CERPEN: Tatik Balen yang Semok

SIAPA sih zaman itu yang tidak kenal nama Tatik Balen. Hampir semua pelajar SMP dan SMA pasti kenal nama itu. Entah bagaimana caranya, kok mendadak dia menjadi “bekend” (terkenal).

 Tentu, orang yang terkenal pasti punya dua konotasi. Yaitu diisukan kebaikannya atau diisukan keburukannya. Positifnya, Tatik Balen kabarnya mudah gaul, enak diajak bicara dan punya prestasi di bidang olah raga. Negatifnya, kabarnya dia bisa diajak kencan dan “begituan” tanpa bayar.

 “Ha ha ha…” Gondo tertawa ketika saya mengatakan penasaran ingin kenal Tatik Balen. Bukan karena isu positif atau negatifnya, tapi saya ingin tahu seperti apa sih orangnya.

 “Nggak apa-apa,khan? Cuma ingin kenal saja,kok” Sambil mengucapkan kalimat itu, sayapun meninggalkan Gondo. Saya menuju kantin SMA untuk minum es campur. Saat itu saya duduk di bangku SMA kelas satu.

 Akhirnya, saya kenal juga dengan Tatik Balen. Ceritanya, ketika saya pulang sekolah bersepeda dengan Alfian yang teman sekelas, tiba-tiba di perempatan Alfian yang membonceng saya menepuk paha kanan saya.

 “Tuh yang namanya Tatik Balen!” Alfian menunjuk seorang siswi bersepeda mengenakan seragam SMP. Saya yang penasaranpun segera menggenjot sepeda ontel saya dan berada di sampingnya.

 “Boleh dong kenalan? Situ Tatik Balen ya?Saya Harry” Saya pandangi siswi itu. Dia menengok ke arah saya. Agak kaget. Tapi kemudian tersenyum.

 “Oh, boleh”

 “Boleh main-main ke rumah?” Alfian ingin tahu.

 “Boleh. Tidak ada larangan,kok.Kapan?” Tatik memberikan jawaban.

 “Sekarang? Setuju?” Sekarang saya yang ingin tahu jawabannya.

 Tatik Balen mengangguk. Akhirnya sepanjang perjalanan kami saling ngobrol dan kadang-kadang tertawa. Seolah-olah kami sudah saling berkenalan puluhan tahun saja.

 Tatik Balen ternyata tidak terlalu cantik dan tidak terlalu jelek. Biasa-biasa saja. Rambutnya pendek agak keriting. Dandanannya memang agak menor, yaitu bedaknya terlalu tebal. Tapi saya akui, Tatik Balen memang punya body semok.

 Dinamakan Tatik Balen karena dia tinggal di Kecamatan Balen. Jaraknya dari kota sekitar 12 kilometer. Tiap hari Tatik Balen pergi ke sekolah naik sepeda ontel. Maklum, zaman dulu yang punya sepeda motor bisa dihitung dengan jari tangan.

 Sekitar satu jam kemudian tiba di rumahnya. Sangat sederhana. Ayahnya pegawai rendahan dan ibunya buka warung di depan rumahnya. Tatik Balen ternyata anak tunggal. Kedua orang tuanya menyambut saya dengan ramah.

 Itu kedatangan saya di rumahnya untuk yang pertama kalinya. Kedua kalinya ketika saya mendapat undangan hari ulang tahunnya yang jatuh pada 14 Februari. Pas peringatan Valentine’s Day. Namun zaman dulu kami belum mengerti apa itu Valentine’s Day. Maklum, kami tinggal di sebuah kota kecil. Zaman dulu belum ada televisi. Apalagi HP.

 Yang datang pada hari ulang tahun cukup banyak. Ada sekitar 100 siswa. Di samping teman-teman SMP-nya, juga tman-teman di luar sekolahnya.

 Yang membuat saya tak bisa melupakan acara itu yaitu, ratusan tamu undangannya, makan memakai piring seng. Maklum, zaman dulu piring melamin belum ada.

 Suara sendok yang beradu dengan piring seng menimbulkan suara “klonthang…klonthang…klonthang…”. Minumnya air putih yang dituangkan dari kendi. Lantas, camilannya berupa ubi rebus.

 “Ha ha ha…” Alfian, Gondo dan saya tertawa tapi ditahan-tahan. Maklum, kami di kota belum pernah makan memakai piring seng. Jadi, rasanya lucu sekali. Apalagi minum dari kendi. Walaupun kami bertiga tinggal di kota kecil, tapi tetap lebih maju, dong dibandingkan Kecamatan Balen.

 Hampir setahun saya bersahabat dengan Tatik Balen. Ternyata isu negatif itu tidak benar. Tatik Balen ternyata seorang muslimah yang taat. Bahkan saat itu sudah qatam Al Qur’an walaupun baru 17 juz. Ternyata Tatik Balen termasuk siswi yang cerdas dan berprestasi.

 Diapun melanjutkan ke SMA dan menjadi adik kelas saya. Sayang, saya harus meneruskan sekolah ke SMA di Surabaya. Sejak saat itu saya tak pernah bertemu lagi dengan Tatik Balen. Cewek cerdas dan semok. Saya tidak naksir. Hanya suka bersahabat saja.

 Sampai hari ini, saya tak meungkin melupakan Tatik Balen. Tak mungkin melupakan piring seng, air kendi dan ubi rebusnya.

 “He he he” Saya tertawa sendiri mengenang zaman itu.

Catatan

 Cerpen ini merupakan hasil imajinasi penulis dan bersifat fiktif

 Maaf kalau ada nama orang, nama tempat atau peristiwa yang sama.

Sumber foto: http://www.kerangrebus.com

 Hariyanto Imadha

 Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: