Pengalaman Mati Suri Selama Lima Jam

Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

JAKARTA 1975. Begitu turun di terminal Pasarminggu, saya langsung naik becak menuju Komplek Perumahan Bea Cukai. Sebenarnya jalan kaki juga bisa, Cuma karena sedang capai, maka saya pilih naik becak.

Tetapi, ketika berada di depan kantor kelurahan, becak membelok secara mendadak ke kanan, yaitu ke komplek perumahan tersebut. Tiba-tiba dari belakang sebuah mobil kecepatan tinggi menabrak becak saya. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa.

Ketika saya sadar, saya merasakan ada sesuatu yang aneh. Kok saya tiba-tiba bisa milihat tubuh saya yang berdarah-darah diangkat beberapa orang. Saya melihat tubuh saya diletakkan di pinggir jalan. Saya juga melihat tubuh pengemudi becak yang tergeletak di jalan aspal sekitar tujuh meter dari becak. Becak dalam kondisi ringsek. Dan sebuah mobil berwarna putih berhenti dekat becak itu.

Akhirnya saya sadar.

“Oh, saya sudah meninggal” saya bergumam di dalam kesadaran (consiousness) saya. Mungkin karena saya rajin shalat, maka ketika nyawa saya berpisah dengan raga, saya tidak merasakan sakit apapun. Tidak terasa. (Q.S An Naziaat 1-5).

Dalam keadaan meninggal ini saya kehilangan konsep ruang dan waktu. Artinya, saya tak kenal istilah lama atau sebentar. Saya tak mengenal kata pagi, siang, sore atau malam. Saya tidak tahu apa itu artinya Senin, Selasa dan seterusnya.

Melalui kesadaran saya melihat tubuh saya diangkat beberapa orang.

“Kita bawa ke puskesmas!” teriak beberapa orang itu. Sayapun terus memantau pergerakan tubuh itu. Sayapun mengikuti mereka. Aneh, tidak dengan cara berjalan kaki, tetapi tubuhku melayang sekitar 40 cm di atas tanah. Saya menuju ke puskesmas itu dengan kekuatan kesadaran.

“Coba baringkan di tempat tidur” pinta dokter ke tiga orang yang menggotong tubuh saya. Saya sempat melihat cukup banyak orang di luar puskesmas yang melihat kecelakaan itu.

Saya melihat dokter itu memeriksa tubuh saya. Kemudian dihubungkan dengan peralatan kedokteran, terutama alat pemantau denyut jantung. Ternyata, grafiknya rata. Artinya, secara medis terbatas, saya dinyatakan meninggal. Tapi ini belum merupakan pernyataan final.

Dokter yang bernama Dokter Halim itu memeriksa susunan syaraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan saya.

“Masih berfungsi baik” Dokter itu menjelaskan kepada para penolong saya.

“Maksudnya, Dok?” mereka ingin tahu.

“Ya, tubuh ini mati suri. Mati suri atau (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran sederhana.Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Jadi, walaupun jantungnya tidak berfungsi, ada kemungkinan bisa hidup lagi. Cuma, entah berapa lama, saya tidak tahu. Saya akan mencoba untuk menghidupkan lagi. O ya, tolong keluarganya diberitahu”

Dokter itu menunjukkan alamat saya sesuai yang ada di KTP saya, yaitu Komplek Bea Cukai No.36. Artinya, hanya berjarak sekitar 100 meter dari pukesmas. Beberapa orangpun segera menuju rumah kakak saya itu.

Tiba-tiba saya berada di dunia yang lain. Dua cahaya putih bersih mendatangi saya.

“Assalamu’alaikum.” ujar beliau berdua. Dua cahaya putih.

“Oh, Wassalamu’alaikum” saya terkejut dan menjawab. Saya baru

sadar, ada dua malaikat mendekati saya.

Tiba-tiba dalam waktu singkat saya diajak ke tempat yang lain. Namun yang membuat saya terkejut, tiba-tiba di leher saya ada tasbih terdiri dari 99 butir untaian mutiara.

Saya kemudian dibawa ke Masjid Nabawi dan melihat makam Nabi Muhammad. Di makam Nabi itu ada pintu kecil dan saya melihat seseorang memberi makan anak-anak fakir miskin. Aneh bin ajaib, tiba-tiba saya hafal Al Quran 30 juz. Padahal, selama hidup saya cuma mampu menghafal lima juz aja.

“Mari, kita ke tempat yang lain” ajak dua orang malaikat itu. Saya melesat ke atas dengan kecepatan yang luar biasa. Tahu-tahu saya sampai di sebuah tempat yang terang benderang. Semuanya indah. Di hadapan saya ada tiga orang pria yang umurnya rata-rata 17 tahun dan seorang wanita cantik juga berusia 17 tahun pula. Semua mengenakan pakian seperti sutera putih bersih.’

“Tiga pria itu, ayahmu bernama Haji Soendjani, sebelahnya kakakmu pertama bernama Handri dan paling kanan kakakmu bernama Habdul Azis. Sedangkan paling kiri, dekat ayahmu, adalah ibumu” sabda malaikat.

Sayapun menyalami mereka semua. Wajah mereka ceria semua.

Tiba-tiba ayah dan ibu saya berkata.

“Harry, belum waktunya kamu meninggal. Kembalilah ke dunia. Banyaklah bersedekah. Jangan tinggalkan shalat. Baca Al Quran tiap malam. Bantulah fakir miskin dan para yatim piatu.. Apalagi, besok adalah Tahun Baru 1 Muharram yang merupakan Hari Kasih Sayang bagi para yatim piatu”

Namun sebelum kembali ke dunia, kedua malaikat itu mengajak saya pindah ke dimensi yang lain. Saya melihat sebuah danau yang untuk orang jahat merupakan danau yang airnya sangat panas. Bukan hanya uang panas yang keluar dari danau yang mendidih itu tetapi juga api.

Saya melihat bekas teman kuliah dan dosen yang pernah menipu saya ada di situ. Mereka berteriak-teriak sambil tangannya menggapai-gapai.

“Harry! Maafkan saya! Saya bertobat.Tolonglah saya” Namun saya tak bisa berbuat banyak. Saya juga melihat teman-teman saya yang lain yang semasa hidupnya melakukan korupsi, mereka berteriak histeris karena tubuhnya terasa ditusuk-tusuk benda tajam berkali-kali. Saya juga melihat bekas teman SMP saya yang dulu pernah mencuri barang-barang saya dan menipu saya memanggil nama saya. Semua meminta tolong agar saya mau memaafkan mereka. Lagi-lagi saya tak bisa berbuat banyak. Sebab, mereka sendirilah yang menentukan masuk ke api neraka.

Kedua malaikat itu kemudian mengajak kembali ke dunia. Dengan kecepatan yang luar biasa, saya sudah tiba di dunia saya semula. Pelan saya buka mata saya. Setelah melihat langit-langit, saya baru sadar kalau saya berada di puskesmas Komplek Perumahan Bea Cukai Pasarminggu.

“Allahu akbar!” tiba-tiba saya mendengar dokter mencupkan kata itu. Kemudian saya lihat saudara-saudara saya ada di sebelah kanan dan kirim tempat tidur saya. Mereka berteriak kegirangan. Satu persatu mencium pipi saya.

“Alhamdulillah” Sayapun bersyukur. Pelan tapi pasti, saya bangkit dari posisi telentang. Menurut dokter, saya mengalami mati suri selama lima jam.

Esok harinya, 1 Muharram, saya akan menepati saran-saran dari kedua almarhum orang tua saya. Saya akan santuni anak-anak yatim piatu yang ada di yayasan.

Ucapan almarhum ayah dan ibu masih teringat di benak saya

“Harry, belum waktunya kamu meninggal. Kembalilah ke dunia. Banyaklah bersedekah. Jangan tinggalkan shalat. Baca Al Quran tiap malam. Bantulah fakir miskin dan para yatim piatu.Apalagi, besok adalah Tahun Baru 1 Muharram yang merupakan Hari Kasih Sayang bagi para yatim piatu”

Sumber foto: moviezcenter.wordpress.co

Catatan:
1.Cerpen ini merupakan cerita fiktif
2.Mati suri bukanlah kematian

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: