu memberi tambahan gaji. Kebetulan saya punya perusahaan furniture yang cukup maju. Ternyata, kakak saya yang sudah tiga kali naik haji itu menyetujuinya.

Akhirnya, singkat cerita, sesudah membujuk dengan susah payah, Sandra, Dewayani dan Nindya akhirnya bekerja di kampus yang dikelola kakak saya dengan gaji yang cukup besar. Namun dengan syarat, supaya mereka kembali ke jalan Allah. Ke jalan yang lurus.

Alhamdulillah. Sudah setahunini mereka bertiga bekerja di kampus dan aman-aman saja. Mereka berteriga telah insyaf dan berkerudung. Bahkan punya rencana untuk umroh pada tahun mendatang.

Sumber gambar: tuteh-pharmantara.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: