CERPEN: Kisah Dora dan Dama

SAYA termasuk penyayang binatang. Namun yang saya pelihara adalah binatang yang cerdas dan lucu. Akhirnya saya dapatkan seekor kucing betina, cerdas dan lucu. Saya beri nama Dora. Kenapa saya beri nama Dora? Ya, asal saja.

Seminggu kemudian saya dapatkan seekor anjing jantan, lucu dan cerdas. Saya beri nama Dama. Kenapa saya beri nama Dama? Ya, asal saja.

Mira, anak perempuan saya yang berusia lima tahun sangat sayang dengan Dora. Sebaliknya Aditya, anak laki-laki saya yang berusia tujuh tahun sangat suka dengan Dama. Maya, istri saya, sayang Dora. Dan saya sangat suka dengan Dama.

Di rumah Dora dan Dama saya lepas bebas. Uniknya, mereka berdua tak pernah bertengkar. Justru, mereka berdua sering saling becanda seperti kakak dan adik. Kadang kejar-kejaran, bergumul pura-pura menggigit, ber-“ciluk ba” dan lain-lain. Sungguh, binatang yang menggemaskan.

Uniknya, mereka juga suka nonton televisi. Dora paling suka nonton acara filem kartun. Sedangkan Dama suka nonton acara balap motor atau balap mobil. Bahkan kalau ditawari makananpun, mereka tidak memakannya, kecuali acara televisi kesukaannya sudah selesai.

Dora dan Dama saya ajari cara BAB (Buang Air Besar) di WC jongkok. Semula agak susah juga. Namun karena mereka cerdas, maka dalam waktu singkat, mereka sudah mengerti. Habis BAB, Dora atau Dama menginjak tombol yang sudah saya atur sedemikian rupa. Mereka menyiram BAB-nya sendiri sampai bersih.

Namun, suatu hari Mira berteriak-teriak ke saya.

“Papa! Papa!…Kenapa Si Dora dan Si Dama? Kok diam saja, Pa?”

Sayapun segera mencari Dora dan Dama. Benar, saya melihat mereka berdua terkulai lemas di lantai di dekat kandangnya. Ketika saya gerak-gerakkanpun mereka kurang bergairah. Sinar matanya tampak lesu.

“Ada apa, Pa?” Istri saya, Maya, ingin tahu. Baru saja selesai masak di dapur.

“Mungkin Dora dan Dama sakit, Ma. Entah kenapa, saya tidak tahu”

“Bawa ke Dokter Hernik saja, Pa” Usul Aditya.

Kebetulan hari itu Sabtu. Saya tak ke kantor. Kebetulan pula Mira dan Aditya masih libur. Segera saya, Maya, Mira dan Aditya segera membawa Dora dan Dama ke Dokter Hernik, dokter hewan.

Sesudah diperiksa, Dokter Hernikpun memberikan penjelasan.

“Mereka berdua kena sakit, Pak Harry. Dora dan Dama harus rawat inap di sini. Sekitar dua tiga hari. Bagaimna?”.

Setelah saya meminta pendapat Maya dan anak-anak, akhirnya saya menyetujui saran dokter hewan itu. Akhirnya, saya sekeluarga meninggalkan sementara waktu Dora dan Dama yang merupakan kesayangan kami.

Tiga hari rumah saya sepi. Tidak ada suara meong-meong. Tidak ada suara guk-guk. Tak ada canda Dora. Tak ada canda Dama.

Syukurlah, hari keempat Dora dan Dama bersama kami lagi. Wajahnya cerah dan lincah. Kembali lucu seperti sediakala. Begitu kami menyayanginya, kadang-kadang Dora dan Damapun menemani kami tidur di tempat tidur. Pagi-pagi Subuh, Dora dan Dama membangunkan kami dengan bunyi meong-meong dan guk-guknya yang khas itu.

Namun, beberapa minggu kemudian ternyata ada keanehan.

“Pa, kok Dora hamil? Dihamili Dama, ya?” Mira ingin tahu.

“Ah, ya nggak mungkin. Dari teori genetika tidak mungkin anjing menghamili kucing” Komentar saya setelah tahu bahwa Dora memang hamil.

“Tapi, kalau Tuhan menghendaki, kan bisa saja,Pa?” Celoteh Aditya.

“Ah,ngawur saja kamu” Saya marahi Aditya.

Seribu tanda tanya muncul di benak saya. Mungkinkah anjing menghamili kucing? Rasa-rasanya saya belum pernah membaca berita ada anjing jantan bisa menghamili kucing betina. Jadi, bagaimana itu bisa terjadi? Aneh!

Karena saya bukan ahli binatang, sayapun telepon ke Dokter Hernik. Dokter itu terkejut mendengar cerita saya. Namun akhirnya dokter hewan itu baru sadar dan memberikan penjelasan.

“Oh, maaf Pak Harry. Di tempat saya, kandang kucingnya penuh. Terpaksa saya campur dengan kucing lain tetapi sejenis. Saya lupa kalau kucing saya kucing jantan. Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Atas kesalahan saya, saya bersedia memberi ganti rugi, Pak” Begitu suara Dokter Hernik di telepon.

Saya tidak marah. Justru saya mengucapkan terima kasih.

“Tidak apa-apa, Dok. Justru saya mengucapkan terima kasih karena sebentar lagi saya punya banyak kucing yang lucu-lucu. Wah, kita bisa besanan,nih”

“Ha ha ha…Besanan, Pak? Bisa-bisa saja” Dokter Hernik tertawa senang karena saya tak menuntut ganti rugi apapun.

Begitulah, akhirnya Dora benar-benar melahirkan empat anak. Tiga hidup satu mati. Karena saya takut anak-anak Dora dimakan Dama, maka terpaksa saya harus menempatkan anak-anak Dora dan Dora di dalam kandang khusus. Anak-anak saya suka melihat kucing-kucing kecil yang berebut menyusu ke induknya itu. Uniknya, ketiga kucing kecil itu masing-masing punya warna bulu berbeda. Coklat, hitam dan putih. Semua lucu-lucu.

Dan tak heran dalam waktu satu-dua bulan anak-anak kucing itu telah besar. Saya berinama mereka Si Coklat, Si Hitam dan Si Putih. Semua betina. Sayapun punya kesibukan lagi. Mengajari kucing-kucing itu supaya menjadi kucing yang cerdas dan lucu.

Akhirnya, suasana rumah saya menjadi semakin ramai dan meriah. Apalagi kalau saya sedang memakai komputer. Anak-anak kucing itu berebut naik meja melihat ke layar monitor.

Manakala saya membuka Facebook, ketiga anak-anak kucing itupun serempak memberi respon.

“Meong… ! Meong… ! Meong…!”

Kelihatannya, anak-anak kucing itu penggemar Facebook juga..

Sumber foto: acehforum.or.id

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: