CERPEN: Siti Kuntilani Si Hantu Warnet

JEMBER. Di kota ini, tepatnya dekat kantor pos, saya mendirikan sebuah warnet dengan fasilitas 20 unit komputer. Buka mulai pukul 09:00-21:00 setelah itu tutup. Lumayanlah bisnis warnet di kota ini. Cukup ramai.

Tempat itu saya beli sekitar dua tahun yang lalu dan sekaligus saya jadikan tempat tinggal. Saya hanya punya empat karyawan. Shift pagi dua karyawan dan shift sore dua karyawan.

Seperti biasa, setelah wartnet tutup, sayapun mulai online untuk membuat atau mengedit beberapa situs. Maklum, di samping warnet saya juga membuka jasa layanan pembuatan situs. Pemesannya se-Indonesia.

Malam semakin larut. Suasana agak sepi. Lampu warnet hanya saya nyalakan sebuah saja. Lebih sepi lagi karena di rumah itu saya tinggal sendiri. Maklum, saat itu saya masih bujangan. Lalu lintas di luar warnet juga mulai sepi.

Sedang asyik-asyiknya saya menggerak-gerakkan mouse, tiba-tiba saya mendengar ada kursi digeser dan seolah-olah ada orang yang duduk. Sayapun keluar dari sekat nomor 1 tempat saya lembur.

Begitu saya melihat ada cewek duduk di kursi warnet, jantungpun berdetak serasa meledak. Aneh, padahal semua pintu warnet sudah terkunci semua. Cewek itu bisa saya lihat dengan jelas, duduk menghadapi komputer layaknya sedang ngenet. Kebetulan komputer di sekat nomor 5 itu belum saya matikan.

Walaupun cuma satu lampu yang saya nyalakan, namun lampu TL 20 watt ini cukup menerangi cewek itu. Berambut pendek, berbaju kota-kotak dan mengenakan celana jean ketat dan sepatu hak tinggi. Wajahnya lumayan cantik.

Namun karena saya yakin hantu, maka sayapun mencoba membaca ayat Qursi. Ternyata memori otak saya blank. Saya tidak mampu berdoa. Akhirnya, dengan setengah takut setengah berani, cewek itupun saya sapa.

-“Siapa, ya?”

Cewek itu melihat saya dan tersenyum.

-“Kaget ya,Mas? Maaf kalau kaget. Saya tidak bermaksud menganggu,kok.” Jawabnya sangat jelas.

Diapun melanjutkan ucapannya. Sementara rasa takut saya mulai berkurang sedikit. Meskipun demikian jantung tetap berdetak keras.

-”Sebenarnya saya sudah lama tinggal di rumah ini. Sudah sekitar 50 tahun. Sebelum rumah ini dibangun, berdiri rumah orang tua saya.”

-”Lantas, kenapa baru sekarang menampakkan diri?.” Saya ingin tahu.

-”Ya, sebenarnya tiap hari, baik siang atau malam saya selalu di warnet ini. Melihat para netter. Jaman saya dulu internet belum ada, Mas. Sambil melihat para netter sayapun mempelajari internet. Sayapun pernah mencoba membuat e-mail dan online sendiri saat Mas sudah tidur”. Cewek yang belum saya ketahui itu bercerita.

-”Kalau boleh tahu, siapa nama mBak?” Saya penasaran untuk mengetahui lebih lanjut tentang cewek itu.

-”Nama saya, Siti Kuntilani. Biasa dipanggil Anik. Saya baru berani menampilkan diri karena saya yakin Mas mau menolong saya. Saya tahu, Mas orangnya baik dan rajin shalat”. Pintanya.

-”Maksudnya?” Saya jadi penasaran.

-”Begini,Mas. Sekitar 50 tahun yang lalu, saya sudah berkeluarga. Ternyata suami saya seorang pencemburu. Kami sering bertengkar. Bahkan saya sering ditampar, dipukul dan ditendang. Akhirnya, suatu ketika suami saya mengambil pisau dan ditusukkan di tubuh saya berkali-kali”. Cewek itu terus bercerita.

Malam semakin larut. Saya lihat sudah pukul 24:00. Itu adalah pengalaman saya bertemu dengan mahluk halus dan bercakap-cakap. Untunglah dia bukan setan atau jin jahat, melainkan arwah penasaran.

Cewek itupun melanjutkan ceritanya.

-”Akhirnya saya dibunuh. Mayat saya di kubur di bawah lantai rumah ini. Tepatnya di kamar tidur sebelah Barat. Arwah saya belum bisa diterima alam baka, melainkan masih berkeliaran di alam fana ini. Oleh sebab itu, Mas. Saya minta tolong”.Pinta Siti Kuntilani.

-”Minta tolong apa? Kalau bisa akan saya lakukan. Kalau tidak, saya minta maaf.”

-”Begini,Mas. Tolong, kerangka saya diambil. Masih utuh,kok. Tolong kerangka itu dimandikan secara Islam dan dikubur secara Islam”

-”Boleh saya tahu. Apakah mBak Siti masih punya saudara, atau famili yang masih hidup? Kalau ada, di mana alamatnya?”. Saya mulai berani bercakap-cakap dengan roh Siti Kuntilani. Sayapun mencatat nama dan alamat familinya yang masih hidup.

-”Oke! Akan saya usahakan untuk membantu mBak Anik”. Begitu janji saya.

-”Terima kasih, Mas. Hanya Allah swt yang bisa membalas amal baik,Mas”.Ucapnya. Dan setelah itu tiba-tiba Siti Kuntilani lenyap dari pandangan mata saya.

Saya usap mata saya. Ya, dia benar-benar menghiulang. Saya yakin saya tidak mimpi atau berimajinasi. Saya yakin apa yang saya alami benar-benar nyata. Hari telah pukul 01:00 dinihari. Saya lembur hingga pukul 02:00 dini hari kemudian tidur di ruang warnet.

Esok harinya saya ke Ketua RT dan Ketua RW menceritakan pengalaman semalam. Kemudian ke kantor kelurahan dan akhirnya ke kantor polisi. Sesudah itu menghubungi famili-famili Siti Kuntilani yang masih hidup. Kemudian mencari tukang gali kubur.

Dua hari kemudian, Ketua RT,Ketua RW, Lurah dan kepolisian serta famili-famili Siti Kuntilanipun hadir. Juga ada beberapa warga atau tetangga.

Penggalianpun dilakukan dengan hati-hati. Ada dua wartawan yang mengabadikan peristiwa itu.Benar. Sekitar 50 cm, maka terlihatlah kerangka yang benar-benar masih utuh dan beberapa helai rambut. Sesuai dengan pesan almarhum, maka kerangka itupun dimandikan secara Islam. Agak aneh juga bagi saya, kerangka kok dimandikan. Tapi itu adalah amanah, tak ada salahnya dilakukan. Sesudah itu, siangnya dimakamkan di tempat sesuai yang diinginkan famili-famili almarhum. Dimakamkan secara Islam juga.

Hari berikutnya saya harus datang ke kantor polisi. Polisi mengajukan banyak pertanyaan. Hampir tiga jam. Sesudah itu famili-famili almarhum juga dimintai keterangan. Biasalah, itu memang  merupakan salah satu tugas polisi.

Menurut kesaksian seorang ahli, kerangka itu memang sudah berumur sekitar 50 tahun dan informasi ini sudah disampaikan ke polisi. Itu artinya, 50 tahun yang lalu saya belum lahir. Kalau saya dicurigai membunuh, tentu tidak masuk akal.

Esok harinya, rumah yang saya jadikan tempat bisnis warnet mulai ramai lagi. Bahkan tambah ramai. Aura bisnis sayapun bersinar terang.

Sumber foto:jenglot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen sejak 1973

Satu Tanggapan

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: