CERPEN: Sembilan Bulan Sepuluh Hari

SUDAH lima tahun saya menikah dengan Tarry Azimar. Selama itu saya merasa kurang bahagia karena belum memiliki momongan. Sudah mondar-mandir ke dokter, tabib, berdoa, berpuasa, namun hasilnya nol. Rasa-rasanya saya dan Tarry hampir putus asa. Bahkan hampir saja mengambil keputusan untuk mengdopsi anak.

Untunglah, suatu hari Tarry merasa ada tanda-tanda kehamilan. Akhirnya, saya dan Tarry segera meluncur ke Rumah Sakit Fatmawati untuk meyakinkan kehamilan Tarry.

“Positif, Pa…” Tarry menampakkan wajah ceria ketika tahu hasil pemeriksaan lab menyatakan memang Tarry sedang mengandung. Sebagai seorang suami tentu saya bersyukur kepada Tuhan karena akhirnya Tuhan mengabulkan doa saya dan Tarry.

Tapi bulan-bulan berikutnya saya mengalami hal-hal yang belum pernah saya alami. Tarry mulai punya keinginan-keinginan yang aneh atau sulit. Kalau ingin buah yang rasanya kecut atau ingin makan jajanan pasar, itu wajarlah. Yang repot saat Tarry ingin minum jus tebu. Wah, seharian saya putar-putar Jakarta, tidak menemukan. Akhirnya saya beli tebu dan membuat jus tebu sendiri. Itupun yang diminum cuma sedikit.

“Yang minta jus tebu bukan saya,Pa. Tapi anak kita” Begitu celoteh isteri saya yang tercinta.

Tapi tidak apa-apalah. Tak ada salahnya harus memuaskan keinginan isteri. Bahkan ketika saya sedang bekerja di kantorpun isteri saya menelepon. Ternyata hari itu ingin makan sate kelinci.

Wah, saya tanya ke beberapa karyawan saya di mana ada yang jual sate kelinci, ternyata tidak ada yang menjawab. Setelah saya tanya ke sana ke mari, akhirnya saya menemukannya. Yaitu, di Sukabumi. Wah, jauh amat. Terpaksa saya izin ke boss saya untuk tidak masuk kerja hari itu.

Sayapun segera mengendarai mobil ke arah Sukabumi. Saat itu saya masih memakai mobil Honda Civic Wonder yang empat pintu. Dulu masih kondisi baru. Untunglah, saya berhasil mendapatkan sate kelinci pesanan isteri saya. Sampai di rumah saya disambut senyum ceria isteri saya.

“Terima kasih, Pa telah jauh-jauh membelikan saya sate kelinci. Sekali lagi, ini yang minta bayi kita,Pa. Bukan saya” Lagi-lagi Tarry mengatakan hal itu. Padahal saya tidak mempersoalkan itu atas permintaan Tarry atau permintaan bayi. Sebab, itu memang sudah merupakan kewajiban saya sebagai seorang suami.

Begitulah. Dari bulan ke bulan ada saja permintaannya yang aneh-aneh. Antara lain ingin nonton film India, ingin mengunjungi bekas teman-temannya semasa duduk di bangku SMA, ingin foto bersama dengan Krisdayanti, ingin nonton televisi hitam putih padahal semua orang sudah memakai televisi berwarna Ingin dibelikan pakaian serba ungu muda termasuk warna sepatu, celana dalam, BH dan apa saja. Ingin mendengarkan lagu-lagu tempo dulu.

Ingin makan srabi. Nah soal srabi ini saya benar-benar pusing mencarinya. Sudah tiga hari mencari di Jakarta tak ada hasilnya. Untunglah, seorang satpam di Blok M memberitahu kalau di Pasar Blok M ada yang jual. Namanya Bu Maryati berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga srabi itu.

Saya tidak tahu, apakah semua isteri yang sedang mengandung keinginannya juga seperti isteri saya. Bayangkan, tiap bulan selalu ada keinginan yang sulit, aneh dan kadang-kadang tidak masuk akal. Selalu dikatakan, itu keinginan bayi, bukan keinginan Tarry. Wah, baru jadi bayi saja keinginannya banyak sekali. Bagaimana kalau nanti sudah lahir dan jadi anak-anak?

Tanpa terasa, sudah menginjak bulan ke delapan Tarry mengandung.

“Pa, mungkin ini keinginan terakhir bayi kita,Pa?” Tarry berharap dan setengah merengek dengan nada manja.

“Apalagi,Ma? Saya selalu siap membantu” Saya menyatakan siap membantu.

“Tapi yang satu ini rasa-rasanya sulit,Pa”

‘Katakan saja”

“Jangan marah ya,Pa?”

“Percayalah. Papa tidak akan marah”

Tarry lalu mengatakan keinginannya. Katanya, dia ingin ‘ngelus-elus’ gundulnya cowok peranakan China.

Astaga! Benar-benar tugas yang berat. Namun demi istri tercinta, maka sayapun tetap mengabulkannya.

Hari itu kebetulan kantor saya libur. Sayapun segera ke kawasan Glodok untuk mencari cowok keturunan China yang kepalanya gundul. Namun, selama tiga jam saya gagal mencarinya. Lantas ke Mangga Dua, yaitu ke Pusat Komputer dan Elektronik ‘Harco’. Ada sih, cowok China gundul, tetapi tidak mau memenuhi keinginan saya.

Oh Tuhan! Hampir saya putus asa hari itu. Saya hanya bisa menarik nafas panjang-panjang. Dan kemudian melanjutkan ke Plasa Mangga Dua. Dari lantai satu hingga lantai tiga, tidak ada satupun saya menemukan China gundul.

Di lantai empat, saya berhenti sebentar. Di toko yang menjual PC Station, saya melihat ada cowok China, muda ganteng dan kepalanya gundul atau botak. Sayapun langsung masuk ke toko itu.

Ternyata dia anaknya yang punya toko itu. Katanya, dia baru saja mengikuti ospek di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Kebetulan satu almamater dengan saya. Setelah pura-pura akan membeli PC Station, akhirnya sayapun mulai bercerita tentang keinginan istri saya.

Alhamdulillah! Cowok China gundul yang bernama Marcel Chang itu mau memenuhi keinginan saya. Cuma secara diplomatis dia meminta agar saya membayar SPP-nya selama satu tahun karena kebetulan bisnisnya di kawasan Roxy sedang bangkrut.

Demi istri, sayapun menyanggupi untuk memberinya imbalan sekian juta yang saat itu saya ambil dari ATM Bank BCA yang ada di plasa itu. Kami berduapun meluncur ke rumah saya di Kawasan Cinere, perbatasan Jakarta Selatan dan Bogor.

“Oh,Pa. Terima kasih” Isteriku senang menyambut kedatangan saya dan Marcel Chang. Isteri saya pun mengelus-elus gundul Marcel Chang berkali-kali. Kemudian mengucapkan terima kasih.

Beberapa minggu kemudian istri sayapun melahirkan di RS Fatmawati juga. Susterpun keluar dari ruangan dan mengucapkan selamat buat saya. Katanya, bayi saya lahir selamat, sehat, normal, ganteng dan berjenis kelamin laki-laki. Saya merasa, sayalah orang paling bahagia di dunia!

Setelah meminta izin ke dokter, akhirnya sayapun diperkenankan untuk melihat bayi saya. Setelah mencium kening Tarry, sayapun melihat bayi laki-laki saya

“Astaga! Wajahnya mirip Marcel Chang…” Saya terperanjat.

Sumber foto: news-letters.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: