CERPEN: Cintaku Biru di Universitas Bengkulu

BENGKULU. Betapa gembira hati saya ketika membaca pengumuman di papan pengumuman Universitas Bengkulu bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di fakultas hukum. Esok harinya saya segera melengkapi semua syarat administrasi termasuk biaya kuliah dan lain-lain.

Tepat pada waktunya, hari pertama masuk adalah pengarahan tentang masa orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek). Saat itu masih boleh berpakaian bebas. Tanpa saya rencanakan sebelah saya duduk calon mahasiswi baru. Sayapun langsung memperkenalkan diri.

“Harry. Harry Laksamana,” saya menjabat tangannya.

“Oh, saya Gita. Gita Asmarawati,” dia membalas perkenalan saya.

Sesudah itu kami berdiam. Mencatat petunjuk raka (mahasiswa senior) tentang apa saja yang harus kami bawa esok hari di hari pertama ospek. Sesudah selesai pengarahan, sayapun makan siang dulu di kantin kampus. Lagi-lagi, saya bertemu lagi dengan Gita. Kamipun duduk berdua dan ternyata punya selera makanan dan minuman yang sama.

Selesai makan siang saya langsung menuju ke tempat parkir sepeda motor. Eh, lagi-lagi di perjalanan saya bertemu dengan Gita lagi. Ternyata rumahnya tak jauh dari rumah saya.

“Kok, saya tidak pernah melihat Gita,” saya ingin tahu sambil terus mengendarai motor berdampingan dengan motor Gita.

“Iya, saya lulusan dari Medan,’ jawabnya dalam logat Batak. Nama lengkap Gita yaitu Gita Asmarawati Tampubolon.

Esok harinya mulailah acara ospek. Semua cama-cami harus mengenakan baju dan celana berwarna putih tiap hari. Tidak boleh kotor. Acaranya tidak sekejam mapram. Gojlokan memang ada tetapi masih di batas yang wajar. Paling disuruh menyanyi, berjoget,merayu cewek dan mengumpulkan tanda tangan sebanyak-banyaknya dari para mahasiswa senior.

“Wah, bisa bantu saya nggak.” Tanya Gita sepulang ospek. Maklum, hari itu semua cama-cami dapat tugas agar esok membawa kayu bakar sebanyak tiga batang dengan ukuran dan panjang tertentu.

“Oke! Kita cari bersama-sama,” saya menyetujui untuk membantu Gita.

Begitulah, dari hari ke hari saya selalu saling bekerja sama dengan Gita di dalam merealisasikan tugas-tugas dari panitia ospek. Apakah saya jatuh cinta? Ya, jujur saja saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun saya tidak langsung mengatakan sebab kami masih dalam tahap pedekate dan menyelami sifat dan kebiasaan masing-masing.

Hari terakhir ospek diakhiri dengan acara berkemah di sekitar Danau Toba sekalian berekreasi. Tidak ada acara gojlokan di sini karena acaranya murni rekreasi. Tak lupa saya dan Gita sering berfoto bersama. Dari bahasa tubuhnya saya menafsirkan bahwa Gita bisa menerima cinta saya. Itulah sebabnya saya tak menyatakan cinta secara lisan maupun tulisan. Bahkan ketika saya mencium bibirnya, dia diam saja.

Saat itu saya merasakan betapa indahnya cinta kami berdua. Hari demi hari adalah hari yang indah. Hari demi hari hanya ada rasa senang di hati saya. Sayapun sudah dikenal kedua orang tuanya dengan baik. Begitu pula kedua orang tua saya sudah mengenal Gita secara positif.

Saat kuliahpun kami selalu duduk berdampingan. Diam-diam saya mengakui Gita memang merupakan salah satu mahasiswi tercantik di fakultas hukum. Jangan heran kalau ada beberapa mahasiswa terutama yang sudah senior mencoba mendekati Gita. Untunglah, Gita tetap dekat dengan saya.

Tiap Minggu kami pasti berkeliling kota terutama ke tempat-tempat rekreasi atau tempat bersejarah. Antara lain ke sebuah rumah yang dulu pernah ditempati Bung Karno. Juga ke Benteng Malboro. Juga ke pantai Bengkulu. Tak lupa makan ketupat Bengkulu yang terkenal lezat itu. Apalagi kalau bumbunya pedas, saya suka sekali.

Kadang-kadang kami juga ke mal. Kalau saya beli T-Shirt, maka Gitalah yang memilihkannya. Ternyata pilihan Gita tepat sesuai dengan selera saya. Begitu pula ketika saya memilihkan T-Shirt untuknya, ternyata dia tertawa senang sekali.

“Wow, tepat sekali.Warna cream warna favorit Gita.” Begitu ungkapan kegembiraannya sewaktu kami berada di mal.

Hari-hari indah kami nikmati bersama. Satu bulan dua bulan. Satu tahun dua tahun. Akhirnya tanpa terasa, saya telah memasuki semester kelima.

Nah, di sini ada sesuatu yang tidak pernah saya pahami. Tiba-tiba saja Gita tak mau lagi bersama saya. Tidak cuma satu hari, tetapi berhari-hari sampai satu bulan. Kalau saya dekati, selalu menghindar.

Pernah saya coba bertanya langsung, tetapi Gita menghindar. Saya datangi ke rumahnya, tidak pernah mau keluar. Ketika saya tanyakan ke teman-teman dekatnya, termasuk ke maminya, semua menjawab tidak tahu. Saya kirim surat tidak dibalas. Saya telepon, langsung ditutup.

“Apa salah saya, Gita? Kalau memang saya salah, saya meminta maaf,” tanya saya. Namun Gita segera menghindar ke teman-teman kuliahnya. Adakah cowok lain yang singgah di hatinya? Tidak juga. Di kampus dia selalu bersama teman wanitanya. Tiap malam Minggu juga tidak ada cowok datang ke rumahnya. Bahkan saya tidak pernah melihat Gita bersama cowok lain.

Terus terang saya jadi bingung. Apakah saya punya kesalahan? Kesalahan apa? Mungkinkah Gita kena fitnah? Atau barangkali ada pihak ketiga yang bermain black magic agar hubungan kami putus? Sejuta pertanyaan ada dipikiran saya. Namun, tidak ada jawaban yang pasti. Apakah lebih baik cari cewek lain toh di fakultas hukum banyak mahasiswi yang cantik. Namun, rencana ini tak pernah menjadi kenyataaan sebab saya masih mencintai Gita.

Tanpa terasa, ujian semester enam telah selesai. Nilai ujian saya merosot. Mungkin akibat sikap Gita yang misterius itu. Akhirnya, dengan sangat berat, saya terpaksa harus meninggalkan Universitas Bengkulu. Saya pandangi kampus itu untuk terakhir kalinya. Di situlah, cintaku biru, sebiru warna dinding Universitas Bengkulu.

Akhirnya, saya memutuskan meneruskan kuliah di fakultas hukum di Jakarta. Saya tinggalkan segala kenangan indah pernah saya miliki. Sebuah cinta biru yang berakhir dengan misteri-misteri yang sampai hari ini saya tidak pernah menemukan jawabannya.

Sumberfoto: skyscrapercity.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: