CERPEN: Lia Primadona SMAN 6 Surabaya

TANPA sengaja, di internet saya menemukan foto teman-teman se-SMAN 6 Surabaya. Walaupun foto itu dibuat tahun 1971, namun saya masih ingat nama-nama mereka. Yaitu (dari kiri ke kanan): Anita, Tony, Ari, Nunus dan Bintaran. Mereka adalah adik-adik kelas. Sedangkan yang duduk adalah saya.

Foto itu dibuat tahun 1971 atau 36 tahun yang lalu. Foto itu dibuat sewaktu siswa SMAN 6 Surabaya tour ke Bali. Foto itu dibuat di dekat Tanah Lot. Namun sebenarnya ada siswi yang tidak nampak di situ, namanya Lia.

Lia bukan teman sekelas. Saya di IPS dan Lia di IPA. Kenalnya juga gara-gara saya membuat cerpen di buletin sekolah, yaitu buletin Elka (Lingkaran Kreasi). Sebenarnya sih Lia sudah punya pacar, namun sejak kenal saya, maka tiap pulang sekolah sayalah yang mengantarkannya. Rumahnya di Jl. Pucang Anom Timur. Sebagai siswa pindahan dari SMAN 4 Surabaya, saya memang kurang beken di SMAN 6 Surabaya. Sewaktu di SMAN 4 pun saya kurang beken.

-“Lia, di mana,Mas?”, tanya Nunus sehabis berfoto bersama.

Saya cuma menunjuk tempat orang berjualan cinderamata. Di situ Lia sedang memilih-milih cinderamata.

Lia memang bukan pacar saya. Saya tahu, setelah Lia putus dengan cowok SMAN 6, dia langsung dapat cowok mahasiswa Fakultas Hukum, Unair. Lia juga tahu, saat itu saya punya pacar siswi SMAN 5 Surabaya.

Cuma memang hubungan saya dan Lia memang aneh. Nonton film ya bareng-bareng, ke restoran ya bareng-bareng. Kemana-mana bareng-bareng. Saya sih menganggapnya sebagai adik saja. Lia juga tahu kalau saya dan dia masih ada hubungan famili.

Tapi memang persahabatan itu aneh. Rasa-rasanya persahabatan lebih indah daripada percintaan. Sayapun  dengan Dessy (pacar saya yang di SMAN 5) jarang nonton. Bahkan juga jarang ke restoran ataupun jalan-jalan ke Tunjungan.

Di Balipun saya sering berdua dengan Lia. Orang pasti mengira Lia pacar saya. Maklum, ya gandengan ya berpelukan seperti anak remaja yang sedang mabuk bercinta.

Senang  juga ya masa remaja di SMA. Apalagi rekreasi di Bali itu sangat mengesankan. Antara lain ke Sangeh, Pantai Kuta, Besakih, Tanah Lot, Pantai Sanur, dan tempat wisata lainnya. Sempat juga nonton tari Kecak, dll. Ke manapun, saya selalu berdua dengan Lia.

Saat itu saya merasakan, betapa indah hari-hari di Bali. Saya merasakan keindahan di dalam hati. Saya tidak tahu kenapa itu terjadi. Apakah itu cinta, saya tidak tahu. Yang pasti tour ke Bali itu memang banyak kenangan manis.

Namun satu hal yang aneh yaitu, tidak pernah sekalipun saya berfoto berdua dengan Lia. Itulah sebabnya, saya tidak punya kenang-kenangan selama di Bali.

Sekarang, usia saya sudah 55 tahun. Kadang saya menghayal, alangkah indahnya andaikan hidup ini bisa diputar ulang. Kembali ke tahun 1971. Kembali menjadi siswa SMAN 6. Kembali ke Bali. Kembali bersama Lia. Ya, saya membayangkan, saya ke Bali lagi.

Tour ke Bali itu memang indah. Namun untuk mengenangnya lagi, justru membuat hati ini menjadi sakit sekali. Soalnya, kenangan itu hanya terjadi sekali. Saya akhirnya sadar, saya tidak mungkin kembali ke tahun 1971. Saya sadar tak mungkin bisa tertawa ceria bersama Anita, Nunus, Ari dan lain-lainnya. Saya sadar, tak mungkin lagi berdua dengan Lia. Sayapun sadar bahwa sejak itu saya tidak tahu lagi, di mana Lia sekarang.

Rasa-rasanya saya ingin ke Bali lagi. Mengulangi kenangan indah di masa lalu. Walaupun itu cuma dalam khayalan saja.

Catatan:

Judul semula “Kuingiin Ke Bali lagi”

Sumber foto: kusus.hexat.com

Hariyanto Imadha

Lulusan SMAN 6

1971-1972

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: