CERPEN : Setan di Kiriku Malaikat di Kananku

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka –(Qs. 3 An-Nisa’ : 120)

SAYA merasa bersyukur karena bisa diterima bekerja di Bank of  Tokyo, Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Dalam waktu tiga tahun saya sudah mengalami perkembangan karir yang lumayan. Mulai dari teller hingga asisten manajer perkreditan. Walaupun saya lulusan sarjana, tetap harus memulai karir dari paling bawah.

“Selamat ya, atas jabatan barumu” Pak Bambang Durjana memberi selamat kepada saya saat saya pertama kali menjadi asisten manajer perkreditan. Pak Bambang saat itu kebetulan pas masa pensiun sehingga hari itu sekaligus hari perpisahan dengan Pak Bambang dan Pak Daryono.

“Terima kasih” Sayapun menjabat tangannya.

Sayapun meneruskan bekerja mempelajari setumpuk aplikasi permohonan kredit yang jumlahnya cukup banyak. Dari jumlah pemohon ada sekitar 250 orang per bulan dan dari segi nilai mulai dari Rp 100 juta hingga Rp 25 miliar.

Saya jadi ingat cerita-cerita Pak Bambang. Katanya, sewaktu dia menjabat sebagai asisten manajer perkreditan, dia mendadak bisa kaya raya. Dia juga pernah mengajak saya melihat sepuluh rumahnya yang ada di Jabodetabek.

“Terus terang, semua hasil korupsi. Tetapi saya tak mungkin dihukum” Dia mengaku. Dia katakan itu satu bulan sebelum pensiun.

“Lho, caranya bagaimana?” Saya heran.

“Saya membuat aplikasi permohonan kredit fiktif. Tentu, kerjasama dengan orang lain. Uangnya langsung saya belikan rumah dan rumah itu langsung saya kontrakkan. Hasilnya selama sepuluh tahun untuk membayar kredit dan bunga. Dalam waktu sepuluh tahun, kredit fiktif dan bunganya saya bayar lunas. Hasilnya, saya punya sepuluh rumah masing-masing senilai Rp 1 miliar. Total Rp 10 miliar. Aman, kan?” Pak Bambang melihat ke arah saya dengan bangga. Waktu itu kami sedang makan siang di kantin Bank of Tokyo..

Cerita Pak Bambang selalu mengiang di telinga saya. Apalagi di bagian kredit ini boleh dikatakan saya telah menguasai sistem dan prosedurnya. Bahkan saya juga tahu celah-celah kelemahan dari sistem dan prsedur itu. Artinya, kalau saya mau, sayapun bisa mengikuti jejak Pak Bambang.

“Harry! Kamu sudah punya posisi yang tepat. Kalau hanya mengandalkan gaji saja, kapan kamu bisa kaya?” Begitu bisikan setan yang ad di sebelah kiri saya.

“Percuma kamu punya gelar sarjana ekonomi kalau tinggal di rumah kontrakan. Ke kantorpun kamu masih naik bus. Paling-paling naik motor” Bisikan berikutnya saya dengar seperti itu. Masih dari setan.

“Harry. Contohlah Pak Bambang. Dia korupsi tetapi aman-aman saja,kan? Kalau ada koruptor tertangkap KPK, itu koruptor goblok! Saya tahu, kamu pandai. Saya yakin kamu bisa lebih kaya daripada Pak Bambang”. Lagi-lagi bisikan dari kiri saya terus bergema.

Udara AC saat itu cukup sejuk. Saya cukup bersemangat mempelajari berkas-berkas permohonan kredit itu. Kebetulan ada salah satu pemohon yang sudah saya kenal. Dia kebetulan dia dulu teman kuliah saya. Namanya Dharmono. Dia Cuma mengajukan kredit Rp 50 juta sebab nilai rumah yang dijaminkan hanya Rp 100 juta.

Dalam hati, saya ingin kerja sama dengan Dharmono. Permohonan kreditnya akan saya naikkan Rp 500 juta. Dan itu bisa saya atur dengan atasan saya, manajer perkreditan. Soal nilai jaminan, bisa diatur. Toh, pucuk pimpinan dan para pemegang saham tidak mungkin mencek satu persatu barang jaminan itu.

“Harry! Buat apa sih itu akan kamu lakukan? Untuk apa kamu nanti bisa kaya dari hasil korupsi? Korupsi itu dosa. Apakah kamu ingin merasakan panasnya api neraka?.Pikir baik-baik itu!” Tiba-tiba ada malaikat di kanan saya berbisik.

“Alaaa…jangan sok suci Harry. Jaman sekarang tidak ada yang korupsi. Yang namanya presiden, wapres dan menteri-menterinya saj bisa korupsi. Yang nmanya wakil rakyat di DPR juga bisa korupsi. Apalagi yang di kepolisian, kejaksaan, pengadilan atau kehakiman. Bahkan di semua struktur organisasi birokratpun korupsi. Jangan sok suci!” Lagi-lagi setan di sebelah kiri saya berbisik ke telinga saya.

“Harry! Uang yang diperoleh secara jujur, adalah uang yang bernilai barokah. Mungkin Tuhan juga akan memberikan kesehatan buat kami. Bisa saja kamu korupsi, tetapi mungkin Tuhan akan memberimu penyakit jantung, stroke dan penyakit berat lainnya. Kamu akan mati muda dan tidak menikmati hasil korupsimu” Malaikat di kanan sayapun mengingatkan.

Saya minum kopi sebentar. Maklum, udra AC cukup dingin. Suara musik yang lembut membuat suasana menjadi nyaman. Saya duduk di kursi mewah dan meja kerja yang mewah. Di meja saya ada laptop yang bisa internet, telepon dan faksimili dan di sudut ruangan ada televisi LCD layar lebar. Di sebelah kanan saya Yanna, sekreatis saya yang cantik dan masih bujangan. Di sebelahnya asisten sekretarisnya. Mereka masing-masing berhadapan dengan laptop sebagai sarana kerjanya.

“Harry! Kamu kan masih bujangan. Sekretarismu yang bernama Yanna pasti mau kamu gaet asal kamu punya rumah bagus dan mobil bagus. Apalagi kalau punya uang banyak. Nah, mainkan tuh apa yang pernah diajarkan Pak Bambang. Bikin kredit fiktif yang bernilai puluhan miliar. Dan kembalikan dalam waktu sempuluh tahun. Dijamin aman. Nah, kamu bisa punya rumah mewah, mobil mewah, uang banyak dan istri cantik. Apalagi?

“Harry. Sudahlah. Tempuhlah jalan ang benar. Kalau gajimu tidak cukup, lebih baik kamu coba-coba berwiraswasta. Mendirikan kafe kek, diskotik kek atau membuka rumah makan. Bisa juga membuka bengkel motor atau mobil. Tidak perlu kami sendiri yang menjalankan. Cukup kamu serahkan ke orang lain yang bisa kamu percaya dan semua ada perjanjian tertulis di depan notaris” Bisik malaikat.

“Ha ha ha…Kalau Harry buka kafe, buka resto, buka ini buka itu, usaha ini usaha itu, belum tentu untung! Apalagi jaman sekarang banyak pesaing. Wirausaha atau wiraswasta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Lebih baik bikin kredit fiktif saja. Tiap bulan kamu bisa dapat Rp 1 miliar. Bahkan bisa lebih. Bayangkan itu. Pikir baik-baik” Setan tetap merayu saya.

Pikiran saya jadi galau. Ruwet. Perang batin semakin hebat. Pendapat siapa yang harus saya ikuti? Kalau saya ikuti pendapat setan, pasti saya bisa kaya raya dalam waktu singkat. Tapi, kalau saya ikuti bisikan malaikat, sampai kiamatpun belum tentu saya bisa kaya. Kacau.Kacau sekali pikiran saya. Saya berulangkali mengambil nafas panjang karena tidak tahu pendapat siapa yang harus saya ikuti.

Malam harinya, di rumah kontrakan saya di kawasan Cinere, sayapun melakukan shalat. Saya meminta petunjuk kepada Tuhan agar diberikan petunjuk yang paling baik dan paling benar.

Akhirnya saya mendapat bisikan, entah dari siapa, yang pasti bukan dari setan dan bukan dari malaikat.

“Harry. Jangan lupa, Tuhan itu Maha Adil. Tiap orang pasti akan mendapatkan rezeki yang layak, asal manusia mau berusaha. Rezeki ada di mana-mana. Carilah rezeki secara halal karena rezeki yang diperoleh secara halal, akan dilipatgandakan oleh Tuhan”

Sayapun memperoleh keyakinan bahwa pendapat dan bisikan terakhir itulah yang paling benar dan masuk akal. Pikiran sayapun menjadi tenang. Hiduppun menjadi nyaman.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: