CERPEN: Andharezta Primadona SMAN 4 Surabaya

BOJONEGORO 1969. Saya duduk di bangku kelas satu SMAN 1 (dulu namanya SMA Negara). Saya dan teman-teman punya rencana mendirikan radio amatir atau radio non-RRI pertama di kota saya. Tentu pemancar gelap. Mereka antara lain Santoso (sekarang pensiunan PT Telkom Tbk, Mojokerto), Agus Mulyono (sekarang di PT Telkom Tbk Bojonegoro), dan Gatot (STM), Bambang Haryanto (lupa, sekolahnya di mana), Erry Amandha (SMA Katolik),dll.

Nama radionya Radio Armada 151 (supaya dikira milik Angkatan Laut). Sebenarnya siaran rahasia, tapi lama-lama masyarakat tahu semua. Siarannya bisa ditangkap di Cirebon, Pamekasan, Malang dan lain-lain. Nah, salah satu penggemar yang paling sering telepon berasal dari Malang. Namanya Andharezta, salah satu pelajar SMA di Malang dan juga masih di kelas satu.

Karena penasaran, akhirnya saya ke rumahnya di Jl. Dr.Cipto, Malang. Ternyata, cantik juga. Ayah dan ibunya juga baik terhadap saya. Akhirnya tiap Sabtu saya ke Malang. Minggu siang balik ke Bojonegoro. Lama-lama, akhirnya jadi pacar juga. Dan akhirnya saya dan Andharezta janjian akan pindah ke SMAN 4 Surabaya.

“Setuju nggak kalau kita pindah ke SMAN 4 Surabaya”. Andhar meminta pendapat.

“Kalau naik kelas sih, saya setuju”. Saya menyambut gembira usul Andhar.

“Mudah-mudahan kita bisa satu kelas”.Harapan Andhar.

“Insya Allah”.

SURABAYA 1970. Akhirnya saya dan Andhar jadi pindah. Di SMAN 4 Surabaya kami sekelas.Di kelas 2 IPS (dulu istilahnya 2 Sos). Satu kelas dengan teman-teman baru, antara lain Tommy, Ellen (dulu rumahnya di Taman Simpang),Sigfried, Tatik, Martanto (kabarnya dia pernah jadi guru di SMAN 4).

Rupa-rupanya Andhar termasuk The Best Five, lima pelajar tercantik di SMAN 4. Tak heran kalau dalam waktu singkat banyak cowok kelas lain yang ingin kenal. Agak khawatir juga saya waktu itu. Jangan-jangan Andhar direbut cowok lain.

Tiap pagi dengan menggunakan sepeda motor CB 125 saya menjemput Andhar di kawasan Jl. Pucang Anom Timur (dekat kantor pos). Dia ikut kakak perempuannya yang sudah menikah.

Celakanya, kakak iparnya punya adik cowok. Pelajar STM kelas satu. Namanya Yoyok. Dari gelagatnya sih saya yakin dia naksir juga sama Andhar. Coba, tiap malam Minggu saya ngapel, Yoyok ikut nimbrung. Kalau nonton bioskop, selalu mengikuti. Kalau kebetulan saya sakit, maka yang mengantarkan Andhar ke sekolah, ya si Yoyok itu.

“Saya nggak bakalan sama dia”.Andhar menjelaskan ke saya.

“Iya, tapi kalau Andhar mau diantarkan Yoyok, berarti Andhar memberi hati”

“Habis gimana dong, kalau naik bemo penuh terus. Naik becak mahal”.Andhar membela diri.

Ya, persaingan memang terjadi. Walaupun saya yakin Andhar masih suka sama saya, namun kenyataannya ada cowok lain yang berusaha merebut Andhar. Apalagi, Yoyok tinggal serumah dengan Andhar.

Lantas, suatu hari terjadilah peristiwa yang kurang enak. Seperti biasa, pulang sekolah saya akan mengantarkan Andhar. Andhar saya boncengkan. Namun, baru di depan pintu sekolah, saya lihat Yoyok dan enam anak STM mencegat saya. Tanpa, ba-bi-bu, mereka mengeroyok saya. Saya dan Andharpun terjatuh dari sepeda motor. Bertubi-tubi pukulan mengenai muka saya. Saya tak sempat menghindarkan diri.

Untunglah, puluhan pelajar SMAN 4 segera memberikan bantuan. Rame-rame mereka ganti mengeroyok enam pelajar STM tersebut sampai babak belur. Akhirnya merekapun kabur.

Tiga hari kemudian. Waktu itu saya dan pelajar SMAN 4 lainnya sedang sibuk menghadapi pelajaran di kelasnya masing-masing. Namun tiba-tiba semua dikejutkan oleh pecahnya kaca-kaca jendela. Rupa-rupanya kena lemparan batu dari luar. Makin lama makin banyak batu beterbangan ke kelas. Setelah saya lihat dari jendela, ternyata di luar ada sekitar 200 pelajar STM sedang rame-rame melempari gedung SMAN 4. Semua kelas diserang.

“Serbu SMAN 4! Terima balasan dari kami!” Mereka berteriak-teriak.

Saya sadar, ini adalah buntut dari peristiwa tiga hari yang lalu. Apalagi di antara mereka ada Yoyok. Akhirnya keributan terjadi. Seluruh pelajar SMAN 4 pun keluar kelas dan membalas serangan itu. Kebetulan di dekat kantin ada tumpukan batu dalam jumlah banyak. Tawuran massal tak terelakkan lagi. Saya waktu itu berada di luar kelas.

“Harry! Harry! Tolong ke sini! Andhar kena batu!”. Ellen berteriak-teriak kepada saya. Sayapun berlari menuju ke dalam kelas. Benar saja, kepala Andhar penuh dengan darah. Terkena lemparan batu.

Secepatnya saya,Tommy dan lain-lain membawa Andhar ke Rumah Sakit Dr.Soetomo yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Para perawat dan dokterpun segera menangani Andhar.

Ketika kembali dari rumah sakit, tawuran sudah bubar. Rupa-rupanya polisi segera datang. Enam anak STM ditahan polisi. Peristiwa itu langsung saya kabarkan ke kakak Andhar di Pucang Anom Timur.

Hari-hari berikutnya saya dan teman-teman SMAN 4 pulang sekolah langsung membezoek Andhar. Andhar luka cukup parah. Gegar otak. Tubuh Andhar terkulai lemas. Tak bisa diajak bicara. Matanya terus terpejam. Sedih rasanya melihat orang yang saya cintai dalam kondisi tidak berdaya. Andhar mendapat perawatan sekitar 22 hari dan tidak ada tanda-tanda membaik.

Akhirnya, 10 November 1970 adalah hari yang tak mungkin saya lupakan. Akhirnya, saat yang saya khawatirkanpun tiba. Dokter mengatakan kepada saya, sudah berusaha sekuat tenaga uyntuk menyembuhkan Andhar, namun Tuhan berkata lain.

“Ya,Tuhan!”. Saya berteriak histeris. Tommy dan teman-teman memegangi tubuhku. Saya sempat jatuh pingsan. Betapa tidak, orang yang paling saya cintai telah meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Betapa cepat Tuhan memisahkan kami berdua.

“Sudahlah Har, tabahkan hatimu. Semua sudah kehendak Allah swt”. Martanto memberikan semangat kepada saya. Namun saya tetap sedih.

Beberapa bulan kemudian sayapun menghadap kepala sekolah. Saya jelaskan kronologi peristiwa itu. Saya mengaku tawuran itu semuanya gara-gara saya. Rusaknya gedung SMAN 4 juga gara-gara saya. Atas dasar itu saya meminta maaf ke Pak Satmoko, yang saat itu menjadi kepala sekolah. Sekaligus saya menyatakan mengundurkan diri dari SMAN 4.

Semula Pak Satmoko keberatan kalau saya mengundurkan diri. Namun karena keputusan sudah bulat, Pak Satmoko tidak bisa menolak. Dengan langkah gontai saya menemui teman-teman saya. Mereka saya salami satu persatu. Ada beberapa teman cewek yang meneteskan air mata.

Akhirnya, dengan langkah gontai saya menuju ke tempat parkir. Mengambil sepeda motor Honda CB 125 berwarna hijau. Lantas, pelan saya meninggalkan halaman SMAN 4. Saya pandangi gedung SMAN 4 untuk beberapa saat. Itulah saat terakhir saya di SMAN 4.

Akhirnya sepeda motor meninggalkan sekolahan.

“Harry! Suatu saat kita ketemu lagi”. Teriak teman-teman sambil melambaikan tangannya.

Ya, itu terjadi pada 1970. Sudah lama peristiwa itu terjadi. Namun saya tak akan pernah melupakannya. Tak akan pernah melupakan Andharezta. Dia adalah cinta pertama saya. Cinta terakhir saya.

Sumber foto:yangterlengkap.blogspot.com

Hariyanto Imadha

SMAN 1 Bojonegoro (Kelas 1)

SMAN 4 Surabaya (Kelas 2)

SMAN 6 Surabaya (Kelas 3)

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: