CERPEN: Wa Wi Wu We Wo

MINGGU itu saya naik bus-Trans dari Blok M menuju ke Kota. Eh, kebetulan cewek sebelah saya cantik sekali. Sayang, sejak dari Blok M dia sibuk dengan ponselnya. Kadang kirim SMS, kadang mendengarkan MP3 dan kadang membaca SMS. Jadi, saya agak ragu-ragu untuk menyapanya.

Namun, saya yang berusia 24 tahun ini lama-lama tak tahan juga untuk menyapanya.

“Mau ke mana?” saya memberanikan diri untuk bertanya. Cewek yang bulu matanya lentik dan hidungnya mancung itu menatap ke arah saya. Kemudian tersenyum. Namun pertanyaan saya tak dijawab. Dia sibuk dengan ponselnya. Bahkan teman cewek yang duduk di sebelahnya juga sibuk membaca koran.

“Hmmm, sombong amat,” pikir saya. Tapi sudah lumayan, dia mau tersenyum ke saya. walaupun mungkin itu Cuma basa-basi saja.

BusTrans tiba-tiba berhenti. Ternyata jalur busway dipakai oleh beberapa mobil pribadi yang nyelonong ke jalur khusus itu.

“Jangkrik! Masyarakat Indonersia kok masih banyak yang tidak disiplin berlalu lintas,” gerutu saya. Mobil-mobil pribadi itu membuat busTrans menjadi terganggu jalannya.

Begitulah, persoalan kemacetan ibukota Jakarta. Sebenarnya kalau mau menerapkan sistem genap-ganjil seperti yang dilakukan di Beijing atau kota-kota lain di dunia, tentu jumlah kemacetan bisa berkurang sekitar 40%. Sebuah angka yang sangat signifikan. Sayang, kebijakan yang diambil selama ini adalah kebijakan-kebijakan yang kurang signifikan.

Walaupun busTrans berjalan agak lambat, namun saya merasa beruntung karena berdekatan dengan cewek cantik.

“Mau ke Kota,ya?” saya mencoba menyapanya lagi. Lagi-lagi cewek itu menengok ke arah saya. Mengangguk dan tersenyum. Oh, bibirnya yang mungil merah itu sangat menggemaskan sekali. rasa-rasanya saya ingin langsung menciumnya.

Cewek itu memang luar biasa. mengenakan T-Shirt warna biru muda dengan logo Facebook. Kemudian rok span atau rok pendek warna hitam. Dan rambutnya dipotong pendek mirip rambut Yuni Shara.

“Masih sekolah,kuliah atau kerja?” tanya saya lagi. Dia menengok. Tersenyum.Lalu sibuk lagi dengan ponselnya. Lama-lama saya menyadari, mungkin saya dianggap mengganggunya.Maklum, dia sibuk kirim-kiriman SMS dengan temannya. Atau mungkin dengan pacarnya? Ah, yang penting, saya menunggu sampai dia tidak sibuk menggunakan ponsel dan saya akan menyapanya.

Sementara itu busTrans sudah sampai di depan bunderan Hotel Indonesia. Saya pikir, orang Indonesia sering salah sebut busTrans dengan busway. Bukankah busway artinya jalan khusus bus? rasa-rasanya aneh kalau orang bilang “naik busway”. Lha, itu sama saja naik jalan khusus bus. Artinya, duduk di jalan aspal. Padahal istilah yang benar yaitu naik busTrans. Itulah yang disebut dengan budaya salah kaprah. Kelihatannya sepele, namun sesungguhnya salah kaprah merupakan indikator bahwa bangsa Indonesia memang masih banyak yang tidak mampu berpikir secara benar.

“Boleh kenalan?” saya nekat saja mengajak salaman.Tangan kanan saya langsung saya ulurkan kepada cewek cantik itu. Sebagai cowok, tentu saya harus memulai berkenalan,dong. Eh, ternyata cewek itu membalas perkenalan saya.

“Harry,” saya menyebutkan nama saya. Cewek itu cuma tersenyum. Dia buka tas kecilnya dan kemudian memberikan kartu namanya kepada saya.

“Oh, namanya Vita Layungsari. Tinggal di Pamulang Permai. Ada juga nomor ponselnya di situ. Bahkan kartu namanya dilengkapi dengan fotonya yang cantik itu. Dari kartu nama itu saya bisa menarik kesimpulan kalau dia pengelola salon kecantikan di Pamulang Permai.

“Terima kasih,” jawab saya. Saya yang punya kartu namapun saya berikan ke cewek yang bernama Vita Layungsari itu.Diapun menerimanya. Naun, tetap sibuk dengan ponselnya. Yah, tak apalah. Mungkin dia sibuk berkomunikasi bisnis tentang salonnya atau bisnis lainnya. Yang pasti saya sudah punya kartu namanya.

“Wah, boleh dong kapan-kapan saya main ke rumah?” tanya saya penuh harap. Rumah dan salon satu alamat. Hal itu bisa saya baca dari kartu namanya. Cewek itu mengangguk dan tersenyum. Wow, cowok mana yang tak tergila-gila dengan cewek cantik yang mukanya mirip Nia Daniati itu? Hmmm,putih dan seksi. rasa-rasanya saya ingin memperkosanya saja. Huh! Kotor banget pikiran saya.Ngeres. tapi itu jujur,kok. Dia betul-betul seksi.

Sementara itu busTrans sudah sampai di Harmoni. Tentu, dia belum turun. Sebab, menurut anggukannya, dia akan turun di Kota. Berarti saya masih punya beberapa waktu untuk melakukan PDKT alias pendekatan.

“Lagi sibuk kirim SMS buat pacar.nih?” saya mulai genit. Menggoda. Sekaligus memancing. Cewek itu cuma menggeleng dan tersenyum  saja. Oh, menawan sekali. saya merasa beruntung sekali hari itu karena mendapat kenalan cewek cantik walaupun terkesan sombong. yang pasti, gelengan kepalanya menunjukkan bahwa dia belum punya cowok.Asyik! Rezeki nomplok nih,namanya.

Beberapa menit kemudian, busTrans-pun sampai ke Kota.Cewek itupun segera berdiri. Bersiap-siap untuk turun. Sayapun turut berdiri.

“Boleh saya temani? Boleh saya antar?” saya mulai genit lagi.

Cewek itu menengok dan berkata.

“Wa wa wi wi wu wu we we wo wo…” sambil tangannya memberikan isyarat yang mengisyaratkan tidak usah.

“Astaga!” keluh saya. Saya terkejut sekali. Ternyata kedua cewek itu cewek gagu.

Sumber foto: fotodisaku.dagdigdug.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: