CERPEN: Mister Jigong

MASA yang paling menyenangkan yaitu ketika kita masih sekolah atau kuliah. Banyak teman dan banyak dinamika persahabatan. Banyak kenangan baik yang indah maupun yang tidak indah, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang lucu maupun yang tidak lucu.

Dulu, ketika saya masih kuliah di Akademi Bahasa Asing “Metropolitan”, Jakarta, saya punya dosen laki-laki. Nama aslinya saya lupa. Namun terkenal dengan sebutan Mister Jigong. Siapa yang memberi nama dan bagaimana asal usul nama itu, sayapun tidak tahu.

“Pokoknya nanti kita kerjain” Ucap Ananda sewaktu kami makan bakso di kantin .

“Gimana caranya?” Tanya Hendro.

Ananda yang berbadan kekar itupun memberikan gambaran apa yang harus kita lakukan.

“Ha ha ha…” Semua tertawa.

Selesai makan bakso kamipun menuju ruang senat. Ananda mengambil kertas dan spidol besar. Ditulis dengan huruf besar tulisan “DIJUAL”. Lantas sesudah mempelajari situasi, kami berlima mendekati mobil milik Mister Jigong. Nah, tulisan “DIJUAL” itu ditempel dengan lem ke kaca mobil milik Mister Jigong. Sesudah itu cepat-cepat kami menyelamatkan diri.

Mister Jigong itu dosen matakuliah Reading and Comprehension. Suka menghukum mahasiswa. Salah sedikit saja, disuruh berdiri di depan kelas. Itupun berdiri dengan satu kaki saja. Tidak hanya itu saja hukumannya, ada bermacam-macam dan tidak bias saya tulis di sini satu persatu.

Di samping itu Mister Jigong terkenal sebagai dosen yang korup, pembohong, boros dan terus menambah beban mahasiswa dengan biaya-biaya yang semakin menumpuk. Susahnya, Mister Jigong juga merangkap sebagai Direktur Akademi Bahasa Asing “Metropolitan” tempat kami kuliah.

Itulah sebabnya mahasiswa punya reaksi. Antara takut, benci dan butuh. Kalau tidak masuk kuliah, tentu nilai semester akan buruk. Kalau masuk, takut kena hukuman. Nah, Mister Jigong menjadi dosen yang paling dibenci. Pernah diusulkan supaya diganti, tetapi pihak yaysn tidak menanggapinya.

Jadi, jangan heran kalau para mahasiswa berusaha “ngerjain”. Antara lain, semua ban mobil dikempesin. Lobang kunci pintu mobil dimasukkan lem Alteco yang cepat kering dan padat, akibatnya Mister Jigong terpaksa memanggil tukang bengkel. Kenalpot mobil diisi kerikil sebanyak-banyaknya.

‘Ya, pokoknya selama Mister Jigong masih mengajar dengan cara seperti itu, kita wajib “ngerjain” dia terus-menerus” Ujar Ananda.

“Setuju” Serempak teman-teman lainnya menjawab.

Tidak hanya di kelas saya. Di kelas lainpun dikerjain. Antara lain, kursi dosen diganti kursi rusak yang sudah goyang-goyang. Kalau ada minuman teh manis, maka tanpa sepengetahuan dosen, minuman itu ditaburi garam cukup banyak. Akibatnya memang ada, satu kelas mendapat hukuman.

“Tapi kami tidak kapok. Kami akan kerjain terus” Ucap Ronny yang merupakan ketua kelas dari kelas lainnya lagi.

“Kalau saya bias nyantet, akan saya santet dia” sahut Wimar, mahasiswa lainnya.

Sudah tiga bulan kami “ngerjain” Mister Jigong. Namun kami belum menemukan cara yang ampuh agar dosen itu tidak mengajar lagi di kampus kami. Mungkin sudah ratusan kali para mahasiswa ‘ngerjain” dengan berbagi cara, namun tetap saja dosen yang dibenci itu mengajar.

“Siapa nih yang punya ide yang efektif?” Ananda memulai pembicaran di kantin bakso di suatu hari yang lain.

“Saya usul nih, bagaimana kalau kita demo ke yayasan?” usul Tantowi. Sebagian setuju sebagian tidak setuju karena menganggap percuma demo karena ketua yayasan tidak pernah peduli dengan usul para mahasiswa.

“Bagaimana kalau kita semua mogok belajar khusus matakuliah Mister Jigong?”

“Setuju!” Serempak semua mengatkan setuju.

Nah, akhirnya Ananda mengumpulkan semua ketua kelas dan mengusulkan agar mulai besok semua mahasiswa mogok belajar khusus matakuliah Mister Jigong. Ternyata semuanya sepakat. Semua itu diputuskan di kantin bakso.

Ya, begitulah. Tiap kali Mister Jigong masuk ruang kuliah, kami semua duduk-duduk di taman, bermain gitar sambil bernyanyi bersama. Sempat juga Mister Jigong mendatangi kami sambil marah-marah, namun kami kompak untuk tetap mogok kuliah dan terus main gitar dan bernyanyi.

Sedangkan kelas lain bentuk protesnya lain. Semua keluar ruangan dan bermain basket dan tetap cuek walaupun dimarahi Mister Jigong.

Begitulah. Perjuangan para mahasiswa tidak sia-sia. Akhirnya tuntutan mahasiswa dikabulkan ketua yayasan. Berdasarkan rapat seluruh pengurus yayasan dan para aktivis senat mahasiswa, maka mulai tanggal satu bulan berikutnya, Mister Jigong tidak mengajar lagi di kampus kami.

Kesimpulannya, untuk memperjuangkan aspirasa, dibutuhkan kekompakan dari seluruh elemen mahasiswa. Supaya bias kompak, perlu adanya satu rasa dan satu tujuan yang sama.

Saya hanya bisa membayangkan, andaikan mahasiswa se-Indonesia bisa kompak, pasti bisa menggulingkan pemerintahan yang korup, pembohong, boros dan terus menambah beban rakyat dengan utang-utang yang semakin menumpuk.

Indonesia tidak akan bisa maju dan makmur selama dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang berkarakter seperti Mister Jigong.

Sumber foto: ngilangikebodohan.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

2 Tanggapan

  1. hahah,,,,,
    lucu sekali itu kak, cerpen mister jigongnya…
    hahahahah,,,,

  2. Cerpennya lucu kak…ga kapok2 ngerjain dosen hahaha:D

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: