CERPEN : Misteri Rumah Tua Jl. Ade Irma 5 Bojonegoro

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

SELAMA 15 tahun, saya menempati sebuah rumah tua, besar dan angker di atas tanah seluas 2.000 meter persegi di Jl. Ade Irma Suryani Nasution No. 5 Bojonegoro. Kenapa harus saya? Karena kakak-kakak saya tinggal di Jakarta, Tangerang, Surabaya dan tidak mungkin pindah ke Bojonegoro karena sibuk dengan keluarga,anak dan cucu. Saya, sebagai anak bungsu,belum menikah, sayalah yang harus menunggu rumah besar dan kuno itu. Kenapa? Sebab, ayah dan ibu saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.Jadi, saya pindah dari Jakarta ke Bojonegoro.

Hanya kakak saya yang juga tinggal di rumah itu, namun di rumah Barat. yaitu berkantor sebagai notaris. Itupun tiap Sabtu dan Minggu berada di Surabaya sebab keluarganya memang di Surabaya.

Sedangkan saya menempati pavilyun Timur. Sedangkan rumah tengah atau rumah induk kosong. Puluhan tahun kosong.Kotor berdebu karena jarang dibersihkan. Bahkan sarang serangga ada di mana-mana. Seminggu sekali dibersihkan, namun cepat kotor.

Tiap kali saya memasuki rumah induk yang kosong itu, buluk kuduk saya berdiri.Padahal itu siang hari.Bahkan kadang mencium bau harum. Namun, saya tetap memberanikan diri memasuki rumah tua itu. Cukup membaca doa singkat, doa Ta’awudz saja.

“Assalamu’alaikum,” begitu kata yang saya ucapkan tiap kali memasuki kamar demi kamar. Dua kamar di sebelah timur dan dua kamar di sebelah Barat. Ketika saya memasuki kamar tidur barat, tiba-tiba saya dikejutkan suara daun pintu lemari membuka dengan sendirinya. Padahal, tidak ada angin sedikitpun. Sempat terkejut dan merinding. Namun saya tetap memberanikan diri memantau kamar itu. Satu menit kemudian saya dikejutkan lagi, pintu lemari itu tiba-tiba tertutup sendiri. Dan sekelebat saya melihat bayangan putih keluar dari pintu dengan kecepatan yang luar biasa. Antara takut dan berani saya terus berdoa. Dengan menggunakan sapu, saya bersihkan kamar tidur Barat itu.

Sesudah kamar tidur Barat bersih, saya pindah ke kamar tidur Timur. Baru saja saya menyapu, tiba-tiba tas kecil yang tergantung di dinding terjatuh. Detak jantungpun bergelegak semakin keras. Antara terkejut, takut dan berani campur jadi satu. Kemudian saya mendengar suara sepatu meninggalkan kamar itu menuju kamar tengah.

Hari Minggu berikutnya, seperti biasa saya bersih-bersih rumah tengah. Namun kali ini saya membawa cermin bulat dan handphone yang ada kameranya. Sebelum bersih-bersih, saya masuk kamar tidur Barat. saya pegang cermin dengan tangan kiri dan tepat di muka saya. Artinya, melalui cermin itu, saya bisa melihat belakang saya. Kemudian, handphone saya setting kamera. kamera saya hadapkan ke cermin.

“Oh, Tuhan…!,” saya terkejut sekali. Bulu kudukpun berdiri. Badan agak tergetar. Melalui kamera yang saya hadapkan ke cermin itu, saya tahu di belakang saya ada sosok berjubah putih, rambut panjang dan mata hitam kelam. Namun, belum sempat saya foto, dia sudah menghilang.

“Assalamu,alaikum. Maksud saya baik.Boleh kenalan?” saya bertanya. Suara saya bergema. Tidak ada jawaban. Sepi. Seram dan menakutkan. Sesudah dari kamar tidur Barat sayapun ke kamar tidur Timur. Dengan memegang cermin di tangan kiri dan handphone tangan kanan dan saya arahkan ke cermin, saya melihat perempuan muda cantik ada di belakang saya.

“Assalamu,alaikum. Boleh kenalan?” saya bertanya kepadanya. Dia diam saja.Tidak menjawab. Tiba-tiba hilang dari pandangan. Dengan cara serupa, saya masuki kamar mandi, gudang, dapur, kamar kerja depan dan kamar-kamar lainnya.Total ada tujuh ruangan. Tiap ruangan dihuni satu mahluk halus. Semua bisa saya lihat melalui kamera handphone. Semua menyeramkan. Misalnya, yang di gudang, wajahnya mirip babi. Yang di dapur kepalanya hanya tengkorak saja. Sedangkan yang di kamar mandi wajahnya mirip kelelawar.

Saya telah berhasil melihat mereka, tetapi saya belum tahu bagaimana caranya supaya saya bisa berbicara dengan mereka.

Esok harinya, saya kerja di Warnet dan Lembaga Pendidikan Komputer INDODATA milik saya yang saya buka di pendopo. Karyawan saya hanya tiga, yaitu mBak Farida Asni (sekarang bekerja di SMPN 1), mBak Ira Rahadina (sekarang menjadi guru ) dan Joko Suryanto (sekarang menjadi guru di Parengan). Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan mereka bertiga, maka dapat inspirasi untuk mencoba sebuah cara. Yaitu dengan cara memegang garpu dan sendok. Garpu berfungsi menangkap sinyal-sinyal dari dimensi mereka. Sedangkan sendok untuk memantulkan suara saya ke para mahluk halus.

Esok harinya, kebetulan hari Minggu. Sayapun memasuki rumah tengah yang kuno, besar dan angker itu. Saya pegang garpu di tangan kiri dan sendok di tangan kanan. Handphone saya matikan

“Assalamu’alaikum” salam saya ketika memasuki ruang tengah.

“Wa’alaikum salam,” tiba-tiba ada jawaban. Entah darimana asalnya, saya tidak bisa melihat, sebab handphone saya matikan.

“Boleh kenalan?” saya memberanikan bertanya. Takut dan berani campur jadi satu.

“Boleh, asal tidak mengganggu kami,” jawabnya. Suara laki-laki.

“Berapa jumlah teman Anda di rumah ini?”

“Di rumah tengah ini ada tujuh orang, di pavilyun Timur kosong, di pavilyun Barat ada lima dan di kantor notaris ada kosong. Total ada 12 teman saya, termasuk saya”

“Kenapa kalian menempati rumah-rumah kami?”

“Rumah atau kamar yang dibiarkan kosong lebih daro 30 hari kami anggap merupakan rumah kami,” jawabnya.

“Anda siapa namanya? Dari mana saya sebenar Anda dan teman-teman?” saya ingin tahu. Tangan kiri tetap memegang garpu dan tangan kanan memegang sendok.

“Nama saya Truno. Saya dan kawan-kawan korban perang di zaman penjajahan Belanda dulu. Sebenarnya kami tewas di stasiun, namun kami menemukan rumah ini, kosong.Maka rumah ini kami tempati”

“Jadi, kalian bukan mahluk halus setan dan jin?” tanya saya.

“Bukan, kami roh yang meninggal dan tidak dishalatkan. Kami meninggal karena disiksa Belanda.”

“Astaga,” saya terkejut mendengar ceritanya.

“Lantas, apa yang Anda inginkan?”

“Saya minta tolong, agar sampeyan, sesudah shalat fardlu, mendoakan kami supaya kami bisa diterima Allah swt. Minimal, saya dan kawan-kawab akan pindah dari rumah ini,” jelas sekali suara mahluk halus itu.

Esok harinya, saya meminta bantuan ustadz Muztahir Hirien untuk mendoakan mereka dan sekaligus meminta mereka pindah secara baik-baik. Dari kamar ke kamar ustadz Muztahir berdoa dengan tenang dan berwibawa. Butuh waktu sekitaar satu jam ritual itu. Sedangkan saya bertugas memercikkan air dari sebuah gelas ke setiap ruangan. Air itu sudaah diberi doa oleh ustadz Muztahir.

Hari-hari berikutnya, saya bisa membersihkan rumah tengah, rumah tua dengan perasaan yang nyaman. Tidak ada lagi suara-suara yang aneh. Tidak ada lagi bau wangi-wangian. Auranya berubah menjadi putih.

Tepat 17 Juni 2009, tepat hari ulang tahun saya, sayapun pindah ke BSD City Tangerang. Sebab, tanah dan rumah itu sudah laku terjual. Dibeli tetangga.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Sumber foto: Farida Asni,Bojonegoro

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: