CERPEN: Separuh Jiwaku Pergi

JAKARTA,Minggu 8 November 2009. Hari ini hari terakhir pameran Indocomtech 2009 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) dekat Jembatan Semanggi, Jakarta. Karena itu merupakan pameran komputer teknologi terkini, maka dengan mengendarai Honda Freed putih yang baru saya beli, sayapun meluncur ke JCC tersebut.

Ternyata pengunjungnya luar biasa banyak. Seperti biasa saya berjalan dari anjungan ke anjungan untuk melihat produk-produk yang ditawarkan. Hari itu rasanya cukup menyenangkan karena beberapa kali saya bertemu dengan teman lama.

Namun kunjungan saya ke JCC juga mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu, di mana saya sempat berkenalan dengan salah seorang gadis penjaga anjungan.

“Nama saya,Krisdiana” katanya menjawab pertanyaan saya. Sayapun bersalaman. Saat itu sedang ada pameran mobil dan motor. Gadis itu ramping, berambut pendek, putih. Mirip Krisdayanti. Saat itu juga hari Minggu, tanggalnya lupa, tetapi pasti bulan November tahun 1999.

Itulah awal saya kenal. Tentu tak salah kalau saya jatuh cinta. Apalagi saya masih bujangan. Sayapun hari Minggu berikutnya ke rumah Krisdiana di kawasan Bintaro, Sektor 3. Sebuah rumah tipe sedang, minimalis tetapi terkesan mewah.

“Wah, saya kira nggak jadi ke sini” Diapun mempersilahkan saya duduk. Diperkenalkannya saya dengan mama dan kedua adik perempuannya. Papanya sudah lama meninggal karena sakit. Jadi, rumah itu isinya perempuan semua.

“Oh, saya kalau janji pasti saya tepati”. Sayapun mengobrol. Enak juga bicaranya. Krisdiana ternyata alumni Fakultas Psikologi UI. Karena belum dapat kerja, iseng-iseng menjadi penjaga anjungan pameran yang sebenarnya hanya cocok untuk lulusan SMA.

Tanpa terasa, hubungan saya berlangsung satu tahun. Karena saya sudah punya rumah di Perumahan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara, sudah punya mobil Honda, dan sudah bekerja di PT Ayodya Pratama Komputindo di Setiabudi Building I, maka sayapun memberanikan diri melamar Krisdiana yang cantik dan rajin shalat itu.

Pernikahan cukup sederhana dan hanya keluarga saya dan keluarga Kris yang hadir. Yang penting pernikahan sah. Karena kebetulan sama-sama Jawa, maka kami mengenakan pakaian adat Jawa.

Hari demi hari hanya rasa indah saja yang saya rasakan. Bulan madu hanya ke Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu. Banyak kenangan indah yang saya abadikan dalam bentuk foto.

Tetapi prahara itupun datang tanpa sengaja.Ketika saya berada di kantor, salah seorang tetangga saya telepon.

“Betul,Mas. Saya melihat sendiri. Kalau itu kakak laki-lakinya tidak mungkin. Bukankah Mas Harry pernah bilang kalau Krisdiana tidak punya kakak laki-laki?” Begitu penjelasan tetangga saya lewat telepon.

Namun sepulang dari kantor, saya lupa menanyakan hal itu ke Krisdiana. Bahkan hari berikutnya juga tidak saya tanyakan. Saya khawatir pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya.

Sampai akhirnya, ketika saya hanya setengah hari kerja di kantor karena kepala saya agak pusing, maka saya pulanglah sesudah izin ke atasan saya. Begitulah. Ketika mobil yang saya kendarai mulai memasuki jalan menuju rumah, saya melihat ada mobil BMW parkir di depan rumah.

“Kenalkan Mas Harry, ini bekas teman kuliah. Kami sedang merencanakan reuni”. Kris memperkenalkan laki-laki itu. Dia berdiri menyalami saya. Tak lama kemudian laki-laki itu pamit pulang.

Karena tak ada bukti-bukti yang kuat tentang adanya perselingkuhan, maka kehidupan sayapun berlangsung biasa-biasa saja. Sampai suatu saat ketika saya dan Krisdiana menjalankan ibadah umroh, saya sangat terkejut mendengar ucapan Krisdiana.

“Maaf Mas. Lebih baik saya terus terang saja. Selama ini saya telah berbuat dosa banyak. Saya minta cerai saja,Mas” Seperti disambar petir saya mendengarnya.

“Kenapa” Saya ingin tahu.

“Sudah sejak mahasiswa saya berpacaran sama dia,Mas. Laki-laki yang sering ke rumah, Johan namanya. Sesudah lulus, dia ke Amerika. Sejak itu tak ada kabarnya. Ternyata kami bertemu lagi,Mas” Kridiana menjelaskan.

Lebih menyakitkan lagi, Krisdiana mengaku sejak kuliah sudah berhubungan intim dengan pacarnya itu. Sakit! Sakit sekali. Sebagai laki-laki saya merasa dipermainkan. Merasa ditipu. Merasa dikhianati. Tak saya sangka keindahan-keindahan yang saya nikmati selama ini cuma merupakan keindahan semu saja. Akhirnya, saya memutuskan cerai saja dengan Krisdiana. Saya pikir, masih banyak wanita lain yang cantik, baik hati dan setia.

Tiba-tiba saya tersadar ketika salah seorang penjaga anjungan bertanya ke saya.

“Bagaimana, jadi beli notebooknya,nggak? Boleh ditawar,kok”

-“Oh, anu…hmm..saya pikir-pikir dulu” Saya baru sadar kalau hari itu saya sedang di pameran Indocomtech 2009.

“Oh! Cinta memang punya dua sisi. Bisa sebagai madu.Bisa sebagai racun”

Sayapun segera meninggalkan JCC dan sempat saya mendengar lagu yang diputar di salah satu anjungan. Lagu “Separuh Jiwaku Pergi” yang dibawakan oleh Anang. Tiap kali saya mendengar lagu itu, hati saya terasa teriris-iris.

Video “Separuh Jiwaku Pergi” (Anang):

Sumber foto: inasgo.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: