CERPEN: Misteri Tragedi Conoco Offshore Cirebon

SELESAI wisuda Akademi Bahasa Asing “Jakarta” (ABAJ) di Kebayoran Inn, saya dan teman-teman masih tetap berkumpul. Yaitu, meneruskan arisan persahabatan yang sudah dimulai sejak masih berstatus mahasiswa ABAJ tersebut.

Lulus 1980, salah seorang sahabat baik saya yang lulus cum laude, langsung diterima di Conoco Oil Company. Maklum, dia cerdas, jujur dan bahasa Inggerisnya bagus sekali. Pergaulannya juga baik. Sebagai seorang Kristiani, dia juga aktif ke gereja. Juga, pernah menjadi Ketua Senat ABAJ.walaupun dia WNI Keturunan Cina, namun dia benar-benar berjiwa nasionalis. namanya, Darmawan Sulyanto. Biasa dipanggil Iwan.

Anggota arisan sekitar 25 alumni. Antara lain Armi Helena Nasution, Inggah Silanawati, Puri Yulianti, Monalisa, Hetty Hutauruk, Widhianto, saya dan beberapa sahabat baik lainnya. Semuanya tergolong disiplin dalam kegiatan arisan.

“Bulan depan arisan di rumah saya ya?” ujar Iwan ketika penarikan arisan saat itu jatuh pada namanya. Artinya, arisan berikutnya harus diadakan di rumahnya. Dan itu terjadi sebulan kemudian, yaitu di Jl. Cilandak, Jakarta Selatan.

Saat itu saya yang pertama kali datang.

“Iwan, kok kamu berpakaian putih-putih? Memangnya mau upacara di mana?” canda saya seperti biasa. Saya lihat Iwan memakai baju putih, celana putih, kaos kaki putih dan sepatu olah raga putih.

“Ha ha ha…..Kebetulan saja warnanya putih. Tidak saya rencanakan,kok. Kebetulan pakaian lainnya sedang dicuci…,” santai jawaban Ian yang berkulit putih dan bermata sipit itu.

Tak lama kemudian, satu persatu teman-temanpun berdatangan. Semua memberi komentar yang sama terhadap Iwan yang berpakaian serba putih itu. Mereka menganggap Iwan akan melakukan upacara. Tentu saaja Iwan tertawa saja diledekin seperti itu. Selama ini saya belum pernah melihat Iwan marah. Selalu senyum ramah. rasa-rasanya dia tak pernah sakit hati ataupun bersedih. Selalu ceria.

Namun, satu bulan kemudian saya mendapat telepon dari Armi. Saat itu saya kos di Jl. Antene, Radio Dalam. Rumah John Simamora.

“Harry, sudah dengar kabar?” suara Armi di telepon.

“Apa itu?”

“Iwan,Harry,” katanya lagi.Cuma sepotong-sepotong.

“Iwan kenapa?” saya penasaran.

“Saya dapat telepon dari Dewi, adik Iwan. katanya Iwan meninggal karena kebakaran di tempat kerjanya. Di Conoco offshore Cirebon….,” Armi memberikan informasi agak lengkap.

“Astaga…!” saya terkejut mendengar itu. Setelah berbicara secukupnya dengan Armi, saya langsung menelepon ke Dewi untuk mencek kebenaran informasi itu. Iseng-iseng saya membeli Harian Kompas. Ternyata di harian itu jelas tertulis berita tentang kebakaran di Conoco Ofshore Cirebon. Bahkan disebutkan dengan jelas Iwan adalah satu-satunya kurban dalam peristiwa kebakaran di lepas pantai itu.

Dengan mengendarai motor, saya langsung tancap gas ke rumah Iwan di Jl. Cilandak. Saya disambut ayah, ibu dan Dewi dengan tangis haru. Katanya, jenasah Iwan tidak ditemukan.

“Oh, my God!,” seru saya. Betapa buruk berita iitu, jenasah Iwan yang tercebur ke laut tidak ditemukan. Sejak hari itu segala upaya diusahakan untuk mencari jenasah almarhum. Pihak Conoco, pihak keluarga dan pihak masyarakat pesisir pantai, termasuk para nelayan turut membantu. bahkan tim SAR juga turut membantu. Karena berhari-hari tidak ditemukan, maka coba-coba menggunakan tenaga paranormal. katanya, beberapa hari lagi akan ditemukan.

Benar saja, menurut info yang saya dapat, jenasah Iwan ditemukan masyarakat . Terdampar di pantai. Kakinya tidak utuh. Ada kemungkinan dimakan binatang laut. Jenasah kemudian dikirim ke Jakarta dan langsung ke rumah ayahnya di Jl. Cilandak.

Satu dua hari kemudian, jenasahpun dimakamkan di Taman Makam Umum di Kavveling Kristen di Tanah Kusir. Sebuah acara yang sangat mengharukan. sayapun turut bersediih karena kehilangan sahabat terbaik saya. sahabat yang cerdas. Teman diskusi yang menarik. Kini telah tiada.

Bulan berikutnya, acara arisan ttetap berjalan. Ngobrol sana ngobrol sini. Akhirnya soal meninggalnya Iwanpun menjadi bahan bahasan.

“Rasa-rasanya ada yang mistyerius deh kematian Iwan,” Armi membuka pembicaraan.

“Misteriusnya di mana?” tanya Inggah Silanawati.

“Menurut informasi yang saya teriima. Ada empat kejanggalan. Pertama, Iwan bukan perokok. Kenapa dikabarkan saat itu Iwan merokok? Padahal, merokok di offshore merupakan larangan keras.Kita tahu bahwa Iwan iitu sangat disiplin. Kedua, kenapa saat kebakaran, sirene kebakaran tidak berbunyi? Ketiga, kenapa Iwan satu-satunya yang tidak mendapatkan jaket pelampung? Keempat, kenapa saat kejadian, Iwan satu-satunya yang berada di tempat kebakaran itu?

Saya dan teman-teman menggeleng-gelengkan kepala tanda heran. Misteri-misteri itu coba kita bahas untuk mencari alternatif jawabannya. Namun, sangat sulit menemukan jawaban yang benar-benar masuk akal. Adakah unsur kesengajaan? Adakah unsur iri mengingat Iwan merupakan karyawan Conoco yang paling disayang boss-nya? Dan masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ditemukan jawabannya dengan jelas.

Peristiwa itu sudah lama terjadi. Tanggal, bulan tahunnya saya lupa. Namun sekitar 1980-an. Sebab, Iwan bekerja sesudah diwisuda. Sedangkan wisuda dilakukan pada 1980. Artinya, peristiwa itu sudah 30 tahun berlalu. namun, misteri-misteri tragedi Conoco offshore Cirebon belum ditemukan jawabannya.

Akhirnya saya pasrah. hanya Tuhan yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi saat kebakaran di lepas pantai itu. Hanya Tuhan yang bisa menjawab misteri-misteri itu. Sesungguhnya, kematian adalah merupakan rahasia Tuhan. Kehidupan memang kadang-kadang diliputi misteri.

Hikmah yang bisa saya petik yaitu, betapa pentingnya kiita selalu memperhatikan segala kemungkinan dan semua kemungkinan. Terutama orang-orang yang ada di sekitar kita. Tidak semuanya baik. bahkan ada yang pura-pura baik. Betapa perlunya mengantisipasi semua kejaadian: penipuan, perampokan, pengeroyokan, fitnah, kebakaran dan kejadian-kejadian lain yang sangat memungkinkan terjadi.

Kehidupan bukanlah matematika.Kehidupan adalah gabungan antara kenyataan dan misteri. Semoga, suatu saat nanti, misteri Conoco offshore Cirebon akan terjawab.

“Selamat jalan Iwan,” ucap saya sambil meninggalkan makam almarhum Iwan di Tanah Kusir.

Catatan:

Cerpen ini diilhami kejadian yang sesungguhnya.Maaf, jika ada salah tulis nama atau kejadian. Maklum, info itu saya terima dari banyak sumber.

 

Sumber foto: id.wikipedia.org dan koleksi pribadi

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Bloogger

CERPEN: Ketika Cinta Dihantam Prahara

SURABAYA 1971. Waktu itu saya merupakan siswa pindahan dari SMAN 4 Surabaya ke SMAN 6 Surabaya. Dari kelas 2 ke kelas 3 IPS. Dulu istilahnya Sos.Saya di 3 Sos 1. Saya satu kelas dengan Jully Jethro yang saat itu jadi pacarnya Arthur Kaunang, pemain band AKA.

Satu bulan, belum banyak siswa SMAN 6 yang saya kenal. Namun, ketika saya aktif menulis cerpen di buletin Elka,buletin sekolah, maka banyak siswa yang ingin kenal. Tidak hanya sesama kelas 3, tetapi juga adik-adik kelas 1 dan kelas 2.

“Yang mana sih yang namanya Harry?” begitu, hampir tiap hari ada siswa masuk ke kelas saya pada jam istirahat jika kebetulan saya sedang berada di kelas. Salah satunya bernama Lia Amelia, kelas 3 IPA 1.

“Boleh kan kenalan?” tanyanya. Dia ditemani seorang teman. Tentu saja saya menjawab boleh. Semula saya menganggap teman saja. Namun ketika pulang sekolah, saya lihat dia berdiri di depan sekolah.

“Mau pulang,ya?” saya menghentikan motor.

“Iya. Motor saya lagi di bengkel. Boleh nggak minta antar?” tanyanya. Tentu saja dengan senang hati saya mengatakan boleh. Diapun segera duduk di motor saya. Dan motor segera berjalan pelan. Sepanjang perjalanan ngobrol ke sana ngobrol ke sini. Dalam hati saya merasa tertarik juga. Di samping enak diajak bicara, Lia juga termasuk cantik. Sayang, tak bisa ngobrol lama, karena telah sampai di rumahnya di kawasan Jl.Pucang Anom Timur.

Itulah awalnya. Lia tahu, saya baru putus pacaran dengan siswa SMAN 4. Saya juga tahu, saat itu Lia masih berstatus pacarnya Wawan, teman sekelasnya. Namun tampaknya Lia agresif sekali melakukan pendekatan ke saya. Tanpa sengaja, hubungan Lia dan Wawanpun putus. Untung Wawan sabar, saya dan Wawan tetap bersahabat baik.

Begitulah. Akhirnya tiap malam Minggu saya apel ke rumah Lia. Bahkan tiap malam Minggu suka ke resto, jalan-jalan atau nonton bioskop. Bioskop pertama yang pertama kalinya saya tonton berjudul “Cintaku Jauh di Pulau” di Indra Theatre..

Walaupun saya pernah ganti-ganti pacar, namun dengan Lia saya merasakan cinta yang sesunggguhnya. Saya merasakan indahnya cinta. Hangatnya cinta. Tiada hari tanpa Lia. Di mana ada saya,di situ ada Lia. Semua siswa SMAN 6, mulai kelas 1 hingga kelas 3 tahu kalau Lia adalah pacar saya. Dan hidup terasa indah sekali. Bahkan saya berharap, Lia adalah cinta terakhir saya. Saya bosan ganti-ganti pacar.

Enam bulan tanpa terasa, kami saling memadu cinta. Sampai akhirnya Dika, teman sekelas bercerita, kalau Lia punya pacar lain.

“Kok, Dika tahu?” tanya saya pada jam istirahat. Kebetulan Lia tidak masuk sekolah karena sakit.

“Ya tahu,dong.Kan saya tetangga seberang rumah,” sahut Dika. Kami saat itu ngobrol di dalam kelas. Dikapun bercerita kalau tiap Minggu malam atau malam Senin, selalu ada mobil Mercy parkir di depan rumah Lia. Dan Lia pernah datang mencek siapa cowok itu.

“Cowoknya kuliah di Fakultas Hukum,Unair,Harry. Namanya Buddy. Maaf ya,Harry. Bukan maksud saya mengadu domba atau memecah belah hubungan Harry dan Lia. Cuma, saya menyampaikan informasi apa adanya,” ujar Lia yang juga berparas cantik itu.

Dua hari kemuudian, Lia telah masuk kembali ke sekolah. Sewaktu beli es campur kacang hijau di Selatan kantor pos, sayapun mencoba memancing info tentang pacar lain Lia. Namun Lia mengatakan kalau yang datang tiap Minggu malam adalah putera Om-nya. Dengan kata lain, cowok itu masih ada hubungan famili. Tidak mungkin menjadi pacarnya.

Karena penasaran, Minggu malampun saya nekat mendatangi rumah Lia. Benar saja, di situ ada mobil Mercy warna putih. Dan ketika saya masuk, saya lihat Lia sedang ngobrol dengan cowok itu. Terkesiap saya melihatnya. Masak sih, kalau masih ada hubungan famili, duduknya rapat dan semesra itu?

Sambil menahan emosi, sayapun memperkenalkan diri dengan cowok itu. Tidak lama saya ngobrol-ngobrol dengan Lia. Cuma pura-pura tanya tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan sekolah. Akhirnya, sayapun pulang.

Esok harinya. Pada jam istirahat, saya mengajak Lia ke Selatan kantor pos. Biasa, beli es campur kacang hijau atau terkenal dengan sebutan Es Pak Usup. Rasanya memang sangat enak dan cukup terkenal untuk ukuran Surabaya.

Saat itulah,saya tanya Lia agar Lia mau terus terang.

“Lia. Saya butuh kejujuran. Cowok kemarin saudara, teman atau pacar?” saya memulai pembicaraan. Semula Lia selalu membantah. Namun, akhirnya mengaku juga.

“Maaf,Harry. Buddy memang pacar saya. Tapi, mohon pengertiannya. Harry tahu kan kalau mama saya lagi dirawat di rumah sakit? Harry tahu kan papa saya sudah lama meninggal? Harry tahu kan selama ini yang membiayai sekolah saya Mbak Nina, kakak saya? Gaji Mbak Nina tidak cukup untuk membiayai biaya perawatan mama,Harry,” cerita Lia.

“Maksudnya?”

“Ya, selama ini Buddy yang membayarnya,” Lia mengaku. Saya ingat kata Dika, Buddy anaknya orang kaya yang tingggal di Jl.Diponeoro.

“Jadi, Lia ingin membalas budi?”

“Habis bagaimana,Harry? Solusinya bagaimana? Beri dong solusi,” jawab Lia. Tanpa kami sadari, kami terjebak pada pertengkaran.

Semula hanya pertengkaran biasa saja. Namun lama kelamaan pertengkaran semakin panas.  Apalagi, mungkin di luar kesengajaan, Lia mengatakan butuh pacar yang bisa membiayai hidupnya. Sayapun merasa tersinggung karena saya merasa diangggap miskin.

“O,begitu? Jadi Lia tak mau lagi jadi pacar saya karena saya miskin? Tidak mau punya pacar yang cuma punya motor?”

“Habis bagaimana,dong solusinya?” masih saja Lia ngotot.

Tanpa saya rencanakan, mungkin emosi sudah memuncak, tangan kanan sayapun dua kali menampar muka Lia. Dan sempat saya lihat darah mengalir dari lubang hidungnya.

“Aduh! Jangan begitu dong caranya!” Lia berteriak kesakitan sambil memegang mukanya. Spontan Lia membalas, gelas yang berisi es campur kacang hijau langsung disiramkan ke baju saya. Ketika saya akan menampar lagi, Pak Usup dan teman-teman yang ada di situpun melerainya.

“Sudah!Sudah!Sudah!…” begitu cegah teman-teman.

“Oke Harry! Hubungan kita cukup sampai di sini saja!Putus!,” teriak Lia sambil meninggalkan saya.

“Itu lebih baik!” jawab saya. Juga dengan nada yang keras.

Begitulah. Sejak saat itu, saya tak pernah bertegur sapa lagi dengan Lia. dari hari ke hari, saya baru merasakan, saya telah kehilangan cinta. Saya telah kehilangan keindahan. Saya telah kehilangan harapan.

Sebulan penuh saya jadi pemurung. Saya lebih banyak tinggal di dalam kelas pada jam istirahat. Namun teman-teman sekelas selalu memberi semangat.

“Sudahlah Harry. Lupakan saja Lia. Dia itu sejak dulu suka ganti-ganti pacar. Dia itu ‘ulo’. Dia itu ular,” begitu kata Gaguk Wibowo.

“Betul,Harry. Di Surabaya ini cewek yang lebih cantik daripada Lia,banyak,” sahut Lisa Harahap yang berwajah cantik.

“Harry. Kalau mau, kapan-kapan saya kenalin cewek SMAN 5. Cantik,Har. Dia juga belum pernah pacaran. Kalau mau, kapan-kapan akan saya kenalkan,” ujar Arifin.

Begitulah, suatu saat ada pertandingan voli antara SMAN 6 dan SMAN 5 yang diadakan di SMAN 5, maka Arifinpun memperkenalkan saya dengan cewek yang dijanjikannya.

“Harry,” saya memperkenalkan diri.

“Siska.Siska Marina Yordhant,” katanya lembut. Oh, apa yang dikatakan Arifin memang benar. Siska lebih cantik dibandingkan Lia. Di tengah-tengah meriahnya pertandingan voli, sayapun asyik ngobrol-ngobrol dengan Siska. Cukup gaul juga dia.Enak diajak bicara. Sebentar-sebentar kami ttertawa. Seolah-olah kami berdua sudah berkenalan lama.

Begitulah, tiap Minggu saya ngapel ke rumahnya di Jl.Anjasmara. Kedua orang tua dan adik serta kakaknya,  bersikap ramah terhadap saya. Bahkan tak jarang saya diajaknya makan malam bersama.

Tanpa terasa, hari demi hari,bulan demi bulan, sayapun berhasil melupakan Lia. Kehancuran cinta saya, telah tertutup dengan kehadiran Siska.

Saya pegang teguh motto yang diberikan Dika ke saya. Motto itulah yang saya jadikan motivasi buat saya.

Bunyinya:” Patah tumbuh. Hilang berganti”

Sumber gambar: mastorsepang.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Bloogger.

CERPEN: Playboy Cap Wedhus Gembel

DI TERMINAL BSD City, saya melihat pelajar laki-laki rambutnya keriting. Namun keritngnya seperti wedhus gembel. Saya lantas ingat pengalaman saya sewaktu masih duduk di kelas 3 SMPN 2 Bojonegoro. Ada pelajar baru. Pindahan dari salah satu SMA di Sidoarjo. namanya Gatut.

“Harry. saya mau minta tolong, nih,” katanya suatu hari di rumah saya. Waktu itu saya tinggal di rumah Jl. Trunojoyo No.4, yang sekarang dijadikan Kantor Pelayanan pajak. Seberang Kantor PMI.

“Ada apa, kok minta tolong?” tanya saya. kami berdua duduk santai di ruang depan sambil sesekali membuka komik.

Gatutpun cerita. Di SMPN 2, dia jatuh cinta sama cewek SMPN 2 juga. Namanya Tutut. Juga kelas 3, tetapi lain kelas.

“Saya naksir Tutut. Tetapi, saya tidak berani bicara secara langsung,” ujar gatut.

“Lho, piye to sampeyan iki? katanya, sewaktu di Sidoarjo sampeyan jadi playboy. Mulai kelas 1 hingga kelas 2 ganti-ganti pacar. Lha,kok di Bojonegoro jadi penakut gitu?”

“Begini,lho. Sewaktu di Sidoarjo, saya masih tinggal sama orang tua. bapak saya lurah. jadi, saya punya wibawa. Lha, di Bojonegoro saya tinggal sama Pak De saya. Sedangkan Tutut, bapaknya seorang lurah. Jadi, saya kalah wibawa,” Gatut bicara jujur.

“Ooo,begitu to. Lha, sekarang. karepmu gimana,to?”

“Begini Harry. harry kan jago bikin puisi, humor, artikel dan cerpen,” kata Gatut.

“Maksudmu?”

“Ya, kalau bisa, tolong deh, saya buatkan surat cinta buat Tutut,” memelas kata Gatut.

“Ha ha ha…Playboy kok penakut begitu,” saya tertawa.

“Bukannya penakut. saya minder sama Tutut. Dia cantik dan anaknya lurah”

Setelah saya pikir-pikir, sayapun setuju. Apa salahnya membantu teman. Berbuat kebaikan hukumnya wajib. Sayapun masuk ke dalam untuk mengambil buku tulis dan fulpen. sayapun membuat konsep surat cinta sesuai pesanan Gatut. Setelah koreksi sana koreksi sini, akhirnya Gatutpun setuju. sayapun minta Gatut mencontoh surat cinta itu dengan tulisan tangannya. Lantas saya masukkan ke amplop yang kebetulan saya punya.

“Maaf,Harry. saya minta tolong lagi,” pinta Gatut.

“Apa lagi?”

“Tolong, surat itu sampaikan ke Tutut. jangan sampai teman-teman lainnya mengetahuinya,” begitu pesan Gatut.

“Oh my God,” saya tertawa. namun menyanggupinya juga.

Esok harinya, sepulang sekolah, saya tidak langsung pulang. Dengan naik sepeda ontel, saya ikuti Tutut dari belakang. Setiba di dekat restoran, Tutut saya kejar dan saya dekati.

“Tut. Tolong dong,berhenti sebentar,” saya memepetkan sepeda saya ke sepeda Tutut yang wsaktu itu sendirian. Tututpun berhenti.

“Ono opo to,Har?” Tutut ingin tahu.

Sayapun mengajak Tutut masuk ke restoran. Cuma pesan bakso dan es teler. Terus, sambil makan bakso, saya sedikit demi sedikit cerita, kalau ada cowok ganteng naksir Tutut.

“Siapa,sih?” Tutut penasaran. Akhirnya saya sebutkan nama Gatut. Sekaligus memberikan surat Gatut ke Tutut.

“Tolong, deh, dibuka di rumah saja,” pesan saya. Tutut setuju usul saya. Surat itupun dimaksukkan ke tas sekolahnya. Selesai makan bakso dan minum es teler, Tututpun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. sayapun demikian.

Esok harinya, sesuai dengan perjanjian saya dengan Tutut, sepulang sekolah bertemu lagi di restoran yang kemarin. Di situ Tutut memberikan respon yang positif.

“Boleh juga tuh,Har. Gatut memang gantheng,” puji Tutut.

“Jadi, setuju?”

“Ya, positiflah. Cuma, masalahnya….,”

“Ada masalah apa?”

“Hmmm, sebaiknya komunikasi lewat surat dulu. Cuma, saya tidak bisa membuat surat. Tolong deh, Harry yang membuatkan. Nanti saya salin memakai tulisan saya,” kata Tutut. Saya jadi bingung. Saya tolak, berarti saya tidak membantu teman. kalau saya terima, kok lucu. Namun, akhirnya saya setuju juga. Demi teman, tak apa-apalah.

Di restoran itu juga, saya membuat konsep surat cinta balasan dari Tutut untuk Gatut. Tentu, sesuai dengan arahan dari Tutut. Setelah koreksi sana sini, akhirnya surat konsep saya itu disalin Tutut. kebetulan, di samping restoran ada kantor pos. Cepat-cepat saya dan Tutut beli amplop. Surat cintapun dimasukkan ke amplop.

“Harry, tolong ya. Surat ini supaya disampaikan ke Gatut. Bilang saja, saya suka sama dia,” pesan Tutut sambil memberikan surat itu ke saya.

Keesokan harinya, surat dari Tutut saya sampaikan ke Gatut yang kebetulan satu kelas dengan saya. Eh, ternyata saya dapat tugas lagi untuk membuat konsep surat cinta balasan dari Gatut untuk Tutut. Dan hari berikutnya saya bikin konsep surat cinta balasan dari Tutut untuk Gatut. Itu berlangsung sampai lima kali.

Akhirnya, saya ajak Gatut ke rumah Tutut. Pas malam Minggu. Nah, sejak saat itulah, Gatut mempunyai keberanian untuk ngapel ke rumah Tutut. Hari-hari berikutnya mereka berani pacaran terang-terangan di sekolah. Dalam waktu singkat, teman-teman sekelas tahu kalau Tutut yang cantik itu pacarnya Gatut yang gantheng dan rambutnya keriting seperti wedhus gembel itu.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.Tahun berganti tahun. Akhirnya saya,Gatut,Tutut dan teman-teman SMPN 2 lulus ujian. Kemudian melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Bojonegoro.

Dasar playboy. Setelah bosan berpacaran dengan Tutut, ternyata di SMAN 1, Gatut cari pacar lagi. Kali ini dia sudah pede. Berani langsung melakukan pendekatan ke cewek. Bukan hanya berpacaran dengan cewek SMAN 1, tetapi juga dengan cewek SMEA dan sekolah lainnya.

Akhirnya saya kesal dengan kelakuan Gatut. Tanpa sengaja, saya cerita ke Tutut tentang surat-surat cinta mereka berdua.

“Ha ha ha…Jadi, semuanya Harry yang bikin konsepnya?” tanya Tutut sewaktu jam istirahat. Saya ceritakan itu di kantin sekolah. Saya cuma mengiyakan. Sayapun ikut tertawa. Teman-teman di kantin yang turut mendengar cerita saya, juga turut tertawa.

Kalau saya ingat pengalaman itu, saya jadi menyesal. Menyesal karena telah pernah membantu Gatut, Si Playboy Cap Wedhus Gembel itu.

Sumber foto: pentinggak.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: “Tragedi Pulau Jawa Selatan 2014”

FACEBOOK-CerpenTragediPulauJawaSelatan2014

PADA 2004, sebelum pemilu, saya menulis surat pembaca di salah satu harian yang terbit di Banjarmasin. Isinya, pada awal dan akhir pemerintahan dari presiden terpilih, maka akan terjadilah bencana alam yang maha dahsyat atau mega disaster yang menimbulkan kurban sangat banyak.

Prediksi awal pemerintahan telah terbukti, yaitu terjadinya tsunami di Aceh yang menimbulkan kurban sangat banyak. Kenapa harus terjadi di Aceh? Karena Aceh telah puluhan tahun bergolak dan perang sesama bangsa sendiri. Maka datanglah bencana itu sebagai awal dari perdamaian.

Sebelum pemilu 2009,di Facebook sudah saya tulis akan terjadinya gempa di Barat Daya Tasikmalaya,namun para anggota Facebook menertawakan saya.Prediksi saya itu saya buat berdasarkan gabungan antara geologi dan metafisika.Bukan klenik.Bukan tahayul.

Prediksi “akhir” pemerintahanpun juga terbukti pada 2014. Saat itu semua warga yang tinggal di Pulau Jawa sedang tidur terlelap dibuai mimpi-mimpi yang sangat indah dan menyenangkan.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari berbagai tetangga.

“Gempa! Gempa ! Gempa!” Orang-orangpun berhamburan keluar rumah. Namun sayang, mereka yang terlelap tidur tak sempat menyelamatkan diri. Mereka tewas tertimpa reruntuhan bangunan, baik berupa genteng, batu bata, kayu atau bahan-bahan bangunan lainnya.

Gempa dahsyat itu terjadi secara merata sepanjang Pulau Jawa bagian Selatan mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Gempa dahsyat yang diiringi maha-tsunami terjadi akibat bergesernya lempeng bumi yang ada di Selatan Pulau Jawa. Pergeseran itu merupakan kelanjutan dari bergesernya lempeng bumi yang ada di sebelah Barat sepanjang Sumatera.

“Tolong! Tolong! Tolong” Teriakan minta tolong terdengar di mana-mana. Air laut masuk ke daratan Pulau Jawa hingga sepuluh kilometer. Semua rumah dan gedung hancur. Pulau Jawa bergoyang hebat. Orang-orang berjalan sempoyongan. Listrik padam. Semua alat komunikasi telepon, ponsel dan lain-lain tidak bisa digunakan.

Orang-orang yang punya mobil dan motor berusaha menyelamatkan diri. Namun banyak yang kalah cepat dengan datangnya maha ombak yang sangat besar. Mereka tersapu dan terseret ombak laut.

“Ya, Tuhan! Ampuni dosa saya! Ya Tuhan, selamatkan kami!” Teriakan seperti itu terdengar di mana-mana. Jerit tangis terdengar di mana-mana. Di jalan-jalan tergeletak beberapa mayat dan bangkai anjing, kucing, sapi, kambing dan binatang lain. Ribuan mobil dan motor berserakan hancur di mana-mana.

Ramalan Jayabaya yang mengatakan Pulau Jawa terbelah dua ternyata menjadi kenyataan. Sepanjang perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat terbentuk sungai baru cukup lebar sekitar 50 meter dengan kedalaman ratusan meter. Jawa Tengah dan Jawa Barat terpisah. Ini sama dengan peristiwa terpisahnya Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera ketika Gunung Krakatau meletus hebat. Kekuatan gempa di Selatan Pulau Jawa ini cukup besar, yaitu sekitar 9,1 skala Richter.

“Bapak! Ibu!” Anak-anak berteriak mencari bapak dan ibunya yang entah di mana. Suara hiruk pikuk menggema sepanjang Pulau Jawa Bagian Selatan. Banyak anak-anak kehilangan orang tuanya. Banyak orang tua kehilangan anak-anaknya. Banyak orang tidak punya rumah lagi karena rumahnya hancur rata dengan tanah.

Saat itu benar-benar seperti kiamat. Tak sempat lagi bertobat. Tak sempat lagi berdoa. Ombak ganas merusak apa saja. Tanah-tanah retak merekah di mana-mana. Ribuan pohon ambruk. Saat itu tampaknya peradaban manusia sudah punah.

Ketika gempa dan tsunami telah reda. Jutaan tubuh manusia dan binatang berserakan di jalan-jalan dan di mana saja. Bahkan ada yang tersangkut di pohon ataupun tiang listrik. Gempa dahsyat membuat jutaan rumah menjadi rata dengan tanah. Ratusan ribu mobil dan motor menjadi onggokan besi tua, terbalik, terjungkal, terserak di mana-mana.

Apa yang pernah saya tulis di surat pembaca banyak yang menjadi kenyataan. Antara lain prediksi tsunami di Aceh, gempa 2006 di Yogya, lumpur Lapindo, hilangnya pesawat Adam Air, gempa Barat Daya Tasikmalaya dan bencana alam lainnya (Catatan:Dimuat di Harian Jawa Pos, Banjarmasin Pos,dll)

Bencana dahsyat  2014 telah menjadi kenyataan. Ini adalah kiamat khusus bagi warga Indonesia, terutama yang tinggal di Pulau Jawa bagian Selatan. Semua seruan saya agar mereka pindah ke Pulau Jawa bagian Utara pada September 2013 tidak digubris. Semua prediksi saya diabaikan dan diremehkan. Bencana dahsyat 2014, telah terbukti dan memakan korban jutaan manusia, jutaan hewan, jutaan mobil, jutaan motor, jutaan pohon dan jutaan rumah.

CATATAN:

Cerpen ini hanyalah hasil sebuah imajinasi. Sekadar mengingatkan agar warga Pulau Jawa bagian Selatan supaya waspada. Siapkan dan selamatkan surat-surat penting dan benda berharga Anda. Sebab, bencana alam akan terjadi kapan saja. Tinggal menunggu waktu.

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : 22 Hari di Neraka Gaza

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori- Muslim)

PUKUL 00:00. Semua keluarga Achmed tidur terlelap. Sudah tiga bulan saya berada di Palestina di dalam rangka kunjungan ke salah satu perguruan tinggi. Kebetulan saya dapat tempat di keluarga ini. Keluarga Achmed terdiri dari satu kepala keluarga, anak laki-laki yang sedang duduk di bangku SMP dan seorang bayi perempuan berusia satu tahun.

Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan luar biasa dahsyat. Rumah bergetar hebat. Berbagai sirene meraung-raung. Semua warga terbangun. Achmedpun membangunkan istri, Fadhel dan Fadjilla dan mengajak bersembunyi di ruang bawah tanah yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun yang lalu.

“هاري! سريع المأوى في القبو! هناك قنبلة! وهاجمت اسرائيل” (“ Harry! Cepat berlindung di bunker! Ada bom! Israel menyerang!,”) teriak Achmed.

Bagi Achmed hal tersebut mungkin hal yang biasa. Namun, bagi saya yang datang dari Indonesia, tentu panik, takut dan cemas. Saya hanya membayangkan kematian saja.

Sayapun bergegas lari ke ruang bawah tanah. Suara gelagar bom di mana-mana. Deru pesawat helikopter Israel datang silih berganti. Rentetan tembakan tak pernah berhenti. Celakanya, listrikpun dipadamkan. Di ruang bawah tanah hanya memakai lampu minyak tanah.

Semalaman tak bisa tidur. Hanya kematian saja yang ada di depan mata saya. Apalagi, sesudah sholat Subuh, pintu rumah Achmed digedor orang. Ternyata ada empat tentara Israel memeriksa seisi rumah. Mencari senjata atau pasukan Hamas.

“الأخ الجاسوس ، هاه؟” (“Kamu mata-mata,ya?”) Hardik salah seorang di antara mereka kepada saya. Achmedpun menjelaskan, saya dari Indonesia dalam rangka kunjungan ke perguruan tinggi. Meskipun demikian tentara Israel itu tetap memeriksa saya dengan kasar. Saya diminta menunjukkan kartu identitas, paspor dan surat penting lainnya. Kemudian, dia melepas peci saya dengan kasar, dibanting ke lantai dan akan diinjak-injak. Untunglah, salah seorang temannya mencegahnya. Sesudah itu, mereka meninggalkan rumah Achmed. Sementara itu Fadjilla, anak perempuan Achmed menangis ketakutan. Itu adalah perang antara Hamas dan Israel hari pertama.

“من الأفضل تأجيل الخطط الخاصة بك إلى الكلية ، (“Lebih baik tunda dulu rencana Anda ke perguruan tinggi,”) saran Achmed. Saya mengangguk saja. Akhirnya selama seminggu saya tidak berani ke mana-mana. Maklum, katanya di tiap sudut jalan ada tentara Israel bersenjata lengkap dan beberapa tank di parkir di jalan.

Hari ketujuh. Sebuah ledakan hebat memekakkan telinga. Ternyata mengenai rumah sebelah dan dampaknya luar biasa. Rumah Achmed lantai dua dan tiga hancur berantakan. Saya hanya bisa berdoa dan menyebut nama Allah berkali-kali.

Hari ke sepuluh. Keluarga Achmed sudah kehabisan bahan makanan. Kebetulan Israel mengumumkan jeda perang selama tiga jam. Artinya, selama tiga jam masyarakat diberi kesempatan untuk berbelanja. Achmedpun keluar rumah untuk berbelanja.

“هل يمكنني ان اكون معكم؟” (“Boleh saya ikut?”) tanya saya.

“لا! البقاء في المنزل. نعتنى فاضل وشقيقته! ” (“Tidak! Tinggal saja di rumah. Jaga baik-baik Fadhel dan Fadjilla,”) jawabnya

Cukup lama dia pergi. Pulang-pulang dia sudah membawa sekarung makanan. Namun jalannya tertatih-tatih. Kaki kanannya berdarah-darah. Dia meringis kesakitan. Katanya, dia kena peluru nyasar dari Israel.

Apa boleh buat, saya membantunya sekuat tenaga. Dan hari itu adalah pengalaman yang mengerikan buat saya. Saya harus membantu Achmed menuju ke rumah sakit. Padahal, jeda tiga jam hampir berakhir.Karena mobil Achmed rusak, terpaksa saya mengantarkannya menggunakan gerobak. Cukup berat. Untunglah, di tengah perjalanan ada dua warga Palestina yang membantu. Benar, begitu sampai ke rumah sakit. Ribuan peluru kembali berdesing. Ratusan bom jatuh di mana-mana. Puluhan helikopter melintas di udara.

Hari itu Israel sudah tidak punya perikemanusiaan lagi. Bom yang dijatuhkan merupakan bom cluster yang ketika jatuh akan menjadi banyak jumlahnya. Bom fosfor putih yang bisa membakar apa saja dan merupakan senjata yang dilarang dalam konvensi Jenewa.

Hampir semua pasien di rumah sakit cemas, takut dan frustrasi. Jantung berdetak keras. Dokter yang jumlahnya sedikit itu mondar-mandir ke sana kemari. Juru rawat juga sibuk mengurusi pasien 24 jam penuh. Celakanya, perut saya saat itu lapar. Terpaksa harus puasa.

Satu malam Achmed dirawat di rumah sakit. Saya tidur di lantai dingin menungguinya.Entah mimpi apa saya terjebak di dalam perang yang sangat biadab itu.

Saya lihat di rumah sakit itu banyak anak-anak yang tak berdosa menjadi korban. Ada yang matanya buta karena kena peluru. Ada bayi yang kulitnya mengelupas kena serpihan bom fosfor. Ada anak perempuan yang tangan kirinya patah. Banyak di antaranya kehilangan ayah, ibu, kakak atau adik. Sekecil itu mereka harus menderita.

Tepat 19 Januari 2009. Sehari menjelang pelantikan Obama, Israel secara sepihak melakukan gencatan senjata. Hati saya merasa sedikit lega. Suara tembakan sudah jarang terdengar. Suara bom tak ada lagi. Hanya satu dua helikopter Israel berpatroli di atas Palestina.

Dua hari kemudian saya ditemukan sebuah tim medis dari Indonesia, terutama dari Mer-C. Kebetulan saya mengenal baik salah satu dokter dari tim medis Mer-C, yaitu dr.Imam Suhardja. Melalui tim inilah saya dievakuasi ke wilayah Mesir.

Setelah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Mesir, akkhirnya saya bisa pulang ke Indonesia.Kebetulan, saya satu pesawat dengan Umi Saodah, TKI yang dipenjara di Palestina karena dituduh mencuri uang majikannya. Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung sujud menyembah tanah.

“يا إلهي! انت انقذتني من جحيم غزة. البربرية الحرب من قبل اليهود ، واليهود الذين سرقوا الاراضي الفلسطينية. آمين”.(“Ya, Allah! Kau telah menyelamatkan saya dari Neraka Gaza. Sebuah perang yang sangat biadab yang dilakukan bangsa Yahudi. Sebuah bangsa yang merampok tanah milik Palestina.Amien”.)

Sumber foto:http://helenamayawardhani.wordpress.com/2009/01/14/kapan-perang-itu-akan-berakhir/

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Kisah Penjual Siomay Kentut

SEJAK saya masih mahasiswa, sekitar tahun 1973, hingga sekarang, tahun 2011, saya masih paling suka maka siomay. Kebetulan, tiap sore ada penjual siomay lewat depan rumah. Meskipun demikian, saya membelinya Cuma seminggu sekali. Supaya tidak bosan.

“Siomay!” panggil saya suatu sore. Penjual siomay iitupun berenti.

“Biasa! Nggak pakai pare” ucap saya mengingatkan walaupun sebenarnya dia sudah hafal. Diapun segera melayani saya.

Saya katakan siomay kentut karena dia berjualan memakai sepeda onthel. Sedangkan siomay dan perlengkapannya diletakkan di boncengan. Tentu, tepat di belakang pantatnya. Di komplek perumahan tempat tinggal saya, di samping penjual siomay kentut, juga ada penjual nasi goreng kentut, penjual gado-gado kentut, penjual ketoprak kentut, penjual kue bacang kentut dan penjual lainnya yang menggunakan sepeda sebagai sarana usahanya.

Biasanya, sambil menunggu penjual siomay membuat siomay, saya sering mengajak ngobrol-ngobrol. Dia termasuk penjual baru di komplek saya. Kira-kira baru dua bulan.

“Sebelumnya kerja di mana, Mas,” tanya saya. karena saya tahu dia orang Jawa, maka saya panggil Mas.

“Jadi TKI,Pak” katanya.

“Kok, kemudian jadi penjual siomay?”

“Wah, jadi TKI di Malaysia tidak enak,Pak. Kebetulan saya dapat majikan yang kelakuannya buruk. Saya bekerja di perusahaan mebel atau furniture. Sering gaji saya terlambat dibayar. Kadang-kadang tiga bulan baru dibayar.”

“Memangnya dulu lewat jasa PJTKI resmi atau lewat calo?” saya ingin tahu.

“Wah, saya orang desa yang bodoh,Pak. Saya tidak tahu bedanya mana yang PJTKI resmi dan mana yang tidak resmi, saya tidak tahu. Lha, buktinya perusahaannya tidak ditutup pemerintah daerah” dia menjelaskan.

“Kok tidak mencari kerja di Indonesia saja?”

“Hahaha…Saya menyadari,Pak. Pemerintahan di era SBY ini tak mungkin sanggup menciptakan lapangan kerja buat bangsanya sendiri. Beda dengan zamannya Soeharto dulu. Zamannya SBY cari kerja sulit.

“Iya,ya. Sekarang saja ada dua juta sarjana yang jadi pengangguran,” saya mengomentari

“Monggo,Pak,” kata penjual siomay yang bernama Ngadimin itu sambil menyampaikan sepiring siomay buat saya. Seperti biasa, saya duduk di kursi teras sambil terus ngobrol dengan penjual siomay.

“Terus, siomaynya ini tinggal menjualkan atau membuat sendiri?” saya tanya lagi sambil menikmati siomay.

“Bulan pertama saya cuma menjualkan.Dan sekalian belajar membuat sendiri. Bulan kedua saya akhirnya membuat sendiri.”

“Isteri di mana?”

“Isteri dan anak tinggal di Magetan, Jawa Timur,Pak”

“Kok tidak diajak ke Jakarta?”
”Wah, hidup di Jakarta sulit Pak. Cari uang yang tidak halal saja sulit, apalagi yang halal. Yang pasti saya ingin usaha yang halal. Jualan di Magetan untungnya kecil. Sedangkan jualan siomay di Jakarta untungnya lumayan. Tiap bulan saya kirim ke isteri dan anak”

“Anaknya umur berapa?”

“Sudah kuliah,Pak.Di Fakultas Ekonomi Unair,Surabaya”

“Kuliah?” hampir tak percaya saya mendengarnya. Tidak mengira penjual siomay mampu membiayai kuliah anaknya.

“Iya,Pak. Sudah semester keenam,” katanya.

“Oh,hebat,ya? Dapat bea siswa?”

“Tidak,Pak. Bea siswa hanya untuk mahasiswa dari keluarga miskin tetapi pandai. Anak saya tidak pandai. Biasa-biasa saja. Jadi tidak dapat bea siswa.”

“Iya.Itulah bodohnya pemerintah kita. Beberapa tahun yang lalu saya sudah mengusulkan ke pemerintah agar dibuat KTP tiga golongan”

“Maksudnya apa,Pak?” tanya Ngadimin,penjual siomay.

“Begini. KTP tiga golongan yaitu, golongan A untuk masyarakat mampu. Biaya pengurusannya mahal. KTP golongan B, untuk masyarakat yang perekonomiannya sedang. Biaya KTP-nya agak mahal sedikit. Dan KTP golongan C,untuk masyarakat miskin, Dan KTP bisa diperoleh gratis”

“Terus, kegunaannya,apa,Pak?”

“Kegunaannya, mahasiswa pemilik KTP golongan C berhak mendapat keringanan biaya kuliah mulai 50% hingga kuliah gratis. Kalau universitas menolak, bisa digugat .Tentu,harus ada dasar hukumnya”

“Wuuah,gagasan yang bagus,Pak. Kenapa kok tidak direalisasikan pemerintah?”

“Hahaha…SDM pemerintah banyak yang bego. Menterinya juga bego.Tiidak kreatif.Malas. Membuat KTP nasional saja bertahun-tahun tidak selesai. NIK atau nomor induk kependudukan juga berubah-ubah.Nggak profesional sama sekali,” gerutu saya.

“Iya,Pak. Kalau di Malaysia KTP nasional sudah sejak puluhan tahun yang lalu. malahan dilengkapi microchip. Bahkan monoirail juga sudah puluhan tahun lalu ada di Malaysia. Sungguh,Pak. Malaysia sangat maju dibandingkan dengan Indonesia. Saya kagum. Bahan-bahan pokok harganya juga murah. Hanya soal TKI saja dipandang rendah. Kiita ini dianggap bangsa budak,Pak. Kenapa bisa begitu?”

“Sebabnya? Karena presiden dan menteri-menterinya tidak kreatif dan malas. Saya juga malu kok, masak Indonesia bisanya Cuma mengekspor pembantu rumah tangga. Seharusnya yang akan dikirim ke luar negeri dibekali ketrampilan yang benar-benar memadai. Juga mampu berbahasa Inggeris, Arab atau bahasa negara setempat”

“Iya,Pak. Di Malaysia para pelajar SD dan SMP saja bahasa Inggerisnya bagus. Tidak seperti di Indonesia. Sudah lulus SMA bahkan lulus sarjana, bahasa Ingggerisnyab berantakan. Kenapa bisa begitu,Pak?”

“Ya, seharusnya matakuliah bahasa Inggeris diajarkan seminggu empat atau lima atau tiap hari. Di Indonesia terlalu banyak matapelajaran atau matakuliah sehingga yang dipelajari hanya kulit-kulitnya saja”

“Betul,Pak. Seharusnya, pendidikan untuk masyarakat miiskin benar-benar gratis,mulai dari TK hingga universitas. Apalagi kalau sistem KKTP golongan C diberlakukan. Ide yang bagus,Pak. Sayang,ya,presiden dan menteri-menteri kita tidak kreatif…”

“Ah, sudahlah. Jangan berharap ke pemerintahan yang sekarang. Yang penting, pemilu 2014 nanti, pilih capres-cawapres yang cerdas. Jangan memilih capres yang penakut,peragu dan pesolek”

“He he he…Iiya,Pak.”

“Oh,ya. Sudah habis,nih. Berapa?” kata saya sambil mengembalikan piring siomay yang sudah kosong.

“Biasa,Pak. Rp 6000 saja”

Sayapun memberikan selembar uang Rp 5.000 dan selembar uang Rp 1.000.

“Apa rencananya tetap mau berjualan siomay?” tanya saya.

“Insya Allah. Saya menabung dulu,Pak. Jika sudah cukup, saya mau membuka resto kecil-kecilan khusus siomay,bakso,es teler dan makanan minuman ringan lainnya. Rencananya di Pamulang,Pak”

“Oh, syukurlah kalau ada rencana untuk maju. Tuhan tak akan mengubah nasib manusia kalau manusia itu tak mau mengubah sendiri nasibnya”

“Betul,Pak”

Tak lama kemudian, penjual siomay itupun meelanjutkan perjalanannya. dalam hati saya bangga melihat Ngadimin yang pantang menyerah menghadapi sulitnya hidup. Saya juga kagum dengan rencana hidupnya yang menuju ke arah ytang lebih baik. Lebih kagum lagi, walaupun cuma tukang siomay, tetapi mampu meng-kuliahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Sumber foto: azzamudin.wordpress.com/

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 973

CERPEN : Trauma Banjir Bojonegoro 2007/2008

Katakanlah [Muhammad]: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari BENCANA di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (BENCANA) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur””.(QS -An’am,6:63).

Catatan: Cerpen ini berdasarkan pengalaman pribadi dan benar-benar terjadi.

HARI itu Sabtu, 29 Desember 2007. Seperti biasa pagi-pagi saya membuka pintu pagar. Lho, kota saya dalam keadaan terang benderang tidak hujan, kok Jl. Ade Irma di depan rumah saya banjir? Tinggi air saat itu Cuma lima sentimeter. Saya sadar, pasti akan ada banjir. Apalagi di televisi sedang hangat-hangatnya isu global warning alias pemanasan global.

Saya pikir, ah tinggi air banjir seperti tahun 1987, hanya sekitar 3o cm. Sayapun masuk ke rumah. Beres-beres kamar tidur dan warnet. Kebetulan sendirian. Karyawanpun belum datang. Ketika keluar dari warnet, saya terkejut. Lho, kok air bisa masuk ke warnet? Tentu ketinggian air lebih dari 30 cm. Cepat sekali.

Karena saya pikir tinggi air tidak seberapa, maka semua barang-barang termasuk komputer, scanner, printer, kulkas, dll. Saya biarkan saja. Pikir saya, di atas meja cukup aman.

Tapi, e…kurang ajar. Air masuk ke kamar tidur saya sudah setinggi 10 cm dari ubin atau selutut dari tanah. Sayapun panik. Saya kirim SMS ke semua saudara saya yang ada di Surabaya, Jakarta, dll. Saya selamatkan sura-surat penting. Saya masukkan ke tas kecil dan saya gantungkan di paku di kamar yang letak pakunya paling tinggi. Saya ambil baju, celana, odol, sikat gigi, obat-obatan, payung, senter, fulpen, notes, HP. Saya masukkan ke tas dan mulai mengungsi. Saat itu air sudah setinggi perut saya.

Saya susuri pelan-pelan Jl. Ade Irma, belok kiri ke Jl. Diponegoro. Busyet, arusnya cukup deras. Berkali-kali saya hampir jatuh. Dengan susah payah saya sampai di jl. Diponegoro paling Utara. Di sini tanahnya tinggi dan tidak banjir.

Ada becak. Saya minta diantarkan ke Hotel Sahabat yang ada di belakang Supermarket Rajawali.Tidak banjir. Kamar atas sudah penuh. Kamar bawah tinggal satu. Saya langsung masuk. Yah, sialnya saat itu sinyal Simpati drop gara-gara BTS di luar kota mati.Tidak bisa kirim SMS dan tidak bisa terima SMS. Komunikasi terputus.

Sesudah makan malam sayapun tidur.Eh, pukul 23:00 WIB pintu digedor karyawan hotel.

-“Pak. Bangun Pak. Banjir…”

Sayapun bangun. Werleh weleh weleh…air hampir mengenai kasur. Diamput…”

Saya segera ambil tas kecil saya kemudian pindah ke lantai dua. Di lantai ini sudah banyak orang yang tidur-tiduran di lantai. Sebagian mengobrol. Berjubel seperti cacing kermi.

Saya paksakan tidur sambil duduk. Pukul tiga pagi listrik padam. Maklum solar diesel milik hotel sudah habis. Di era SBY ini khan beli solar dibatasi. Kalau listrik PLN sudah mati total sejak kemarin.

Minggu, 30 Desember 2007.

Pagi-pagi ibu-ibu mulai memasak secara gotong royong. Selesai masak makananpun dibagi. Saya pikir saya dapat bagian. Ternyata mereka bertetanmgga dan makanannya dimakan mereka sendiri.

Diamput! Sayapun mengambil keputrusan pindah tempat mengungsi. Sesudah membayar hotel, saya coba kedalaman air di lobi hote. Wow, setinggi perut. Ketika tida di jalan depan hotel, tinggi air setinggi dada. Rasa-rasanya saya ada di tengah laut. Ke mana mata memandang, hanya air yang saya lihat. Tidak ada tim SAR. Biasalah, kalau soal penanggulangan bencana pemerintah kita terkenal telmi (telat mikir).

Tiba di perempatan, saya belok kanan. Hanya berdasar intuisi saja. Semakin ke barat, tinggi air semakin berkurang. Pas di depan masjid At Taqwa ternyata tidak banjir. Di situ sudah ada ribuan pengungsi. Saya kebagian di anak tangga. Ya sudah, duduk-duduk di situ.

Malamnya minta ampun. Dingin, bau pesing, dan banyak nyamuk. Untunglah saya membawa pil Decolgen untuk mencegah demam. Di sini lumayan, ada pembagian nasi bungkus, air mineral dan obat-obatan gratis. Tapi, nggak bisa mandi. Karena listrik PLN mati, kamar mandi dan WC tidak ada air. Saat itu saya ganti kartu HP dari Simpati ke Mentari dan bisa berkomunikasi lagi dengan saudara-saudara dan teman-teman.

Lho, kenapa tidak mengungsi ke Surabaya saja? Saat itu kota Bojonegoro terkepung banjir. Terminal juga banjir.

Senin, 31 Desember 2007.

Saya jalan-jalan ke Jl.Diponegoro. Utara yang tidak banjir. Kebetulan ada truk marinir akan ke terminal. Katanya, terminal sudah tidak banjir . Sesudah satu jam menunggu, akhirnya saya dapat bis menuju Surabaya. Sayapun kirium SMS ke saudara-saudara yang ada di Surabaya.

Sampai di Surabaya, saya janjian dengan kakak saya supaya dijemput di Kampus Stikom. Sayapun menunggu di Kampus Stikom, Jl. Kendangsari Industri. Weleh…weleh…weleh…sampai satu jam saya tidak dijemput. Mau naik taksi saya belum pernah ke rumah kakak saya. Salah-salah taksinya berputar-putar saja hingga uang habis. Mau kirim SMS lagi baterai HP sudah habis. Kepala pun agak pusing.

Akhirnya saya memutuskan pulang lagi ke Bojonegoro naik bis. Lha, sialnya tanggul di Kecamatan jebol. Akhirnya lewat jalan alternatif yang lebih jauh dan kena biaya tambahan Rp 5.000 dari tarif Rp 13.000. Iya deh, malam itu saya merayakan acara Tahun Baru di dalam bis.

Sampai di Bojonegoro langsung jalan kaki menuju stasiun. Ternyata di sini fasilitasnya lumayan. Ada tiga kamar mandi dan WC. Airnyapun cukup. Tidak antri. Maklum jumlah pengungsi Cuma sekitar 50 orang. Mereka menempati gerbong kereta Gumarang yang kursinya empuk itu. Semua kereta tidak jalan karena banjir.

Saya cuma kebagian kursi tunggu yang panjang. Saya istirahat di situ seperti gelandangan. Untung wakil kepala stasiunnya baik. Saya boleh numpang nge-charge baterai HP. Listrik PLN juga sudah mulai menyala (hanya di daerah tertentu). Di depan stasiun banyak warung makan, toko kue,toko obat-obatan dan ada juga mobil milik crew MeetroTV. Sdempat juga bincang-bincang sebentar dengan mereka.

O ya, ada juga warnet. Nah, di situ saya rental internet dan kirim surat pembaca yang dimuat di harian Jawa Pos, Suryta, dll. Judulnya “Suara Korban banjir Bojonegoro”.

Malam hari dingin banget. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun angin dingin terasa masuk ke tulang. Lagi-lagi saya minum pil Decolgen. Di stasiun itu saya kirim SMS ucapan selamat tahun baru ke teman-teman yang ada di jakarta, Bandung, dll. Semua kaget ketiika tahu saya kebanjiran.bahkan ada yang berjanji akan mengirim bantuan dana.

Selasa, 1 Januari 2008.

Melalui SMS akhirnya saya tahu kenapa di Surabaya saya tidak dijemput kakak saya. Ternyata, saya menunggu di Stikom Jl. Kendangsari Industri, sedangkan kakak-kakak saya mencarinya di Stikom Jl. Kedung Baruk. Ya, asampai kiamat nggak bakalan ketemu. Ha..ha..ha..

Selanjutnya saya lupa hari dan lupa tanggal. Saya juga lupa berapa malam saya di stasiun Bojonegoro. Pokoknya saya hari itu saya ke Surabaya dan langsung dijemput kakak saya di terminal Bratang.

Saya nggak ingat berapa hari di Surabaya. Pokoknya saya selalu memantau kondisi Bojonegoro melalui televisi. Ketika ada informasi banjir sudah surut, akhirnya sayapun pulang ke Bojonegoro. Saya lupa hari apa dan tanggal berapa.

Ketika sampai di rumah, saya hanya bisa tercengang. Saya melihat lemari, kursi, televisi, kulkas, dll dalam kondisi jungkir balik. Seperti habis perang. Atau seperti habis ada orang gila mengamuk. Lantai licin karena lumpur. Berkali-kjali hampir terjatuh. Bekas banjir menunjukkan air masuk dalam rumah setiunggi satu meter diukur dari ubin atau setinggi dada diukur dari tanah.

Saya terdiam. Sedih.Kecewa.Gundah.Ingin menangis.Semua komputer terjungkir balik. Begitu juga scanner, printer, HP, kamera, kompor listrik, blender, ratusan CD software (sebagian original), arsip,card reader,pen device,ratusan kaset, ribuan data, ratusan cerpen karya saya, ratusan foto kenang-kenangan yang tidak mungkin dibuat lagi, beberapa skripsi….semuanya! Ya, semuanya hancur! Rusak! Hanya sebagian kecil yang bisa terselamatkan.

Yang membuat saya merasa berdosa besar yaitu empat Al Qur’an yang harganya mahal itu tergeletak di lantai dan sudah rusak bercampur lumpur. Tidak bisa dibaca lagi. Benar-benar saya merasa berdosa sekali.

Kerugian sekitar Rp 100 juta. Saya jatuh miskin. Usaha warnet terpaksa tutup. Saya akhirnya menganggur. Tidak ada pemasukan uang kecuali belas kasihan dari saudara-saudara. Uang pribadi sudah habis selama dalam pengungsian. Bantuan dana dari pemda nol besar.

Saya jadi kere. Namun saya pikir, penderitaan saya belum apa-apa dibandingkan dengan ribuan korban lumpur Lapindo yang telah menderita lahir batin lebih dari setahun. Semangat hidup sayapun bangkit. Saya jual apa yang bisa saya jual. Uangnya saya belikan sebuah komputer dan akhirnya hobi saya main internet bisa tersalurkan lagi.

Ada perang batin saat itu. Pertama, saya harus wiraswasta lagi atau menganggur? Jika wiraswasta lagi, saya terlanjur kehabisan modal. Jika menganggur, saya akan menjadi beban saudara-saudara karena tiap bulan harus mengirim uang.

Kedua, saya harus memikirkan diri sendiri ataukah memikirkan Rencana Reuni Akbar SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 4 Surabaya dan SMAN 6 Surabaya? Sudah ratusan atau ribuan alumni mengetahui ini. Kebetulan saya adalah satu-satunya pemrakarsa (initiator).

Aklhirnya dengan berat hari, saya saat ini harus memprioritaskan kepentingan pribadi dulu. Rumah yang saya tempati cukup luas di atas tanah yang luas juga, yaitu 2689 meter persegi dan terletak di dalam kota.

Karena saya tidak mampu membayar orang, terpaksa bersih-bersih lumpur sendiri. Kadang-kadang dibantu karyawan. Ini butuh waktu yang lama. Mungkin, enam bulan baru bersih.

Hingga Februari saya masih bersih-bersih rumah.

Kerugian sekitar Rp 100 juta.

Catatan

Sudah sejak 1945 warga Bojonegoro membayar bermacam-macam pajak, retribusi dan pungli,namun tetap saja kebanjiran.Kok tidak ada koordinasi yang baik antara pemkab dengan pemprov dan pempus.Padahal rencana penanggulangan banjir Bengawan Solo sudah dibuat sejak zaman Belanda.

Bupati-bupati Bojonegoro itu serius mementingkan rakyat atau tidak,sih?

Sumber foto: http://www.smp1bojonegoro.net/images/banjir2009.jpg

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger