CERPEN: 26 Hari Mencari Cinta

JAKARTA. Begitu lulus kuliah, maka saya langsung mendapat pekerjaan dan langsung berniat melamar pacar saya. Sayang, pacar saya berkhianat dan menikah dengan laki-laki lain. Tapi, tidak apalah, mungkin bukan jodoh saya.

Sayapun mencari lagi. Caranya, saya pasang iklan di Kontak Jodoh, Harian Kompas Minggu. Tiga bulan kemudian saya menerima sekitar 300 surat perkenalan yang dikirium sekaligus oleh Harian Kompas Minggu.

Dari 300 surat perkenalan yang datang dari berbagai kota di Indonesia, akhirnnya saya seleksi. Seleksi pertama, hanya yang ada fotonya. Yang tidak ada fotonya saya buang.

Seleksi kedua, saya pilih foto yang cantik saja. Yang tidak cantik saya masukkan ke keranjang sampah. Ketiga, saya pilih yang berdomisili di Jakarta saja.Keempat, saya pilih yang berstatus gadis saja. Terakhir, saya pilih minimal berpendidikan SMA dan punya pesawat telepon. Hasilnya, ada 26 surat yang terseleksi.

Sayapun menyusun jadwal untuk menghubungi langsung satu persatu. Tentu, sebelumnya perjanjian dulu lewat telepon.

Hari pertama, saya meluncur ke rumah Anggie di kawasan Bintaro. Rumahnya dekat mal. Begitu keluar, ternyata gadis gemuk. Saya bilang ingin ketemu Anggie.Dia bilang, dia namanya Anggie. Wah kok beda ya dengan foto yang dikirim ke saya? Dia bilang itu foto adiknya. Wah, saya tidak perlu lama duduk. Langsung pamit. Belum jadi istri kok sudah menipu.

Hari kedua, saya menuju ke rumah Betty. Gadis putih keturunan Betawi. Tinggal sekitar Jl.Radio Dalam. Begitu ketemu, cantik juga sih. Cuma berbicaranya keras sekali. Sepertinya saya ini dianggap tuli. Semula saya mengira itu dialeknya orang Betawi. Eh, ibunya bilang, Betty memang benar-benar tuli sejak kecil. Waduh, gawat nih. Bettypun saya coret dari daftar prioritas. Sayapun pulang.

Hari ketiga, saya ke rumah Chintya di Perumahan Sunter Hijau, Jakarta Utara. Boleh juga, putih dan cantik. Cuma sayang dia keturunan China dan beragama Kong Hu Cu.Tidak seiman dengan saya yang Islam. Apa boleh buat, sayapun tidak berniat melanjutkan persahabatan itu. Terus,pulang.

Hari keempat, saya menuju depan Kampus UKI Cawang. Mencari gadis bernama Dewi. Begitu keluar, wah boleh juga. Senyumnya membuat jantung berdebar. Namun dari caranya berpakaian dan berbicara, saya kok curiga. Akhirnya dia mengaku di tempat kos-kosan itu dia bekerja sebagai pembantu. Pendidikannyapun cuma lulusan SD. Wah, gawat juga. Karena bukan kriteria saya, maka sayapun segera pamit pulang.

Hari kelima, namanya Ekawati. Tinggal di kawasan Kramatjati. Setelah bertemu, sayapun dipersilahkan duduk. Setelah ngobrol dan bertatap muka, baru ketahuan belangnya. Ternyata foto yang dikirim adalah foto dari samping. Sekarang, ketika saya lihat dari depan, ternyata matanya juling. Cantik sih cantik, tapi kalau juling yang enggak lah.

Hari keenam. Dia punya nama Febriani. Mahasiswi ASMI yang kos di kawasan Kelapa Gading. Penampilannya bagaikan model yang sudah profesional. Bajunya pasti mahal. Belum lagi cincin, gelang dan kalungnya yang serba emas. Dia bilang secara jujur, dia pemakai narkoba. Justru kejujurannya itu, saya tidak berniat untuk datang ke rumahnya lagi.

Hari ketujuh. Namanya Gaby. Tinggal di daerah Menteng. Anaknya orang kaya. Anjingnya banyak dan galak. Tapi dia cukup ramah dan murah senyum. Diapun bercerita sering ke luar negeri. Di samping berwisata juga dalam rangka berobat. Katanya, dia sudah dua kali operasi jantung di Singapura. Weleh,weleh,weleh. Nanti kalau jadi istri saya, pasti saya tidak kuat membiayai biaya operasinya. Lebih baik saya mundur teratur.

Hari kedelapan. Namanya Herniata. Bekerja sebagai sales promotion di salah satu show room mobil di kawasan Jl.Fatmawati. Cantik juga sih. Mirip Meriam Bellina. Cuma dia itu suku Palembang. Wow. Teman saya bilang, kalau mau melamar gadis Palembang, maka berlaku sistem beli. Dulu sekitar Rp 25 juta atau untuk ukuran tahun 2009 sekitar Rp 100 juta. Saya kok tidak suka cara seperti itu. Apalagi saya tidak punya uang sebanyak itu. Akhirnya, saya pilih mundur saja.

Hari kesembilan. Namanya cukup bagus. Indah Purnamasari. Mirip nama selebritis. Cuma dia itu suku Padang di mana kalau saya jadi menikah dengan dia, maka seluruh harta benda saya harus atas nama dia. Artinya, andaikan saya cerai, maka saya tidak punya harta apa-apa. Mundur,deh!

Hari kesepuluh. Dia tinggal di kawasan Jl. Wijaya, Kebayoran Baru. Anaknya seorang militer. Ibunya mempersilahkan saya duduk. Ketika dia keluar, dia tersenyum cantik. Eh, ibunya juga ikut duduk. Bukannya saya ngobrol dengan gadis yang bernama Jully Astuti itu, tetapi malahan ngobrol dengan ibunya. Akhirnya ibunya bilang, Jully pernah sakit panas cukup lama. Akibatnya dia menjadi gagu atau tidak bisa bicara normal. Aduh biyung! Jelek sekali nasib saya. Daripada nanti saya hidup susah, sayapun pamit pulang.

Hari kesebelas. Kali ini namanya Karen. Bapaknya orang Amerika tapi ibunya Sunda. Termasuk gadis Indo. Cukup simpatik dan seksi. Tinggal di kawasan Jakarta Barat. Cuma sayang dia terlalu jujur. Katanya, dia sebenarnya tidak berstatus single. Tetapi, berstatus janda dengan tiga orang anak.Modar! Sayapun hanya bisa mengelus dada saya yang tidak sakit. Sudahlah, pulang saja.

Hari keduabelas. Namanya Lelly. Pramugari Garuda yang tinggal di kawasa Tomang Raya. Gadis Jawa, putih, berpenampilan ceria dan cukup supel. Cuma sayanya yang minder. Dia tingginya 170 cm sedangkan saya cuma 166 cm. Padahal saya mencari yang tingginya sekitar 156 begitulah. Karena tidak masuk kriteria, maka kawasan Tomang Rayapun saya tinggalkan.

Hari ketigabelas. Namanya Meliasari. Baru lulus dari ITB. Tinggal di kawasan Bendungan Hilir. Cantik dan mirip Titiek Sandhora. Cuma, pendeknya minta ampun. Kecil banget deh. Cantik kalau kate ya bukan ideal saya. Goodbye sajalah.

Hari keempatbelas. Bergegas saya menuju ke kawasan Perdatam. Namanya Novi. Bekerja di salah satu supermarket sebagai kasir. Karena mobil saya masuk bengkel, saya ke rumahnya naik ojek. Pertama ketemu saya, bukan bertanya bagaimana kabar saya, tetapi naik apa. Ketika saya bilang naik ojek, mukanya langsung ditekuk. Katanya terus terang, dia tidak pernah mau punya teman yang tidak punya mobil. Jelasnya, saya diusir secara halus. Brengsek!

Hari kelimabelas. Kali ini namanya Olga. Kalau sekarang, wajahnya memang benar-benar mirip Olga Lidya. Tapi dia Olga Simorangkir. Gadis Batak. Tinggal di kawasan Tebet. Cuma dia itu orangnya serba tertutup. Tidak jelas ayahnya siapa, bekerja di mana. Bicaranya kaku banget,deh. Sok pintar dan sok menggurui. Baru kenal kok begitu. Mending saya tidak teruskan perkenalan itu.

Hari keenambelas. Honda Civic Wonder saya meluncur ke kawasan Ramamangun. Rumahnya di dekat terminal. Namanya Patricia. Kuliah di Fakultas Sastra. Putih dan cantik serta langsing. Sayang ya, kakinya pincang. Ini juga bukan kriteria saya. Kalau masih ada yang normal, buat apa saya pilih gadis pincang? Maaf, itu adalah kunjungan saya yang pertama dan terakhir kali.

Hari ketujuhbelas. Rumahnya di kawasan Tanjung Priok. Sulit sekali mencari rumahnya. Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya ketemu juga. Namanya Queen. Namanya memang keren. Tapi dia tinggal di rumah petak. Dari keluarga miskin. Dia bekerja di salah satu kafe di dekat rumahnya. Dari penampilannya dan dari cara bicaranya saya menilai dia bukan gadis baik-baik.Iya deh, saya putuskan untuk mundur teratur saja.

Hari kedelapanbelas. Namanya Roesmita. Umurnya 20 tahun. Tidak begitu catik dan tidak begitu jelek. Rumahnya di Depok. Ibunya berjualan di pasar.Punya kios kecil. Cuma sayang ya, dia punya sakit asma. Andaikan dia punya anak, maka semua anaknya akan terkena asma juga. Ah, saya tidak ingin punya keturunan asma. Oleh karena itu, saya tidak tertarik dengan Roesmita.

Hari ke sembilan belas. Namanya Shantishara. Gadis Sunda yang cukup bahenol. Murah senyum. Sarjana muda ekonomi. Punya bisnis yang cukup lumayan sukses. Tinggal di Pondok Gede.Ibunya suku Manado. Sedangkan bapaknya Yahudi. Oh, sejak dulu saya tidak suka dengan zionis Yahuidi atau Israel. Apa kata keluarga saya, teman-teman saya, tetangga saya, kalau saya punya istri keturunan Yahudi? Enggak lah.

Hari keduapuluh. Saya meluncur di kawasan Jl. Kalimalang. Ada perumahan setengah elit di situ. Namanya Tituk. Gadis Banjar. Selama bicara dia didampingi ibunya. Ibunya bilang ingin punya menantu minimal sarjana, Islam, sudah punya rumah, mobil, tinggi 170 cm dan memiliki penghasilan Rp 10 juta per bulan. Lho, saya merasa tidak memenuhi kriteria. Ya, mundur saja. Gitu aja kok repot.

Hari keduapuluh satu. Saya belum putus asa. Hari itu saya menuju Jl. Suryopranoto, Jakarta Pusat. Dia tinggal di sebuah ruko milik kedua orang tuanya. Dia bekerja sebagai sekretaris. Namanya Ulfa Marina. Seorang gadis Islam. Sayang, Islamnya bukan Islam idaman saya. Dia berpakaian muslimah, berjilbab, tetapi juga mengenakan cadar. Serba hitam. Hanya kedua bola matanya saja yang tampak. Cantik atau tidak saya tidak tahu. Karena saya ragau-ragu, maka yang inipun saya batalkan.

Hari keduapuluh dua. Vellya namanya. Tinggal di Tanah Abang.Wajahnya kalau sekarang kira-kira mirip Krisdayanti. Langsing. Centil. Suka humor. Ketika saya tak sengaja menyenggol majalah di meja dan jatuh, ternyata dia bilang “Jatuh, jatuh…eh jatuh” O, ternyata dia latah. Semakin lama ngobrol semakin payah latahnya. Model begini juga bukan model yang saya cari.

Hari keduapuluh tiga. Wenny Wulandari, itu nama lengkapnya. Rumahnya di Pamulang Estate. Dia punya saudara kembar, namanya Wetty Wulandari. Keduanya lulusan fakultas psikologi. Setelah ngobrol kesana kemari, dia terus terang kalau saya buka tipe idealnya. Katanya, bersahabat saja deh. Saya bilang, iya deh. Tidak apa-apa. Dan kenyataannya saya tetap sebagai sahabat saja.

Hari keduapuluh empat. Namanya nyentrik, Xania. Ibunya Jawa, bapaknya Yugoslavia. Mungkin pengaruh bapaknya yang berasal dari negara komunis, maka Xaniapun tidak boleh menjalankan ibadah apapun, walaupun di KTP-nya tertulis Islam. Ayahnya seorang atheist dan tidak pernah percaya bahwa Tuhan itu ada. Lha, kalau begini, buat apa ya diteruskan?

Hari keduapuluh lima. Namanya mirip orang Jepang, Yoshika. Dan ternyata dia memang dilahirkan di Jepang. Bapak dan ibunya orang Madura. Islam fanatik. Ketika saya pertama kali datang, langsung disodiri Al Quran. Ayahnya meminta saya membaca salah satu ayat di Surat Al Baqarah. Wah, kena batunya saya. Saya bisanya cuma shalat saja (waktu itu). Soal baca tulis huruf Arab saya tidak bisa. Akhirnya bapaknya bilang, saya disuruh qatam Al Quran dulu, baru boleh melamar Yoshika.Aduh,mak. Nggak jadi juga.

Hari keduapuluh enam atau hari terakhir. Sebelum menuju rumah Zaskia, saya berdoa, mudah-mudahan ini jodoh saya. Dia tinggal di daerah Cibubur. Rumahnya cukup mewah juga.O, dia benar-benar beautiful dan ramah. Tutur sapanya lembut. Bapak ibunya juga baik. Bahkan saya diajak makan siang bersama. Kakak dan adiknyapun diperkenalkan. Apa yang saya bicarakan selalu nyambung. Dia gadis cerdas dan lulusan IPB.

Sayapun langsung tembak saja. Saya katakan saya merasa cocok degan Zaskia. Jika tak keberatan, saya memohon hubungan itu bisa dilanjutkan ke trahap yang serius. Dia bilang, dia juga merasa ada kecocokan dengan saya. Sama-sama sarjananya, sama-sama Islamnya, dan punya banyak persamaan lainnya.

Kemudian dia bilang.

-“Cuma, kenapa Mas datangnya baru sekarang? Seminggu yang lalu saya sudah dilamar salah seorang manajer yang bekerja di perusahaan Conoco Oil Company”.

-“Oh, Tuhan”

Sumber foto: carlamarlita.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: